
BARA menggeleng lalu tersenyum. "Kamu lanjutin makannya, mas mau angkat telpon dulu," ucap Bara lalu berdiri kemudian berjalan menjauh.
Rachel menatap punggung Bara yang menghilang dari pandangannya lalu melirik kiri dan kanan. Rachel menatap makanan yang telah tersaji di atas meja lalu menghela napas, selera makannya menghilang seketika.
"Sudah makannya?" Tanya Bara yang baru kembali. Rachel menggeleng membuat Bara menatap makanan yang masih penuh di piring istrinya.
"Kenapa? Nggak suka makanannya?" Tanya Bara bingung
Rachel menggeleng lalu berdiri."Mau makan di rumah," jawabnya membuat Bara mengangguk saja. Karena ia memang harus segera mengantar Rachel kembali lalu pulang ke rumah.
Setelah membayar, Bara langsung memasuki mobil dimana Rachel sudah menunggu.
Butuh beberapa jam hingga mereka tiba dihalaman vila, Bara segera membukakan pintu untuk Rachel.
"Sekarang masuk dan istirahat yah," kata Bara membuat Rachel menatap Bara lekat.
"Mas mau kemana?" Tanya Rachel pelan
Bara tersenyum. "Mas akan datang lagi nanti," ucap Bara membuat Rachel terdiam lalu tanpa mengatakan apapun langsung memasuki vila. Bara kemudian menghela napas lalu segera memasuki mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dari mana kamu Bara? Agne di rumah sudah menunggu kamu," kata Nyonya Sarah begitu Bara memasuki rumah. Bara melewati ibunya begitu saja membuat Nyonya Sarah mendengus kesal. "Kamu dengar Ibu kan?" Bentak Nyonya Sarah marah.
Bara berbalik membuat Nyonya Sarah segera mendekati putranya itu ."Dengarkan Ibu! Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Jadi seharusnya—"
"Ibu yakin kalau Agne itu benar-benar hamil? Kalaupun hamil, apa Ibu yakin jika itu anak Bara?" Tanya Bara membuat Nyonya Sarah terdiam. "Ibu yang harus mendengarkan ku, Agne itu sebenarnya mandul, aku menyembunyikan hal itu dari Ibu agar tidak menghancurkan hubunganku dengannya. Tapi sekarang Ibu harus tau. Dan apa Bara harus bilang kalau sejak itu Bara tidak pernah lagi menyentuh Agne. Tidur bersama pun sekarang jarang Bu," jelas Bara yang seketika membuat Nyonya Sarah terkejut.
"Apa?!"
Bara tersenyum. "Bagaimana? Apa Ibu mau bersikap baik dengan Agne sekarang? Silahkan! Tapi jangan mengharapkan apapun dari Bara, karena jelas jika dia benar-benar hamil, anak di kandungannya itu bukan anakku," tambah Bara lalu melanjutkan langkahnya.
Nyonya Sarah lantas segera masuk ke dalam kamar menemui Agne.
"Eh, Ibu," Sapa Agne yang sedang berbaring santai.
"Agne, ibu mau bicara sama kamu, boleh?" Tanya Nyonya Sarah cepat.
Agne tersenyum manis. "Boleh, tentang apa Bu?"
__ADS_1
Nyonya Sarah diam sesaat. "Apa Bara tidak pernah mengajakmu cek kandungan ke rumah sakit?" tanya Nyonya Sarah membuat Agne mengangguk dengan cepat.
"Tidak sekalipun, Bara seperti tidak peduli dengan anak kami Bu," adu Agne membuat Nyonya Sarah tersenyum kecut.
"Agne, maaf tapi saya harus menanyakan ini. Apa kamu benar-benar hamil? Maksud saya adalah kalian itu ti—"
"Jadi apa Ibu sekarang meragukan Agne?" Potong Agne cepat
Nyonya Sarah menggeleng. "Tidak sayang, maksud saya ..."
"Aku memang hamil Bu. Anak yang di kandungan ini anak Bara. Kami berdua selalu tidur bersama, pasti kami melakukan hal itu sebagai pasangan suami istri," ucap Agne membuat Nyonya Sarah tersenyum.
"Ya sudah. Maaf kan saya. Sekarang sebaiknya kamu istirahat," ucap Nyonya Sarah lalu melangkah keluar dari kamar.
Setelah itu, wanita paruh baya tersebut turun ke bawah dan berjalan menuju ke ruang kerja Bara.
TOK! TOK!
"Masuk!"
Nyonya Sarah membuka pintu ruang kerja Bara.
"Tergantung apa kepentingan Ibu datang ke sini," kata Bara datar.
Nyonya Sarah melangkah mendekati putranya. "Jawab ibu dengan jujur Bara. Apa Agne benar-benar mandul? Dan bagaimana mungkin kalau dia hamil bukan anakmu, terus anak siapa?"
Bara tersenyum tipis. "Menurut Ibu?"
Nyonya Sarah memasang wajah kesal. "Jawab saja pertanyaan ibu Bara! Jangan membuat ini menjadi rumit."
Bara meletakkan dokumen yang tadi ia baca lalu menatap sang ibu dengan tajam. "Ibu kan sangat cerdik? Kalau begitu cari tahu jawabannya sendiri. Lagipula sangat menyenangkan menyaksikan Ibu menyayangi madu sendiri."
Nyonya Sarah melotot. "Apa maksudmu Bara?"
Bara tersenyum tipis. "Ibu tidak akan percaya jika kuberitau sekarang," ucap Bara membuat Nyonya Sarah terdiam sesaat.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
Bara mengeluarkan sebuah foto USG dari saku jasnya. "Ini cucu Ibu," ucap Bara singkat membuat Nyonya Sarah menatap foto tersebut lekat.
__ADS_1
"Ini ..."
"Anak Bara dan Rachel," balas Bara lalu menyimpan foto itu kembali
"Rachel?"
Bara mengangguk singkat. "Tapi Ibu tidak perlu khawatir karena Bara tidak berencana membawa Rachel kembali ke rumah ini," kata Bara lalu berdiri. "Dan Ibu juga tidak akan punya kesempatan untuk melihat anak kami. Karena Rachel bilang ia tidak ingin Ibu menemui anaknya," lanjut Bara membuat Nyonya Sarah terdiam.
"Rachel bilang begitu?" tanya Nyonya Sarah akhirnya.
Bara mengangguk. "Dan Bara setuju. Lagipula Ibu mungkin tidak akan menyayangi anak kami mengingat ada anak Agne yang entah dengan siapa yang akan menjadi cucu kesayangan Ibu," ucap Bara lalu berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Sedang Nyonya Sarah hanya bisa diam mematung. "Tidak. Itu cucuku, saya harus segera menemui Rachel," gumam Nyonya Sarah lalu bergegas keluar menyusul putranya.
"Bu, Bara mau pergi lagi? Kenapa sih dia tidak ada waktu untukku?" Adu Agne pada Nyonya Sarah.
Sementara Bara hanya terus berjalan tanpa menoleh.
"Biarkan saja. Suamimu mungkin pergi bekerja," ucap Nyonya Sarah namun Agne malah menggeleng.
"Tidak Bu. Bara ... dia mau cari Rachel lagi."
Nyonya Sarah menatap Agne dengan sinis. "Terus kenapa? Kenapa kalau dia pergi mencari Rachel? Agne kamu harus sadar, istri Bara itu bukan cuma kamu," tegas Nyonya Sarah membuat Agne melotot.
"Tapi Bu, bukannya—"
"Sudahlah. Saya tidak ingin berdebat dengan kamu, lebih baik kembali saja ke kamar dan istirahat," pinta Nyonya Sarah dan berjalan melewati Agne. Wanita paruh baya itu bertekad untuk mengikuti Bara yang mungkin ingin pergi ke tempat Rachel.
Bara menoleh ke kaca spion lalu menyeringai. Benarkan. Ibunya tidak mungkin diam saja, wanita itu sangat egois jika menyangkut keluarga. Dan Bara yakin, Ibunya sendiri yang akan mengungkap semua kebusukan Agne dan mengusirnya pergi.
Bara segera memutar setirnya ke kanan memasuki halaman sebuah mall. Tidak seru jika ia langsung membawa Ibunya ke tempat Rachel. Bara turun lalu memasuki mall. Tempat pertama yang ia tuju adalah toko perlengkapan ibu hamil dan bayi.
Bara sengaja membeli beberapa pakaian untuk Rachel meski kemarin mereka sudah membelinya. Setelah selesai, Bara beralih ke pakaian bayi perempuan. Tentu saja, Ibunya akan lebih menggila jika bayi yang akan dilahirkan Rachel laki-laki.
"Apa bayinya laki-laki?" Gumam Nyonya Sarah dari jauh lalu segera menjauh saat Bara bergerak.
Nyonya Sarah menelan ludahnya kasar saat melihat betapa antusiasnya Bara saat memilih beberapa pakaian bayi. Rasanya Nyonya Sarah juga ingin berkeliling mall membeli pakaian untuk cucunya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1