Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Ada apa dengan Bela?


__ADS_3

“Bi Nur, Bi Nur,” panggil Bianca, meneriaki nama asisten rumah tangga satu-satunya.


            “Bibi di belakang, non. Angkat


jemuran,”


            Mendengar jawaban dari Bi Nur, Bianca meletakkan dokumen di atas meja makan, beranjak mengambil piring di rak, lalu kembali duduk di kursi meja makan, membuka tudung makanan, mengambil menu


makan siangnya yang terlambat. Sepuluh menit makanan habis masuk ke dalam perut


Bianca, membungkam cacing-cacing  kelaparan. Persis saat itu, Bi Nur datang dari pintu belakang dengan


sekeranjang pakaian yang baru saja diambil.


            “Biar Bi Nur yang nyuci, non.


Sebentar, Bi Nur taruh keranjang ini dulu,” ujar Bi Nur, menghentikan gerak


Bianca yang ingin mencuci piring.


            “Gapapa, Bi?” tanya Bianca


memastikan.


            “Gapapa, non. Soalnya sekalian nyuci


perkakas bekas masak tadi,” jawab Bi Nur sambil berlalu keluar dapur menuju


kamar tempat setrikaan.


            Dua menit kemudian Bi Nur kembali,


setetes keringat turun dari dahinya, dielapnya dengan lengan tangan.


            “Oh, iya, ini titipan mama tadi.


Katanya suruh Bi Nur simpan di lemari kamar mama,” Bianca menyerahkan dua arsip


dokumen titipan Bela.


            Bi Nur meraih dua arsip dokumen dari


tangan Bianca, “Ya sudah, Bi Nur simpan sekarang. Bilangin ke nyonya, ya, non,”


Bi Nur beranjak lagi keluar dapur.


            Bianca mengikuti dari belakang “Iya,


siap, Bi Nur,”


            Sementara Bi Nur berbelok ke kanan,


tempat kamar Bela, Bianca berbelok ke kiri menaiki anak tangga, kembali menuju


kamarnya. Sampai di kamar, gadis itu segera meraih benda pipih kesayangannya,


duduk pada tepi kasur.


            *Mama Bela


            [Ma, sudah dikasih ke Bi Nur,


langsung disimpan juga]


            Belum ada jawaban, biarlah. Mungkin


Bela sedang disibukkan dengan tumpukkan lembar dokumen lain yang berserakan di


meja kantornya.


            Bianca menggeser tempat, merubah


posisi duduk, bersender pada papan kasur, meraih novel yang tadi sempat di


lemparnya. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum mandi, dari pada


engga ada kerjaan alias gabut banget menyergap Bianca, lebih baik Bianca


membaca novel yang tidak ada kesempatan untuk membacanya.


            Baru membuka cover novel, otak


Bianca malah disergap oleh bayangan Given. ‘Oh, iya, tadi pesan Kak Given belum


gue bales’ batin Bianca, mengingat. Mau bagaimana lagi, sudah terhipnotis.


            *Kak Giveen


            [Sudah selesai makannya, kak]


            Hanya centang satu, belum ada


tanda-tanda dibaca. Baiklah, ini waktu longgar Bianca untuk melanjutkan

__ADS_1


duniannya sendiri dengan novel Geez and


Ann karya Rintik Sedu itu. Dalam acara membaca novel, Bianca akan ikut


merasakan tentang apa yang dialam oleh tokoh utama, seperti sekarang ia


tersenyum geli membaca adegan di metromini, adengan ini sama seperti ketika


Given menghantarkan Bianca pulang, hanya berbedanya Geez and Ann menaiki kendaraan umum, menyetel lagu berdua,


sedangkan Given dan Bianca duduk pada jok motor, bertanya dengan suara yang


bertabrakan dengan angin. Menyadari itu, Bianca tertawa renyah persis ketika


sebuah pesan masuk ke ponselnya.


            Drrtt… drrtt…


            Dua pesan masuk bersamaan. Getaran


yang merambat di kasur membuat Bianca refleks menoleh, meraih ponselnya segera,


melihat siapa dan apa isi pesannya. Bar notifikasi menampilkan dua nama, Mama


Bela dan Kak Giveen. Bianca terlebih dulu membuka pesan Bela.


            *Mama Bela


            [Oke, terima kasih, ya. Mama nanti


pulangnya nggak malam-malam banget]


            [Iya, ma]


            Keluar. Masuk ke dalam room chat


Given.


            [Lagi apa sekarang?]


            Eh, wajar bukan kalau Given


menanyakan kalimat itu ke Bianca.


            [Lagi baca novel, kak]


            Lalu gadis itu mengetik satu pesan


lagi.


            [Baru pulang dari sekolah]


            [Oh, begitu]


            Tidak ada balasan, Bianca keluar


room chat, mengusap tombol home, kembali ke layar utama, lalu mematikan layar


ponsel. Mengingat pesan Given baru pulang sekolah, Bianca refleks melirik jam


dinding kamarnya, sudah hampir jam empat sore. Mau apa lagi kecuali pergi


mandi.


            Sepuluh menit saja adalah waktu


untuk Bianca membersihkan diri di dalam kamar mandinya. Ia sekalian saja


memakai baju tidur, agar nanti tidak usah repot-repot berganti pakaian lagi.


            ---


            Di luar, matahari semakin merendah,


sinar terangnya perlahan redup, diikuti cahaya lampu-lampu jalanan, rumah para


penduduk yang dinyalakan. Bianca menikmati pergantian waktu itu, mengamati


pendar lampu jalanan dari balkon kamar. Sebuah mobil hitam berhenti di depan


gerbang, Bela keluar dari jok pengemudi, membuka sendiri pagar besi rumah. Dari


atas balkon kamar, Bianca bisa melihat halaman rumah, juga taman gersang yang


dilewati Bela tanpa memperdulikannya.


            Seperkian detik, langit gelap total,


matahari sudah benar-benar masuk ke peristirahatannya. Jalanan remang-remang


disinari lampu, hanya ada satu dua motor saja yang masih berkeliaran di jalan


sana.

__ADS_1


            “Non Bianca,” panggil Bi Nur dari


luar kamar.


            Bianca yang senang sekali mengamati,


lalu berujung lamunan, tersadar mendengar namanya disebut.


            “Iya, bi?” Bianca mendonggakkan


dagu, mendengarkan seksama, benar atau tidak Bi Nur yang memanggil namanya.


            “Turun dulu sebentar, non. Makan


malam sudah siap, ada nyonya di bawah,”


            “Eh, iya, kah,” gumam Bianca pada


dirinya sendiri. “Siap, bi.  Bianca akan


turun lima menit lagi,”


            “Ya sudah kalau begitu, non”


            Bianca segera beranjak dari


duduknya, malam ini Bela akan ikut di meja makan untuk makan malam, yang


biasanya Bela tidak pernah sempat makan malam, sarapan saja selalu serba cepat.


            ---


            Di meja makan sudah ada Bela yang


duduk menunggu, Bi Nur masih sibuk menuangkan lauk pauk dari wajan ke piring


makanan. Bianca ikut bergabung duduk.


            “Mama tumbenan pulang awal,” celetuk


Bianca, asal sekali mengambil topik yang memang hanya itu yang terlintas di


kepalanya.


            “Sebagiannya, kan, sudah kamu bawa


pulang tadi,” jawab Bela santai.


            “Oh, iya, kah,” Bianca mengernyitkan


dahi, ternyata yang ia bawa pulang hanya setengah dari pekerjaan Bela, hanya


untuk itu Bianca harus datang ke kantor.


            “Gimana soal sekolahmu? Ada yang


perlu dibayar?” Bela meletakkan ponselnya, menatap putri satu-satunya.


            “Biasa saja. Belum ada apa-apa yang


harus dibayar pakai uang,”


            Bi Nur meletakkan piring lauk ke


meja makan, nasi yang sudah disiapkan, juga jus buah untuk minuman.


            “Eh, Bi Nur makan bareng kita saja,”


ujar Bela, menghentikan langkah Bi Nur yang akan kembali ke kamarnya.


            “Nanti saja nyonya,”


            “Ini perintah saya, bi. Gapapa. Bibi


sudah saya anggep keluarga sendiri. Rasanya sepi rumah ini kalau engga ada


bibi,”


            Bianca mengamati peristiwa itu,


mendengar seksama apa yang barusan keluar dari mulut mamanya, apakah ia juga


sungguhan merasa kesepian di rumah sebesar ini hanya ada tiga orang? Atau jika


tidak ada Bi Nur yang menjadi pembantu rumah tangga? Bela juga bisa merasakan


kesepian sama seperti Bianca?  Mata Bela


sedikit berkaca, ia mencoba menahan sesuatu yang inggin keluar, Bianca tidak


mengetahui itu.


 

__ADS_1


---


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2