
Prov Emil
aku gak sabar buat ketemu mia. tapi mia dimana ya? masak belum pulang? udah 1 jam aku nunggu mia di cafe. tiba-tiba ku lihat dia yang sudah tersenyum melihatku dan menghampiriku.
"maaf ya kak, udah nunggu lama. soalnya mia tadi ada jam tambahan." dengan nafas yang habis lari maraton
"ow.... gak papa kok. minum dulu biar agak tenang." sambil ku sodorkan segelas es teh. mia meminumnya seperti orang ke hausan.
"makasih ya kak." sambil tersenyum
"gimana jawabannya?"
"kak emil ne, beneran gak sabaran ya?" mia sambil tertawa kecil
"iyalah.... aku kan udah bilang tadi, kalau aku penasaran."
"aku minta maaf sebelumnya kak. kalau jawabanku nanti buat kak emil kecewa." aku menatap mia tajam sepertinya jawaban yang ku harapkan bakalan pupus.
"a... aku gak mau jadi pacar kak emil lagi."
Deg hatiku langsung hancur....
"tapi aku mau jadi makmum kak emil." mia melanjutkan perkataannya dan tersenyum. setelah mendengar perkataan mia, aku spontan mencium tangan mia.
"kak emil.... apaan sih, kan malu di lihat orang." mia mencoba melepaskan tangannya dari genggamanku.
"maaf... maaf... aku terlalu seneng tadi pas kamu bilang gitu. jafi kita resmi pacaran?"
__ADS_1
"kak, mia kan bilang gak mau pacaran. kalau kak emil beneran serius sama mia, lamar mia k ibu. mia, udah capek pacaran kak. mia pengen yang pasti! ya, walaupun status mia masih pelajar tapi kan bentar lagi mia, udah lulus jafi ya kalau kak emil serius kita tunangan aja."
"ok... aku setuju!" ku mantapkan kata-kataku ke mia.
benar kata mia, lebih baik langsung bertunangan.
"kak emil, mia cuma pengen kakak gak nyakitin hati mia lagi. mia berharap kak emil bisa jaga hati dan perasaan mia."
"kakak janji adek sayang." ku pegang erat lagi tangan mia.
"mia gak butuh janji tapi bukti kak."
"iya... tenang aja. mulai sekarang kakak panggil kamu adek ya??"
mia hanya mengangguk dan aku melihat rina dan riski duduk di meja depan kita.
"iya... ngapain mereka disini? kok rina kanyaknya nangis?" mia berdiri dan menghampiri meja mereka.
"rina... kamu kenapa nangis?" tanya mia pada sahabatnya dan buru-buru mia mengusap air matanya.
"mia... kamu ngapain disini? bukannya kamu ada tambahan pelajaran?" rina berdiri dan kaget melihat mia.
"iya, aq baru selesai terus langsung kesini soalnya udah ada janji ma kak emil. o iya bukannya kamu tadi izin pulang karna sakit? tapi kok ada disini?"
"em...e... iya tadi rencananya mau pulang cuma aku agak mendingan jadi aku memutuskan buat tunggu riski disini." rina nampak gugup
"ya udah, dek kita balik aja k meja kita." ucapku sambil menarik tangan mia.
__ADS_1
"aku balik ke mejaku ya..."
rina hanya mengangguk. aku juga penasaran, sebenarnya apa yang rina sembunyikan dari mia. kenapa dia terlihat gugup? apa dia sedang ada masalah? hanya saja dia tidak mau bercerita pada sahabatnya.
"kak emil lagi mikirin apa?"
"enggak.... gak mikirin apa-apa. yuk, pulang udah sore ntar adek di cari ma ibuk."
"ayok kak. tadi adek udah ijin kok ke ibuk." dan kami segera pulang. aku mengantarkan mia sampai depan rumahnya.
"kak emil, gak mau masuk dulu?"
"lain kali aja dah, dek. ini sudah hampir magrib. ya udah, kakak pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"makasih ya kak. hati-hati di jalan. Waalaikum salam." mia tersenyum padaku. aku pergi meninggalkan mia... di jalan, aku masih memikirkan rina. apa yang sebenarnya di sembunyikan rina???
-------***-------
dear sahabat,
jika kau sayang pada wanita,
janganlah sampai kau menyakiti hatinya.
karna wanita itu punya hati yang lembut,
jika terluka sedikit saja,
__ADS_1
maka hatinya akan menangis dan perih.