Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
DUA PULUH DUA


__ADS_3

"TAHAN yah Sayang, sebentar lagi dokternya datang," ucap Bara lembut.


Tak lama kemudian, dokter yang merupakan teman Bara bernama Juan itu akhirnya datang dengan peralatan medisnya. Bara melepas pelukannya dari Rachel lalu berdiri di samping ranjang membiarkan temannya memeriksa istrinya tersebut.


"Bagaimana?" Tanya Bara setelah Juan selesai memeriksa.


"Memangnya kau apakan istrimu sampai demam begini?" Tanya Juan sambil mengeluarkan beberapa vitamin dari tasnya.


"Mana aku tau, saat aku datang dia sudah demam," ucap Bara kesal namun raut wajahnya langsung berubah khawatir. "Tapi istriku baik-baik saja kan?" Tanya Bara.


Juan mengangguk. "Hanya sedikit stres dan kupikir dia tidak merasa nyaman," jawab Juan lalu memberikan botol vitamin kepada Bara.


"Aku rasa kau harus banyak belajar Bara. Wanita hamil sangat sensitif akan perasaannya. la bisa dengan mudah merasa tertekan bahkan hanya karena hal kecil. Dan aku tebak yang istrimu alami bukan hal kecil," ucap Juan lalu berdiri membawa tasnya. "Kusarankan agar kau menyewa dokter atau bidan untuk menjaga kesehatannya di sini," ucapnya lagi kemudian melangkah menuju pintu.


Bara menatap Rachel lalu berniat menaiki ranjang namun suara ponsel menghentikannya. Bara mendengus menatap nama penelpon. Agne pasti sudah mengadu. Tidak ingin menganggu tidur Rachel, Bara beranjak menuju jendela. Lalu menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Iya Bu, ada apa? ... Bara sibuk Bu, lagi ada urusan mendadak ... Tidak bisa, aku tidak bisa pulang malam ini ... Bukan seperti itu, aku tau Agne sedang hamil, tapi urusanku ini lebih penting daripada dia."


TUUUT!


Bara menutup telponnya tanpa mendengar jawaban dari ibunya. Wanita paruh baya itu lama-lama membuat dia panas juga. Bara menyimpan ponselnya lalu berbalik menatap Rachel.


"Sayang, kau sudah bangun?" Tanya Bara lalu segera melangkah mendekati Rachel.


"Om ..." panggil Rachel pelan.


"lya Sayang?"


Rachel menggeleng dengan mata berkaca-kaca membuat Bara panik.


"Kenapa Sayang? Ada yang sakit?" tanya Bara sigap.


Rachel menggeleng.


'Sebenarnya yang sakit adalah hatiku,' batin gadis itu.


Bara memeluk Rachel erat dengan lengan yang bergerak mengelus perut istrinya. "Apa sudah lebih baik?" Tanya Bara lembut.


Rachel mengangguk. "Iya Om."


Bara menghela napas lalu menarik pelan wajah Rachel agar menatap ke arahnya.


"Kita sudah menikah kan?" Tanya Bara membuat Rachel mengangguk. "Terus kenapa kamu terus memanggilku om? Aku kan sudah bilang panggil aku Mas," kata Bara membuat Rachel menggeleng.


"Kau harus mengubah panggilan itu atau anak kita nanti akan ikut memanggilku dengan sebutan Om," ucap Bara sambil mencolek hidung istrinya pelan.


Rachel menepis lengan Bara yang menyentuh hidungnya. "Geli Om." Adu Rachel membuat Bara seketika melotot.

__ADS_1


"Jangan panggil om, bisa tidak!" Ucap Bara kesal.


"Lalu harus panggil apa?" Tanya Rachel bingung.


"Emmm ... mas boleh, tapi lebih bagus lagi kalau kamu panggil aku sayang saja," jawab Bara menggoda membuat Rachel menggeleng.


"Lebay!" Cibir Rachel membuat Bara menatap Rachel tajam, lalu ... . "Arghh Ommm," Teriak Rachel saat Bara menggelitik pinggangnya gemas.


"Sebelahnya lagi," ucap Bara namun Rachel langsung menghindar.


"Jangan Om. Geli," ucap Rachel membuat Bara terkekeh.


Bara mengeratkan pelukannya lalu mencium pipi Rachel.


"Mas ...."


"Apa?" Tanya Bara saat Rachel memanggilnya mas.


"Kalau begitu aku panggil mas saja. Walaupun aku harus mengingat ibu yang memanggil ayahku dengan mas," kata Rachel membuat Bara mengangguk.


"Iya Sayang, panggil mas saja," ucap Bara lalu kembali mengecup pipi Rachel. "Kamu sekarang makin montok loh," lanjut Bara membuat Rachel menggeleng.


"Mas bohong. Timbangan aku kan turun 3 kilo," balas Rachel membuat Bara terdiam.


"Turun?" Tanya Bara ulang.


Rachel mengangguk membuat Bara melepas pelukannya lalu turun dari ranjang.


"Kamu belum pernah USG kan?" Tanya Bara membuat Rachel mengangguk mengiyakan. "Sekarang ganti baju, kita pergi ke rumah sakit," ucap Bara membuat Rachel dengan semangat turun dari ranjang lalu mengganti pakaiannya.


Selesai bersiap, Bara dan Rachel segera memasuki mobil. Rachel menatap sepanjang jalan yang hanya ada pepohonan.


"Mas, sebenarnya kita ada di mana? Kenapa tidak ada rumah?" tanya Rachel membuat Bara menoleh.


"Kita ada di tengah-tengah pulau," jawab Bara jujur.


Rachel mengangguk lalu menatap jam yang ada di mobil. Sudah tiga puluh menit dan mereka masih melewati hutan. Apalagi sedari tadi Rachel tidak melihat adanya mobil yang lewat. Tempat itu benar-benar sunyi dan jauh dari orang-orang.


Setelah menyeberang menggunakan kapal fery, barulah terlihat banyak pemukiman. Karena tidak ingin sampai ketahuan, Bara sengaja membawa Rachel ke rumah sakit yang ada di luar kota.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Butuh waktu beberapa jam hingga sampai di rumah sakit, setelah sampai di sana Bara langsung membantu Rachel berbaring.


"Semuanya normal, hanya saja mungkin istri anda terlalu kurus untuk ukuran ibu hamil. Apalagi masih sangat muda, harus selalu dijaga kesehatan dan asupan makanannya."


Bara mengangguk lalu mengambil resep vitamin yang harus diminum oleh Rachel. Selesai periksa dan menebus vitamin. Bara membawa Rachel kesebuah mal.

__ADS_1


"Ambil apa saja yang kau mau," ucap Bara membuat Rachel menatap sekeliling lalu mengambil sebuah gaun.


Rachel menunjukkan gaun yang ia ambil kepada Bara.


"Hanya ini?" Tanya Bara heran namun Rachel malah mengangguk.


Bara tersenyum lalu menarik lengan Rachel. Bara mengambil beberapa pakaian untuk Rachel. Untung saja ia sudah memeriksa ukuran tubuh Rachel jadi sangat mudah baginya untuk memilihkan istrinya itu pakaian.


"Ibu hamil tidak boleh memakai pakaian yang kekecilan," ucap Bara lalu memberikan semua pakaian yang ia pilih kepada penjaga toko.


Setelah membayar, Bara kemudian membawa Rachel ke sebuah restoran.


"Mau makan apa?" Tanya Bara memperlihatkan buku menu.


Rachel menatap buku menu lalu menggeleng.


"Ada apa?" Tanya Bara heran.


"Mau makan sate sama soto ayam," ungkap Rachel membuat Bara mengernyit.


"Sate sama soto ayam?" tanya Bara lalu melirik kiri dan kanan.


"Tidak ada yang jual itu di sini, Sayang." Bara memberi pengertian.


Rachel menggelang dengan mata berkaca-kaca membuat Bara menghela napas.


"Baiklah, jangan menangis! Kita cari ke restoran lain ya," ucap Bara pasrah namun Rachel malah menggeleng.


"Mas, tadi di pinggir jalan ada yang jual," sahut Rachel membuat Bara mengangguk paham.


"Kalau begitu kita ke sana," kata Bara cepat lalu menarik lengan Rachel untuk mengikutinya.


Tiba di tempat makan pinggir jalan, Rachel segera memesan makanan yang ia inginkan.


"Mas mau juga?" Tanya Rachel membuat Bara menggeleng.


Pria besar itu tidak suka makanan yang dijual pinggir jalan.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan yang Rachel inginkan tersaji juga.


"Selamat makan," kata Rachel sangat bersemangat lalu mulai menyantap makanannya sedang Bara hanya memperhatikan istrinya melahap makanan itu.


"Pelan-pelan Sayang," tegur Bara.


DDDRRRRTT! DDDRRRRTT!


Bara mengambil ponselnya lalu menghela napas. Sedang Rachel langsung berhenti makan.

__ADS_1


"Siapa Mas?" Tanya Rachel pelan.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2