Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
LIMA BELAS


__ADS_3

DI RUANG KERJA, Bara langsung berdecak kesal saat salah satu pelayan rumah memberitahu bahwa Agne datang ke kamar dan mengusir Rachel. Apalagi ibunya pun ikut-ikutan mendukung Agne, tidak tahu saja kalau menantu kesayangannya itu adalah selingkuhan ayah, hal itu yang membuat Bara lebih kesal lagi. Rachel pun tidak boleh diperlakukan seperti itu karena sedang mengandung.


Bara akan membalas perbuatan Agne atas perlakuannya hari ini kepada Rachel. Dan ia memastikannya akan berkali-kali lipat.


Bara keluar dari ruang kerjanya dan menemukan Agne sudah berdiri di hadapannya dengan senyum tanpa dosa.


Bara mendengus. "Apa?"


"Ihh, jangan kasar-kasar dong Mas," balas Agne sembari mengusap pakaian suaminya dengan genit.


Bara langsung meninggalkan Agne menuju ke bangunan belakang. Sudah tidak ada yang ingin dia lakukan dengan istrinya itu. Dia muak dipermainkan. Makanya Bara lebih mementingkan Rachel sekarang yang sudah menjadi istri mudanya.


Tanpa aba-aba, Bara membuka pintu kamar belakang membuat Minah terkejut, namun wanita yang sedang memijat tubuh Rachel dengan minyak urut itu mengerti dan langsung berdiri.


"Badannya lagi tidak enak Bara."


Bara melangkah masuk dan mendekati tubuh Rachel.


"Kok bisa? Dia sudah makan kan?" tanya Bara khawatir setelah melihat wajah Rachel memucat lemas.


Minah menggeleng. "Saya juga tidak tau Bara, tapi menurut saya ini karena pengaruh kehamilannya. Hamil muda memang biasanya membuat badan menjadi tidak enak."


Bara mengangguk lalu bergerak menggendong tubuh Rachel. "Saya ingin membawanya ke kamar saya."


Minah dengan cepat menggeleng. "Tapi ibu Bara kan—"


Bara menghentikan perkataan Minah dengan tatapannya yang seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Bara pun berjalan menggendong Rachel menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Namun baru saja Bara ingin naik ke tangga, Nyonya Sarah sudah berada di belakang mencegahnya.

__ADS_1


"Bara, kau ingin membawa kemana Rachel hah?" tanya Nyonya Sarah tegas.


"Rachel sekarang sudah menjadi istriku Bu. Jadi jelas aku ingin membawanya ke kamar kami," jelas Bara tanpa ada sedikitpun rasa takut. Tapi tetap saja Nyonya Sarah mencegah dengan menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa! Bara, kau tau kan, kamar itu milik Agne denganmu," kata Nyonya Sarah sambil menunjuk kamar tamu yang berada di ujung ruangan. "Biarkan Rachel tidur di kamar tamu dulu. Selagi ibu siapkan kamar baru untuknya."


Tanpa sepatah kata pun, Bara langsung membawa Rachel ke kamar tamu. Lalu sebelum Nyonya Sarah menyusul, Bara sudah menutup pintu dan menguncinya.


"Om," panggil Rachel serak.


Bara menurunkan tubuh Rachel di atas ranjang kemudian menyelimutinya.


"Hel, sekarang kamu jangan panggil aku Om yah, panggil Mas saja. Kamu kan sudah menjadi istriku," kata Bara lembut. Rachel langsung mengangguk sambil tersenyum kecil. "Jadi ada apa Sayang?"


Rachel mengusap perutnya. "Ini Mas, perutku sakit," adu Rachel membuat Bara segera menurunkan selimut dan pakaian yang digunakan Rachel.


"Bagaimana sakitnya? Apa harus telpon dokter?" tanya Bara panik dan sebenarnya dia sendiri bingung karena baru menangani wanita hamil.


Kedua alis Bara saling bertaut. "Nyeri yah? Oh, pasti kamu sedang lapar. Mau makan apa? Nanti aku suruh pelayan rumah memesankannya," tanya Bara agak kesal dengan Rachel yang sekarang tidak berhenti merengek.


Namun Rachel tiba-tiba terdiam. Mata gadis itu berkaca-kaca membuat Bara menghela napas panjang. Dia lupa jika seorang wanita hamil perasaannya akan sangat sensitif.


"Iya-iya Sayang, jangan nangis yah," kata Bara berusaha membujuk dengan mengecup perut Rachel lalu menatap wajah istri tercintanya itu. "Kamu lapar kan? Katakan apa yang ingin kamu makan, nanti aku beritahu pelayan rumah untuk memesankan."


Rachel menatap Bara lekat-lekat sambil bergumam.


"Mau Pecel Lele."


Bara berusaha mendengar ucapan Rachel yang sangat rendah. Begitu mengerti dia langsung mengangguk.

__ADS_1


"Pecel Lele kan? Ada lagi? Biar aku panggil dulu pelayan rumah ...." tanya Bara ingin keluar kamar, tapi Rachel menggeleng dan menarik kemeja Bara.


"Jangan tinggalkan aku Mas ... hiksss ...." Isak Rachel membuat Bara segera memeluk tubuh istrinya itu yang masih lemas. "Aku mau Mas yang mencarinya, tapi Mas tidak boleh pergi."


"Baiklah, aku pesan dari ponselku saja kalau begitu," kata Bara sembari mengusap perut Rachel dengan lembut. Kemudian pria besar itu tertawa kecil. "Sekarang kamu sangat manja dan lebih berani yah denganku. Tapi entah kenapa hal itu malah membuatku bertambah suka," lanjut Bara membuat Rachel semakin merapatkan tubuh mungilnya.


Bara baru mengingat sesuatu ketika mengetahui ponselnya tidak ada di saku celananya. "Sayang, jangan nangis yah. Aku mau keluar dulu, mau ambil ponsel. Sepertinya ada di ruangan kerja," kata Bara ketika wajah Rachel mulai bergetar karena menahan tangis.


Setelah beberapa lama berusaha membujuk Rachel, akhirnya Bara bisa keluar dari kamar tamu. Dan lagi-lagi dia dikagetkan oleh Agne yang sudah berada di luar, bukan hanya wanita itu tapi kedua orangtua Bara juga ada.


Agne melangkah mendekati Bara. "Mas, malam ini kamu tidur sama aku kan?" tanyanya dengan nada manja.


Bara tidak peduli dengan Agne. Dia langsung berjalan melewati orangtuanya dengan wajah datar.


Baru saja sampai di ruang tamu, langkah Bara terhenti karena teriakan ibunya. "Ibu harap kamu bisa adil dengan kedua istrimu Bara. Ingat, Agne adalah istri pertamamu dan dia lebih berhak atas kamu."


Bara berbalik menatap ibunya. "Tanpa ibu bilang, aku mengerti akan hal itu. Tapi hati-hati, perkataan ibu itu bisa saja menyakiti ibu sendiri," balas Bara seolah memberi peringatan kepada ibunya yang belum mengetahui kebusukan Agne. Dia langsung meninggalkan semuanya menuju pintu utama.


Agne tersenyum begitu bahagia dan buru-buru memeluk Nyonya Sarah dengan wajah kikuk memikirkan perkataan Bara tadi.


"Makasih yah Bu, Ibu ini memang mertua terbaik," kata Agne bersemangat.


"Sama-sama. tapi ingat anak Rachel, tetap anaknya. Saya tetap berharap kamu bisa hamil agar bisa mendapatkan cinta Bara sepenuhnya," kata Nyonya Sarah membuat Agne tersenyum kaku dan melihat ke sembarang arah. "Ada apa? Apa menantu kesayanganku ini ada masalah tentang itu?" tanya Nyonya Sarah ketika melihat wajah Agne yang tiba-tiba berubah menjadi sedih.


Agne menggeleng. "Tidak Bu, tapi aku juga sebenarnya sangat ingin segera hamil. Aku sudah melakukan banyak cara, tapi tetap saja belum ada hasilnya. Aku juga sebenarnya ...." perkataan Agne tiba-tiba berhenti membuat Nyonya Sarah menatap menantunya itu.


"Ada apa? Ceritakan ke saya," kata Nyonya Sarah, namun sebelum itu dia menangkap Agne sempat melirik ke arah Tuan Kris. Nyonya Sarah pun memandang suaminya itu. "Benarkan Pih? Kami berdua siap mendengar cerita kamu tentang apapun itu, karena kamu tetap menjadi menantu kesayangan keluarga kami."


Tuan Kris mengangguk. "Betul sekali. Katakan saja."

__ADS_1


Agne tersenyum canggung. "Aku sebenarnya ... aku ...."


...BERSAMBUNG...


__ADS_2