Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
DELAPAN BELAS


__ADS_3

BARA kemudian mengecup kening Rachel sambil mengusap dengan lembut perut gadis yang tengah hamil muda itu.


"Apa sekarang kamu sering mual?" tanya Bara sangat perhatian.


Rachel menggeleng pelan membuat Bara tersenyum sangat bahagia. "Bagus kalau begitu. Jadi sekarang kamu pergi mandi dan kita makan bersama," kata Bara kemudian melepas pelukannya.


Rachel segera turun dari ranjang, melangkah menuju kamar mandi. Sementara Bara langsung membuka lemari untuk menyiapkan pakaian istrinya karena sekarang dia sudah tahu selera Rachel bagaimana.


Bara mengerutkan kening ketika mendapati semua pakaian Rachel tidak ada dan setelah mencari-cari, dia malah menemukan koper kecil di bawah ranjang. Akibat begitu penasaran Bara pun membuka tas itu dan menatap ke arah kamar mandi.


"Kenapa semua pakaian Rachel dimasukkan ke dalam tas?" batin Bara.


Pria itu tidak ingin ketahuan, jadi dia membatalkan niatnya mengambil pakaian lalu menutup kembali lemari itu. Kemudian dengan santai duduk di atas ranjang.


Tidak lama. Rachel keluar dengan memakai jubah mandi.


"Kenapa Om masih di sini?" tanya Rachel begitu ragu untuk membuka lemari.


Bara tersenyum mengangguk. "Sayang, memangnya kenapa? Aku mau kita ke ruang makan bersama," balas Bara membuat Rachel seketika terdiam.


Namun, tiba-tiba suara Nyonya Sarah terdengar di luar kamar. "Bara, sini. Bisa-bisanya kamu meninggalkan Agne di kamar sendirian. Dia sedang sakit loh."


Rachel spontan melirik ke arah pintu. "Nyonya Sarah memanggil Om," kata Rachel memberitahu.


"Tidak." Bara tetap bersikeras dan menatap Rachel lekat-lekat.


"Om ayolah, pergi temui Nyonya. Kasihan juga Tante Agne ditinggal sendiri. Bisa-bisa aku yang dimarahi Nyonya," ucap Rachel memelas membuat Bara menghela napas lalu berdiri.


"Ok, tapi setelah ini, saya ingin bicara denganmu," kata Bara serius kemudian melangkah keluar kamar.


"Untung saja." Rachel lega kemudian bergegas mengambil pakaiannya.


Setelah berpakaian, Rachel bergegas menuju ke kamar Minah yang berada di sebelah. Hari ini gadis itu dan bibinya berniat pergi ke pasar untuk menjual perhiasan.


Tak lama, Minah datang membawa makanan."Makan dulu Hel, baru kita pergi," ucap Minah sambil menutup pintu.


"Tapi kalau Om Bara tau bagaimana Bi?" tanya Rachel begitu cemas.


Minah menggeleng. "Tidak akan. Bibi tadi melihat Bara baru saja pergi ke rumah sakit membawa Agne. Dan bibi yakin sebentar lagi Nyonya dan Tuan juga akan ikut pergi," jelas Minah membuat Rachel tertunduk dengan wajah cemberut.


"Hel, sudahlah. Kamu jangan sedih. Kan masih ada bibi. Selagi bibi ada disampingmu, kamu tidak perlu khawatir soal apapun." Minah mencoba memberi rasa semangat untuk ponakan kesayangannya itu.


Rachel tersenyum lalu memeluk Minah dengan sangat erat. "Bi, jadi rencananya kita akan kembali ke desa? Tempat tinggal ayah dan ibuku dulu?" Tanya Rachel setelah melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Minah menggeleng. "Tidak. Sebenarnya bibi juga lagi berpikir soal itu. Tapi pokoknya kita keluar dulu dari rumah ini," jawab Minah membuat Rachel mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah makan bersama, mereka pun segera berangkat ke pasar.


"Capek yah Hel? Kalau begitu kita duduk dulu," ucap Minah lalu mengajak Rachel duduk di emperan toko.


"Cuaca hari ini sangat panas yah Bi," keluh Rachel membuat Minah mengangguk.


Untung saja mereka tinggal mencari angkot dan pulang. Minah kemudian berdiri sambil memeluk tas berisi uang lalu membantu Rachel berdiri. "Ayo Hel, bibi melihat angkot,'" ajak Minah membuat Rachel mengikuti arah mata bibinya.


Setelah angkot itu sampai, Minah dan Rachel segera naik memasuki angkot bersama penumpang lain. Tapi karena berdesak-desakan tiba-tiba seorang pria bertato mendekat dan merebut tas yang dipegang Minah.


"HAH! MALIIIING! MALIIINGG!" teriak Minah seketika. Sementara Rachel buru-buru berlari mengejar pencopet itu diikuti oleh Minah.


"TOLOOOONGG ADA MALING! MALIIINGG!" Teriak Rachel histeris membuat beberapa orang langsung mengejar pencopet tersebut.


"Rachel, sudah ber—"


BRRAAAAKKK!


Rachel spontan berhenti berlari lalu berbalik. Matanya langsung melotot kemudian berlari.


"Hiks ... Bibi ... Bi," tangis Rachel pecah sambil memangku kepala Minah yang bercucuran darah.


Minah membuka matanya perlahan lalu tersenyum. "Po-ponakanku tersayang ... Ra-chel, ma-maafkan bibi yah ... Bibi tidak bi-bisa menja ... uhukk—"


"Bi? Bibi? Bibi bangun Bi! Bibi jangan tinggalkan Rachel Bi. Bibi!" Teriak Rachel histeris lalu langsung membeku saat mata Minah terpejam tanpa tarikan napas. "Bibi, Rachel mohon bangun Bi ..." sekali lagi Rachel mencoba untuk memanggil Minah.


Beberapa orang yang ada di sana kemudian mendekat lalu mengecek napas dan denyut nadi Minah membuat Rachel menatap dengan cemas.


"Innalilahi wa ilahi Raji'un ..."


Rachel seketika berteriak dan menggeleng dengan wajah pucat. "BI MINAAAHHHH!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bara membuka tas lusuh yang baru saja diberikan oleh pria bertato yang merupakan orang suruhannya. Di dalamnya terdapat uang tunai lumayan banyak. Dari situ, Bara tahu ternyata Minah berniat membawa istrinya pergi, namun untung saja dia cepat bergerak dan menyusun rencana sebelum hal itu terjadi.


"Maaf tuan, tapi wanita yang punya tas itu sudah meninggal karena tertabrak mobil."


Bara seketika terdiam lalu menatap orang suruhannya dengan wajah terkejut.

__ADS_1


"Meninggal katamu?" Tanya Bara kembali.


Pria bertato itu mengangguk membuat Bara berpikir sejenak lalu tersenyum miring. Bara menutup kembali tas itu dan memberikannya kepada orang suruhannya.


"Ingat, jangan sampai ada yang tau tentang ini. Sekarang kamu cari istriku dan bawa dia ke vila yang berada di pulau ini," titah Bara membuat pria bertato itu mengangguk lalu melangkah pergi.


Bara menghela napas lalu mengusap rambutnya pelan. la hanya berencana menggagalkan rencana kabur Minah dan istrinya namun siapa sangka wanita paruh baya itu malah meninggal ditabrak mobil.


Bara tersenyum memikirkannya. Itu malah bagus menurutnya. Karena setelah itu dia akan mengurung Rachel di vila yang terletak di sebuah pulau terpencil dan tidak ada yang akan membiarkan gadis itu keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya, Bara sudah berada di depan rumah, dia melangkah masuk dan mengernyit menatap Nyonya Sarah yang menunggunya di ruang tamu.


"Kenapa baru pulang Bara?" Tanya Nyonya Sarah membuat Bara melangkah lalu duduk menurut di samping ibunya.


"Apa ini lagi-lagi tentang Agne?" tanya Bara dingin.


"Bukan. Ini tentang Rachel," jawab Nyonya Sarah membuat Bara segera menatap ibunya.


"Rachel? Kenapa? Ada masalah apa tentang istriku itu?" Tanya Bara khawatir.


Nyonya Sarah menggeleng. "Dia dan bibinya kabur dari rumah ini," jawabnya membuat Bara berpura-pura terkejut.


"Bu, jangan bicara begitu. Itu tidak mungkin," kata Bara memasang raut wajah cemas.


"Mereka pergi tadi siang dan belum kembali sampai sekarang dan tadi saat saya masuk ke kamar Rachel, di lemarinya tidak ada pakaian satupun," balas Nyonya Sarah membuat Bara menggeleng tidak percaya lalu berlari menuju kamar Rachel.


Nyonya Sarah mengikuti langkah Bara.


"Lihat. Saya tidak bicara sembarangan kan," kata Nyonya Sarah sambil menunjuk lemari yang baru saja di buka oleh Bara.


Bara menggeleng lalu menutup lemari dengan emosi.


"Tenang Bara, kita bisa—"


"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang Bu sedangkan istriku pergi dari rumah!" Teriak Bara lalu berlari keluar dari kamar.


"Bara, kamu mau ke mana? Bara kembali!" Teriak Nyonya Sarah saat melihat Bara memasuki mobil kemudian melajukannya keluar dari halaman rumah.


"Ck! Anak itu sekarang suka berbuat sesukanya," gerutu Nyonya Sarah, namun tiba-tiba dadanya sakit. Tuan Kris yang melihatnya langsung cepat membantu istrinya itu kembali memasuki rumah.


Nyonya Sarah akan membiarkan Bara pergi hari ini untuk mencari Rachel tapi untuk besok, wanita tersebut akan memastikan jika hanya ada Agne di hidup putranya. Lagipula bagus jika Rachel pergi, dia merasa tidak perlu susah-susah memikirkan masalah itu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2