Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
SEMBILAN


__ADS_3

BARA tersenyum lebar dengan yang dipikirkan sekarang kemudian berjalan keluar dari ruang kerjanya. Dia harus segera memastikan kalau Rachel benar-benar sudah hamil. Jika benar, hal itu akan sangat bagus mengingat hari penyambutan anak adopsi itu tinggal beberapa hari lagi.


Saat keluar dari ruang kerjanya, Bara terkejut ketika berpapasan dengan Agne yang baru saja ingin masuk ke dalam ruang kerja suaminya itu.


"Mas, aku mau bicara."


Bara tersenyum sambil memandang sang istri. "Silahkan, kamu ingin bicara apa Sayang?"


Agne membalas senyuman Bara dan menyentuh pipi suaminya dengan lembut. "Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit merasa gelisah. Mas, baik-baik saja kan?"


"Aku baik-baik saja. Sayang, tenang saja yah," ucap Bara sembari mengangguk kecil. Dia lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar, meninggalkan Agne yang memendam perasaan aneh. Wanita itu merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari suaminya.


"Aku tidak tau kenapa sikapmu akhir-akhir ini berbeda Mas. Kamu seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi aku akan tetap mengadopsi anak itu agar pernikahan kita tidak hancur," kata Agne dengan nada pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sorenya sepulang dari kantor, Bara masuk ke dalam rumah dengan gembira. Dia langsung berjalan menuju area dapur.


Pria itu semakin gembira saat melihat Rachel sedang sibuk memasak sayur.


"Wah, aromanya enak sekali," kata Bara sembari memeluk Rachel dari belakang.


"Hah! Om?" Rachel terkejut dan refleks melepas pelukan Bara dan mendorong tubuh besar pria tersebut. "Jangan peluk aku Om. Kita tidak seharusnya melakukan ini. Lagipula sebentar lagi Om akan mempunyai anak," kata Rachel cemberut membuat alis Bara seketika ingin bersatu. Sejak kapan Rachel peduli dengan urusan adopsi anak yang dilakukan Agne. Apa mungkin ponakannya itu cemburu?


"Ingat yah, Nona Manis, anak adopsi bukan anak saya. Anak saya itu yang akan kamu kandung." Rachel tetap cemberut mendengar perkataan Bara. "Hel, kenapa? Ada masalah?" Bara pun bertanya dengan lembut.


Rachel menepis tangan Bara yang ingin mengusap kepalanya. "Aku marah sama Om," kata Rachel membuat Bara semakin heran.


"Marah kenapa?"


"Tidak tau. Yang jelas, aku sedang ingin marah sama Om," jawab Rachel bersikeras. Bara lantas tersenyum, pemikirannya tentang Rachel hamil semakin menuju kebenaran.

__ADS_1


"Baiklah. Saya minta maaf yah Nona Manis. Tolong maafkan apapun kesalahan yang membuatmu marah dengan saya," kata Bara sambil menyatukan kedua tangannya dan memohon kepada Rachel. Namun, ponakannya itu malah menggeleng.


"Om," panggil Rachel membuat Bara langsung memandangnya dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa?" tanya Bara memberanikan diri untuk mendekap Rachel. Dan, ponakannya itu tidak menolak sama sekali. Kepala Rachel malah bersandar di dada bidang milik Bara.


"Apa aku salah melarang Om mengadopsi anak? Aku tidak mau jika hal itu terjadi." Jawaban Rachel membuat Bara langsung terdiam. Pria itu tidak tahu bagaimana menanggapinya. "Om, setiap kali mengingat Om Bara dan Tante Agne yang akan segera mengadopsi anak, dadaku tiba-tiba sesak dan juga ingin menangis."


Bara mengangguk mengerti. Mungkin apa yang terjadi sekarang adalah pengaruh dari anak yang Rachel kandung. Dia pun memeluk erat tubuh ponakannya itu dan mencium kepala Rachel dengan penuh kasih sayang.


"Sudah. Jangan menangis lagi Hel," kata Bara pelan, namun Rachel malah semakin terisak.


"Hikkss ... Om," lirih Rachel sembari memeluk erat tubuh Bara tanpa ada keraguan.


"Nona Manis, maafin saya, berhentilah menangis. Sekarang kamu ke kamarmu dan beristirahat di sana," pinta Bara melepas pelukannya.


Rachel mengangguk tanpa ekspresi dan langsung berjalan meninggalkan area dapur. Bara memandang punggung ponakannya itu hingga menghilang, menghela napas panjang lalu ikut pergi.


Ceklek!


Bara terkejut ketika baru saja ingin berpakaian, Agne datang membuka pintu tiba-tiba. Wanita itu tersenyum begitu manis melihat wajah suaminya yang syok.


"Mas, malam ini ibu dari anak yang kita ingin adopsi akan datang bersama Bu Ariani. Mereka ingin memberitahu kita sesuatu sebelum resmi mengadopsi anak itu," jelas Agne membuat Bara mengangguk acuh.


Agne melangkah mendekati Bara yang sudah berpakaian. Dia mengelus punggung suaminya. "Kenapa Mas? Nampaknya kamu tidak bahagia.


Bara tersenyum kecil kemudian bergeser dari jangkauan Agne. "Maaf Sayang, tapi kamu terlalu egois kali ini. Kamu tidak memikirkan kebahagiaan kita bersama. Kamu hanya memikirkan kebahagiaanmu," balas Bara berusaha untuk menahan emosi.


Agne tersenyum lebar tanpa merasa bersalah. "Tidak Mas. Kamu salah, aku melakukan ini demi kebahagiaanmu juga. Agar warisan keluargamu tetap berada di tanganmu," kata Agne membuat Bara mendecak begitu jengkel.


"Demi warisan ternyata. Aku tau kamu melakukannya karena itu. Sudah sangat jelas sekarang," sindir Bara kepada Agne. "Sekarang kamu keluar dari kamar ini. Tinggalkan aku sendiri. Oh iya, kamu ingin aku menemui mereka kan? Aku akan turun saat mereka datang."

__ADS_1


Agne menuruti perintah Bara. Ia tidak tenang, takut rencana adopsi itu gagal karena sudah mengetahui bahwa Bara tidak sepenuhnya senang dengan rencana itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bu Ariani bersama ibu dari anak yang akan diadopsi telah datang ke kediaman keluarga Bara. Mereka semua sudah berada di ruangan tamu untuk saling mengobrol.


"Perkenalkan, ini Ibu Kira, ibu dari anak yang akan kalian adopsi nanti," kata Bu Ariani.


Agne tersenyum sementara Bara hanya mengangguk acuh dan meminum teh yang sudah siap di atas meja. Bara menunjukkan sikapnya yang dingin selama obrolan berlangsung. Sampai akhirnya Rachel datang, membawa nampan dengan dua toples kue yang berdiri di atas, menarik perhatian Bara.


Mata Bara tidak bisa lepas dari Rachel yang sedang meletakkan toples kue di atas meja. Hingga tiba-tiba—


"AAARRGGGHHH!"


Bara refleks menangkap tubuh Rachel yang nyaris terjatuh akibat lantai yang licin.


Rachel segera bangun mengetahui semua pasang mata sekarang memandangnya.


"Kamu tidak bisa hati-hati yah? Kalau kamu tadi jatuh, itu sangat bahaya!" bentak Bara begitu kesal membuat Rachel seketika bergetar ketakutan.


"Sudahlah Mas, kenapa harus dibentak sih? Itu kan bukan maunya Rachel. Dia hanya terpeleset." Agne menarik tubuh Rachel menjauhi Bara.


Bara mendecakkan lidah lalu kembali duduk di sofa. Jantungnya nyaris copot ketika melihat Rachel nyaris jatuh di depan mata. Pokoknya Rachel harus aman selama kehamilannya.


"Bi Minah kemana? Kenapa kamu yang harus mengantarnya?" tanya Bara masih dengan wajah kesal.


"Bi Minah ...."


"Cukup. Sekarang cepatlah kembali ke kamarmu dan istirahat!" pinta Bara dengan penuh penegasan membuat Rachel mengangguk saja kemudian berjalan meninggalkan ruangan tamu.


Agne dan semua yang berada di ruangan itu melihat ada sesuatu yang aneh. Tapi apakah itu?

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2