Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

"TENANG Mih, Bara pasti baik-baik saja," kata Tuan Kris menenangkan walau sebenarnya ia menutupi-nutupi ketakutannya jika akan bernasib sama dengan Agne.


"Tenang? Ini semua salah kau! Harusnya saya mengambil tindakan lebih cepat untuk menghukum Agne ... saya sudah sangat terlalu dengan wanita licik seperti dia," isak Nyonya Sarah.


"Iya Mih iya, papih salah. Papih akan minta pengacara untuk mengurus masalah ini secepatnya," ucap Tuan Kris mencoba ingin merangkul tubuh istrinya. Namun dengan cepat Nyonya Sarah menepis.


"Kalau begitu, urus juga perceraian kita. Kau pikir saya akan memaafkan mu begitu saja setelah kau melakukan hal menjijikkan seperti itu? Tidak Kris. Kau juga akan mendekap di penjara. Saya tidak ingin menodai martabat saya dengan mempunyai suami yang selingkuh dengan menantunya sendiri," Ucap Nyonya Sarah dengan nada marah.


Tuan Kris terkejut dan kembali ingin bersujud untuk memohon ampun. Namun ternyata tanpa dia ketahui, beberapa polisi sudah berada di belakang. Bersiap untuk menangkapnya.


"Tangkap dia Pak!" pinta Nyonya Sarah menendang tangan Tuan Kris yang mencoba memegang.


Tuan Kris pun dengan pasrah bangkit dengan kedua tangan yang sudah terborgol di belakang. Pria paruh baya itu terus memandang Nyonya Sarah dengan tatapan tajam seakan-akan menaruh sebuah dendam yang begitu besar. Sementara Nyonya Sarah hanya tersenyum lebar, wajahnya tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun.


Bahkan dia tidak peduli dengan apapun yang Tuan Kris pikirkan. Sekarang wanita itu akan fokus untuk memperbaiki hubungan dengan menantu dan anaknya.


Begitu Dokter keluar, Nyonya Sarah langsung bergerak menemuinya. "Bagaimana menantu saya Dokter?" Tanya Nyonya Sarah cepat dengan nada penuh khawatir.


"Syukur, menantu Ibu baik-baik saja, bayinya juga. Pendarahannya tidak parah. Istirahat beberapa hari dan dia akan kembali pulih," jelas Dokter membuat Nyonya Sarah menghela napas lega.


"Syukurlah," gumam Nyonya Sarah pelan. Sekarang tinggal menunggu kabar dari operasi Bara.


"Sekarang Ibu bisa menemui pasien di kamarnya, sembari menunggu pasien satunya lagi yang sedang di operasi," kata Dokter membuat Nyonya Sarah menggeleng.


"Tapi saya juga—"


"Pasien itu akan baik-baik saja. Luka tusuknya juga tidak terlalu dalam," kata Dokter meyakinkan membuat Nyonya Sarah mengalah.


Kemudian wanita paruh baya itu segera berjalan menuju ruang rawat Rachel yang telah dipindahkan.


Nyonya Sarah membuka ruang rawat Rachel kemudian menutupnya. Ia berjalan mendekati ranjang rumah sakit yang ada di ruangan yang cukup besar itu.

__ADS_1


Nyonya Sarah terisak pelan kemudian mengambil jemari Rachel untuk digenggam.


"Maafkan saya Hel. Ini salah saya," lirih Nyonya Sarah kemudian menatap ke arah perut buncit menantunya itu. "Maafkan oma juga yah ..." lanjutnya dengan tangan yang terangkat mengelus perut besar berisi calon cucunya itu.


Jika saja dulu ia tidak bertindak bodoh dengan tidak percaya dengan omongan Bara. Maka saat ini mungkin keluarga besarnya sedang berbahagia karena akan menyambut calon anggota baru. Lagipula apa yang salah dengan anak seorang gadis desa? Rachel sangat baik, bahkan lebih baik dibanding Agne.


Nyonya Sarah menunduk dengan air mata yang mengalir semakin deras. Demi tuhan ia sangat menyesal dan berjanji akan memperbaiki segalanya setelah menantunya itu sadar.


"Kita bisa memulainya dari awal," kata Nyonya Sarah sembari tersenyum begitu lembut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malamnya, Rachel telah sadar begitupun dengan Bara yang sudah dapat keluar dari ruang rawatnya. Semuanya sudah berada di ruang rawat Rachel, tak terkecuali Nyonya Sarah yang sedang menyuapi menantunya itu. Rachel malah bingung menatap Nyonya Sarah dengan canggung kemudian melirik ke arah suaminya yang tengah duduk di sebelah.


"Kenapa?" Tanya Nyonya Sarah heran. "Apa makanannya tidak enak? Mau makan yang lain?" tawar Nyonya Sarah membuat Rachel menggeleng kikuk lalu membuka mulut saat ibu dari suaminya itu menyuapinya makan malam.


"Ayah mana Bu?" Tanya Bara yang sedari tadi diam.


Nyonya Sarah menatap putranya. "Sudah mendekam di penjara bersama wanita licik itu," jawabnya dengan serius membuat Bara terkekeh.


"Sudah, jangan diungkit lagi. Kan ibu sudah minta maaf," kata Nyonya Sarah kesal membuat Bara mengangguk. "Oh iya, kata Dokter kalian sudah boleh pulang besok. Jadi mau pulang ke mana?" Tanya Nyonya Sarah penuh harap.


"Kemana lagi Bu? Tentu saja ke rumah kami," jawab Bara cepat tanpa berpikir membuat Nyonya Sarah melotot lalu menatap ke arah Rachel


Rachel yang tadinya ingin mengangguk langsung mengalihkan tatapannya saat ibu mertuanya tersebut menatapnya dengan penuh ancaman. Sementara Bara hanya bisa menghela napas. Belum berubah ternyata!


"Bu, jangan begitu, istri Bara jadi takut," tegur Bara membuat raut wajah Nyonya Sarah berubah seketika.


"Maaf, maaf Rachel Sayang. Ibu tidak bermaksud membuat kamu takut," kata Nyonya Sarah cepat lalu segera bergerak mengelus perut Rachel.


Sementara Rachel langsung tegang saat perutnya di elus oleh Nyonya Sarah .

__ADS_1


"Pulangnya ke rumah ibu saja ya?" tawar Nyonya Sarah dengan wajah memelas membuat Rachel buru-buru menatap Bara.


"Terserah Rachel saja Bu," ucap Bara sambil tersenyum membuat Rachel menatap wajah penuh harap Nyonya Sarah kemudian menunduk pelan.


"Maaf Bu, tapi ...."


"Pokoknya harus pulang ke rumah ibu. Titik," potong Nyonya Sarah dengan nada keras kemudian langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.


BRRAAAKK!


Rachel langsung mengelus perutnya karena terkejut mendengar bantingan pintu yang begitu keras. Sementara Bara hanya tersenyum puas.


"Mas," panggil Rachel pelan.


Bara menatap istrinya kemudian mengacungkan jempolnya. "Bagus Sayang. Memang harus jual mahal kalau sama Ibu," ucap Bara memberi dukungan membuat Rachel tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Tapi apa Ibu tidak marah Mas?" Tanya Rachel ragu.


Bara menggeleng. "Coba saja. Palingan Ibu akan berpikir beribu-ribu kali untuk marah lagi," Ucap Bara membuat Rachel kembali mengangguk.


Tiba-tiba Nyonya Sarah masuk kembali ke ruang rawat Rachel dengan membawa sesuatu. "Rachel Sayang, ini lihat ibu bawakan soto ayam kesukaan kamu," kata Nyonya Sarah dengan penuh semangat. Bara dan Rachel hanya bisa saling pandang melihat wanita paruh baya itu seketika berubah.


"Bu," panggil Bara heran saat melihat sang ibu meletakkan soto ayam yang ia bawa ke meja.


"Makan yah, biar bayinya sehat," kata Nyonya Sarah setelah mengambil posisi kembali di sebelah ranjang Rachel dan bersiap untuk menyuapnya kembali.


Bara menghela napas. "Bu, Rachel kan ..."


"Diam Bara. Lagipula sebagai suami, kamu mana tahu kalau ibu hamil itu harus makan yang banyak, agar bayinya terus terpenuhi nutrisinya," kata Nyonya Sarah dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.


Bara mendecak membuat Nyonya Sarah tersenyum lebar.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kalau kalian tidak ingin tinggal bersama ibu. Tapi mulai kembali tinggal di rumah kalian, ibu akan datang setiap pagi untuk membawa sarapan sehat untuk Rachel dan calon cucu ibu," jelas Nyonya Sarah lalu mengambil gelas susu yang tadi Bara siapkan untuk Rachel.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2