
BARA merangkul Rachel sembari mengajaknya duduk di kursi yang tak jauh dari dapur. Rujak yang telah Bara buat juga tidak lupa dibawanya.
"Om, cepat!" sahut Rachel tidak sabaran.
"Sabar yah, pelan-pelan saja," kata Bara yang kewalahan menyuap Rachel. Ponakannya itu seperti baru pertama kali makan rujak hingga terlalu buru-buru.
"Tidak bisa Om. Ini sangat enak," ucap Rachel membuat Bara hanya bisa mengangguk. Rachel tidak bisa berhenti mengunyah, walaupun Bara berhenti menyuapinya karena menyiapkan air putih. Terus memasukkan mangga muda ke dalam mulutnya hingga penuh. "Hueeek...."
"Rachel? Tuh kan, saya bilang kan hati-hati."
"Hueeekk ... ma-mau muntah Om."
Setelah mengatakan itu, Rachel segera berlari menuju wastafel. Sementara Bara bangkit dengan kepanikan menyusul Rachel.
Bara membantu ponakannya dengan memijat tengkuk lehernya. "Biarkan semua keluar Hel. Muntahkan saja," kata Bara sembari memindahkan rambut Rachel yang berceceran agar tidak ikut terkena muntahan.
"Hueeek ... hueeek ... Hiks—" Rachel sampai terisak akibat tidak tahan dengan yang dirasakannya saat ini. Hal itu membuat Bara begitu khawatir.
"Ada apa Hel?"
Rachel langsung memegang perutnya sambil meringis. "Perut saya Om. Duhh ... sakit," jawab Rachel. Bara yang sudah sangat panik lalu menggendong tubuh ponakannya itu ke ruangan kerjanya.
Bara masuk ke ruangan kerja kemudian membaringkan tubuh Rachel ke sofa.
"Perut kamu masih sakit?" tanya Bara.
Rachel segera mengangguk membuat Bara mengangkat baju piyama yang dikenakan Rachel. Bara lalu mengambil minyak telon yang berada di kotak P3K dan mengusapkannya pada perut Rachel dengan lembut.
__ADS_1
"Ahhh ... perih Om," ringis Rachel. Bara semakin panik, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada anak yang berada di kandungan ponakannya.
"Apa kita harus ke dokter?" tanya Bara mengambil jalan terakhir.
"Tidak mau Om." Rachel menggeleng. "Saya ingin tidur sama Om, boleh?" tanya Rachel dengan nada sedikit ragu. Bara langsung melotot mendengarnya. Jangan bilang permintaan Rachel itu adalah juga karena ngidam, bagaimana caranya Bara bisa seranjang dengan Rachel sementara Agne berada di sebelahnya? Makin sulit saja.
"Tidak bisa! Kamu mau kita ketahuan? Saya memang ingin bertanggung jawab, tapi belum waktunya. Memangnya kenapa kamu ingin tidur sama saya?" tanya Bara kasar.
Rachel menggeleng, sekarang isakan tangisnya semakin menjadi-jadi. "Hikksss ... perasaan saya belum enak Om ... saya butuh Om. Perih dalam perut saya hilang kalau Om sentuh." Rachel begitu memelas membuat Bara menghela napas panjang.
"Iya-iya baiklah, tapi untuk malam ini saja yah. Kamu harus mengerti dengan keadaan kita saat ini," balas Bara dengan lembut. Kemudian pria itu mengusap kepala Rachel. "Kamu tunggu di sini, saya ingin memastikan keadaannya dulu." Rachel mengangguk sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Bara kembali dan merangkul tubuh Rachel untuk naik ke atas.
"Masuknya pelan-pelan yah," bisik Bara membuat Rachel mengangguk dengan begitu bahagia. Lalu mereka berdua mengendap masuk ke kamar. Bara berhenti sejenak untuk menutup pintu kamar dengan begitu hati-hati. "Pelan-pelan yah naiknya." Bara kembali berbisik untuk memperingatkan Rachel.
"Udah ngantuk Om," kata Rachel dengan suara agak keras. Hal itu membuat Agne bergerak. Jantung Bara nyaris berhenti, tapi untunglah tidur istrinya itu sangat pulas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Esok paginya, Rachel bangun lebih awal dan langsung terkejut ketika mengetahui dimana sekarang dirinya berada. Rachel juga panik ketika mengingat apa yang sudah dilakukannya semalam. Ia sangat berani menyelinap masuk ke dalam kamar omnya tengah malam untuk minta dibuatkan rujak dan lebih parahnya lagi ia tidur seranjang dengan om dan tantenya.
Rachel melirik Bara yang masih tertidur pulas. Ia pun bangun perlahan dan mendapati Agne menghadapnya. Rachel terkejut, untung saja tantenya itu juga masih terlelap. Tapi tetap saja, bagaimana kalau mata tantenya tiba-tiba terbuka?
Benar saja, Agne tiba-tiba bergerak seperti sudah ingin bangun dari tidurnya. Dengan gerakan pelan namun terkesan buru-buru, Rachel keluar dari kamar. Syukur, pintu kamar itu tak bersuara sedikitpun.
"Fiuhhh." Rachel menghela napas lega kemudian segera turun menuju lantai satu. Kemudian dengan cepat menuju kamarnya yang berada di belakang.
__ADS_1
"Rachel? Kamu dari mana? Kamu tidak kembali dari semalam yah?" tanya Minah begitu Rachel masuk ke dalam kamar.
Rachel tersenyum kecil. "Tidak, rachel baru kembali ke dapur. Entah kenapa bisa lapar sepagi ini, jadi rachel ke dapur untuk cari makan."
Minah menggeleng ketika mendengar penjelasan Rachel. Walaupun mereka berdua diberi tempat tinggal dan bisa menganggap rumahnya sendiri, tapi tetap saja mereka berdua tidak boleh seenaknya mengambil sesuatu tanpa ijin dari tuan rumah.
"Baiklah, lain kali kamu tidak boleh begitu yah, Hel. Kita tidak tau bagaimana reaksi tantemu jika tau kamu mengambil kepunyaannya tanpa meminta ijin," jelas Minah membuat Rachel mengangguk mengerti. "Ya sudah, cepat mandi dan segera bersiap-siap untuk ke kampus. Soal makanan, biar bibi yang membawanya ke sini," pinta Minah lalu menuju ke dapur. Sementara Rachel menurut lalu pergi ke kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rachel baru pulang dari kampus dan dikejutkan oleh banyaknya dekorasi yang mulai dipasang di berbagai sudut rumah. Ditambah lagi dengan begitu banyaknya karangan bunga yang tersusun rapi di depan gerbang. Semuanya mengucapkan selamat untuk keluarga barunya.
Rachel memandang semua itu dengan mata berkaca-kaca, ia baru mengingat bahwa acara penyambutan anak adopsi itu tinggal sehari lagi. Bara akan resmi mempunyai anak, dan bukan anak dari kandungannya.
Rachel berjalan gontai menuju ke kamar lewat pintu belakang. Tidak ada siapa pun di sana, karena ia tau bahwa bibinya sekarang sedang sibuk di dapur.
"Cih." Rachel mendecak kesal begitu mengingat kata-kata Bara yang ingin bertanggung jawab atas perbuatannya. Ia langsung melempar tasnya sembarangan dengan keras. Hatinya sangat sakit walaupun ia tau bahwa ia sama sekali tidak memiliki hubungan spesial dengan Bara. Tapi justru itu, karena hal itu yang membuat Rachel merasa dipermainkan.
Rachel termenung dengan perasaan penuh kehancuran. Tiba-tiba perutnya terasa begitu sakit, seperti terlilit.
"Hueek..." Rachel segera menutup mulutnya kemudian berlari ke kamar mandi. "Huekk ... huekk ... ah." Rachel membersihkan mulutnya.
Entah kenapa akhir-akhir ini dirinya terus merasa mual. Kepalanya juga sering sakit, terlebih dengan tubuhnya yang selalu merasa kelelahan.
Rachel berjalan gontai menuju ranjang untuk beristirahat, namun matanya malah teralihkan oleh sebuah kalender yang berada di dinding.
Rachel segera melangkah mengambil kalender itu dan menghitung sesuatu. "Sudah hampir tiga Minggu?" Ia terkejut saat mengetahui tamu bulanannya sudah terlambat dan hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Rachel berusaha untuk berpikir positif, mungkin saja dia sedang stres dan kelelahan memikirkan urusan kampusnya.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba sebuah pemikiran negatif muncul dalam benaknya. "Hah?!" Rachel refleks memegang perutnya. "AKU HAMIL?"
...BERSAMBUNG...