Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
TIGA PULUH TIGA


__ADS_3

"BAGAIMANA Rachel Sayang? Masih tidak diangkat?" Tanya Nyonya Sarah pada menantunya tersebut yang sedari tadi berusaha menelpon Bara. Rachel menggeleng lalu meletakkan ponselnya. Lantas Nyonya Sarah tersenyum lalu meletakkan gelas susu kehadapan Rachel. "Mungkin Bara sedang tidak memegang ponselnya," kata Nyonya Sarah berusaha menenangkan.


Namun Rachel malah menggeleng. Dia begitu cemas, terlebih saat panggilan pertamanya direjeck. Jadi ponselnya terus digenggam dan berusah terus untuk menghubungi Bara. Tapi sekarang nomor itu malah tidak aktif, seperti sengaja dimatikan.


Rachel menghela napas lalu bersandar pada sofa sambil mengelus perut besarnya. Pikirannya terus bertanya-tanya tentang siapa wanita bernama Monica itu.


Nyonya Sarah yang melihat raut sedih di wajah menantunya segera mendekat untuk menghibur. "Dengar Rachel Sayang, Bara pasti sedang sibuk dengan urusannya hingga tidak sempat mengangkat telponmu," kata Nyonya Sarah membuat wajah Rachel semakin muram.


"Apa mungkin Mas Bara sibuk dengan wanita yang bernama Monica itu?" Batin Rachel terus bertanya-tanya.


"Jadi sebaiknya lupakan Bara dan minum susumu," sahut Nyonya Sarah namun Rachel malah asyik melamun. "Rachel, Sayang." Panggil Nyonya Sarah hingga membuat Rachel tersentak dan seketika menghentikan lamunannya.


"I-iya Bu? Ada apa?" Tanya Rachel cepat.


Nyonya Sarah menggeleng. "Ibu bilang, minum susumu," kata Nyonya Sarah sedikit tegas. Rachel pun segera mengambil gelas susunya kemudian menenggaknya hingga tandas.


Setelah itu wanita itu kembali meletakkan gelas susunya di meja kemudian menatap Nyonya Sarah.


"Bu," panggil Rachel lembut.


"Ada apa Sayang? Kau perlu sesuatu?" Tanya Nyonya Sarah membuat Rachel mengangguk. "Benarkah? Apa itu?" Tuntut Nyonya Sarah cepat.


"Ibu punya rumah kan di puncak?" Tanya Rachel. Nyonya Sarah seketika mengernyit dan memikirkan sesuatu.


"Maksud kamu Villa?"


"Iya. Villa, Hmmm ... Rachel boleh tidak ke sana?" Tanya Rachel membuat Nyonya Sarah segera menggangguk.


"Tentu saja. Tapi nanti saat Bara pulang, baru kita ke puncak rame-rame," jawab Nyonya Sarah sembari tersenyum ceria.


Namun Rachel menggeleng. "Tidak, aku maunya sekarang Bu," ucap Rachel membuat Nyonya Sarah bingung


"Tapi kan ...."


"Sendirian juga tidak apa-apa," potong Rachel meyakinkan Nyonya Sarah.


"Tidak Rachel Sayang. Kamu tidak boleh kalau sendirian ... tunggu, apa kamu sedang ngidam?" Tanya Nyonya Sarah membuat Rachel mengangguk tanpa ragu.

__ADS_1


"Ya sudah. Biar nanti saya siapin semuanya," kata Nyonya Sarah membuat Rachel tersenyum senang.


"Makasih Bu."


"Iya Sayang. Saya ke dalam dulu ya mau lihat bibi masak apa hari ini," ucap Nyonya Sarah membuat Rachel mengangguk.


Setelah Nyonya Sarah pergi, Rachel kembali mengambil ponsel dan berusaha menghubungi suaminya. Tapi nomor itu tetap tidak aktif. Rachel meremas ponselnya kemudian memejamkan mata.


"Hanya satu minggu, kalau Mas Bara tidak kembali dalam satu minggu maka aku akan menganggapnya tidak akan kembali lagi."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bara menutup pintu kamar setelah mempersilahkan Rio masuk.


"Mau minum?" Tawar Bara membuat Rio berbalik dan menatap tajam.


"Kau memang ba*jingan Bara. Bagaimana bisa kau masih begitu tenang setelah membuat Monica masuk rumah sakit hah?" Teriak Rio marah sementara Bara hanya tersenyum tipis.


"Reaksimu sangat berlebihan Rio. Lagipula Monica dan bayinya baik-baik saja," sahut Bara lalu berjalan duduk di sofa.


"Baik-baik saja kau bilang? Monica hampir kehilangan bayinya." Rio kembali berteriak lalu berjalan cepat mencengkram kerah kemeja yang Bara kenakan.


BUUGGGHH!


"Dasar ba*jingan!" Maki Rio setelah meninju wajah Bara.


Bara mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Kenapa? Kau sepertinya sangat menyayangi Monica dan bayinya," kata Bara membuat Rio memalingkan wajahnya.


"Datanglah ke rumah sakit dan minta maaf pada Monica," balas Rio dengan penuh penekanan.


Bara mengernyit. "Minta maaf? Untuk apa?" Tanya Bara seolah tak bersalah. Rio langsung menatap Bara dengan tajam.


"Monica mencarimu Bara. Dia mencintaimu. Dia ingin kau bertanggung jawab atas bayinya," ucap Rio dengan nada lelah membuat Bara tersenyum.


"Dengar Rio!" Kini Bara berjalan mendekati sahabatnya itu. "Pertama, kau harus jujur. Apa kau mencintai Monica? Apa bayi yang ada dikandungan Monica adalah anakmu? Apa kau ingin bersama Monica? Apa kau ingin menikah dan membesarkan anak bersama dengan Monica?" Tanya Bara bertubi-tubi membuat Rio memalingkan wajahnya.


"Cih, Monica mencintaimu," kata Rio. Bara lantas menepuk pundak sahabatnya itu.

__ADS_1


"Yang aku tanyakan adalah, apa kau mencintai Monica?" Tanya Bara membuat Rio menggeleng.


"Monica hanya mencintaimu," jawab awab Rio.


Bara muak, dia semakin gencar bertanya. Ia harus membuat Rio jujur padanya. "Apa kau rela Monica bersamaku? Menikah denganku?" Rio menoleh lalu kembali memalingkan wajahnya


"Itu yang Monica mau," ucap Rio membuat Bara menghela napas.


"Apa tidak masalah jika Monica menjadi istri keduaku?" Tanya Bara yang seketika membuat tubuh Rio menegang. Bara tersenyum melihat reaksi Rio.


"Monica tau dan dia tetap mau menikah denganmu. Jadi tolong temui dia, aku mohon!" Pinta Rio.


Bara langsung terdiam. Sebenarnya, apa yang membuat Rio keras kepala dan enggan mengakui kebenarannya? Bara memejamkan matanya berusaha mencari cara agar Rio mau bicara jujur.


"Aku mohon Bara, menikahlah dengan Monica."


Bara membuka matanya lalu menatap sahabatnya. Pria itu terlihat sangat berbeda. Nada suaranya terdengar sangat putus asa. "Kau tahu Rio? Sekarang aku sangat ingin pulang dan memeluk istriku. Aku sangat merindukannya, begitupun dengan calon anak kami," Ucap Bara lalu memegang kedua bahu Rio. "Dia sedang hamil, anakku dan aku sangat mencintainya mereka. Aku bahkan rela melakukan apa saja agar aku bisa memilikinya," lanjut Bara lalu mengambil foto Rachel yang berada di dalam dompetnya.


"Ini Rachel, istriku," kata Bara sembari memperlihatkan foto Rachel yang sedang tersenyum, kepada Rio. "Kau tahu? Dia adalah anak yatim piatu dan ponakan istriku. Aku menjebaknya hingga hamil anakku," Ucap Bara lalu menatap foto Rachel.


"Secara tidak langsung, aku juga membuat bibinya meninggal hanya karena ia ingin membawa istriku pergi," lanjut Bara membuat Rio menghela napas.


"Untuk apa kau menceritakan semua ini. Aku hanya ingin kau menikah dengan Monica." Rio masih keras kepala.


"Aku juga mengurungnya di rumah tengah hutan agar dia tidak bisa kabur," kata Bara melanjutkan ceritanya, tidak peduli dengan Rio yang menatapnya begitu emosi dan mengepalkan kembali tinjunya.


"Cukup! Apa tujuanmu menceritakan semua ini hah?" Teriak Rio marah.


Bara menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya ingin kau tahu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan Rachel," kata Bara membuat Rio berdecak kesal. Bara memegang pundak Rio. "Aku hanya ingin kau juga berjuang atas Monica. Jika bukan Monica maka berjuanglah untuk anakmu," lanjut Bara berusaha menyadarkan Rio yang terus melotot.


Rio menepis lengan Bara dari pundaknya. "Omong kosong!" Teriak Rio begitu emosi.


Bara mengangguk. "Baiklah, aku berusaha membuatmu jujur agar aku bisa membantumu bersatu dengan Monica tapi sepertinya kau sangat ingin membuang Monica dan bayinya," ucap Bara lalu berjalan menuju tempat tidur.


"Aku akan menikahi Monica seperti kemauanmu."


Seketika perkataan Bara yang terakhir itu membuat Rio terdiam.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2