
BARU saja Bara menindih tubuh Rachel. Gadis itu langsung merintih. "Aduh, perut Rachel sakit." Mendengarnya, Bara segera berguling ke samping.
Bara yang sedang mengatur napasnya segera bangun dan panik melihat Rachel memegang perut.
"Kenapa?" tanya Bara begitu khawatir.
Rachel menatap Bara sejenak lalu menunduk.
"Sayang, ada apa dengan perutmu? Cepat katakan? Apa sangat sakit?" Tanya Bara dengan nada sedikit meninggi
Rachel menggeleng pelan. "Hmmm ... Rachel lapar Om," kata Rachel lembut membuat Bara menghela napas lega lalu turun dan memakai pakaiannya.
"Mau mandi bersama tidak?" tawar Bara membuat Rachel segera menggeleng.
"Rachel tidak mau mandi Om, Rachel mau makan," jawab Rachel dengan polosnya.
Bara mengangguk lalu terkekeh. "Kalau begitu kita makan dulu yah," kata Bara lalu membantu Rachel turun dari ranjang.
"Om," panggil Rachel setelah berdiri.
"Kenapa lagi?" tanya Bara.
Rachel melihat ke arah kedua kakinya. "Kaki Rachel bergetar," adu Rachel membuat Bara mengikuti arah tatapan istrinya itu. "Sepertinya untuk jalan aku tidak bisa," adu Rachel lagi. Bara langsung peka dan menggendong tubuh Rachel keluar kamar.
Setelah tiba di ruang makan, Bara menurunkan Rachel di kursi kemudian ikut duduk di samping istrinya. Bara dengan telaten menyiapkan sarapan untuk Rachel kemudian beranjak membuat susu khusus ibu hamil.
"Susunya dihabiskan yah," pinta Bara sambil meletakkan segelas susu dihadapan Rachel. Namun istrinya itu malah melamunkan sesuatu. "Sayang, ada apa?" tanya Bara ingin menyadarkan Rachel. Tetapi tetap saja. Bara pun kembali memanggil istrinya itu, kali ini sambil menepuk bahu.
"Hah? lya Om?" tanya Rachel terkejut.
"Ada apa? Kenapa melamun?" tanya Bara cepat.
Rachel menggeleng lalu mulai menyantap sarapannya dengan lesu. Melihat hal itu membuat Bara menghembuskan napas kasar lalu mencengkram lengan Rachel.
"Kalau ditanya itu dijawab, bukannya malah diam," kata Bara dengan emosi membuat Rachel menatap omnya yang sekarang telah menjadi suaminya itu.
"Om ...."
"Iya,"
"Bibi—"
__ADS_1
"HABISKAN MAKANMU, CEPAT!" potong Bara membuat Rachel terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bara menghela napas. "Maaf, aku hanya tidak ingin kita membahas masalah ini. aku tidak ingin kamu sedih," jelas Bara. Rachel pun mengangguk lalu melanjutkan makannya.
Bara menggenggam jemari Rachel ."Tapi saya berjanji akan mencari tau tentang Bi Minah," kata Bara lagi membuat Rachel menatap suaminya itu.
"Janji?" Tanya Rachel serius.
Bara mengangguk. "Janji. Tapi ada satu syarat, apa kamu bersedia memenuhi syaratnya?" tanya Bara. Rachel segera mengangguk. Yang terpenting adalah menemukan informasi tentang bibinya.
Bara tersenyum. "Kamu harus tinggal di sini dan berjanji tidak akan keluar sekalipun," ucap Bara membuat Rachel terdiam lalu menggeleng.
"Kenapa kita tidak pulang saja? Nyonya Sarah pasti mencari kita nanti," sanggah Rachel membuat Bara menggeleng.
"Hanya kamu yang akan tinggal di sini, dan aku berjanji akan sering mengunjungimu." Perkataan Bara itu langsung menambah kecurigaan Rachel.
Gadis itu buru-buru menggeleng. "Tidak Om. Rachel tidak mau. Aku mau ikut sama Om pulang. Aku juga masih mau kuliah." ucap Rachel membuat Bara menatap istrinya itu dengan tajam.
"DENGAR! jika kamu pulang maka Agne akan menyakitimu. Kamu tidak mau kan dia melukaimu dan anak kita?" Tanya Bara membuat Rachel terdiam lalu tersenyum kecut.
"Tapi Om ...."
"Stttt menurutlah Sayang. Ini aku lakukan demi kalian. Untuk melindungimu dan anak kita," kata Bara membuat Rachel dengan terpaksa mengangguk.
Setelah sarapan, Bara memanggil semua pekerja yang ada di rumah. Ada satu orang yang bertugas di dapur dan dua orang mengurus rumah serta 5 orang penjaga.
"Kalau halaman depan?" Tanya Rachel berani. Bara memandang sejenak halaman di hadapannya lalu mengangguk.
"Tapi pastikan ada yang menemanimu." Ucap Bara membuat Rachel tersenyum senang. Bara kemudian beralih menatap semua pekerja rumahnya. "Jaga istriku dan pastikan dia mendapat semua yang dia inginkan," pesan Bara pada pekerja wanita.
"Dan satu lagi, cepat hubungi aku jika terjadi sesuatu," tambah Bara kepada para penjaga.
"Siap tuan." Mereka menjawab serentak.
Bara mengangguk puas lalu menatap Rachel. "Sekarang ayo kita ke kamar," ajak Bara lalu segera menggendong tubuh istrinya menuju kamar.
Setibanya di kamar, Bara segera membawa Rachel memasuki kamar mandi. Mereka mandi bersama, setelah itu keduanya keluar dengan hanya memakai handuk. Bara dengan telaten mengeringkan tubuh dan rambut Rachel kemudian memakaikan istrinya itu gaun rumah yang cantik.
Selesai dengan Rachel, Bara segera memakai pakaiannya lalu merapikan penampilannya.
"Om kapan ke sini lagi?" Tanya Rachel saat mengantar Bara ke teras rumah.
Bara tersenyum lalu mencubit pipi Rachel ."Kenapa? Apa kamu sudah merindukanku?" Tanya Bara menggoda.
__ADS_1
Rachel menggeleng lalu menarik lengan Bara untuk mengelus perutnya membuat Bara tersenyum.
"Lihat! Kamu menjadikan anak kita kambing hitam. Padahal kamu yang ingin bersama ku, iya kan?" Tanya Bara membuat Rachel menggeleng lalu berlari memasuki rumah. Bara seketika melotot melihat tingkah Rachel. "Jangan lari Sayang! Nanti anak kita kenapa-kenapa," teriak Bara panik.
Bara menatap salah seorang penjaga dan memberi kode agar menjaga istri kecilnya itu dengan baik.
Bara ditemani oleh beberapa penjaga keluar dari hutan menuju kapal Fery yang sudah menunggu di ujung pulau.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bara tiba di rumah lewat tengah hari.
"Dari mana kamu Bara? Kenapa baru pulang?" tanya Nyonya Sarah yang baru turun dari lantai atas.
Bara menghela napas. "Bara kan lagi cari Rachel lah Bu," ucap Bara kesal.
"Tidak usah kamu cari. Mereka itu pasti sudah pergi jauh," balas Nyonya Sarah kemudian menepuk pundak Bara. "Lebih baik kamu temani Agne di kamar. Kasian dia masih sakit," lanjutnya membuat Bara memijat keningnya.
"Merepotkan," gumam Bara sambil menaiki tangga.
Bara memasuki kamar dan langsung menatap Agne yang sedang merias diri di depan kaca.
"Pagi ... eh siang suamiku," sapa Agne manja membuat Bara bergidik geli.
Agne tersenyum lalu memoles lipstick merah ke bibirnya. "Aku dengar kalau ponakan tidak tau diri itu pergi yah, kalau benar kasihan," kata Agne dengan senyum kemenangan membuat Bara mendengus. Agne bergerak mendekati Bara. "Kenapa dengan wajah suamiku? Bukankah itu bagus. Tidak akan ada lagi pengganggu dalam hubungan kita," kata Agne sembari mengelus dada bidang Bara yang masih tertutup kemeja.
"LEPASKAN!" Bentak Bara datar sambil menepis lengan Agne.
Agne lantas tersenyum lalu duduk di atas ranjang.
"Aku telah menetapkan sebuah pilihan. Aku tidak akan membiarkan pernikahan kita hancur bagaimana pun caranya," kata Agne membuat Bara menatap wanita itu tajam. Agne terkekeh. "Jangan menatapku begitu. Suamiku, sekarang kedua orangtuamu sudah berada dikendaliku. Tidak ada yang bisa kau perbuat," ucap Agne lalu berdiri.
"Jadi sekarang kau hanya bisa tunduk dan menerima semua perintahku. Jika tidak, ucapkan selamat tinggal dengan kekayaanmu," kata Agne dengan senyum licik.
Bara muak melihat wajah Agne, pria besar itu pun langsung keluar dari kamar, dan ...
BRAAAAKKK!
Agne tersenyum saat mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras.
"Tidak masalah Bara, jika kau tidak ingin mendengarku. Lagipula aku yakin jika rencana kebohongan kehamilanku ini akan perlahan membuatmu tunduk kepadaku. Dan yah! Kekayaan ini akan menjadi milikku kembali!" Agne berbaring ke ranjang dengan tertawa licik sambil membayangkan semua yang telah diimpikannya sejak dulu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...