Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Cowo berkamera itu


__ADS_3

Selamat datang Peserta Didik Baru


SMA Pelita Murni


Tahun ajaran 2018/2019


“Baiklah. Untuk peserta didik baru diharap berbaris di tengah lapangan”


Suara seorang bapak yang diketahui wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, membahana ke seluruh penjuru sekolah melalui pengeras suara. Sekitar dua ratus lebih calon siswa baru menyerbu tengah lapangan yang di depannya berdiri tiang bendera dan di atasnya berkelebat kain merah putih. Memastikan semua siswa baru telah berkumpul, berbaris asal-asalan, bercampur dari berbagai sekolah menengah pertama yang berbeda-beda.


“Untuk panitia. Di mohon segera membagi kelas untuk masa orientasi lima hari ke depan!” perintah dari bapak walik kepala yang berdiri di atas mimbar dekat tiang bendera.


Seorang panitia menghampiri mimbar, berbincang pelan kepada bapak wakil kepala. Lima detik kemudian mikrofon beralih tangan dari bapak wakil kepala menjadi pada kakak panitia yang kini menatap sekumpulan anak manusia di hadapannya.


“Baik adik-adik. Perkenalkan saya Melani Soraya dari kelas XI IPS. Saya akan membagi kelas kalian untuk masa orientasi nanti. Dengarkan baik-baik, ya!"


Tidak salah lagi, pasti Melani ini adalah Ketua Panitia. Penampilannya yang menonjol di antara teman-temannya yang lain membuat sebagin otak berpendapat begitu.


“Bianca Lala, kelas adenium"


Sosok gadis terperanjat di tengah keasyikannya memperhatikan sekitar, pasalnya ia tidak menyangka akan namanya yang disebut dahulu.

__ADS_1


“Bianca Lala, kelas adenium" ulang panitia sekali lagi.


Sementara yang dipanggil sedang dalam kepayahan keluar dari barisan tengah yang menjadi pusat rusuh. Tubuh kecilnya berusaha mendorong, menyeruak diantara ratusan siswa. Hingga sampai diujung barisan.


“Kak, Bianca Lala" teriak gadis itu, tangannya mengacung keatas.


Sekedip lirikan, kembali panitia menyebutkan nama selanjutnya. Sedangkan panitia lain hanya berdiri mengawasi. Ada fakta bahwa panitia-panitia ini sebenarnya adalah anggota OSIS yang sukarela menjadi panita acara tahunan begini.


“Surya Tio, kelas adenium" suara dari mikrofon terus-terusan mengisi gendang telinga.


‘ini kok kebanyakan cowo sih' batin Bianca. Nama-nama yang disebutkan setelah Bianca dominan cowo, bahkan memang seluruhnya cowo. Bianca canggung, tidak biasanya ia merasa mati gaya begini. Apa ini karena bunga adenium yang ia benci menjadi nama kelasnya. Bunga adenium atau yang dikenal dengan bunga kamboja. Lima kelopak bunga yang mengerucut seperti terompet berwarna merah dibagian tepinya, dengan putih yang mendominasi bagian tengah. Ada banyak jenis bunga adenium, tapi hanya bunga adenium berwarna merah dan putih yang sering terdapat pada halaman rumah, juga bunga adenium putih yang biasanya tumbuh di makam. Kelopak bunga adenium perpaduan merah putih itu menawan, hingga tak sedikit orang yang menjadikannya tanaman hias. Namun, getah pada bunga itu yang tidak disukai Bianca juga beberapa kebanyakan orang sebab pahit manabila tidak sengaja masuk indra pengecap. Belum lagi soal bunga adenium putih yang setahu Bianca, bunga itu melambangkan kepergian, kesedihan, juga kehilangan. Bagaimana tidak? Kebanyakan bunga adenium putih bermekar dimana orang disemayamkan, pemakaman.


Diam mematung, memaksakan nyaman, berdoa semoga setelah ini nama siswi yang disebutkan. Selagi berdoa dalam hati, Bianca mengedarkan pandangannya, berusaha menghilangkan mati gaya, sampai bola mata hitam milik Bianca tidak sengaja menangkap beberapa kakak tingkat cowo dari arah lorong gerbang. Pandangan Bianca terpaku pada salah satu dari gerombalan itu, seorang yang paling tinggi mendominasi yang lain, sebuah lensa kamera tergantung pada leher seseorang itu, sesekali tangan cowo itu memainkan lensa, memfokuskan, lalu sebuah jepretan tertangkap pada kameranya.


“Heh, liatin apa?” seru seseorang yang entah sejak kapan sudah berada di samping Bianca.


Bianca terkejut bukan main. “Eh, engga kok. Kenalin Bianca” ucap Bianca menjulurkan tangan.


Saking teralihkan pandangannya, Bianca sempat tidak menyadari kehadiran siswi di sampingnya tadi, yang artinya doa dan penantiannya terkabul. Beruntung ada yang menyadarkan Bianca dari terpakunya dia, kalau tidak, bisa-bisa Bianca akan menatap kakak panitia itu hingga terdengar suara mikrofon, lebih malu lagi jika yang menciduknya adalah kakak panitia juga. Seorang siswi dengan hijab putihnya sedang menatap Bianca bingung, karena dari tadi di pandangnya Bianca hanya melamun entah memperhatikan apa.


Sofia membalas uluran tangan Bianca “Sofia Putri Warno. Omong-omong gue liatin dari tadi lu bengong, liatin apa, sih?” jawab dan tanya Sofia.

__ADS_1


“Engga ada, kok” jawab Bianca kaku, dia tidak enak membohongi juga tidak mungkin berbicara berlebih khususnya kepada orang yang baru saja ia kenal.


“Gue takutnya lo kesambet"


Bianca hanya bisa membalas dengan senyum kaku, malu juga rasanya di ketahui orang lain, di tambah orang itu mengkhawatirkan Bianca yang memang kesambet kakak panitia berkamera tadi.


Tidak ada lagi suara dari Sofia, teman baru Bianca. Sofia di samping menatap sekitar, pemandangan dimana kakak panita yang berdiri mengawasi, hiruk pikuk teman-teman yang menunggu namanya di panggil. Bianca memilih kegiatan lain, diliriknya lagi kakak panitia yang menjadi pusat fokus Bianca beberapa menit lalu, memastikan apakah kakak panitia itu masih di tempat atau sudah hilang entah kemana. Cowo dengan kamera lensa itu sekarang sedang bersandar pada penyangga bangunan sekolah, tangan kanannya memegang lensa dengan lengan yang terlilit gantungan hitam dari lensa yang di pegang, sedangkan tangan kiri di masukkan dalam satu celana. Mata cowo itu menyapu sekitar, sesekali bila ada tangkapan menarik ia segera memainkan lensa kameranya, membidik. Sial, betapa keren dan coolnya cowo itu ketika sibuk dengan lensa, memutar fokus kamera, lalu membidik sasaran. Sangat sayang apabila pemandangan itu terlampaui tanpa dilihat mata.


“Baik adik-adik. Semua sudah mendapat kelas. Sekarang ikuti kakak pendamping yang akan menjadi kakak pendamping kelas kalian”


Lagi. Suara mikrofon mengembalikan seluruh kesadaran Bianca, tak khayalnya acara sebut-menyebut itu telah berakhir. Bianca menoleh ke belakang, memeriksa kelasnya apakah terdapat siswi lain selain Sofia. Syukurlah, siswi cewe tidak kalah jumlah dari anak cowo. Tiga kakak panitia dua di antaranya cewe, menghampiri kelas adenium. Satu kakak panitia cowo, dengan tampang garang, kulit hitam manis membawa sekumpulan kertas berisikan data di dalamnya.


“Kelas adenium, ya?” tanya kakak panitia cowo, dari suaranya yang di tekankan lantang juga bisa di pastikan kakak yang satu ini galaknya bukan main.


“Iya, kak.” Bianca memberanikan diri menjawab, karena ia yang berada di barisan depan berhadapan dengan kakak panitia.


“Oke. Ayo jalan ke kelas!” perintahnya tegas.


Tiga kakak panitia sudah berjalan mendahului di ikuti yang lain. Sebelum melangkahkan kakinya mengikuti ketinggalan, Bianca sempat melirik ke arah penyangga bangunan di dekat mimbar, dimana kakak panitia berkamera lensa tadi berdiri. Helaan nafas kecewa terdengar keluar dari Bianca, sebab kakak panitia berkamera tadi sudah tidak ada di tempatnya semula, entah pergi kemana dia setelah acara ini. Apakah Bianca akan bertemu dengan kakak berkamera itu lagi? Apakah hanya sampai sini saja pertemuan tanpa sapa?


---

__ADS_1


Apabila ada salah dalam penulisan, mohon kritik dan sarannya, Kak.


-Salam Literasi dari Aksara Raya.


__ADS_2