
MINAH membuka lemari dan mengeluarkan semua tabungan dan perhiasan yang ia punya. Lama tinggal di rumah ini dengan biaya hidup yang ditanggung oleh keluarga Bara membuat Minah memiliki cukup uang untuk menabung dan membeli perhiasan.
Minah memasukkan uang dan perhiasan ke dalam tas lusuh miliknya. Setelah itu disimpan ke dalam lemari. Tapi sebelum itu, dia harus menemui Rachel terlebih dahulu.
Wanita paruh baya itu berjalan pelan menuju kamar Rachel lalu membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.
"Hikksss ... hikkksss."
Gerakan Minah terhenti saat mendengar suara isak tangis ponakannya. Lihatlah sekarang, hanya ponakannya yang tersiksa di sini, hanya ponakannya yang menerima ketidakadilan.
"Hel, Nak." Panggil Minah membuat tubuh Rachel yang membelakangi pintu menegang.
Kemudian dengan gerakan cepat, Rachel menghapus air matanya lalu berbalik menatap bibinya.
"Bi ...." Panggil Rachel dengan suara serak.
Minah mencoba tersenyum lalu melangkah mendekati Rachel yang masih saja menangis. "Hel, kamu kenapa?" Lirih Minah membuat Rachel menggeleng.
"Tidak, aku tidak apa-apa Bi. Rachel cuma ... hiks."
Minah terus melebarkan senyumnya lalu menghapus air mata yang menetes dari mata ponakannya.
"Rachel, dengar bibi yah, kita harus pergi dari sini secepatnya," ucap Minah membuat Rachel menatap bibinya bingung.
"Tapi kenapa Bi? Apa kita diusir dari sini? Hiks ... padahal Om Bara sudah janji tidak akan mengusir Bibi kalau aku menuruti perintahnya ... hiks ...." Tangis Rachel pecah membuat Minah juga ikut menangis.
"Tidak Hel, bibi tidak diusir. Bibi hanya ingin kita berdua bisa hidup dengan tenang. Terutama kamu Hel," ucap Minah lantas Rachel menggeleng.
"Tapi Bi—"
Minah menggeleng. "Turuti kata bibimu ini Hel, kita harus pergi atau Nyonya Sarah akan mengirimmu pergi setelah melahirkan nanti. Hel, bibi tidak siap kalau kita berpisah. Bibi sudah berjanji untuk menjagamu," kata Minah membuat Rachel terdiam.
Benarkah ia akan dikirim pergi setelah melahirkan? Gadis itu bertanya-tanya.
Minah mengelus wajah Rachel. "Bukan itu saja, Tuan dan Nyonya akan meminta Bara dan Agne pindah dari sini. Mereka tidak akan peduli padamu Hel, karena kita ternyata hanya dianggap pembantu di rumah ini," ucap Minah berusaha meyakinkan Rachel yang sekarang sedang terisak tanpa suara.
Minah berusaha kembali tersenyum lalu menghapus air mata yang memenuhi wajah Rachel.
"Kamu mau kan ikut bibi?" Tanya Minah membuat Rachel mengangguk pelan.
"Iya Bi. Aku mau."
Minah akhirnya bisa bernapas lega kemudian memeluk tubuh Rachel. "Maafkan bibi Hel, tapi memang tidak akan ada tempat bagi orang biasa seperti kita untuk orang-orang seperti Tuan dan Nyonya." ucap Minah membuat Rachel terdiam dengan air mata yang tiada hentinya mengalir.
__ADS_1
"Bibi harap semuanya bisa berjalan dengan baik setelah kita pergi," kata Minah pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat tengah malam, tiba-tiba pintu kamar Rachel dibuka seseorang.
"Hah!" Lenguh Rachel saat mengetahui hal itu.
Kemudian dia langsung menoleh saat mendengar suara langkah mendekat ke arahnya.
"Si—"
"Ssssttttt." Bara mengisyaratkan agar Rachel diam. "Jangan berisik Sayang," bisik Bara lalu menarik lengan Rachel agar turun dari ranjang.
Rachel yang tidak ingin membangunkan bibinya hanya bisa diam dan menurut saat Bara menarik tangannya.
"Tu_tuan," panggil Rachel pelan saat mereka berada di dapur.
Bara tersenyum lalu membimbing Rachel untuk duduk kemudian melangkah mengambil gelas. Bara dengan telaten membuat susu hamil untuk Rachel.
"Habiskan susunya yah!" Titah Bara sembari memberikan segelas susu ke tangan Rachel.
Gadis itu memang belum pernah meminum susu hamil dan sebenarnya ingin muntah saat itu, tapi ia hanya bisa menurut.
"Sudah Mas," lapor Rachel setelah susunya habis.
Bara bergerak mengambil gelas kosong dari tangan Rachel lalu meletakkannya di wastafel.
"Mau makan sesuatu? Nasi goreng misalnya?" Tawar Bara membuat Rachel menggeleng.
"Ada apa? Kenapa diam? Biasanya kamu paling manja denganku?" Tanya Bara yang merasa aneh akan sikap Rachel. Dia bahkan sudah rela menyelinap keluar kamar hanya untuk menemui istri keduanya yang sedang mengandung anaknya itu.
"Tidak Mas. Aku hanya lelah, mau tidur," kata Rachel membuat Bara menghela napas.
"Baiklah. Ayo ke kamar," ajak Bara namun Rachel menggeleng lalu menepis lengan Bara yang menggenggam jemarinya.
Kemudian tanpa menoleh berjalan menuju kamar belakang. Bara hanya diam menatap punggung Rachel yang menghilang dibalik pintu. Gadis itu teramat sangat membingungkan, terkadang sangat manja dan terkadang bersikap jual mahal.
Bara memeras kepalanya lalu berjalan menuju ruang tamu. Lebih baik dia tidur di sofa dibanding harus satu ranjang dengan Agne.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Esok paginya.
__ADS_1
Bara bangun lebih awal lalu berlari menuju kamarnya di lantai atas. Bara langsung memasuki kamar mandi kemudian memakai pakaiannya di dalam.
Pria itu lalu keluar dalam keadaan rapi.
"Bara. Aku demam, kepalaku sakit," adu Agne membuat Bara menatap istrinya itu dengan tajam lalu berlalu dari sana tanpa mengatakan apapun.
Bara turun menuju ruang makan. "Rachel mana Bu?" Tanya Bara membuat Nyonya Sarah menggeleng.
"Harusnya ibu yang bertanya, bagaimana keadaan Agne?" tanya Nyonya Sarah balik.
Bara berdecak kesal dengan sikap ibunya. Kemudian duduk di kursi. Nyonya Sarah tersenyum dan berniat mengambil kesempatan itu untuk membicarakan rencananya dengan kesepakatan suaminya.
"Dengerkan saya Bara, Agne itu istri pertama sekaligus sah dengan kamu dan dia sedang hamil. Jadi ibu mohon agar kamu menghabiskan waktu lebih banyak dengan Agne, jaga dia dan ajak dia jalan-jalan atau bisa juga kalian pergi ber bulan madu. Bagaimana?" tawar Nyonya Sarah membuat Bara mengambil roti lalu mengunyahnya asal.
"Tidak mau," balas Bara acuh.
Nyonya Sarah menghela napas."Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang ibu juga tidak akan memikirkan perasaan Rachel lagi." Ucap Nyonya Sarah tegas membuat Bara menatap ibunya itu tajam.
"Apa maksud Ibu?."
Nyonya Sarah tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya. "Minggu depan kamu dan Agne akan pindah dari sini. Ayah kamu sudah beli rumah untuk kalian," ucap Nyonya Sarah membuat Bara melempar rotinya asal lalu berdiri. "Saya tidak menerima penolakan Bara. Ingat itu!" Teriak Nyonya Sarah membuat Bara mempercepat langkahnya menuju kamar Rachel.
CEKLEK!
Bara tersenyum saat melihat Rachel masih tidur lalu menutup pintu dengan pelan. Bara melangkah mendekati Rachel lalu menunduk membenarkan letak selimut yang berantakan.
"Hah." Bara menghela napas lalu berjalan menuju jendela.
Dari sana ia bisa melihat taman yang luas dengan tanaman bunga tulip kesukaan ibunya. Bara tersenyum kecut. Di rumah ini, hanya ibunya lah yang berkuasa. Apapun yang ia katakan akan menjadi hukum di rumah ini. Dan dia sebagai anak tidak memiliki kemampuan untuk melawan dan itu sangat dia akui. Pria itu lemah dan terlalu pengecut untuk melawan.
"Engghh."
Bara segera menatap Rachel kemudian tersenyum manis saat kelopak mata cantik itu perlahan terbuka.
"Selamat pagi," sapa Bara lembut saat kedua mata Rachel terbuka sempurna.
"Om," kata Rachel sedikit kaget lalu bergerak bangun. "Kenapa Om Bara ada di sini?" Tanya Rachel bingung membuat senyum Bara luntur.
"Kenapa kamu memanggilku seperti itu? Dan apa aku tidak boleh menemuimu?" Tanya Bara sedikit tersinggung.
Rachel menggeleng."Bukan begitu, tapi Nyonya bilang_"
"Ssttt ... Jangan dengarkan ibuku. Dia memang selalu menyebalkan," kata Bara lalu memeluk tubuh Rachel.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...