
BARA kemudian turun dari lantai satu menuju ke ruang kerjanya. Mengunci pintu dan langsung berbaring di atas sofa. Banyak hal yang harus dilakukannya sekarang. Dan yang paling pertama adalah menikahi Rachel, setelah itu ia akan perlahan-lahan menyikirkan Agne.
Esok paginya, Bara kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Bara terkejut ketika melihat Agne terbaring mengenaskan di atas ranjang tanpa menggunakan apa-apa. Tubuh wanita itu dipenuhi dengan bekas ciuman, hampir di seluruh tubuh. Dan lebih parahnya lagi, banyak cairan yang memenuhi area inti wanita itu. Bara merasa begitu jijik.
Tidak peduli lagi dengan istrinya yang ja'*lang itu, Bara bergegas ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya yang rapi. Ketika sudah keluar, dia mendapati Agne telah duduk bersandar di kepala ranjang dengan wajah sinis.
"Ternyata ada untungnya juga yah kehamilan Rachel terbongkar, jadi aku tidak susah-susah lagi menyembunyikan hubunganku dengan ayahmu," ucap Agne dengan nada mengejek. Bara tidak merespon, hanya menatapnya datar.
"Terserah," singkat Bara kemudian melangkah keluar dari kamar, dia tidak peduli dengan Agne yang berteriak kegilaan di dalam.
Setibanya Bara di bawah, dia langsung mencari Rachel.
"Rachel! Rachel!" panggil Bara membuat Nyonya Sarah yang baru saja pulang dari luar negeri menghampirinya.
"Sudah tentu gadis itu ada di kamarnya."
Bara tidak memberikan respon apapun dengan kehadiran ibunya yang tiba-tiba. Dia benar-benar fokus untuk mencari tahu kabar Rachel. Dia pun langsung bergegas ke kamar gadis itu yang berada di belakang. Nyonya Sarah mengekori putranya.
"Kamu tidak mengucapkan selamat datang kepada ibu, Bara? Ibu bela-bela menolak proyek besar untuk kembali ke sini. Memangnya kamu tidak rindu sama ibu?" tanya Nyonya Sarah membuat Bara berhenti dan memandang ibunya itu.
"Rindu? Memangnya saya tidak tau. Ibu kembali ke sini karena ingin mencampuri hubunganku dengan Rachel. Pasti ayah sudah memberitahu ibu semuanya." Bara langsung meninggalkan Nyonya Sarah yang memasang raut wajah penuh amarah.
Setelah sampai di kamar yang terletak di belakang rumah, Bara masuk dan mendekati Rachel yang terbaring di ranjang dengan langkah pelan-pelan. Bara lalu mengecup kening Rachel hingga akhirnya gadis itu tersadar.
"Om," panggil Rachel begitu lirih.
Bara tersenyum manis dan membantu Rachel duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kenapa Hel? Kalau ada apa-apa, ceritakan saja sama om," kata Bara yang melihat Rachel menunduk dengan wajah murung.
Rachel menggeleng pelan. "Om pasti sudah mengadopsi anak itu," lirih Rachel.
__ADS_1
Bara mengerti kemudian menarik ponakan yang mengandung anaknya itu ke pelukannya.
"Tidak seperti itu Hel, saya sudah berjanji akan bertanggung jawab. Jadi saya secepatnya akan menikahimu," kata Bara lembut sambil mengelus perut Rachel. "Kamu pasti tidak lupa dengan janji saya itu." Rachel mengangguk dengan senyum kecil yang terlihat samar.
Bara tersenyum. "Makanya kamu harus menjaga baik-baik anak itu. Karena saya sangat menantikan kelahirannya," ucap Bara membuat Nyonya Sarah yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka terpikirkan sebuah rencana.
Lama tak ada suara, akhirnya Nyonya Sara memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam kamar dan berkata, "Rachel, bersiaplah. Kau akan menikah dengan Bara hari ini." Hal itu benar-benar tidak terduga bagi Rachel. Sementara Bara tidak terkejut sama sekali, malah merasa bahagia. Rachel lalu memandang Bara lekat-lekat.
Bara tersenyum sambil mengangguk kemudian membantu Rachel bangkit dan menuntunnya ke kamar mandi. Setelah Rachel selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan kebaya putih, Bara memegang tangan ponakannya itu menuju ke ruang tamu rumahnya.
Di situ beberapa keluarga sudah berkumpul. Minah yang duduk di dekat penghulu menahan air mata, karena mengingat bahwa ponakannya yang masih kecil itu harus menjadi istri kedua. Ia gagal dalam merawat Rachel, sehingga merasa bersalah kepada mendiang kakaknya.
Rachel duduk di sebelah Minah, sementara Bara melangkah maju ke hadapan penghulu. Suasana pernikahan mereka memang dilangsungkan dengan sangat sederhana. Hanya ada penghulu, beberapa keluarga untuk menjadi saksi, dan kedua orangtua Bara.
Tanpa menunggu lama, Bara menjabat tangan penghulu lalu mengucapkan kalimat ijab kabul secara bergantian hingga semua orang yang menjadi saksi meneriakkan kata sah.
Bara berbalik lalu bergerak mendekati Rachel, mengulurkan tangannya agar ponakan yang sudah menjadi istri keduanya itu menciumnya. Setelah itu Bara mengecup kening Rachel.
Rachel menggeleng pelan dengan masih tertunduk. Ia kemudian memeluk Bara begitu erat, tak tahu mengapa muncul sebuah perasaan bahwa setelah pernikahan ini akan datang banyak masalah dalam hidupnya.
"Kenapa? Kamu mual lagi?" Tanya Bara sekali lagi dengan penuh kekhawatiran.
Rachel menggeleng dan menambah erat pelukannya.
Bara mengusap punggung Rachel dengan lembut kemudian menggendong tubuh gadis itu menaiki tangga menuju ke kamar.
Bara membuka pintu kamar dan masuk. Meletakkan tubuh Rachel di atas ranjang pelan-pelan.
"Lihatlah," kata Bara sembari mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.
Rachel memandang sebuah kalung mewah dan cincin yang sama-sama berkilau di tangan Bara dengan wajah takjub.
__ADS_1
"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Bara membuat Rachel mengangguk pelan. Bara kemudian memakaikan kalung mewah itu ke leher Rachel dan cincin yang memiliki permata itu dipasangkan ke jari manis istri keduanya. Dengan senyum Rachel menyematkan satu cincin lagi ke jari manis Bara.
Bara kembali mengecup kening Rachel.
"Istirahat yah Sayang, saya mau ke ruang kerja dulu, ada yang ingin saya urus," pamit Bara membuat Rachel mengangguk. Setelah itu Bara membantu Rachel untuk berbaring.
Bara tersenyum melihat Rachel sangat patuh kepadanya, lalu berjalan keluar kamar menuju ke ruang kerja.
Beberapa menit kemudian setelah Bara turun, pintu kamar langsung di dorong dengan kencang.
"HEI BANGUN! Lancang sekali kau tidur di sini! Keluar!"
Rachel terkejut dengan gebrakan pintu dan bentakan seorang wanita yang langsung membuatnya bangun dari ranjang.
"Aku adalah istri Bara dan kau tetap menjadi ponakan kurang ajar yang menggoda suamiku hingga menjadi istri keduanya. Jadi jangan pernah kau menginjakkan kaki di kamar ini. De—"
"Agne, ada apa ini?"
Agne langsung merubah raut wajah liciknya kemudian mendekati Nyonya Sarah yang baru saja datang.
"Bu, Rachel tidak mau keluar dari kamar ini. Padahal sudah kubilang kalau kamar ini adalah milikku dan Bara." Agne mengadu dengan wajah yang penuh dengan drama membuat Nyonya Sarah menatap tajam Rachel.
"Dasar tidak tau diri! Cepat keluar dari sini! Dan ingat kamar kamu itu tetap di belakang," bentak Nyonya Sarah membuat Rachel tersentak dan buru-buru keluar dari kamar.
Agne tersenyum licik. "Makasih yah Bu," katanya lembut.
Nyonya Sarah mengangguk sambil tersenyum manis. "Iya Agne, walaupun Bara sudah menikahi Rachel. Tapi tetap saja kau adalah menantu saya satu-satunya. Rachel hanya ponakan tidak tau diri yang menggoda suami tantenya. Gadis itu hanya dimanfaatkan sampai anaknya lahir. Jadi kau tenang saja."
Agne mengangguk dan menutup pintu setelah Nyonya Sarah pergi.
"Terlalu mudah ternyata," batin Agne dan tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...