
BARA terus saja menggerakkan tubuh bawahnya berulang kali tanpa henti meski Rachel belum sadarkan diri. Entah sudah berapa lama pria itu melancarkan aksinya, karena malam sudah sangat larut.
Bara semakin mengencangkan gerakannya begitu merasa ingin mengeluarkannya kembali.
"Akkkhhh..."
Tiba-tiba terdengar ******* kecil dari mulut Rachel membuat gerakan Bara spontan berhenti.
Bara merunduk, melihat Rachel yang perlahan mulai sadar.
"Aaakkkhh..." Rachel kembali mendesah dan berusaha membuka kelopak matanya.
Saat sadar, Rachel terkejut mendapati Bara yang sedang menindihnya. Spontan Rachel mengerahkan seluruh kekuatan kedua tangannya untuk mendorong tubuh Bara. Dia hampir berteriak, tapi Bara membungkam mulut Rachel dengan selimut. Bara lantas tersenyum licik.
Kemudian Bara membuka bungkamannya dan mengikat kedua tangan Rachel menggunakan selimut.
"Hen—"
Baru saja Rachel ingin mengatakan sesuatu, Bara seketika mencumbu mulut Rachel dengan sangat liar hingga gadis kecil itu tak berkutik. Ditambah lagi dengan gerakan di bawah yang semakin cepat membuat tubuh Rachel bergetar.
Bara melepas ciumannya dan membungkam mulut Rachel kembali menggunakan telapak tangan. Serta kembali mengayunkan tubuh bagian bawahnya dengan begitu brutal. Dia hampir mencapai puncaknya.
"AAAAKKKHHH!" Bara akhirnya mencapai puncak. Pria itu tahu bahwa Rachel juga menikmati permainannya, sangat jelas saat tubuh Rachel bergetar hebat di bawah.
Bara melepas bungkamannya dan menjauh dari Rachel. Turun dari ranjang lalu memakai pakaiannya dengan santai.
Suara isakan tangis terdengar samar-samar. Bara melihat Rachel yang wajahnya penuh dengan air mata bersama tubuh yang bergetar hebat. Sebenarnya ada perasaan tidak tega terhadap ponakannya itu, namun dia berusaha untuk melenyapkannya. Karena pada akhirnya, dialah yang akan bertanggung jawab atas kehamilan Rachel.
"Percuma menangis seperti itu, Nona manis," kata Bara datar sembari mengambil pakaian Rachel di lantai.
Rachel meringkuk dan masih terus menangis.
Bara membuang napas dalam-dalam dan berjalan mendekati Rachel. Dia mendekap tubuh ponakannya yang bergetar dari belakang.
Bara mengecup gadis itu dan berkata dengan tulus, "Om, minta maaf yah." Kemudian dia mengelus perut Rachel, berharap jika akan ada makhluk kecil kembarannya yang akan tumbuh di rahim gadis itu.
"Ke-kenapa Om? A-apa maksud semua ini?"
Bara seketika terdiam. Dia juga tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Apa benar yang dilakukannya hanya untuk memiliki anak agar warisannya terselamatkan atau malah terdapat hal lain. Seperti memiliki perasaan lebih kepada Rachel.
__ADS_1
Bara semakin mempererat pelukannya. "Tenang saja, aku janji akan bertanggung jawab," kata Bara membuat Rachel menggeleng pelan sambil terus terisak. Bara mengerti bahwa ponakannya itu tidak akan mudah percaya.
Bara menghela napas panjang dan kembali bangun dari ranjang. "Ayolah, hentikan tangismu itu. Ingat, jangan sampai ada yang tau atau curiga kalau aku menidurimu," katanya kemudian berjalan menuju pintu keluar. "Karena jika itu terjadi, kamu sendiri yang akan rugi," sambungnya sadis. Dia pun melangkah keluar kamar meninggalkan Rachel yang masih saja terus menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Paginya, Agne berjalan ke ruang makan dan menemukan sang suami yang sepanjang malam tadi dicari kemana-mana.
"Mas, tadi malam kamu kemana saja? Kamu tidur di mana?"
Bara berhenti menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya. Dia menoleh memandang Agne.
"Ada banyak tugas kantor semalam, jadinya aku ketiduran di ruangan kerja," jawab Bara tanpa ekspresi membuat Agne mengangguk tanpa curiga.
"Mas, aku mau beli perhiasan baru yah. Untuk aku pakai di acara penyambutan anak kita nanti. Aku sudah membuat janji dengan perancang perhiasan terkenal di kota ini. Bagaimana Mas?"
"Hari ini juga? Tapi aku sedang banyak kerjaan Sayang."
"Tidak! Pokoknya kita harus pergi Mas. Urusan kantor kan bisa diurus nanti," balas Agne tajam. Bara hanya terdiam dan melanjutkan sarapannya tanpa memberikan respon apapun. Karena percuma juga mencari alasan, istrinya itu walaupun mempunyai wajah yang lembut tapi bila menyangkut tentang perhiasan dan sejenisnya pasti akan berubah menjadi begitu menyeramkan. Terlebih jika kemauannya itu ditolak.
Jadi setelah sarapan, Bara langsung mengantar Agne ke toko perhiasan yang dipilihnya.
"Pulang dari toko perhiasan, kita tidak mampir dulu ke restoran Mas?" tanya Agne lembut.
Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Terkadang Agne sibuk berceloteh namun Bara menjawab seadanya saja.
"Loh, kok kita ke sini Mas? Bukannya aku—"
Bara tidak menghiraukan pertanyaan Agne, dia langsung turun dan berjalan memasuki toko perhiasan milik sahabatnya.
Agne berlari menyusul Bara.
Staf yang berada di depan pintu menyambut mereka. "Silahkan lewat di sini Tuan dan Nyonya."
Bara dan Agne memasuki ruangan khusus tempat menyimpan perhiasan yang langka.
"Pilihlah kalung yang kamu sukai," kata Bara setelah duduk di sofa coklat bersama Agne.
Staf memberikan sebuah kertas yang menampakkan semua desain kalung langka yang hanya ada sekian di dunia. Agne langsung sangat bersemangat memilih desain kalung kesukaannya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan ini Mas? Sepertinya sangat indah jika kukenakan," tanya Agne membuat Bara mengangguk pelan.
"Pilihan yang bagus," jawab Bara tanpa melihat desain kalung yang Agne maksud.
Agne tersenyum, tidak peduli dengan respon suaminya. Dia lalu memilih desain perhiasan lainnya yang menurutnya cocok.
"Kalau yang in—"
Bara memandang Agne lalu memilih desain kalung sembarangan.
"Ini saja!" kata Bara tanpa ekspresi membuat Agne mengerutkan kening karena melihat desain kalung yang dipilih suaminya terlalu kuno dan terkesan biasa-biasa saja.
"Tapi Mas...."
"Aku lebih suka kalau kamu pake kalung yang sederhana Sayang," ucap Bara lembut. Agne pun mengangguk terpaksa.
"Baiklah, aku ambil yang ini saja." Agne pasrah kemudian jari manisnya diukur oleh staf.
"Sayang, kamu duluan saja ke mobil," pinta Bara membuat Agne menurut saja.
Mungkin Mas Bara ingin mengganti desain kalungnya dan memberiku kejutan nanti, batin Agne.
Setelah Agne benar-benar pergi, Bara mengambil kertas yang berisi desain perhiasan di meja.
"Tolong buatkan desain cincin dan kalung seperti ini," kata Bara sembari memperlihatkan desain perhiasan yang pertama kali Agne pilih. Memang terlihat sangat indah dan mewah.
"Sepertinya Anda ingin memberikan kejutan pada istrimu."
Bara tersenyum sambil mengangguk. "Buat dengan ukuran yang lebih kecil yah."
"Mengerti Tuan."
Bara langsung mengeluarkan black card nya untuk melakukan pembayaran. Setelah itu dia kembali ke mobil.
"Mas, jadi kan kita ke restoran?"
Bara hanya mengangguk kemudian mengemudikan mobilnya ke sebuah restoran.
"Turunlah lebih dulu Sayang," pinta Bara saat mobilnya diparkir di halaman restoran.
__ADS_1
Bara tersenyum licik dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan halaman restoran. Dia tidak peduli bagaimana reaksi istrinya. Sekarang dia akan ke kampus untuk menjemput Rachel.
...BERSAMBUNG...