Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
TUJUH


__ADS_3

SETELAH beberapa menit melajukan mobilnya, Bara berhenti di seberang gerbang sebuah kampus ternama.


Pria itu turun dari mobil lalu memerhatikan area sekitar kampus. Dia tahu Rachel berkuliah di situ, karena yang mengurus dan membayar semua biaya kuliah adalah dirinya meski ponakannya beranggapan bahwa Agne lah yang melakukannya. Bara lalu berjalan ke halte dan duduk bersantai sambil menghisap rokok. Dia akan menunggu Rachel pulang.


Bara membuang rokoknya ketika melihat para mahasiswa dan mahasiswi yang berhamburan keluar dari gerbang kampus.


Senyumnya lantas merekah begitu menemukan Rachel. Namun tiba-tiba senyum yang lebar itu luntur saat mendapati seorang lelaki yang mendekati ponakannya. Lelaki itu bahkan mencubit pipi chubby milik Rachel seolah memiliki hubungan spesial.


"Dasar! Bisa-bisanya mereka tertawa bersama," kata Bara sangat kesal kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke arah Rachel yang sudah mulai menjauhi area kampus.


Bara mengemudi pelan di belakang Rachel. Mencari kesempatan untuk langsung menarik ponakannya itu masuk ke dalam mobil. Ketika sudah merasa lumayan sepi, Bara keluar dan berlari mendekati Rachel.


"Aaarggghhh ... Om Bara?" Rachel terkejut saat tubuhnya ditarik masuk ke dalam mobil.


"Kita ke restoran yuk! Kamu pasti belum makan. Kamu harus menjaga asupan makananmu, jangan sampai sakit," kata Bara ketika sudah melajukan mobilnya.


Rachel memandang Bara dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebenarnya kenapa harus dirinya yang diperlakukan seperti ini. Soal anak, bukankah mereka sebentar lagi akan mempunyai anak. Meski itu anak adopsi, tapi tantenya sudah berusaha mencari jalan keluar yang benar. Bukan dengan cara meniduri ponakannya sendiri.


Namun tiba-tiba saja mata Rachel berkaca-kaca ketika teringat dengan perkataan bibinya pagi tadi tentang masalah adopsi anak itu. Rachel merasa tidak rela jika hal tersebut terjadi. Apakah sebuah perasaan memiliki telah muncul di hati gadis itu? Atau hanya takut Bara akan lari dari tanggung jawabnya ketika sudah menghamilinya? Entah, yang jelas Rachel merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya.


Bara tanpa sengaja melihat Rachel dari kaca spion depan. Dia bisa melihat gadis itu nyaris menangis.


"Apa yang dipikirkannya? Apa sekarang dia merasa ketakutan?" Batin Bara dengan wajah penuh tanda tanya. Tapi kemudian dia terkekeh. Jelas Rachel takut, bukankah dia sudah menidurinya berkali-kali.


"Jangan takut sama om yah, saya tidak akan mau menidurimu di sini. Lagipula saya sedang menyetir," kata Bara berusaha menenangkan. Namun perkataannya itu membuat Rachel meringkuk di sudut mobil, melihat ke luar jendela tanpa peduli dengan Bara yang terus mencuri pandang.


Bara malah tersenyum melihat tingkah Rachel. "Asal kamu tau Hel, semakin tingkahmu seperti. Semakin saya gemas kepadamu." Bara kembali membatin.


"Om, sebenarnya kita mau ke mana?" Sekian lama di dalam mobil, Rachel akhirnya mengeluarkan suara saat melihat mobil yang Bara kemudikan melewati gerbang rumah.

__ADS_1


Bara hanya melirik Rachel yang panik tanpa berkata-kata. Percuma juga diberi tahu, Rachel akan tahu sendiri ketika sudah sampai di tujuan.


"Om, saya mohon antar saya pulang. Saya tidak ingin kemanapun," rengek Rachel membuat Bara menghembuskan napas kencang.


"Bisa diam tidak?! Dengar, kalau kau tidak ingin diam, saya akan langsung menidurimu sekarang juga," gertak Bara dengan penuh emosi. Rachel seketika terdiam, takut dengan sikap omnya yang kasar.


Setelah beberapa jam kemudian, mobil yang Bara kemudikan akhirnya berhenti juga di sebuah halaman yang sangat luas.


Bara langsung turun lebih dulu dan membuka pintu mobil untuk Rachel.


"Silahkan turun," pinta Bara. Rachel tak bisa berbuat apa-apa, ia pun menurut.


"Maaf Om, tempat apa ini?" tanya Rachel sembari memerhatikan sekelilingnya.


"Selamat datang di apartemen saya," jawab Bara lalu menarik tangan Rachel agar menggandeng lengannya. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam apartemen yang dibeli diam-diam oleh omnya itu.


Bara mengajak Rachel menuju lantai lima, letak ruangan milik Bara berada. Setelah masuk, dia mengantar ponakannya itu ke ruangan bersantai.


Bara segera menuju area dapur yang lumayan besar dan mewah. Sementara Rachel hanya bisa memasrahkan segalanya dan memilih untuk berbaring di sofa, tanpa sadar ia malah tidur karena kelelahan.


Setengah jam kemudian, Bara kembali ke ruang santai sambil membawa sebuah nampan.


"Dia tidur rupanya," kata Bara pelan lalu meletakkan masakan buatannya di atas meja yang berada di depan sofa.


Tanpa berpikir lagi, Bara langsung melancarkan rencananya, dia telah mengundang William, temannya yang berprofesi sebagai dokter untuk mengecek kehamilan Rachel.


Bara pun membuka pintu ruangan apartemennya dan menyuruh William untuk segera masuk.


"Astaga, ternyata wanita yang kamu maksud itu adalah gadis muda!"

__ADS_1


Bara tidak peduli, dia mengangguk santai saja. "Sudah, jangan banyak bicara, cepat lakukan yang kuperintahkan," kata Bara.


"Sabar yah Sob," balas William kemudian mengeluarkan sebuah suntikan yang berisi cairan bening dari tasnya.


"Dari penampakannya, gadis ini belum hamil. Tapi tenang saja, saya sudah menyuntikkannya sebuah cairan penyubur kandungan. Kamu hanya perlu melakukannya kembali."


Bara mengangguk mengerti. Setelah mengobrol sedikit tentang cara mempercepat kehamilan, William pamit pulang. Bara pun mengantarnya ke depan apartemen dan tidak lupa memberi sebuah tip karena telah melakukan tugasnya.


Ternyata saat Bara kembali ke ruang santai, Rachel telah bangun. Namun gadis itu terlihat sempoyongan.


"Kamu kenapa Hel?" tanya Bara begitu khawatir.


"Tidak tau Om. Kepala dan perutku tiba-tiba sakit," jawab Rachel sambil terus meringis kesakitan. Bara tersenyum licik, dia tahu hal itu terjadi karena efek dari cairan yang diberikan oleh William.


"Mungkin saja kamu sedang kelaparan. Kebetulan saya sudah memasak untuk kamu. Ayo dimakan!" ucap Bara sembari mengambil makanan itu dan bersiap menyuapkan Rachel.


"Tidak Om. Aku tidak mau makan. Aku mau pulang saja, pasti Bi Minah menca—"


"Tidak boleh. Kamu harus makan dulu, baru kita pulang!" Bara kembali menggertak memotong perkataan Rachel. Gadis itu langsung mengangguk dengan wajah ketakutan dan memaksa dirinya untuk memakan makanan yang disuapkan Bara.


"Sudah habis kan makanannya? Sekarang ayo kita pulang Om," sahut Rachel membuat Bara berdiri mengambil piring bekas untuk dibawa ke dapur.


Namun sebelum itu Bara berkata, "sebaiknya kamu mandi dulu. Setelah itu baru kita pulang."


Rachel segera berdiri dan buru-buru berjalan menuju kamar mandi.


Bara memerhatikan Rachel dari belakang hingga menghilang dari balik pintu kamar mandi.


Pria tersebut sangat takjub dengan sikap Rachel yang sangat penurut. Terlebih lagi gadis itu yang akan segera mengandung benihnya. Bara tersenyum sendiri ketika membayangkan hal itu. Sangat menggemaskan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2