Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
DUA PULUH SATU


__ADS_3

RACHEL menatap ke arah luar melalui jendela kamarnya. Sesekali ia menghela napas lalu menggeleng pelan. Sudah hampir seminggu berlalu, dan suaminya tak kunjung datang. Mana janjinya yang akan sering berkunjung.


"Nyonya, silahkan makan dulu."


Rachel menoleh lalu berjalan menuju meja kecil yang ada di sudut kamar. Beberapa hari ini ia memang lebih suka makan di kamar, toh percuma makan di ruang makan jika ia akan tetap makan sendiri.


Tanpa kata lagi, Rachel mulai melahap sarapannya kemudian setelah selesai ia segera meminum susu hamilnya.


"Sudah,." Lapor Rachel lalu berdiri membiarkan pelayan membersihkan bekas makannya.


"Apa Nyonya membutuhkan hal lain?" Tanya pelayan itu sebelum pergi.


Rachel menggeleng lalu segera menaiki ranjang. Kerjaannya sekarang hanya makan dan tidur, benar-benar sangat membosankan.


"Huekk." Rachel segera turun lalu berlari menuju kamar mandi. Selalu seperti ini, ia akan memuntahkan sarapan yang baru saja ia makan.


Rachel keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas. Meski tinggal bersama banyak orang nyatanya tidak ada satupun yang tahu keadaannya. Para pelayan akan pergi setelah melakukan tugas mereka.


"Hahh." Rachel menghempaskan tubuhnya di atas kasur lalu menarik selimut. Tiba-tiba saja tubuhnya menggigil kedinginan.


"Shh Ibu ... Ayah ... Bibi ..." Gumam Rachel sembari mencengkram selimutnya erat. Matanya terpejam dengan posisi tubuh yang meringkuk seperti bayi dalam kandungan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Nyonya Sarah menatap cemas ke arah dokter yang memeriksa menantu kesayangannya. Sedang Bara hanya duduk tenang di sofa di sudut kamar.


"Bagaimana Dok?" Tanya Sarah sesaat setelah dokter selesai memeriksa Agne.


"Tidak ada yang salah bu, ini karena faktor kehamilannya saja."


"Maksud dokter, menantu dan cucu saya ini baik-baik saja?" tanya Nyonya Sarah semangat.


"Betul Bu," jawab dokter serius.


Sarah langsung bersorak senang lalu memeluk Agne yang masih berbaring. "Kau dengar itu Agne sayangku. Kamu dan cucu ibu baik-baik saja," ucap Nyonya Sarah bahagia.


Agne tersenyum. "Iya Bu. Agne senang sekali dan Bara pasti juga senang," ucap Agne sambil melirik suaminya yang hanya diam menatap ke arahnya.


Nyonya Sarah mengangguk lalu mengelus perut Agne. "Pasti. Bara pasti sangat bahagia," ucap Nyonya Sarah lalu segera berdiri. "Tapi saya masih khawatir, bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja? Supaya lebih jelas lagi." Kata Nyonya Sarah lalu menatap Bara.


"Bara, bersiap yah kita ke rumah sakit memeriksa bayi kalian," ucap Nyonya Sarah membuat Bara berdecak. Hari ini ia berniat mengunjungi Rachel, tapi saat ingin pergi Agne malah pingsan dan mengacaukan rencananya.


"Tidak Bu, Bara harus ke kantor."

__ADS_1


"Ini hari minggu Bara. Ayolah temani aku," pinta Agne memelas membuat Nyonya Sarah menatap putranya itu.


"Agne benar. Lagipula sebagai calon ayah kamu harus selalu siaga di samping istrimu," sahut Nyonya Sarah lalu berjalan keluar kamar untuk bersiap.


Sedang Bara langsung berdiri dan mengambil kunci mobilnya.


"Mas, setidaknya tolong aku mengganti pakaian." Ucap Agne sebelum Bara keluar dari kamar.


"Apa kau lumpuh hah?" tanya Bara datar tapi Agne malah tersenyum penuh kemenangan.


"Tidak. Tapi aku sedang hamil. Dan ini adalah anakmu," ucap Agne membuat Bara terkekeh.


"Jangan berakting di hadapanku," ucap Bara dingin lalu berlalu keluar dari kamar membuat Agne mendengus kesal.


'Dia selalu saja begitu,' batin Agne kesal.


Setelah dokter bayaran menyatakan kehamilan Agne waktu itu, Nyonya Sarah adalah orang yang paling bahagia sedang Bara hanya bisa menghela napas. Ibunya begitu bahagia mendengar kehamilan palsu Agne tapi tak peduli akan kehamilan Rachel yang sebenarnya.


"Mas, aku lapar," ucap Agne sembari memeluk lengan Bara.


Nyonya Sarah tersenyum. "Sebaiknya kita makan dulu baru pulang," ucapnyq membuat Agne menggeleng.


"Bu, Agne mau makan berdua sama Bara, boleh?" Tanya Agne membuat Nyonya Sarah segera mengangguk.


"Boleh dong sayang. Ya sudah, biar mama pulang duluan," ucap Nyonya Sarah lalu menatap Bara. "Jaga istrimu! Jangan sampai terjadi sesuatu pada cucu ibu." Pesan Nyonya Sarah lalu melangkah menjauh.


"Aku ada urusan." Ucap Bara lalu bergegas ingin memasuki mobilnya tapi dicegah oleh Agne.


"Mas, apa kau tega meninggalkan aku sendiri. Ingat Mas aku sedang hamil." Ucap Agne membuat Bara berbalik.


"Mau kau hamil palsu atau pun benar-benar hamil, aku tidak peduli," Ucap Bara lalu mendorong tubuh Agne hingga mundur beberapa langkah.


"Arghh.. Mas, perutku sakitt." Rintih Agne sembari memeluk perutnya.


Bara menatap Agne datar lalu memasuki mobilnya kemudian melaju membelah jalanan.


"Arghhh. Bara sialan," Teriak Agne kesal saat mobil Bara menjauh. la kira Bara akan luluh saat ia mengandung dan meyakinkan ibunya tapi ternyata tidak.


"Awas saja." Gumam Agne kemudian mencari taksi untuk ke rumah mertuanya. Saat tiba, ia langsung memasuki rumah dengan air mata yang bercucuran membuat Nyonya Sarah yang melihatnya dibuat panik.


"Agne, ada apa sayang? Kenapa menangis?" Tanya Nyonya Sarah membuat Agne langsung memeluk tubuh mertuanya itu.


"Bu ... Bara meninggalkan aku." Isak Agne membuat Nyonya Sarah mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Meninggalkan bagaimana? Sekarang Baranya kemana?" Tanya Nyonya Sarah bingung.


Agne menghapus air matanya. "Dia pasti mencari Rachel Bu." ucap Agne membuat Nyonya Sarah berdecak.


"Ck! Anak itu!" Nyonya Sarah mengusap punggung Agne menenangkan. "Ya sudah. Biar nanti ibu yang bicara dengan Bara. Kamu sekarang ke kamar dan istirahat."


Agne mengangguk lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Sedang Nyonya Sarah langsung melangkah menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. la harus menelpon Bara dan memarahi putranya itu. Bisa-bisanya meninggalkan istri yang sedang hamil muda sendirian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil Bara memasuki pekarangan vila yang ditempati oleh Rachel.


"Tuan," sapa penjaga saat Bara keluar dari mobil.


Bara mengangguk lalu melangkah memasuki rumah.


"Di mana istriku?" tanya Bara pada pelayan yang sedang membersihkan jendela.


"Anu tuan_ ada di kamar."


Mendengar hal itu membuat Bara langsung berjalan menuju kamarnya. Bara tersenyum saat melihat tubuh Rachel yang meringkuk di atas tempat tidur. Dia melangkah mendekat setelah menutup pintu. Menaiki tempat tidur lalu mengelus wajah Rachel.


Panas?


Bara melotot lalu membuka selimut yang Rachel kenakan.


"Huuhhh shhh" Desis Rachel kedinginan membuat Bara kembali menyelimuti Rachel lalu berteriak memanggil pelayan rumah.


"Iya tuan, ada apa?" Tanya pelayan yang datang.


"Ada apa? Istriku sakit dan kalian tidak memberitahuku." Bentak Bara marah.


Pelayan itu segera menggeleng. "Maaf tuan, tapi tadi nyonya baik-baik saja, bahkan—"


"Tidak perlu membuat alasan. Sekarang cepat panggil dokter ke sini!" Titah Bara membuat pelayan tadi mengangguk lalu segera berlari keluar. Bara kembali menatap Rachel lalu menepuk pipi istrinya itu. "Rachel, hey sayang." Panggil Bara membuat mata Rachel perlahan terbuka.


"O-Om shh" Ringis Rachel membuat Bara mengangguk.


"Ita. Apa ada yang sakit?" Tanya Bara lembut.


Rachel menggeleng. "Dingin Omm ... shh."


Bara menatap Rachel dengan perasaan bersalah. "Maaf," Bisik Bara lalu memeluk tubuh Rachel erat.

__ADS_1


Bisa Bara rasakan suhu tubuh Rachel yang panas. Bahkan tubuh istrinya nampak bergetar kedinginan.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2