Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
DELAPAN (special visual)


__ADS_3


BARA melajukan mobilnya perlahan sementara Rachel hanya bisa menggigit jarinya karena cemas. Gadis itu takut bibinya akan marah, pasalnya ini sudah larut malam dan ia tidak kunjung pulang. Kekhawatiran pasti sedang dialami Minah sekarang.


Bara malah tersenyum licik ketika sampai ke jalanan sepi. Begitu sunyi, bahkan yang terdengar hanya suara burung-burung malam. Sangat jelas, karena mereka sedang berada di jalanan tengah hutan.


"Om, kenapa berhenti sih mobilnya? Ayo cepat kita pulang!" Rachel panik ketika mobil milik omnya tiba-tiba berhenti.


Bara memasang wajah panik yang palsu. "Tidak tau juga ini Hel. Sepertinya mogok," jawab Bara membuat Rachel seketika membelalak.


"Terus bagaimana Om? Saya ingin pulang."


Bara langsung berubah menjadi kejam. "Bisa tenang tidak? Kau pikir hanya kamu yang ingin pulang? Sabar!" Setelah membentak keras Rachel, dia seakan-akan begitu kesal dan keluar dari mobil.


Rachel takut ditinggal sendiri, ia pun keluar dari mobil dan mengikuti kemana Bara ingin pergi.


"Om mau kemana? Tunggu Rachel Om," teriak Rachel lalu berjalan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Bara.


Bara tersenyum samar sambil terus berjalan hingga masuk ke dalam sebuah penginapan. Karena begitu asing, Rachel dengan wajah ketakutan merapatkan tubuhnya ke Bara.


"Om—" Rachel mencoba untuk mempertanyakan tentang bagaimana bisa di tengah hutan belantara terdapat sebuah penginapan yang mewah dengan aksen kayu. Ia sampai membayangkan jika penginapan itu tidak nyata. Namun Bara terus berjalan menuju nomor kamar yang sudah dipesannya tanpa ada rasa takut.


Bara kembali tersenyum licik ketika ingin membuka kamar tersebut. Saat masuk, pria itu berjalan menyalakan perapian dengan pemantik api yang sudah disediakan.


Rachel memandang seluruh sudut ruangan dengan begitu takjub. Walaupun bangunan dipenuhi dengan aksen kayu tapi terlihat tidak kuno, malah sangat mewah dan modern.


Bara menarik tangan Rachel untuk memasuki ruangan tempat tidur mereka.


"Apa ini, Om?" Rachel bertanya-tanya begitu melihat suasana di dalam kamar. Terdapat sebuah ranjang besar dengan begitu banyak taburan bunga mawar di atasnya. Dan, tidak lupa juga lampu kelap-kelip yang menghiasi langit-langit kamar.


Bara memeluk tubuh Rachel—yang terpaku melihat pemandangan itu—dari belakang dan berjalan pelan menuju ranjang.


"Om?"

__ADS_1


Bara tersenyum lebar kemudian mendorong tubuh Rachel hingga berbaring ke ranjang.


Rachel terkejut dan berusaha untuk bangun, namun Bara dengan keras mendorong tubuh gadis itu untuk kembali berbaring.


"Saya mohon Om ... saya ingin pulang. Rachel tidak mau di sini bersama Om," kata Rachel berusaha untuk memberanikan dirinya, Bara hanya menggeleng tidak peduli dengan reaksi ponakannya itu.


"Besok baru kita pulang. Ini sudah sangat larut. Jadi lebih baik kita menginap di sini dulu, sementara menunggu bantuan untuk memperbaiki mobil saya," jelas Bara kemudian tanpa aba-aba langsung menindih tubuh Rachel.


Gadis itu baru sadar apa rencana om bejatnya itu. Dengan terpaksa ia menggeleng, mencoba untuk menolak, air matanya terlihat menggenang di sana. Tak sanggup menerima kenyataan.


"Om kumohon hiksss ... hentikan ini." Rachel menangis membuat Bara ibah dan berusaha untuk menenangkannya.


"Berhenti katamu? Dengarlah, kamu harus menuruti semua kemauan saya, jika tidak saya akan melakukannya dengan lebih kasar dari sebelumnya," kata Bara, Rachel lantas terisak tanpa mengeluarkan suara. Bara kemudian membelai pipi Rachel secara perlahan. "Jadi saya mau kamu menjadi ponakan yang baik, yang dengan senang hati melayani saya."


Rachel dengan cepat menggeleng. "Om, saya...."


"Sssstt ... kau mau Bibi Minahmu saya usir dari rumah?" tanya Bara sudah kehilangan kesabaran untuk menghadapi setiap kata penolakan dari Rachel.


Bara tersenyum lalu mengusap kepala Rachel dengan lembut. "Makanya, menurutlah dengan saya. Karena apapun yang kau minta bisa saya berikan," kata Bara membuat Rachel terpaksa mengangguk.


"Begitu dong. Itu baru ponakan om," puji Bara kemudian mengecup kening Rachel. "Katakan, apa yang kau inginkan? Uang? Pakaian? Atau mungkin perhiasan yang langka? Kau boleh minta apa saja Hel."


Rachel mengacuhkan wajahnya dari tatapan Bara. "Bukan. Saya hanya ingin om membiarkan Bi Minah untuk tetap tinggal di rumah om. Saya juga minta untuk om memikirkan perasaan Tante Agne. Saya juga ingin tetap kuliah hingga menjadi dokter kandungan seperti wasiat yang diberikan oleh orangtua saya," kata Rachel sambil terus meneteskan air mata. Bara hanya mengangguk, meski sebenarnya semua permintaan itu tidak bisa dilaksanakan. Terlebih mengenai perasaan Agne.


"Baiklah. Minah akan terus tinggal di rumah saya," balas Bara dan mulai mencium tubuh bagian atas Rachel.


"Bagaimana soal—"


"Apa lagi sekarang, hah?"


Rachel sangat takut hingga tak bisa berkata apa-apa. Sementara Bara menghela napas panjang.


"Soal siapa maksud kamu? Ayo bilang!" kata Bara ingin segera menyelesaikan obrolan mereka.

__ADS_1


"Tidak. Bukan apa-apa Om."


Bara terdiam menatap wajah Rachel yang begitu polos kemudian kembali melancarkan permainannya. Untuk kesekian kalinya malam ini dia kembali menitipkan benihnya ke dalam rahim Rachel.


Dengan harapan besar, bahwa Rachel akan segera hamil sebelum hari penyambutan anak adopsi itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


^^^DUA MINGGU KEMUDIAN^^^


Selama itu Rachel belum dinyatakan hamil. Padahal setelah kejadian di penginapan itu, Bara sudah melakukan permainannya beberapa kali. Terakhir di malam ini, di ruang kerjanya. Pria itu semakin merasa gundah, terlebih hari penyambutan anak adopsi itu tinggal seminggu lagi.


Sementara itu, Rachel juga sebenarnya merasakan hal yang sama. Setiap mengingat bahwa Bara akan segera mengadopsi anak, ia langsung sedih seolah takut hal itu terjadi.


Rachel memeluk tubuh Bara dengan erat untuk pertama kalinya sebelum keluar dari ruangan kerja omnya itu.


"Om..." panggil Rachel membuat Bara membalas pelukan ponakannya.


"Kenapa Hel?" tanya Bara dengan lembut.


Rachel belum bisa mengatakannya. Ia lantas menggeleng kemudian melepas pelukannya. Setelah itu merapikan gaun tidurnya.


"Saya sudah mengantuk Om. Saya pamit ke kamar." Tanpa menunggu balasan Bara, Rachel langsung keluar meninggalkan ruang kerja omnya.


Bara memandang punggung Rachel hingga menghilang di balik pintu sambil merapikan resleting celananya.


Pria itu bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan Rachel akhir-akhir ini. Dia merasa ponakannya itu lebih sensitif dari sebelumnya. Bahkan setelah bercinta pun Rachel langsung pergi tanpa mengatakan sesuatu. Dari wajahnya juga seperti ada sesuatu yang dipendam. Entah itu benar atau cuma perasaan Bara saja.


Tapi muncul prasangka yang membuat pria itu sangat senang.


Mungkinkah Rachel hamil?


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2