
BARA diam-diam menyelinap menuju ke kamar Rachel dan masuk ke dalam. Sebelum itu, dia sudah memastikan bahwa Minah tidak akan pergi ke sana. Bara langsung mendapati Rachel dengan wajah terkejut dan tiba-tiba berubah menjadi sangat kesal, sangat jelas dengan tatapan mata yang tajam. Ponakannya itu juga seketika memaling darinya.
Bara perlahan mendekati Rachel. Ingin mencium kening gadis itu, namun ditepis secepat mungkin.
"Sudahlah, Om. Jangan ke sini lagi, jangan dekat-dekat lagi sama Rachel. Om, kan sebentar lagi mau punya anak," kata Rachel dengan begitu sinis. Bara malah tersenyum lebar, karena menyadari bahwa ponakannya saat ini sedang cemburu.
Bara menarik tubuh Rachel dengan menggunakan sedikit tenaga akibat Rachel berusaha menolak.
"Nona Manisku, om merindukanmu ....
Maksudnya anak yang dikandunganmu," lanjut Bara membatin.
Rachel tidak ingin tahu, dia mendorong tubuh Bara hingga pelukan itu terlepas. Lalu gadis itu berjalan menjauh dari omnya.
"Saya mohon Om keluar dari sini. Dan jangan temui Rachel lagi. Rachel tidak ingin ada yang salah paham dan curiga," ucap Rachel sambil menunduk menahan tangis. Hal itu membuat Bara mendengus.
"Dengarlah! Saya tidak akan membiarkan anak adopsi itu menjadi anakku nanti," tegas Bara membuat Rachel segera mendongak.
"Apa? Maksud Om apa?"
Bara tersenyum sembari berjalan mendekati Rachel. "Saya mencintaimu Nona Manis. Jadi saya tidak akan membiarkan rencana Agne merebut kebahagiaan kita. Saya akan bersamamu," jelas Bara.
Rachel membelalak. "Om suka sama saya?" Rachel benar-benar tidak percaya.
Bara mengangguk pelan dan mendekap tubuh Rachel dengan penuh kasih sayang. "Iya, saya menyukaimu," kata Bara kemudian melepas pelukannya dan mengecup kening Rachel lembut. "Penyambutan anak saya memang akan terlaksana sebentar lagi, tapi bukan untuk anak adopsi dari Agne ... tapi untuk anak kita," kata Bara membuat Rachel yang menatapnya menggeleng.
"Tidak mungkin. Sa-saya ponakan Om ... saya tidak ingin menghancurkan hubungan Tante Agne dengan Om. Sa-saya—"
"Usssttt! Berhenti," potong Bara lalu menggenggam tangan kanan Rachel dan mengajaknya ke ranjang.
"Sekarang kamu istirahat. Jangan memikirkan hal itu, kamu tidak boleh banyak pikiran di kondisimu yang seperti ini. Om janji, acara penyambutan itu untuk anak kita," kata Bara sembari membantu Rachel untuk berbaring.
"Om janji yah sama Rachel," katanya mengacungkan jari manis.
Bara tersenyum kemudian mengikuti Rachel mengacungkan jari manis. Keduanya saling bertaut. Setelah itu, Bara mengelus kepala Rachel. "Om akan menepati janji ini. Jadi istirahatlah!"
Rachel mengangguk dengan wajah gembira. Setelah itu, Bara pamit keluar dari kamar.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari penyambutan itu akhirnya telah tiba.
"Mas, apa sudah selesai bersiap-siapnya?"
Teriakan Agne yang lebih dulu keluar dari kamar terdengar begitu keras membuat Bara kesal dan membuka pintu kamar.
"Wow, penampilanmu sangat sempurna Mas. Sepertinya Mas sudah benar-benar siap menjadi ayah," puji Agne begitu takjub. Bara hanya menanggapinya acuh.
"Yuk, Mas!" Mau tidak mau Bara mengikuti ajakan dari istrinya itu yang sudah tidak sabar.
Di lantai bawah, semua orang sudah berkumpul baik itu keluarga maupun kolega-kolega mereka. Kecuali ibu Bara yang berhalangan hadir karena masih ada keperluan di Amerika.
Bara berdiri di panggung bersama Agne dan Tuan Kris, ayah Bara yang meski usianya sudah hampir kepala enam masih terlihat bugar. Bara tak bisa berhenti melirik Rachel yang duduk di kursi bagian paling belakang.
Agne tersenyum dengan sangat bahagia, tapi ia tak sengaja menangkap Bara sedang memandangi Rachel dengan sangat dalam. Senyum Agne yang tadinya begitu manis berubah menjadi masam.
"Agne, ada apa?" tanya Tuan Kris, menyadari perubahan mood menantunya.
Agne menggeleng dan berusaha untuk kembali tersenyum normal. "Baiklah, tanpa mengulur waktu lagi, mari kita mulai acara penyambutannya," kata Agne membuat Bara semakin panik.
"Sayang, bisa tunggu se—"
Agne acuh, tidak ingin memberi kesempatan Bara untuk menghentikan rencana adopsi yang sudah dibuatnya dengan matang. "Kita akan mulai dari acara pertama, yaitu...."
BRRUUUKKK!
"Rachel? Bangun Hel."
Bi Minah seketika berteriak dengan keras membuat semua perhatian berpusat padanya.
Bara refleks berlari menuju ke tubuh Rachel yang tergeletak di lantai. Mendekap ponakannya yang sangat pucat dan tidak sadarkan diri.
Agne menghampirinya. "Tolong, siapapun antar Rachel ke rumah sakit secepatnya!" teriaknya membuat beberapa tamu lelaki mendekat ingin mengangkat tubuh Rachel, namun Bara menatap mereka dengan tajam.
"Mas, biarkan mereka saja yang mengurus Rachel. Kita harus menyelesaikan acara penyambutan ini segera," kata Agne. Tapi Bara tidak peduli, dia langsung menggendong tubuh Rachel dan berjalan menuju kamar di lantai atas.
__ADS_1
"Rachel butuh dokter sekarang! Cepat hubungi!" pinta Bara membuat Agne hanya terdiam memikirkan sesuatu.
"Apa benar firasatku selama ini? Kalau Mas Bara itu selingkuh dengan Rachel, dan dibelakangku mereka juga sudah main gila hingga Rachel hamil. Apa-apaan ini?"
Agne dan Tuan Kris buru-buru menyusul Bara, begitu juga dengan Minah.
Bara sudah berada di kamar. Mengelus kepala Rachel yang terbaring lemas di ranjangnya. Tidak ada yang bersuara sampai dokter datang.
"Tolong langsung diperiksa Dok."
Dokter yang baru saja memasuki kamar itu mengangguk cepat dan memeriksa tubuh Rachel.
"Jadi bagaimana Dok?" tanya Bara ketika dokter itu sudah berbalik ingin mengatakan hasil pemeriksaannya.
"Anda suaminya?"
"Bukan Dokter. Dia keponakan kami," jawab Agne cepat.
Dokter itu mengangguk. "Saya menyarankan untuk membawa gadis ini ke rumah sakit segera untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Tapi untuk saat ini saya hanya bisa mengatakan bahwa gadis ini tengah hamil."
Agne dan Minah langsung tersentak. Sementara Tuan Kris memandang tajam ke arah putranya seperti mengetahui sesuatu.
"Terimakasih Dok. Tolong antar Dokter ke depan," pinta Bara membuat dokter tersebut mengangguk kemudian keluar dari dari kamar. Begitupun keluarga yang lain. Di kamar itu kini hanya ada Tuan Kris, Bara, Agne, Minah, dan Rachel yang masih tak sadarkan diri.
Setelah itu, Tuan Kris bergerak mendekati Bara.
"Jangan bohong dengan ayah, sekarang jawab ada apa dengan sikapmu tadi? Sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan. APA ITU BARA?!"
Emosi Tuan Kris langsung meninggi membuat Agne berdiri di samping Bara ingin membela suaminya.
"Jangan begitu Ayah. Maaf, tapi mungkin saja Rachel hamil karena teman sekam—"
"Benar, yang dikandungan Rachel itu anakku. Cucumu Ayah," kata Bara yang seketika membuat tubuh Agne lemas.
"Kak...." panggil Minah cepat-cepat bergerak menangkap tubuh Agne yang nyaris terjatuh.
"Ini tidak mungkin kan? Padahal kita akan segera mempunyai anak ... hiks hiksss ...."
__ADS_1
"Sayang," panggil Bara yang saat itu juga tubuh Agne tiba-tiba melemah dan akhirnya jatuh pingsan.
...BERSAMBUNG...