Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
TIGA BELAS


__ADS_3

BARA mengangkat tubuh istrinya ke ranjang. Sementara Tuan Kris memberitahu kepada keluarga lain untuk membawa Rachel yang masih tak sadarkan diri ke kamar belakang. Minah ikut ke belakang untuk mengetahui kondisi ponakan tersayangnya, namun sebelum itu dia memandang Bara dengan wajah penuh tanya.


Apakah betul perkataan iparnya itu?


Bara yang mengetahui arti pandangan Minah mengangguk. Menunggu waktu untuk menjelaskan semua perkataannya kepada wanita itu.


Minah pun keluar dari kamar dengan wajah begitu sedih.


Bara lalu fokus kembali kepada istrinya. Dan ternyata Agne sudah perlahan sadar, tetapi wajahnya terlihat sangat pucat.


"Mas," panggil Agne mengambil tangan Bara dan mereka saling menggenggam. "Aku mohon jangan tinggalkan aku, Mas. Kita akan segera mempunyai anak."


Bara hanya bisa menggeleng. Dia harus menepati janjinya kepada Rachel. "Sayang, maaf tapi aku harus bertanggung jawab. Rachel sedang mengandung anakku."


Tuan Kris sebenarnya geram, namun mengingat sebuah rahasia besar yang disembunyikannya, dia berusaha untuk melembut. "Nak, sebenarnya saya sangat marah padamu, tapi ini semua sudah terjadi. Lebih baik kita melanjutkan acara penyambutan ini."


Agne mengangguk begitu lemah. "Ayah betul Mas. Kita harus tetap melanjutkan acara ini."


Bara berpaling memandang sang ayah.


Tuan Kris memberi kode kepada Bara untuk menjauh dari Agne. Pria paruh baya itu ingin memperingatkan sesuatu hal kepada putranya tersebut.


"Bara, sebenarnya beberapa hari sebelum acara penyambutan ini, ayah sudah tau soal adopsi itu, ayah tau juga kalau Agne adalah wanita mandul. " bisik Tuan Kris.


Bara melotot, terkejut dengan pengakuan sang ayah. Bagaimana bisa? Sedangkan orangtuanya sibuk di luar negeri. Lantas kenapa dirinya terus didesak soal keturunan?

__ADS_1


"Ayah mengerti, kamu melakukan itu karena desakan ayah dan ibu. Tapi ayah juga stres dengan berita di luar sana tentang keluarga kita yang belum mempunyai keturunan. Kau tau? Berita miring itu membuat saham perusahaan ayah turun drastis. Dan ternyata saya tidak menduga, dengan teganya kau menghamili ponakanmu sendiri. Seandainya dari awal saya tau bila wanita yang diwasiatkan untuk kau nikahi itu mandul, saya akan mencarikan mu wanita bayaran untuk kau hamili," jelas Tuan Kris membuat Bara tak bisa berkata-kata. Masih tidak menyangka semua pengakuan Tuan Kris. "Jangan sampai kau menceraikan Agne akibat ini. Kau tau sendiri, kan apa konsekuensinya? Ayah sudah memberimu kepercayaan untuk menjaga Agne, ingat wasiatnya. Maka dari itu, urusan Rachel biar ayah yang bicarakan ke ibumu. Setelah Rachel melahirkan, anak itu akan menjadi anakmu dan Agne."


Pembicaraan itu berakhir. Tuan Kris meninggalkan Bara dan mendekati Agne, "Tenang saja Nak, Bara tidak akan mungkin meninggalkanmu. Kita akan tetap melanjutkan acara penyambutan itu."


Bara mengepalkan tangannya dengan sangat emosi. Rencana ayahnya memang sangat menguntungkan baginya. Walaupun dia masih memiliki rasa cinta untuk Agne, tapi rasa kasihan kepada Rachel semakin lama membuat Bara ragu dengan cintanya kepada istrinya.


Agne tersenyum lembut. Jelas terlihat kebahagiaan dalam dirinya. Ia lalu memandang Bara. "Benarkah itu Mas?" tanya Agne dengan wajah penuh kemenangan.


"Ingat ini, Rachel masih sangat muda, dia juga masih kuliah. Apa yang akan orang bilang jika mengetahui gadis itu hamil anak dari omnya. Dimana harga diri keluarga kita? Tapi jika kau masih ingin bersamanya, ayah pastikan keselamatan gadis itu akan terancam."


Bara memahami, kalau ayahnya sedang mengancamnya. Karena sudah tidak tahan, dia akhirnya berniat keluar dari kamar.


Namun sebelum benar-benar keluar, Bara berhenti sejenak lalu mengedarkan pandangannya ke Tuan Kris dan Agne secara bergantian. "Baiklah, saya tidak akan meninggalkanmu, Sayang. Acara penyambutan ini juga akan dilanjutkan."


Agne tersenyum senang. Dia tidak peduli jika ponakannya menjadi bahan ancaman untuk suaminya. Yang terpenting, Bara tetap menjadi miliknya. Sementara Tuan Kris bernapas lega karena berhasil meyakinkan putranya untuk tidak berbuat sesuatu yang bisa seketika menghancurkan segala popularitasnya.


Acara penyambutan telah selesai, Bara dan Agne telah berada di kamar. Bara langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Agne mengganti pakaian dan menghapus riasan wajahnya.


Setelah itu, Agne langsung berlari memeluk Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum begitu bahagia.


"Tolong lepaskan," kata Bara datar membuat raut wajah Agne menjadi masam.


"Ada apa Mas? Kita kan tidak jadi mengadopsi anak dari panti asuhan? Bukankah itu yang Mas mau? Dan akhirnya kita akan mempunyai anak. Ya walaupun sama sih adopsi, tapi aku lega karena ini adalah dari permintaan Ayah. Sekarang kita perlu menunggu saja ampai Rachel melahirkan anak kita." Agne terus saja bergelayutan dengan centil di lengan kekar milik Bara.


Bara tidak terima dengan perkataan Agne yang terlihat bahagia diatas penderitaan ponakannya. "Tidak usah membahasnya lagi. Saya tidak suka," ucap Bara membuat Agne tersenyum begitu licik lalu mengelus punggung Bara dengan lembut.

__ADS_1


"Mas, kamu mungkin sudah tidak mencintaiku sejak Rachel mengandung anakmu. Tapi kau tidak akan bisa lepas dariku. Karena Ayah sangat bergantung kepadaku," kata Agne yang seketika membuat Bara terkejut.


"Apa maksudmu?" tanya Bara sinis.


Agne tersenyum kemudian bergerak mengitari tubuh Bara sambil terus membelai. "Aku selingkuhan ayah Mas," bisik Agne.


Bara menatap tajam Agne hendak menamparnya, namun istrinya itu dengan cepat menghindar.


"Jangan marah dulu dong Mas, dengarlah, itu terjadi sebelum kita menikah dan ayah Mas yang merusak rahimku hingga aku mandul. Dan akhirnya dia menikahkanku denganmu demi membalas perbuatannya dan juga demi sesuatu yang belum aku ketahui. Hingga akupun jatuh cinta denganmu Mas, tapi ketika aku tahu bahwa kau tega menghamili Rachel, cinta itu telah luntur untukmu. Aku sekarang tidak keberatan berbagi suami dengannya, tapi apa Mas tidak keberatan kalau ibu Mas berbagi suami denganku?" tanya Agne sambil membelai rahang Bara yang bergetar karena amarah.


Bara tersenyum tipis mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Agne yang mulus. "Saya pikir kamu adalah wanita yang baik Agne, tapi ternyata kamu lebih licik dari saya."


"Tentu saja." Agne terkekeh merasa perkataan Bara tadi adalah sebuah pujian.


PLAAAAKKK!


Tanpa diduga Bara langsung menampar Agne dengan keras hingga wanita itu bergeser sedikit.


"Ouuuhhhh." Agne mengelus pipinya yang memerah dan meraung kesakitan. "Breng*sek!" Agne langsung bergegas mengambil ponselnya dan masuk ke kamar mandi.


Bara begitu puas setelah melakukan hal itu. Dia tak menyangka, ada sesuatu yang lebih buruk darinya, yaitu ayah dan istrinya. Sekarang dia yakin untuk memperjuangkan cintanya untuk Rachel. Bara tidak akan membiarkan anaknya dengan Rachel menjadi korban kejahatan Tuan Kris.


Bara kemudian berdiri ingin keluar dari kamar. Dia membuka pintu dan mendapati Tuan Kris sudah berada di hadapannya dengan wajah sangar. Sudah pasti Agne mengambil ponselnya untuk menelpon Tuan Kris.


Bara menatap ayahnya dengan tajam begitupun sebaliknya. Dia keluar dan Tuan Kris masuk ke kamar.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2