Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

NYONYA SARAH pun kembali ke kamarnya sambil menghela napas panjang.


Begitu masuk ke kamar, ia langsung bertanya, "jadi bagaimana Pih?"


Tuan Kris memandang istrinya sembari menggeleng. "Tidak. Dugaan Mami dan perkataan Bara itu tidak benar. Agne benar-benar hamil sekarang."


Entah mengapa Nyonya Sarah masih belum puas dengan jawaban yang diberikan suaminya. Seperti ada yang janggal. "Papi belum bisa mengatakan kalau dugaan mami salah. Ingat Pih, Bara bilang jika Agne memang hamil, maka anak yang dikandungnya itu bukan anaknya. Dan mami merasa begitu," kata Nyonya Sarah membuat Tuan Kris membuang wajah dengan kesal. "Pokoknya kita harus menemukan Rachel secepatnya," lanjut Nyonya Sarah dengan penekanan. Tuan Kris hanya mengangguk pasrah, pusing memikirkan rencana agar rahasianya tidak terbongkar.


"Terus bagaimana dengan Agne?" tanya Tuan Kris kemudian.


"Masa bodoh lah Pih sama wanita itu. Harusnya Papi sadar, kalau sejak awal yang salah itu Papi. Harusnya Papi tidak memaksa Bara untuk menikahi Agne. Beginilah hasilnya," ucap Nyonya Sarah lalu berbaring. "Tidak. Ini juga kesalahan saya, harusnya saya tidak mengikuti perkataan Papi. Semua ini kesalahan kita." Gumam Nyonya Sarah lalu terisak menahan tangis.


Tuan Kris hanya menatap istrinya lalu menghela napas. Ada rasa penyesalan yang melanda pria paruh baya itu. Keadaan semakin hancur, apa masih bisa dia perbaiki?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Nyonya Sarah dan Tuan Kris langsung menuju alamat dimana Rachel tinggal setelah mengantar Agne ke bandara.


"Saya harap Bara tidak ada di sana," ucap Nyonya Sarah membuat Tuan Kris mengangguk. Karena akan lebih mudah membujuk Rachel jika tak ada Bara di sana.


Setelah menempuh perjalan yang cukup melelahkan. Akhirnya mereka berdua memasuki sebuah pekarangan vila yang terletak di tengah-tengah pulau.


"Betulkah, mereka tinggal di sini?" Gumam Nyonya Sarah tak percaya lalu segera maju ke depan pintu gerbang yang lumayan besar. Sementara Tuan Kris mengekor.


Nyonya Sarah membunyikan bel. Namun suasananya sangat sepi Wanita paruh baya itu kembali membunyikan bel. Nihil, tak ada tanda-tanda sedikitpun orang di dalam vila itu.


Nyonya Sarah menatap cemas ke arah suaminya. "Apa mereka sudah pergi?" tanya Nyonya Sarah tak tenang. Sedangkan Tuan Kris tersenyum tipis lalu berpura-pura mencari-cari sekeliling. Pria itu sangat senang, karena orang suruhannya telah berhasil membuat Bara dan Rachel pergi.


"Kenapa tidak ada siapapun di sini? Tapi aku merasa mereka pernah tinggal di vila ini cukup lama," ucap Nyonya Sarah merasa kesal. Harapannya untuk bertemu Rachel hilang seketika.


"Sudahlah Mih, mungkin informasi yang kita dapatkan itu salah. Atau mungkin juga mereka sudah pindah," ucap Tuan Kris lalu mengajak istrinya kembali ke mobil.

__ADS_1


"Kurang ajar anak itu! Kenapa Bara begitu menyebalkan sekarang," gerutu Nyonya Sarah sambil meremas tas miliknya.


"Sudahlah Mih, cepat atau lambat kita pasti menemukan mereka," kata Tuan Kris lembut lalu berjalan menjauhi vila itu dengan tenang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nyonya Sarah memasuki rumah dengan langkah yang dihentak-hentakkan sepatu heels nya, diikuti oleh Tuan Kris yang kewalahan menyusul sang istri.


"Kurang ajar! Mengundurkan diri? Apa sebenarnya yang anak itu pikirkan!" Teriak Nyonya Sarah kesal begitu memasuki rumah. Dia juga melempar tas tangannya dengan wajah memerah.


Bagaimana tidak, saat di perjalanan pulang tadi salah satu staf perusahaan menelpon dan memberitahu bahwa Bara baru saja menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai CEO dan mengatakan akan menghilang.


"Tenang dulu Mih. Bara tidak mungkin akan begitu saja pergi terlalu jauh, apalagi jika dia bersama Rachel," ucap Tuan Kris menenangkan istrinya.


"Tapi Pih, bukankah anak itu sudah bertindak terlalu jauh. Menghamili Rachel, meninggalkan Agne itu masih bisa kita maafkan tapi kalau dia membawa Rachel dan cucu kita pergi apalagi dia juga keluar dari perusahaan. Bukankah sama saja jika Bara ingin melepaskan diri dari kita," ucap Nyonya Sarah dengan penuh amarah.


"Saya tau Mih. Untuk urusan itu biar saya yang urus. Mami tenang saja," ucap Tuan Kris lalu melangkah menuju ruang kerjanya.


Nyonya Sarah menatap kepergian suaminya lalu mengusap dadanya kasar. Sungguh ia sudah habis kesabaran. Bagaimana bisa putra satu-satunya yang begitu ia banggakan malah bertindak kelewat batas seperti itu.


"Maaf nomor yang anda tuju sed—"


TUT! TUT! TUT!


Nyonya Sarah melempar ponselnya ke sofa lalu duduk dengan gusar.


Bagaimanapun caranya anak, menantu serta cucunya harus ditemukan. Nyonya Sarah tidak ingin melewati masa tua tanpa anak dan Cucu disisinya. Siapa yang akan meneruskan keluarganya? Membayangkan hal itu saja membuat Nyonya Sarah semakin frustasi.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Bara menggendong tubuh Rachel yang terlelap. Istrinya itu tertidur selama perjalanan menuju rumah mereka yang baru yang terletak jauh dari kota.

__ADS_1


Tiba di kamar, Bara menurunkan tubuh Rachel di atas ranjang perlahan.


"Enghh."


"Ussstt...." Bara buru-buru menenangkan istrinya saat mendengar suara lenguhan.


Setelah memastikan bahwa istrinya kembali terlelap, Bara segera memasuki kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya, ia kembali dan ikut bergabung bersama Rachel di ranjang. Mengecup kening sang istri kemudian bergerak memeluk tubuhnya.


"Mari kita mulai semuanya dari awal," bisik Bara lalu memejamkan matanya.


Esok paginya, Bara membuka mata dan langsung disuguhi senyum manis oleh istrinya.


"Selamat pagi." Sapa Rachel lembut membuat Bara tersenyum lalu lengannya bergerak mengelus perut Rachel yang sudah sedikit menonjol.


"Selamat pagi Sayang. Selamat pagi anak ayah," sapa Bara tersenyum memandang Rachel dan beralih ke calon anaknya yang masih berada di dalam rahim. "Bagaimana Sayang, kamu tidak mual lagi?" Tanya Bara membuat Rachel mengangguk.


"Baguslah," gumam Bara lalu menarik lengan Rachel hingga tubuh istrinya itu condong ke arahnya.


"Mas, kita ada di mana?" tanya Rachel sambil memandang ke sekelilingnya.


Bara tersenyum dan menarik wajah Rachel hingga mereka saling bertatapan. Dia juga memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat lalu mengecup keningnya. "Mulai hari ini kamu dan aku ... anak-anak kita akan tinggal bersama di sini," ucap Bara membuat Rachel mengernyitkan dahi.


"Lalu bagaimana dengan Tante Agne?" tanya Rachel menbuat Bara tertawa kecil.


"Kamu masih saja memikirkan dia. Sayang, sudahlah jangan memikirkan dia lagi. Lagipula kalau dia benar-benar hamil, bayi yang dia kandung bukan anakku," ucap Bara membuat Rachel menatap mata suaminya itu seolah mencari kebohongan. "Aku jujur Sayang, hanya kamu yang boleh mengandung anak-anakku." Ucap Bara sembari meremas pipi Rachel yang sekarang semakin bulat.


Rachel tersenyum tipis lalu kembali menatap Bara. "Lalu Nyonya Sarah dan ..."


"Kamu tenang saja, mereka sudah kuatasi," potong Bara cepat dengan senyum penuh arti.


"Maksud Mas apa?" Tanya Rachel bingung membuat Bara menghela napas.

__ADS_1


"Kamu akan mengerti nanti. Sekarang lebih baik kita mandi lalu makan," ucap Bara kemudian segera membawa tubuh Rachel menuju kamar mandi.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2