Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
DUA PULUH ENAM


__ADS_3

^^^Beberapa Bulan Kemudian^^^


SAAT ini Bara sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, sementara Rachel tengah berbaring di samping ditemani sepiring kue.


"Mas," Panggil Rachel membuat Bara menoleh.


"Ada apa?" Tanya Bara saat Rachel mengulurkan piring ke arahnya.


"Ambilkan rachel kue lagi dong!" Titah Rachel membuat Bara melotot.


"Lagi? Sayang, itu tadi satu piring kamu habisin sendiri dan sekarang malah mau nambah," ucap Bara tak percaya dan lagi ia takut jika istrinya itu sakit perut karena terlalu banyak makan.


"Tapi baby nya mau nambah lagi," balas Rachel memelas sambil menunjuk ke arah perutnya yang buncit karena sudah berusia delapan bulan.


Bara menutup laptopnya lalu bergerak mengelus perut Rachel.


"Anak ayah masih lapar hmm? Mau nambah kue lagi?" Tanya Bara membuat Rachel mengangguk.


"Iya ayah," jawab Rachel dengan suara anak kecil.


Bara terkekeh lalu beralih menghujani wajah Rachel dengan ciuman.


"Ahh .. Mas hentikan," keluh Rachel sambil mendorong tubuh Bara.


"Masih mau kue?" Tanya Bara bersiap beranjak mengambil sisa kue istrinya di dapur.


"Udah tidak mau lagi," ucap Rachel lalu bergerak turun dari ranjang.


"Mau kemana?" Tanya Bara yang langsung mendekati istrinya.


"Hufft ..." Rachel menghela napas setelah ia berhasil berdiri. "Capek Mas. Bangun dari tempat tidur aja rasanya berat," keluh Rachel membuat Bara tersenyum.


"Namanya juga hamil." Sahut Bara sembari mengusap perut Rachel.


"Tapi aku mau tamam bunga di taman depan," kata Rachel membuat Bara terkejut dengan kemauan istrinya itu yang tiba-tiba.


"Tidak boleh yah Sayang, mas tidak izinkan kamu. Lagipula nanti kamu pasti mengeluh capek sama ..."


"Oh jadi Mas tidak suka aku mengeluh?" tanya Rachel sewot.


Bara mengangguk. "Ya iyalah. Siapa yang suka dengar istri mengeluh," jawab Bara tak begitu polos.


Rachel menatap Bara dengan pandangan berkaca-kaca, lalu.


"Mas Bara jahat!" Teriak Rachel kencang membuat Bara gelagapan.


"Ya udah, kita tanam bunga." Bara akhirnya mau mengalah dan hal itu membuat Rachel berhenti menangis kemudian menarik lengan Bara keluar dari kamar.

__ADS_1


Tiba di halaman rumah, Rachel segera meminta Bara untuk mengambil bibit bunganya.


"Di mana?" Tanya Bara bingung.


"Ck! Di kamar mas, di atas meja rias aku," kata Rachel membuat Bara melotot. Kenapa tadi tidak sekalian bawa bibit bunganya saja?


"Sayang tadi kita baru dari kamar kan?" Tanya Bara membuat Rachel mengangguk.


"Terus?" Tanya Rachel polos.


"Lalu kenapa tidak sekalian bawa bibit bunganya?" Tanya Bara berusaha meredam amarahnya.


"Itu ... ya karena lupa," jawab Rachel acuh lalu kembali mendorong tubuh Bara memasuki rumah.


"Dasar ibu hamil," dengus Bara sembari melangkah masuk.


Sementara Rachel hanya menahan tawanya. Ia pun bergegas mengambil peralatan berkebunnya, di mulai dari sarung tangan hingga cangkul kecil, sembari menunggu kedatangan suaminya. Rachel memakai sarung tangan serta topi kemudian bersiap menggali tanah.


"Duh! susah," keluh Rachel saat ia kesulitan menunduk ataupun jongkok. Tapi karena sangat ingin menanam bunga, Rachel memaksa jongkok hingga kakinya sedikit goyah, hingga .... "Argghhh!" Rachel menutup matanya bersiap merasakan sakit tapi tubuhnya malah tidak jatuh. Ada seseorang yang memeluk tubuhnya.


"Mas Bara," rengek Rachel begitu melihat wajah Bara di belakang, sedang membantunya berdiri dengan wajah menahan marah.


"Kita masuk!" Ucap Bara tegas membuat Rachel melotot


"Tapi bunganya—"


"Mas," panggil Rachel takut.


Bara menurunkan tubuh Rachel di atas ranjang, kemudian menyelimutinya.


"Mau nanam bunga," ucap Rachel pelan membuat Bara melotot tajam.


"Cepat tidur!" Titah Bara namun Rachel malah menggeleng "Tidur sekarang atau mas yang tidurin kamu," ancam Bara membuat Rachel segera menutup matanya.


"Hufft ..." Bara menghela napas lalu mengambil laptopnya melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana Pih? Sudah ada kabar tentang Bara dan Rachel?" Tanya Nyonya Sarah sembari menyajikan teh untuk suaminya.


Tuan Kris menghela napas lalu menggeleng sebagai jawaban.


"Lalu bagaimana?" Gumam Nyonya Sarah lirih.


"Entahlah," sahut Tuan Kris lalu menyesap teh miliknya.


Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk seseorang dengan kencang. Terdengar pula suara teriakan pelayan yang sepertinya sedang kepanikan. "Nyonyaaa! Tuannnnn!

__ADS_1


Nyonya Sarah dan Tuan Kris langsung saling pandang saat mendengar suara pelayan yang berteriak dari luar itu.


"Ayo kita lihat Pih," ajak Nyonya Sarah yang langsung berlari membuka pintu diikuti oleh Tuan Kris. "Ada apa?" Tanya Nyonya Sarah setelah membuka pintu.


"Itu Nyonya, Tuan. Nona Agne jatuh dari tangga," kata pelayan membuat Nyonya Sarah dan Tuan Kris spontan berlari ke arah banyaknya pelayan yang berkumpul di sekitar tangga.


"Agne" panggil Nyonya Sarah mendekati tubuh Agne yang sudah tergeletak di depan tangga.


"Bu ... Sakit," rintih Agne sambil memeluk perutnya.


"Ya Tuhan, darah," gumam Nyonya Sarah sambil menatap kaki Agne yang berlumuran darah


"Bu ... Tolong ..." Rintih Agne membuat Nyonya Sarah langsung meminta para pelayan membantu mengangkat tubuh Agne ke mobil.


Di dalam mobil, Agne masih merintih kesakitan sambil memegang perutnya. "Bu, Bara .... Agne mau bertemu dengan Bara," isak Agne membuat Nyonya Sarah menatap suaminya yang duduk di depan bersama sopir dengan tatapan datar.


"Iya Agne. Iya," ucap Nyonya Sarah seadanya.


"Bara sebenarnya kemana Bu ... Awww ....."


"Tahan Agne, sebentar lagi kita tiba di rumah sakit," ucap Nyonya Sarah menenangkan.


Setibanya di rumah sakit, Agne langsung ditangani oleh dokter.


"Saya harap Agne dan anaknya baik-baik saja yah Pih. Walau belum tentu itu cucu kita tapi tetap saja Agne adalah istri Bara," ucap Nyonya Sarah cemas sedang Tuan Kris hanya mengangguk saja.


DRRRTT! DRRRTT!


Tuan Kris menatap istrinya begitu mendengar dering ponsel.


"Siapa Mih?" Tanya Tuan Kris. Nyonya Sarah memberi isyarat agar suaminya diam sementara ia menjawab panggilan.


"Bagaimana? Ada kabar tentang anak saya? ... Benarkah? Apa mereka benar ada di sana? ... Baiklah. Kirim orang untuk mengawasi rumah itu dan jangan biarkan mereka pergi dari sana."


TUT! TUT!


Nyonya Sarah menatap suaminya yang juga melihat ke arah dirinya.


"Tentang Bara?" Tanya Tuan Kris dengan raut wajah yang disembunyikan.


Nyonya Sarah mengangguk sebagai jawaban membuat Tuan Kris mendecak dalam hati. Perasaan pria itu sangat kesal dan sekaligus terkejut mengetahui istrinya yang ternyata diam-diam mencari jalan keluar sendiri.


"Lokasi mereka sudah terlacak. Menurut Papi, kapan kita bisa kesana? Mami sudah tidak sabar bertemu Bara dan Rachel." Tanya Nyonya Sarah penuh antusias.


"Kita lihat keadaan Agne dulu Mih," ucap Tuan Kris membuat Nyonya Sarah mengangguk mengerti.


Setelah lama menunggu akhirnya proses penanganan Agne selesai. Dan saatnya sebuah kebenaran terungkap.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2