Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
DUA PULUH EMPAT


__ADS_3

AKIBAT merasa tak tahan lagi dengan keinginannya untuk berbelanja, akhirnya Nyonya Sarah memasuki toko lain yang juga menjual perlengkapan bayi.


"Lihat saja, ia akan membeli banyak pakaian yang keren dan lucu untuk calon cucunya," batinnya dengan begitu semangat.


Saking semangatnya memilih pakaian bayi, Nyonya Sarah sampai lupa untuk membuntuti Bara. Al hasil, ia telah kehilangan jejak putranya itu.


"Issh!" Decak Nyonya Sarah lalu meminta pelayan toko membungkus belanjaannya.


Setelah itu, Nyonya Sarah kembali ke mobil dan memutuskan untuk pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Nyonya Sarah meminta satpam membawa semua belanjaannya yang begitu banyak.


"Wow, banyak sekali Bu, belanja perlengkapan bayinya. Tapi ... kan kita belum tahu jenis kelaminnya, kok bi—"" ucapan Agne terpotong ketika berniat mengambil salah satu paper bag.


"Jangan menyentuhnya!" Bentak Nyonya Sarah membuat Agne terkejut.


"Loh, kenapa Bu?"


"Itu bukan untuk kamu tapi ... saya beli untuk hadiah teman saya yang lagi lahiran," jawab Nyonya Sarah lalu meminta pelayan menyimpan semua belanjaannya ke kamar tamu.


Agne tersenyum lalu mendekati Nyonya Sarah. "Bu," panggil Agne manja.


"Iya?"


"Agne kan lagi hamil nih,"


"Lalu?"


"Agne sangat jenuh di rumah ini terus. Boleh kan kalau Agne liburan. Ke mana gitu...."


"Liburan?" Nyonya Sarah tiba-tiba bersemangat mendengar pernyataan menantunya itu. "Mau kemana? Biar saya yang urus. Atau kamu mau ke luar negeri?" Tanya Nyonya Sarah tersenyum tipis. Kan bagus jika Agne tidak ada, maka ia bisa fokus mencari Rachel, begitu lah pikiran Nyonya Sarah sekarang.


Agne mengangguk antusias. "Wah, serius Bu?


"Serius dong. Pokoknya kamu tidak usah khawatir, biar saya yang urus semuanya. Hotel sama uang belanja akan saya sediakan," kata Nyonya Sarah membuat Agne tersenyum senang


"Makasih Bu," kata Agne sembari bergerak memeluk ibu mertuanya itu.


"Iya." Nyonya Sarah dengan senyuman miring.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya, Bara kembali ke rumah tanpa membawa sesuatu. Berarti benar bahwa Bara baru pulang dari tempat persembunyian Rachel. Nyonya Sarah memikirkan hal itu yang memang sedang menunggu kedatangan Bara di depan pintu.

__ADS_1


"Bara, ibu ingin bicara," panggil Nyonya Sarah.


"Tidak sekarang Bu. Bara lagi capek," balas Bara lalu berlalu menaiki tangga.


"Capek apa? Ibu hanya ingin membicarakan sesuatu sama kamu." Nyonya Sarah bersikeras membuat Bara berbalik.


"Baiklah, Ibu ingin bicara apa?" Tanya Bara acuh.


Nyonya Sarah tersenyum. "Ibu boleh tidak dibuatkan teh?"


Bara mengernyit kemudian langsung saja bergerak naik ke atas.


"Tunggu Bara!"


Bara menghela napas saat sang ibu kembali menghentikan langkahnya.


"Apa Bu?" Tanya Bara tak sabaran.


"Ibu boleh tidak ... melihat foto Rachel yang sekarang?"


Bara terdiam sesaat lalu tersenyum tipis saat mengerti maksud ibunya.


"Tidak ada Bu. Bara tidak sempat mengambil foto Rachel, karena sibuk mempersiapkan kelahirannya. Oh iya kamar bayinya pun sudah hampir siap," kata Bara tenang.


Bara mengangguk. "Iya Bu, bahkan ruang bermainnya juga."


"Ruang bermain?" Tanya Nyonya Sarah cepat.


Bara mengangguk lalu berniat melanjutkan langkahnya namun lagi-lagi dihentikan oleh Nyonya Sarah.


"Bukankah akan lebih nyaman jika kalian tinggal di rumah yang lebih besar. Maksud ibu—"


"Tidak. Lagipula rumah kami cukup besar, bahkan jika kami punya anak kembar tiga," potong Bara membuat Nyonya Sarah melotot.


"Kembar tiga?"


Bara tersenyum. "Tentu saja. Tapi ibu tidak perlu khawatir. Karena ketiga anak kembar Bara tidak akan merepotkan ibu kok. Jadi tenang saja masa tua ibu akan dilewati dengan ketenangan," ucap Bara membuat Nyonya Sarah menggeleng dan saat ia ingin mengatakan sesuatu, namun Bara lebih dulu menyela. "Oh iya, Bara lupa. Ibu kan punya Agne sama anaknya. Itupun ... kalau benar." Bara kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Nyonya Sarah dengan wajah terkejut bercampur kesal bak tertampar oleh perkataan putranya sendiri.


"Bara akan punya anak kembar tiga," Gumam Nyonya Sarah lalu melotot. "Ini tidak boleh terjadi. Pokoknya saya harus membuat ketiga cucuku itu tinggal di rumah ini," lanjut Nyonya Sarah penuh semangat.


Nyonya Sarah kemudian buru-buru ke kamarnya. Masuk ke dalam lalu menarik tangan suaminya untuk bicara.


"Ada apa sih Mih?" Tanya Tuan Kris heran.

__ADS_1


Nyonya Sarah menghela napas lalu menggeleng. "Tidak. Ini tidak boleh terjadi Pih. Pokoknya kita harus segera bawa Rachel kembali tinggal bersama kita," ucap Nyonya Sarah membuat Tuan Kris mengernyit.


"Bukannya Rachel menghilang. Lagipula ada Agne yang juga sedang mengandung cucu kita," ucap Tuan Kris yang begitu penasaran dengan maksud perkataan sang istri.


Nyonya Sarah segera menggeleng. "Apa Papi tidak tahu, kalau Agne itu hamil bukan anak Bara dan bisa jadi juga Agne tidak benar-benar hamil," kata Nyonya Sarah yang seketika membuat Tuan Kris melotot saking terkejutnya.


"Mama tahu dari mana?" Tanya Tuan Kris cepat.


"Bara sendiri yang bilang Pih," ucap Nyonya Sarah membuat Tuan Kris berusaha senormal mungkin menanggapi sang istri.


"Lalu Mami percaya begitu saja? Lagipula kalau bukan anak Bara lalu anak siapa yang dikandung Agne," tanya Tuan Kris membuat Nyonya Sarah terdiam. Benar juga, kalau bukan anak Bara lalu anak siapa. Lagipula Agne jarang keluar dan laki-laki di rumah ini hanya ada Bara, Satpam, dan sang suami. Nyonya Sarah menjadi bertanya-tanya.


"Apa Bara berbohong agar kita menerima Rachel?" tanya Nyonya Sarah membuat Tuan Kris mengangguk.


"Mungkin saja Mih. Kalau sudah dimabuk cinta, dia akan melakukan apapun demi Rachel. Mami tau sendiri kan bagaimana beraninya dia menghamili ponakannya itu diam-diam," ucap Tuan Kris lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Mendengar perkataan suaminya membuat Nyonya Sarah kembali berpikir. "Tapi dari cara Bara mengatakannya itu penuh dengan keyakinan." Gumam Nyonya Sarah pelan. Walaupun perkataan suaminya tersebut ada benarnya, kalau lelaki yang sudah dimabuk cinta akan bersedia melakukan apa saja demi wanita yang dicintainya. "Tapi yah Pih, menurut mami, Bara berkata jujur. Kalau Agne memang tidak hamil dan walaupun hamil, anak yang dikandung Agne bukanlah cucu kita," ucap Nyonya Sarah membuat Tuan Kris bangun lalu menatap istrinya.


"Mami yakin itu?"


Nyonya Sarah mengangguk. "Papi bisa suruh orang untuk menanyakan hasil pemeriksaan Agne ke dokter yang pernah ke rumah memeriksanya," Pinta Nyonya Sarah membuat Tuan Kris mengangguk lalu segera mengambil ponselnya.


Sementara suaminya menelpon, Nyonya Sarah keluar dari kamar untuk menenmui Agne. Nyonya Sarah menuju dapur setelah seorang pelayan memberitahu bahwa Agne berada di ruangan tersebut.


"Eh Ibu," sapa Agne setelah melihat Nyonya Sarah.


"Apa kamu lapar? Mau makan sesuatu?" Tanya Nyonya Sarah ramah


Agne menggeleng."Agne tidak ingin makan terlalu banyak Bu, soalnya masih mual," kata Agne membuat Nyonya Sarah mengangguk saja. Lagipula bukan itu tujuannya menemui Agne.


"Oh iya, apa kamu masih ingin liburan?" Tanya Nyonya Sarah membuat Agne mengangguk antusias.


"Iya mah. Agne mau pergi ke Eropa," jawab Agne cepat.


Nyonya Sarah mengangguk lalu mengeluarkan sebuah kartu dan tiket penerbangan.


"Kebetulan sekali, saya sudah ada tiket penerbangannya, dan ini ada kartu yang bisa digunakan sepuasnya selama kamu di sana," ucap Nyonya Sarah membuat Agne mengambil tiket dan kartu itu dengan mata berbinar-binar.


"Wah Bu, Agne pikir Ibu bercanda tapi ternyata ..." Ucap Agne semangat.


Nyonya Sarah mengangguk."Sebaiknya kamu siap-siap. Soalnya penerbangannya besok jam delapan pagi," pinta Nyonya Sarah membuat Agne segera berlalu menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


Nyonya Sarah memandang Agne hingga menghilang dari dapur. Dia mengambil potongan apel menggunakan pisau dan menyuapkan ke mulutnya sambil tersenyum licik.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2