
Mendapati wajahnya sudah tua kembali ia bergegas keluar kediaman dan bertepatan dengan cucunya berjalan di lorong kediaman itu.
"Hamba pastikan bocah itu tak betah disini." batin nyonya besar yang tak menyukai cucunya itu.
"Karena putraku akan selamanya menjadi putraku."
melihat sang nenek sedang berjalan berlainan arah dengannya tuan muda mui pun mengucapkan salam setelah sampai didepan nyonya besar Mui.
"Salam hormat nenek semoga selalu sehat dan sejahtera." ucap tuan muda mui dengan sopan dan sedikit menunduk .
nyonya besar Mui hanya diam diam tersenyum sinis dan menjawab salam cucu pertamanya hanya dengan menganggukkan kepala dan berlalu meninggalkannya begitu saja tanpa berucap sepatah katapun.
Melihat nyonya besar yang tak lain ialah neneknya sendiri berlalu begitu saja membuat tuan muda mui kembali bertanya,membuat nyonya besar Mui berhenti seketika.
"Apa nenek tak menyukai hamba" tanya Mui dzi dengan sedikit menahan rasa geramnya karena ia merasa wanita parubaya yang disebut neneknya itu tak pernah menunjukan kepedulian maupun kenyamanan selama ia pertama datang dan sampai sekarang.
Mendengar pertanyaan Mui dzi ,nyonya besar Mui pun berbalik dan dengan cepat kilat mencekram leher Mui dzi tanpa basa basi.
Dengan cengkeram yang sangat nyonya besar Mui tersenyum jahat didepan wajah tampan itu lalu mengucapkan sesuatu dengan berbisik.
"Kau tak pantas menyandang nama besar Mui karena kultivasi mu sangatlah dibawah rata rata murid dihalaman belakang kediaman ini." ucap nyonya besar Mui dan melepas cengkeram itu menyisakan begas merah yang sangat ketara.
"jangan membuat seseorang merasa kau tak tau diri.hanya akan membuat kau celaka suatu saat nanti.ingat " tambahnya dan pergi begitu saja meninggalkan Mui dzi dengan wajah terkejut dan tertekannya.
__ADS_1
Mendapatkan tekanan dan intimidasi yang begitu besar dari sang nenek membuat Mui dzi mengurungkan niatnya untuk menemui tuan besar Mui yang tak lain kakeknya ,memilih kembali kekediamannya begitu saja masih dengan bayang bayang kekejaman sang nenek dan kata kata yang sangat membuat dirinya tak percaya diri kembali.
"Mungkin benar ,saya tak pantas menyandang nama besar Mui karena kultivasi begitu sangat rendah berbeda dengan disini ." batin Mui dzi dengan memandang langit yang begitu cerah.
Hari semakin larut semua bergegas istirahat lebih awal karena mereka akan mengunjungi istanah dipagi hari karena hari dimana pertemuan yang sudah dijanjikan telah tiba .
Skip
Matahari sudah menunjukan wujudnya dan melangkah lebih tinggi dari ujung timur menjadi diatas kepala para penunggang kuda dan kereta kereta yang sudah dari pagi buta mulai menelusuri jalan.kereta dengan lambang besar jendral besar Mui membuat jalan jalan penuh membuat para rakyat hanya melihat dan kembali beraktifitas karena para rakyat yang mereka lewati bukan dari kubu jendral Mui melainkan kubu perdana Mentri kekaisaran ini.
Setelah menempuh beberapa kilo mil dari kediaman jendral Mui sampai istanah .barulah para rombongan sampai didepan gerbang utama istanah langit yang begitu besar dan megahnya membuat tuan muda mui serta nyonya muda mui beserta putranya menatap takjub dengan apa yang mereka lihat .begitu indah dan nyamannya istanah itu.
"Ingat dalam istanah ini tak ada istanah Harem karena istanah ini hanya dihuni yang mulia kaisar serta permaisuri dan para pengikut setia yang mulia.jangan kalian sekali kali bertanya mengapa istanah sebesar ini tak ada selir atau gundik karena permaisuri tak ingin membagi kaisar dengan lainnya." ucap nyonya besar Mui dengan tegas kepada ketiga orang yang berdiri didepannya.
"Baik ibu/nenek" ucap mereka serentak tanpa membantah apapun.
"Fi'er, ada apa denganmu" tanya nyonya besar Mui yang memang tau dari kemarin sang putri semata wayangnya merasa tak menyukai kakak ipar serta keponakannya persis dengan nya.
"Tak ada apa apa ibu.hanya saja hamba lupa membawah sesuatu untuk maita." ucap Mui fi yang menjadikan sahabatnya alasan menutupi rasa tak sukanya kepada kedua orang baru yang memasuki silsilah keluarganya.
Tanpa mereka merasakan karena berbincang sembari berjalan membuat mereka sampai keaula utama istanah dengan bertepatan mereka berdiri di pintu besar yang menuju aula mereka berhenti berbincang dan mendengar teriakan prajurit penjaga pintu meneriakan namanya.
"keluarga jendral besar Mui tu memasuki aula istanah." setelah selesai berteriak pintu besar terbuka sendiri dan menyalakan berberapa petinggi kekaisaran duduk berjajar memenuhi ruangan tersebut.
__ADS_1
membuat ketiga orang yang baru disitu mendapat banyak tekanan intimidasi dari para petinggi kekaisaran.
"salam hormat mentari agung kekaisaran langit ,yang mulia kaisar .salam hormat bulan agung kekaisaran langit yang mulia permaisuri."ucap mereka bersamaan mengucapkan salam dan menunduk.
"berdirilah.zen mengundang kalian kemari hanya ingin memberitahu bahwa permaisuriku akan memberikan hadiah atas kesetiaan jendral besar Mui tu selama ini." ucap kaisar long ye dengan tegas.
"Dengan beribu ribu terimakasih yang mulia kaisar serta permaisuri." ucap jendral Mui tu dan tibalah para dayang permaisuri membawah satu kotak kecil yang tertutup rapat dan memberikan kepada jendral Mui tu.
Setelah menerima kotak tersebut jendral besar Mui tu pun berucap terimakasih dan membuka kotak tersebut setelah meminta izin permaisuri Ling sin dan membuat semua para pejabat tersenyum dan bangga karena mereka akan selalu terselamatkan disaat peperangan karena sebelum jendral besar Mui tu datang kaisar sudah memberitahu bahwa bagi pejabat maupun bawahan setianya akan mendapatkan satu persatu hadiah yang mereka butuhkan untuk diri mereka sendiri serta keluarganya.
Melihat yang ada di dalam kotak adalah pil regenerasi membuat jendral besar Mui tersenyum dan bersujud kembali di ikuti semua keluarga besarnya.
"terimakasih banyak yang mulia kaisar,yang mulia permaisuri." ucap nyonya besar Mui dan memapah putranya dan menyuruh putranya menelan pil itu disana juga. dengan sekejab putranya menahan sakit yang luar biasa dan bersamaan kakinya yang telah putus tumbuh dengan sendirinya.
"hamba sudah memiliki kaki kembali." ucap tuan Mui dengan senang tapi dipotong oleh perkataan permaisuri yang membuat mereka diam semua.
"meskipun kaki anda sudah kembali tapi harus hati hati dan selalu meminum dan memulihkannya secara perlahan." ucap permaisuri dengan sedikit santainya.
"Baik yang mulia permaisuri ,hamba akan selalu mengingat nasehat permaisuri." ucapnya dengan penuh rasa hormat.
Setelah pertemuan diaula istanah ,semua bubar dan hanya tersisa nona muda mui fi disana bersama seorang nona muda yang tak lain maita.
"Fi'er,Apa benar dia kakak ipar mu serta keponakanmu." tanya maita yang tak lain sahabatnya sendiri dan orang yang menjadi cinta masa kecil tuan muda mui Fu.
__ADS_1
"Ya ,begitulah "ucapnya yang berubah tidak baik suasana hatinya setelah pembicaraan mengarah kepada iparnya dan keponakannya.
"Hemm,hamba bisa memaklumi.mungkin Fu Gege memang bukan jodoh hamba fi'er" ucap maita dengan nada sedihnya karena penantiannya selama ini sia sia.