
ku lihat jam dinding sudah menunjukkan 10.30
"kak emil, udah selesai belum ya ikut tesnya?" ku lihat ponsel berharap kak emil chat.
"mungkin belum pulang. aku susul kesana dah, sekalian buat kejutan ke kak emil."
aku bersiap-siap buat nyamperin kak emil. menuju ke kamar ibuk buat pamitan dan minta ijin. setelah itu, aku menuju kesana naik ojek online.
25 menit kemudian.... akhirnya sampai juga. ku susuri lorong-lorong kelas yang ramai dengan para mahasiswa. mataku terhenti ketika melihat kak emil yang lagi bicara dengan seorang wanita. ku hampiri dia.....
"hai, kak.... udah selesai tesnya?" tanyaku
"hai.... iy udah dek. kok gak bilang lok mau nyusul kesini?" kak emil menoleh kepadaku dan tampak wajah yang terkejut.
"siapa mil? adikmu ya?" tanya wanita itu
"oh... bukan. kenalin ini mia, calon makmumku." sambil tersenyum. aku dan wanita itu bersalaman.
"jadi ini calon istrimu? kamu tetep gak berubah ya dari dulu, lebih suka wanita yang berhijab." katanya menambahkan.
sebenarnya, siapa wanita ini. dia deket banget ma kak emil, sampai-sampai tau kriteria wanita idaman kak emil.
"aku duluan ya..." kata kak emil tanpa menjawab perkataan dari wanita itu. aku hanya tersenyum padanya.
di sepanjang menuju tempat parkir motor, aku bertanya pada kak emil.
"siapa dia kak? kok sepertinya tau banget tentang kakak?"
"adek ini kalau ngomong gak ada titik komanya. nyerocos terus." sambil tertawa kecil
"kakak ini, malah ngomong lain bukannya jawab pertanyaanku." ketusku
__ADS_1
"itu temen MA kakak. kenapa, adik cemburu ya? baguslah lok cemburu." sambil tersenyum.
"temen MA? tapi kok akrab banget. pasti mantan ya??? orang cemburu kok di bilang bagus." aku mulai kesal.
"kalau cemburu kan tandanya sayang." menggodaku
"tu kan gak di jawab lagi."
"iya... iya... itu mantan kakak. tapi adek gak perlu khawatir, kakak udah gak ada rasa ma dia. Dia hanya masa lalu dan masa depan kakak ada di samping kakak." kak emil memegang tanganku.
"apaan sih kak. gombal banget.... lepasin kak, tanganku. ntar ada guru mia, kan gak enak di lihatnya." bukannya di lepasin malah tambah erat megangnya.
akhirnya kita sampai di tempat parkir motor... kak emil memberikan helm kepadaku dan aku langsung bonceng.
Di perjalanan pulang.....
"adek udah makan?"
"kamu ini lucu... kakak cuma tanyak adek udah makan malah menafsirkan kakak lapar. kakak cuma tanyak aja."
"ow.... gitu." kenapa aku merasa cemburu dengan perempuan tadi? kan kak emil udah bilang kalau dia hanya masa lalunya. mungkin ini kali ya... yang dinamakan cinta. Tiba-tiba motor kak emil berhenti di mall yang dekat dengan kampusnya kak emil.
"kok kita kesini, kak?" aku bingung dan aku turun dari motor kak emil.
"kita jalan-jalan dulu kan udah lama gak jalan-jalan. yuk, masuk." seperti biasa kak emil menggandeng tanganku seperti anak kecil. sesampainya di dalam, Kita melihat-lihat toko krudung yang ada di dalam.
"kakak mau beli krudung ya? buat mamanya kakak?" tanyaku
"iya.... tapi buat adek bukan buat mama."
"emmm..... gimana kalau kakak belikan buat mama aja dulu ntar lok kaka ada uang lagi, baru buat adek."
__ADS_1
"kalau gitu kakak belikan buat mama ma adek aja biar adil." sambil tersenyum
"nah.... itu baru bener." ungkapku sambil tertawa kecil.
kita lagi asyik milih-milih krudung. tiba-tiba ada yang menyapa kita dari belakang.
"ketemu lagi...." sambil tertawa
pas aku ma kak emil balik badan ternyata perempuan yang tadi. heran aku ma perempuan ini, selalu ada dimana-mana.
"kamu?? ngapain disini?" tanya kak emil
"belanjalah.... mangnya mau ngapain lagi lok k mall selain belanja. kamu beli krudung buat siapa? kok banyak banget?" sambil melihat tas belanja yang aku pegang.
"oh... ini. buat mama sama buat calon istriku. aku duluan ya... mau bayar ke kasir." perempuan itu hanya mengangkat bahunya... pas menuju kasir
"perempuan itu selalu ada dimana-mana ya, kak? dimana ada kak emil pasti perempuan itu langsung muncul. mangnya dunia ini sudah sempit apa ya?" gerutuku... kak emil tersenyum
"kenapa??? adek masih cemburu ya? kan kakak udah bilang kalau di hanya masa lalu. adek percaya kan ma kakak?"
"iya... percayalah ma kakak."
"kalau adek percaya ma kakak. adek gak perlu ragukan lagi kesetiaan cinta kakak. kakak gak akan mengulang kesalahan yang pernah kakak lakukan. adek selalu ada di hati kakak."
aku tersenyum mendengar kata-kata kak emil. berharap, apa yang di katakannya tidak ia ingkari.
-------***-------
dear sahabat,
kepercayaan itu adalah suatu pondasi dalam membentuk suatu hubungan.
__ADS_1