Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
TIGA PULUH


__ADS_3

"INI terlalu encer Bara, kau mau membuat istri dan anakmu kurang nutrisi?" Omel Nyonya Sarah membuat Bara melongo.


Demi Tuhan, tidak ada yang salah dengan caranya membuat susu. Itu sama saja dan sudah sesuai takaran menurut Bara. "Itu sudah sesuai petun_"


"Tidak. Kau salah, lihat! Biar saya yang tunjukkan cara membuat susu yang benar," ucap Nyonya Sarah lalu melangkah untuk membuat susu. Sementara Rachel hanya diam dan memilih memakan soto ayam bawaan mertuanya. "Nah, lihat! Ini sudah pas," kata Nyonya Sarah sembari menyodorkan gelas susu baru ke hadapan Rachel.


Bara mengernyit, apanya yang berbeda? Itu terlihat sama saja.


"Nah ... Rachel, kau lihat kan Bara itu tidak punya pengalaman apapun dalam merawat ibu hamil. Dia tidak tahu apapun dan tidak memahami apapun. Tapi kau tenang saja, ada saya yang sudah sangat berpengalaman. Jadi kau bisa percayakan saja pada mertuamu ini," kata Nyonya Sarah lagi, membuat Rachel mengangguk pelan. "Dan akan lebih baik kalau kalian pindah ke rumah saya, jadi ...."


"Tidak Bu, terima kasih," tolak Bara segera dan langsung membuat Nyonya Sarah melotot.


"Rachel saja tidak menolak, iya kan Sayang?" Tanya Nyonya Sarah pada Rachel.


Rachel menatap suami dan mertuanya bergantian. "Maaf Bu, tapi Rachel senang tinggal di rumah sendiri bersama Mas Bara," jawabnya membuat Nyonya Sarah melongo.


"Tapi kan ...."


"Lagipula sayang kamar bayinya kalau kami pindah ke rumah Ibu," sahut Bara cepat lalu meneguk minumannya. "Dan akan sangat merepotkan kalau ada anak nanti, Ibu kan tidak suka rumah berantakan," lanjut Bara.


Nyonya Sarah berdecak. "Siapa bilang? Saya itu paling suka dengan rumah yang berantakan. Semakin berantakan malah semakin bagus," balas Nyonya Sarah cepat. Bara terkekeh dalam hati mendengar perkataan sang ibu.


"Baiklah. Tapi itu terserah istri Bara. Kalau Rachel mau pindah maka kami akan pindah," ucap Bara sambil melirik Rachel begitupun dengan Nyonya Sarah.


"Ibu mohon Sayang. Setelah dibiarkan meninggalkan rumah sakit, pulang yah ke rumah ibu!" pinta Nyonya Sarah memelas.


Rachel terdiam lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Saat ini kenapa perasaan wanita itu tak bisa menolak, padahal dia sudah berniat untuk jual mahal kepada mertuanya. Tapi tetap tidak bisa. "Maaf Bu."


"Baiklah saya mengerti. Kau pasti masih marah pada saya," ucap Nyonya Sarah lemah lalu beranjak berjalan meninggalkan ruangan itu.


Rachel menatap punggung mertuanya dengan penuh sesal. "Mas," Panggil Rachel membuat Bara yang sedang memakan roti bergumam.


"Hm?"


"Ibu marah," adu Rachel.


"Biarkan saja," balas Bara membuat Rachel menggeleng.


"Tapi dia ..."


"Sttt ... Ibu bukan tipe orang yang akan mengalah. Lihat saja!" Ucap Bara membuat Rachel menghela napas lalu melanjutkan sarapannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Pulang dari rumah sakit. Betapa terkejutnya Bara dan Rachel ketika mendapati Nyonya Sarah sudah berada di rumah mereka bersama sebuah mobil box.


"Pindahkan yang itu juga!"


"Iya. Semuanya, jangan sampai ada yang tertinggal."


"Lemarinya juga yah."


Bara menatap jengah ke arah ibunya yang sekarang tengah memberi perintah kepada para pekerja untuk memindahkan semua yang ada di kamar bayi ke dalam mobil box.


Nyonya Sarah berjalan mendekati Rachel dan berkata tanpa raut wajah bersalah sedikitpun, "saya akan membuat kamar kalian sama persis seperti yang kalian buat di sin," ucap Nyonya Sarah antusias. "Kalau perlu saya juga akan memindahkan semua perabot rumah ini agar kau merasa nyaman," tambah Nyonya Sarah membuat Rachel bergumam pelan. Sementara Bara hanya bisa menghela napas.


"Ibu benar-benar keras kepala," gumam Bara pelan namun masih bisa didengar oleh Nyonya Sarah dan Rachel.


"Apa katamu? Dasar anak durhaka!" Omel Nyonya Sarah lalu beranjak meninggalkan anak dan menantunya.


Bara menatap Rachel lalu bergerak merangkul tubuh mungil istrinya itu. "Ibu sangat menyayangimu," bisik Bara. Rachel lantas mengangguk.


"Andai Bibi juga ada di sini," gumam Rachel pelan membuat Bara langsung menarik tubuh Rachel ke pelukannya.


"Jangan bersedih atau bayi kita juga akan merasakannya," kata Bara membuat Rachel mengangguk kembali dan kemudian mengeratkan pelukannya.


"Sayangku, lihat! Ibu bawakan buah untukmu," ucap Nyonya Sarah membuat Bara dan Rachel mengurai pelukan mereka.


"Ada apa? Kenapa Rachel menangis?" Tanya Nyonya Sarah bingung lalu meletakkan piring berisi buah di atas meja.


"Kau apakan menantuku?" Tanya Nyonya Sarah kesal membuat Bara tersenyum mengejek.


"Menantuku?" Tanya Bara seolah ia salah dengar.


Nyonya Sarah berdecak kesal. Menurutnya dia tidak bersalah, lagipula dia kan sudah minta maaf dan menyesali perbuatannya dulu. Tapi nyatanya putranya itu masih sering mengungkit kebodohan yang telah dilakukannya.


"Rachel cuma ingat Bibi, Bu," kata Rachel pelan membuat Nyonya Sarah langsung memasang wajah bingung.


"Bibi? Maksudnya Bi Minah kan? Hah ... iya ya saya kok sudah lama tidak lihat Bi Minah," ucap Nyonya Sarah membuat Rachel menunduk sedang Bara langsung memberi kode pada sang ibu.


"Ada apa? Apa Bi Minah sudah pulang kampung?" Tanya Nyonya Sarah tak mengerti kode dari putranya.


Bara langsung memeluk tubuh istrinya yang tiba-tiba saja terisak.


"Loh kok malah nangis?" Tanya Nyonya Sarah semakin bingung


Bara menghela napas. "Bi Minah sudah meninggal Bu," ucap Bara membuat isakan Rachel semakin terdengar.

__ADS_1


Sementara Nyonya Sarah langsung melongo kaget. "Apa?"


Bara mengangguk. "Bara akan ceritakan nanti, sekarang Bara mau bawa Rachel ke kamar dulu," balas Bara membuat Nyonya Sarah mengangguk.


Setelah kepergian putra dan menantunya, Nyonya Sarah langsung mengusap dadanya pelan. Jadi saat dia memuji-muji Agne dan menelantarkan Rachel, ternyata menantunya itu sedang terluka karena kehilangan bibinya.


"Saya benar-benar mertua yang buruk," gumam Nyonya Sarah pelan.


Bara menurunkan tubuh Rachel di atas ranjang. "Jangan menangis lagi," ucap Bara lalu menghapus air mata yang menetes di pipi istrinya.


"Apa Mas sud—"


DRRRTTTT! DRRRTTTT!


Perkataan Rachel terhenti saat mendengar suara ponsel. Bara kemudian langsung mengambil ponselnya dan mengernyit.


"Siapa mas?" Tanya Rachel pelan.


Bara menunjukkan layar ponselnya.


"Rio, klien mas yang ada di luar negeri. Sebentar ya, mas jawab telpon dulu." Bara meminta izin lalu berjalan mendekati jendela kamar.


"Hallo," sapa Bara begitu telponnya terhubung.


"Hallo, Bara, bagaimana keadaanmu?"


"Baik. Kau sendiri?"


"Aku juga baik. Oh ya, Apa aku bisa meminta alamatmu sekarang?"


"Alamat? Kenapa? Apa kau ada di Indonesia sekarang?" Tanya Bara cepat. Dia akan sangat senang jika kliennya itu datang berkunjung.


"Tidak. Monica datang menemui ku dan dia meminta alamatmu."


DEG!


Bara langsung menoleh ke arah Rachel lalu berbisik pelan.


"Monica?"


"Iya. Jangan bilang kalau kau sudah melupakan Monica?"


Bara menatap ke arah luar jendela kamarnya. "Tidak. Rio, aku akan menghubungimu nanti," ucap Bara lalu segera mematikan telponnya. Pria besar itu menghela napas.

__ADS_1


'Bagaimana bisa ia melupakan Monica, wanita yang terlibat one night stand bersamanya saat ke luar negeri.'


...BERSAMBUNG...


__ADS_2