Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

"BAGAIMANA keadaan menantu dan cucu saya dokter?" Tanya Nyonya Sarah cemas.


Dokter menatap Nyonya Sarah dan Tuan Kris bergantian dengan wajah kebingungan. "Maaf, tapi menantu Anda tidak hamil. Namanya Agne kan?" tanya Dokter membuat Nyonya Sarah mengangguk. "Saya lupa waktunya, tapi Nona Agne pernah datang dengan suaminya untuk memeriksa kandungannya. Dan setelah dicek, hasilnya menunjukkan bahwa Nona Agne mandul karena rahimnya sudah lama diangkat. Tapi untuk saat ini kondisi menantu Anda baik-baik saja, tinggal menunggu pemilihan saja."


Setelah mengatakan hal itu, dokter tadi langsung berlalu meninggalkan Nyonya Sarah dan Tuan Kris yang saling pandang.


"Apa? Jadi ini yang Bara maksud," gumam Nyonya Sarah lalu menatap Tuan Kris yang berkeringat dingin. "Ada apa Pih?"


"Tidak Mih. Tidak apa-apa," jawab Tuan Kris sembari menggeleng. Dia sekarang merasa gugup dan takut, apakah rahasianya sebentar lagi akan terbongkar?


"Pokoknya ita harus menemui Bara dan Rachel segera," kata Nyonya Sarah serius lalu menatap ke arah ruang rawat Agne. "Bara harus memberitahu sesuatu yang disembunyikannya tentang Agne," lanjutnya lalu menghela napas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rachel tersenyum lalu melambaikan tangannya pada sang suami yang berada di dalam mobil.


"Hati-hati Mas," kata Rachel dibalas lambaian tangan oleh Bara. Kemudian mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah. Rachel menghela napas sambil mengusap perutnya. Hari ini ia akan kembali kesepian karena Bara telah pergi bekerja. "Apa sebaiknya aku menanam bunga saja?" Gumam Rachel pelan lalu menatap ke arah tempat dimana ia ingin menanam bunga.


Tapi sesaat kemudian ia menggeleng. Gadis itu masih belum lupa dengan amarah Bara minggu lalu karena ia ingin menanam bunga.


"Tapi ... " Rachel berpikir keras kemudian tersenyum lebar. "Lebih baik aku meminta maaf saja dibanding meminta izin," ucap Rachel senang. Lagipula kalau sudah di tanam, suaminya itu bisa apa.


Rachel segera memanggil Pelayan di rumah untuk mengambil bibit bunganya. Sedang ia sendiri langsung mengambil sarung tangan dan topinya.


Senyum merekah terbit di wajah Rachel begitu ia selesai menanam bunga.


"Wah, jadi tidak sabar melihat bunganya tum—" Perkataan Rachel terhenti saat melihat seseorang yang sangat dikenalnya berdiri tidak jauh dari tempat ia menanam bunga. Rachel meremas jemarinya gugup. "Nyo ... Eh maksudku Ibu Sarah," panggil Rachel pelan.


Nyonya Sarah tersenyum lalu melangkah mendekati Rachel. Namun karena rasa takutnya, Rachel malah spontan berjalan mundur.

__ADS_1


"Ada apa Rachel? Jangan takut, saya hanya ingin bicara," kata Nyonya Sarah dengan nada lembut.


Rachel menggigit bibir bawahnya lalu melotot saat ayah Bara serta Tante Agne keluar dari mobil.


Nyonya Sarah melangkah mendekati Rachel. "Bara di mana, Rachel?" Tanya Nyonya Sarah lembut.


Rachel menatap lengannya yang dipegang oleh Nyonya Sarah. "La-lagi kerja," singkat Rachel membuat Nyonya Sarah mengangguk.


"Apa kami boleh masuk?" Tanya Nyonya Sarah lagi.


Baru saja Rachel ingin mengangguk, tapi Agne langsung maju dan menyela. "Kenapa Ibu harus bersikap lembut pada gadis ini? Bukankah tadi Ibu bilang kalau kita ke sini untuk menjemput Bara pulang dan memintanya bersikap adil padaku," kata Agne kesal membuat Rachel bergerak mundur.


Melihat hal itu, Nyonya Sarah segera memegang lengan Rachel. "Tolong Hel, saya ingin kita bicara," ucap Nyonya Sarah mencoba untuk meyakinkan, hal itu membuat Rachel menatap ketiga tamunya dengan pikiran yang kacau lalu mengangguk pelan.


Nyonya Sarah tersenyum lalu menatap suaminya. Sedang Agne langsung berjalan masuk melewati tubuh Rachel.


Mereka semua telah berada di ruang tamu dan duduk di sofa dimana Agne sudah lebih dulu berada di sana.


"Iya Ibu Sarah." Walaupun masih ada rasa canggung untuk memanggil ibu Bara dengan sebutan itu, tapi Rachel mencoba menyesuaikan diri seperti yang dipesankan oleh Bara.


Nyonya Sarah mengambil lengan Rachel lalu menggenggamnya. "Maafkan saya yah, Hel. Agne keguguran," kata Nyonya Sarah membuat Rachel menoleh memandang Agne.. "Dokter juga bilang telah mengangkat rahim Agne dan akhirnya dia dinyatakan mandul. Jadi Agne butuh pemulihan dari traumanya," lanjut Nyonya Sarah lalu mengusap pipi Rachel.


"Saya tahu kalau bukan kamu yang ingin merebut Bara dari Agne. Tapi kamu tetaplah menjadi orang ketiga diantara mereka. Rachel, kamu adalah anak yang baik, karena itu ... tolong mintalah Bara untuk kembali," Kata Tuan Kris mencoba untuk mengikuti permainan istrinya agar tidak terjadi kecurigaan. Walaupun pria paruh baya itu tidak tahu apa permainan yang dilakukan oleh sang istri sekarang. Sementara Rachel menggeleng pelan mendengar hal itu.


"Hel, jangan egois, Agne juga istri Bara bahkan posisinya lebih tinggi karena ia adalah istri pertamanya," kata Nyonya Sarah membuat Rachel terdiam sedang Agne langsung tersenyum puas. "Tolong bujuklah Bara untuk kembali ke rumah," lanjutnya dengan nada serius.


"Tapi ...."


"Atau kami akan melakukan sesuatu agar Bara mau pulang," ancam Tuan Kris membuat Rachel melotot saking terkejutnya, lalu menggeleng kuat.

__ADS_1


"Aku mohon jangan ... duhhh ..." Rachel spontan memegang perutnya yang tiba-tiba saja berdenyut.


"Jangan akting!" Bentak Agne membuat Tuan Kris dan Nyonya Sarah yang tadi merasa khawatir kepada Rachel langsung merubah raut wajahnya menjadi biasa. "Di sini aku adalah istri pertama Bara, dan baru saja kehilangan anak kami. Tapi sebagai ponakan yang menjadi istri kedua kau sangat tidak tahu malu, bukan hanya membawa kabur Bara dari diriku tapi kau juga membuat Bara meninggalkan rumah dan orang tuanya. Kau sangat egois Rachel, sangat jahat," ucap Agne berapi-api membuat Rachel terisak di tempat.


"Agne," tegur Nyonya Sarah yang merasa kasian melihat Rachel yang menangis karena terus dibentak.


"Bu, Agne juga mau sabar tapi ketidakadilan yang Agne alami karena ponakan yang tidak tau diri ini, tidak bisa lagi Agne tolerir," teriak Agne lalu bergerak mendekati Rachel.


"Kau ...." Tunjuk Agne tepat ke wajah Rachel. "Harus membayar semua yang aku alami selama ini." Lanjut Agne, kemudian berlari menjambak rambut Rachel hingga tubuhnya terjatuh dari sofa sambil berteriak kesakitan.


"Agne hentikan!" Teriak Nyonya Sarah sangat kencang kemudian berusaha membantu Rachel.


"Ibu jangan bantu wanita ini, dia harus merasakan juga apa yang Agne alami," ucap Agne keras lalu dengan kasar menginjak perut besar Rachel.


"Arrgghhh! Sakit!" Teriak Rachel keras dengan tubuh yang bergetar karena menahan tekanan dari kaki Agne.


Sementara itu, Tuan Kris langsung dengan sigap menarik tubuh Agne agar menjauh dari tubuh Rachel. Nyonya Sarah sendiri berusaha menjauhkan kaki Agne dari perut Rachel. Namun seperti kesetanan, Agne semakin menekan kuat kakinya hingga Rachel kelonjatan menahan sakit.


"Arghhh! Tolong!" Teriak Rachel dengan wajah yang pucat pasi.


"AGNE!" Teriak Tuan Kris lalu dengan sekali tarikan kuat ia berhasil menarik tubuh Agne.


"Ahhh! Sakit ...." Rintih Rachel memegang perutnya. Nyonya Sarah dengan cepat membantu Rachel untuk duduk kembali.


Rachel terus merintih kesakitan membuat Nyonya Sarah menatap Agne tajam. "Apa yang kau lakukan hah?!" Teriak Nyonya Sarah membuat Agne tersenyum acuh.


"Gadis ini juga harus kehilangan anaknya. Dia—" Ucap Agne penuh penekanan membuat Nyonya Sarah tidak dapat lagi menahan emosinya dan segera berlari ke arah Agne.


PLAKK!

__ADS_1


Agne menatap wajah ibu mertuanya dengan raut wajah tidak percaya.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2