
"DAN ya karena Monica akan menjadi istri keduaku maka dia tidak bisa tinggal bersamaku," ucap Bara namun Rio masih saja diam. "Monica dan anaknya mungkin bisa tinggal di rumah tengah pulau, tempat aku mengurung Rachel dulu," lanjut Bara memancing reaksi Rio dan sepertinya itu berhasil.
Namun sebelum Rio mengatakan sesuatu, Bara lebih dulu menyelanya. "Tenang saja. Aku akan mengunjungi mereka setiap tahun baru," kata Bara hingga Rio kembali bersiap melayangkan tinjunya. "Tunggu," cegah Bara yang membuat Rio menghentikan niatnya.
"Kau tidak bisa seperti itu." Ucap Rio marah.
Bara mengernyit. "Kenapa? Istri dan anakku. Terserah mereka mau ku apakan," kata Bara menantang Rio yang terus mengepalkan tinjunya.
Bara tersenyum melihat reaksi Rio."Pergilah dari sini! Aku akan menemui Monica dan menikahinya seperti yang kau mau," ucap Bara lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Itu anakku," kata Rio membuat langkah Bara terhenti.
"Apa?" tanya Bara seolah tak mendengar.
"Anak yang dikandung Monica adalah anakku," jelas Rio membuat Bara tanpa sadar tersenyum lebar. Rencananya berhasil. "Monica mengancam akan membunuh anak kami jika dia tidak menikah denganmu," lanjut Rio. Bara langsung berbalik menatap sahabatnya itu.
"Kau seharusnya jujur dari awal Rio," ucap Bara lalu mendekati sahabatnya itu.
Rio menggeleng. "Kau juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku. Aku menyayangi anakku Bara, sangat," ungkap Rio membuat Bara mengangguk.
"Apa kau ingin merawat anakmu? Apa kau ingin memilikinya?" Tanya Bara membuat Rio mengangguk.
"Tapi Monica tidak akan membiarkanku memiliki bayi itu. Dia ..."
Bara tersenyum lalu menepuk pundak Rio. "Aku akan menikahi Monica," ucap Bara serius.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau yakin Sayang?" Tanya Nyonya Sarah sambil membantu menantunya itu mengemasi barang-barangnya.
Rachel mengangguk. "Lagipula di sana ada banyak orang yang menemani Rachel Bu," jawab Rachel penuh keyakinan membuat Nyonya Sarah menghela napas.
"Baiklah. Tapi ingat kau harus hati-hati. Jangan sampai kau dan calon cucu saya terluka," pesan Nyonya Sarah, Rachel mengangguk.
"Tentang mas Bara ...."
"Saya akan memberitahu suamimu saat dia kembali. Kau tenang saja Rachel sayang, Bara pasti akan langsung menyusulmu ke sana," kata Nyonya Sarah membuat Rachel tersenyum. Ia juga berharap begitu.
Nyonya Sarah meminta pelayan membawa semua barang yang sudah dikemas di dalam koper ke dalam mobil. Rachel tersenyum saat mertuanya itu membantunya berjalan.
"Ingat, jangan lakukan apapun yang bisa membuatmu lelah," kata Nyonya Sarah untuk kesekian kalinya.
"Iya Bu."
"Minta sopir berhenti jika kau lelah diperjalanan," tambah Nyonya Sarah lagi membuat Rachel tertawa.
Yang mungkin lelah adalah sopirnya bukan dirinya. Lagipula ia kan hanya duduk diam di belakang, bahkan bagian belakang mobil sudah di atur sedemikian rupa hingga ia bisa berbaring dengan nyaman.
Nyonya Sarah membantu Rachel memasuki mobil. "Ingat semua pesan saya." Nyonya Sarah kembali mengingatkan. Rachel mengangguk lalu menutup pintu mobil. Nyonya Sarah beralih menatap sopir kepercayaannya. "Tolong berhati-hati!" Ucap Nyonya Sarah lebih seperti perintah.
__ADS_1
"Baik Nyonya."
Nyonya Sarah melambaikan tangan saat mobil itu melaju meninggalkan pekarangan rumah. Entah kenapa? Tapi perasaannya malah semakin tidak tenang.
Sedang di dalam mobil, Rachel hanya bisa diam sambil mengelus perut besarnya. "Kita akan menunggu Ayah di sana Nak." Batin Rachel lalu menatap perutnya. "Jika Ayah tidak datang dalam lima hari maka ... dia memang tidak akan pernah datang, dan kita harus pergi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bara berjalan menuju ruang rawat Monica dengan buket bunga mawar di tangannya.
CEKLEK!
"Bara, kau datang?"
Bara tersenyum mendengar suara bahagia Monica.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Bara lembut sambil berjalan mendekat.
Monica tersenyum lalu berusaha bangun. Melihat hal itu, Bara spontan bergerak membantu.
"Hati-hati." Ucap Bara membuat Monica mengangguk.
"Terima kasih." Ucap Monica setelah berhasil duduk.
Bara mengangguk lalu memberikan buket bunga kepada Monica.
"Untuk siapa lagi." Ucap Bara lalu duduk di kursi samping tempat tidur.
"Aku sangat bahagia saat Rio bilang kau bersedia bertanggung jawab. Sungguh Bara, anak kita sangat senang mendengarnya, dia bahkan tidak berhenti menendang perutku, sepertinya dia sangat bahagia." Adu Monica membuat Bara melirik perut besar Monica.
"Maafkan aku tentang kejadian kemarin." Ucap Bara membuat Monica mengangguk.
"Tidak masalah. Lagipula sekarang kau sudah bersedia bertanggung jawab." Sahut Monica membuat Bara bergerak mendekat.
Monica tersenyum saat Bara menyentuh perut besarnya. "Kau harus menjaganya dengan baik Monica. Karena ayah bayi itu sangat menyayanginya." Ucap Bara sambil menatap Monica yang langsung mengangguk.
"Tentu saja Bara. Anak ini akan menjadi pewarismu, tentu saja kau sangat menyayanginya." sahut Monica membuat Bara menarik tangannya.
"Kau benar. Akan lebih baik kalau dia mirip dengan diriku." Ucap Bara datar membuat Monica terdiam kemudian tersenyum kecil.
"Ten ... tentu saja Bara. Anak kita akan mirip denganmu." Sahut Monica susah payah.
Bara mengangguk. "Akan aneh kalau anak itu berambut pirang dan bermata coklat." Ucap Bara membuat Monica melotot kaget.
"A—Apa maksudmu?"
Bara tersenyum lalu mengelus kepala Monica. "Tidak ada. Aku hanya bercanda."
Monica tersenyum akan perlakuan lembut Bara padanya.
__ADS_1
"Di mana Rio?" Tanya Bara membuat senyum Monica menghilang.
"Aku tidak tahu. Lagipula pria itu tidak dibutuhkan lagi karena sekarang kau ada di sisiku." Ucap Monica membuat Bara tersenyum tipis lalu berdiri.
"Aku akan mencari Rio dan bicara dengannya." Pamit Bara lalu berjalan menuju pintu meski Monica beberapa kali memanggil namanya.
Bara menutup pintu lalu menatap Rio yang entah sejak kapan ada di sana.
"Terima kasih." Ucap Rio membuat Bara tersenyum.
"Itulah gunanya sahabat." Balas Bara tulus.
Rio mengangguk lalu menyodorkan sebuah ponsel. "Aku sudah menyalin semua data yang ada di ponselmu ke sini."
Bara mengambilnya lalu segera mencari daftar kontak. Karena sibuk memikirkan masalah Monica, ia jadi tidak sempat membeli ponsel.
"Masuklah! Aku akan menghubungi istriku dulu." Ucap Bara lalu segera menjauh untuk mencari tempat yang nyaman untuk bicara. Bara tiba di depan taman rumah sakit kemudian langsung bergegas menghubungi Rachel.
TUT! TUT!
Bara menatap ponselnya bingung. Kenapa nomor istrinya tidak aktif. Bara kembali mencoba namun hasilnya sama. Karena tidak mendapat jawaban, Bara beralih menghubungi mamanya.
"Halo."
"Bu," sapa Bara cepat.
"Bara, ada apa? Kenapa baru menelpon sekarang?"
"Ponsel Bara rusak Bu, Rachel mana?"
"Rusak? Pantas saja kemarin istri kamu coba telpon malah tidak aktif."
"Iya. Rachel mana Bu? Kenapa nomornya tidak aktif?"
"Tidak aktif? Ahh ... mungkin karena jaringan. Rachel baru berangkat ke Villa saya di puncak semalam."
"Villa? Untuk apa ke sana?"
"Istri kamu ngidam mau ke puncak."
"Kenapa Ibu biarin? Harusnya mama minta Rachel tunggu Bara pulang saja," ucap Bara kesal.
"Kok kamu jadi nyalahin saya? Lagian maunya anak kamu pergi ke puncak."
"Ck! Lalu kenapa Ibu tidak ikut? Ibu tahu kan Rachel sedang hamil besar. Kalau terjadi sesuatu bagaimana?"
Nyonya Sarah tiba-tiba terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas akan ada sesuatu yang terjadi antara Rachel dan Bara.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1