
AGNE kembali tersenyum canggung. "Kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi. Jadi gini Ayah, Ibu, aku kan sudah lama menikah dengan Bara. Tapi semua orang menganggap ku hanya numpang hidup di sini. Jadi ... aku boleh tidak diberi sebuah bagian di perusahaan untuk aku bekerja?"
"Oh masalah itu, kenapa tidak bilang sejak awal Agneku. Kalau kamu ceritakan, ayah mertuamu bisa bantu. Jangankan bagian, perusahaan pun akan diberikan untukmu. Iya kan Pih?" Tanya Nyonya Sarah meminta persetujuan suaminya.
"Iya," jawab Tuan Kris singkat dengan pandangan menilai ke arah menantunya itu.
Agne langsung tersenyum senang.
"Terima kasih Ayah Ibu, kalian memang yang terbaik."
DRTTTTT! DRRRTTTT!
Agne menghentikan ucapannya lalu mengambil ponselnya yang berdering
"Ada apa?" Tanya Nyonya Sarah heran saat menantunya itu terdiam menatap ponsel yang berdering.
"Oh ini, hanya nomor asing," kata Agne lalu menggeser tombol merah perlahan. Namun entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak.
Nyonya Sarah dan Tuan Kris terkejut melihat wajah Agne yang tiba-tiba memucat.
"I—Ibu," panggil Agne gagap membuat Nyonya Sarah langsung mendekati menantunya itu.
"Agne, kamu kenapa Sayang?" Tanya Nyonya Sarah khawatir.
Agne sudah tidak bisa menahan tubuhnya, Nyonya Sarah spontan memeluk tubuh Agne dan menahannya.
"Pih, telpon dokter segera," seru Nyonya Sarah keras membuat Tuan Kris panik dan langsung buru-buru mencari ponselnya.
Sedang tanpa diketahui oleh siapapun, Bara sedang tersenyum licik dibelakang pintu.
"Drama apa lagi yang dilakukan wanita itu. Agne, kau tidak tau kalau dramamu selama ini akan segera berakhir. Tunggu saja," gumam Bara..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bara berdiri tepat di samping Rachel sembari menatap
Agne yang sejak tadi belum sadarkan diri di kamar tamu.
"Mas, akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga," ucap Rachel membuat Bara mengangguk singkat. Lagipula pria itu tidak begitu peduli.
Drama terbaru Agne malam ini memang sukses membuat semua orang panik dan ibah kepadanya. Namun bukan hanya itu kabar buruk yang sebenarnya, melainkan dokter yang Bara yakini sudah bekerja sama dengan Agne mengatakan bahwa sebenarnya wanita itu sedang mengandung. Bara tentu merasa tidak senang, karena dia akan semakin sulit menyingkirkan wanita itu. Walaupun bisa saja Bara memberitahu ibunya tentang hubungan gelap ayah dengan Agne, tapi Bara tidak ingin secepat itu. Ibunya bisa saja terkena serangan jantung.
Setelah dokter itu pergi. Kedua orangtua Bara mendekati Agne yang perlahan mulai sadar. Nyonya Sarah yang sangat senang mendengar kabar baik dari dokter tidak berhenti meneteskan air mata. Walaupun sudah dibujuk terus menerus oleh suaminya..
"Sudahlah Mi, jangan sedih. Kita harus segera merayakan ini dengan penuh gembira."
Agne mengerjap lalu memandang Bara yang berada di belakang kedua mertuanya bersama Rachel. "Bara ... hiks."
Nyonya Sarah dan Tuan Kris mengerti dan langsung mundur. Mereka kemudian menyuruh Bara mendekat, sambil terisak Agne bergerak menggenggam tangan Bara.
"Hiks ... malam ini kamu tidur sama aku kan Bara ... Hiks ... aku mohon temenin aku. Aku takut," ucap Agne membuat Nyonya Sarah menatap Bara.
Nyonya Sarah yang melihat arah pandang putranya langsung tersenyum."Biar Rachel bersama bibinya malam ini, tidak apa-apa kan Rachel?" Tanya Nyonya Sarah membuat Rachel mengangguk pelan.
"Iya Nyonya," sahut Rachel membuat Bara menghela napas sedang Agne langsung memeluk lengan Bara dan mencium punggung tangan suaminya itu beberapa kali.
"Mas, aku ingin tidur di kamar kita," kata Agne dengan manja.
Nyonya Sarah mendekat lalu mengelus kepala Agne. "Bawa ke kamar Bara. Kasian Agne pasti belum cukup sehat untuk berjalan." ucap Nyonya Sarah lembut yang diangguki oleh Agne.
Bara lantas mengangguk lalu menatap Rachel. "Pergilah ke kamar dan istirahat," ucap Bara alih-alih menggendong tubuh Agne, dia malah menarik lengan wanita itu menaiki tangga menuju kamar mereka di lantai dua tanpa memikirkan tanggapannya.
Setelah kepergian Bara dan Agne. Rachel segera menghadap Nyonya Sarah dan Tuan Kris. "Permisi Nyonya dan Tuan, saya ingin—"
"Tunggu Rachel, saya mau bicara sama kamu," cegah Nyonya Sarah membuat Rachel yang baru saja ingin melangkah keluar berhenti.
"A-ada apa Nyonya?" Tanya Rachel pelan.
__ADS_1
Nyonya Sarah mengangguk. "Maaf tapi saya harus mengatakan
ini. Mulai beberapa hari ke depan, tolong biarkan Bara menghabiskan waktunya dengan Agne, saya tahu kamu juga istri Bara dan sedang mengandung tapi posisi Agne saat ini juga sedang mengandung. Dan ingat, status kamu hanyalah istri siri yang sekarang sedang terancam untuk diceraikan. Jadi lebih baik kamu ikuti perkataan saya atau kamu—"
"Hiks."
Suara isakan tiba-tiba terdengar membuat Nyonya Sarah menghentikan perkataannya.
"Rachel," Panggil Nyonya Sarah merasa bersalah.
Rachel menggeleng lalu menghapus air matanya."Iya Nyonya hiks ... Rachel paham tentang itu," ucap Rachel susah payah sambil menahan isak tangisnya.
"Ya sudah, sekarang pergilah ke kamarmu dan istirahat." ucap Nyonya Sarah lembut. Sebenarnya ia tidak tega tapi mau bagaimana lagi, Agne dan Rachel sangatlah berbeda.
Rachel mengangguk lalu bergerak keluar menuju kamarnya.
Sementara Nyonya Sarah langsung menatap suaminya. "Menurut Papih bagaimana?" Tanya Nyonya Sarah membuat Tuan Kris mengernyit.
"Bagaimana apa Mih?" Tanya Tuan Kris bingung.
Nyonya Sarah menghela napas lalu menatap suaminya serius. "Bagaimana jika kita meminta Bara dan Agne untuk tinggal berdua di luar negeri? Maksud mamih biarkan mereka pindah dari sini toh mereka sudah menikah dan ..."
"Lalu bagaimana dengan Rachel?" Tanya Tuan Kris cepat.
Nyonya Sarah terdiam sesaat lalu berkata. "Kita bisa biarkan Rachel tinggal di sini sampai dia melahirkan, setelah itu kita usir dia atau setidaknya kita kirim dia ke luar kota. Sungguh Pih, mamih rasa cuma ini jalan yang terbaik bagi kita semua," ucap Nyonya Sarah dengan nada setengah frustasi. Ia tak ingin pernikahan putranya dan Agne berjalan tidak baik namun ia juga tidak tega pada Rachel.
"Terserah Mamih saja, jika itu memang yang terbaik maka ya sudah. Kita lakukan saja." Ucap Tuan Kris membuat Nyonya Sarah mengangguk.
Namun yang tidak keduanya ketahui adalah, Minah telah mendengar pembicaraan keduanya. Minah menutup mulutnya tak percaya. Demi apapun, dia tak rela jika ponakan kesayangannya itu diperlakukan dengan tidak adil. Bagaimana bisa Nyonya Sarah berpikir untuk mengirim Rachel pergi jauh setelah melahirkan. Padahal jelas kehamilan itu bukan sepenuhnya kesalahan ponakannya tapi juga Bara.
"Tidak. Lebih baik aku membawa Rachel pergi dari sini dari pada ponakanku itu menerima ketidakadilan seperti ini," gumam Minah pelan lalu berlalu dari sana menuju kamarnya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1