
“Bi Nur, Bi Nur,” panggil Bianca, meneriaki nama asisten rumah tangga satu-satunya.
“Bibi di belakang, non. Angkat
jemuran,”
Mendengar jawaban dari Bi Nur, Bianca meletakkan dokumen di atas meja makan, beranjak mengambil piring di rak, lalu kembali duduk di kursi meja makan, membuka tudung makanan, mengambil menu
makan siangnya yang terlambat. Sepuluh menit makanan habis masuk ke dalam perut
Bianca, membungkam cacing-cacing kelaparan. Persis saat itu, Bi Nur datang dari pintu belakang dengan
sekeranjang pakaian yang baru saja diambil.
“Biar Bi Nur yang nyuci, non.
Sebentar, Bi Nur taruh keranjang ini dulu,” ujar Bi Nur, menghentikan gerak
Bianca yang ingin mencuci piring.
“Gapapa, Bi?” tanya Bianca
memastikan.
“Gapapa, non. Soalnya sekalian nyuci
perkakas bekas masak tadi,” jawab Bi Nur sambil berlalu keluar dapur menuju
kamar tempat setrikaan.
Dua menit kemudian Bi Nur kembali,
setetes keringat turun dari dahinya, dielapnya dengan lengan tangan.
“Oh, iya, ini titipan mama tadi.
Katanya suruh Bi Nur simpan di lemari kamar mama,” Bianca menyerahkan dua arsip
dokumen titipan Bela.
Bi Nur meraih dua arsip dokumen dari
tangan Bianca, “Ya sudah, Bi Nur simpan sekarang. Bilangin ke nyonya, ya, non,”
Bi Nur beranjak lagi keluar dapur.
Bianca mengikuti dari belakang “Iya,
siap, Bi Nur,”
Sementara Bi Nur berbelok ke kanan,
tempat kamar Bela, Bianca berbelok ke kiri menaiki anak tangga, kembali menuju
kamarnya. Sampai di kamar, gadis itu segera meraih benda pipih kesayangannya,
duduk pada tepi kasur.
*Mama Bela
[Ma, sudah dikasih ke Bi Nur,
langsung disimpan juga]
Belum ada jawaban, biarlah. Mungkin
Bela sedang disibukkan dengan tumpukkan lembar dokumen lain yang berserakan di
meja kantornya.
Bianca menggeser tempat, merubah
posisi duduk, bersender pada papan kasur, meraih novel yang tadi sempat di
lemparnya. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum mandi, dari pada
engga ada kerjaan alias gabut banget menyergap Bianca, lebih baik Bianca
membaca novel yang tidak ada kesempatan untuk membacanya.
Baru membuka cover novel, otak
Bianca malah disergap oleh bayangan Given. ‘Oh, iya, tadi pesan Kak Given belum
gue bales’ batin Bianca, mengingat. Mau bagaimana lagi, sudah terhipnotis.
*Kak Giveen
[Sudah selesai makannya, kak]
Hanya centang satu, belum ada
tanda-tanda dibaca. Baiklah, ini waktu longgar Bianca untuk melanjutkan
__ADS_1
duniannya sendiri dengan novel Geez and
Ann karya Rintik Sedu itu. Dalam acara membaca novel, Bianca akan ikut
merasakan tentang apa yang dialam oleh tokoh utama, seperti sekarang ia
tersenyum geli membaca adegan di metromini, adengan ini sama seperti ketika
Given menghantarkan Bianca pulang, hanya berbedanya Geez and Ann menaiki kendaraan umum, menyetel lagu berdua,
sedangkan Given dan Bianca duduk pada jok motor, bertanya dengan suara yang
bertabrakan dengan angin. Menyadari itu, Bianca tertawa renyah persis ketika
sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Drrtt… drrtt…
Dua pesan masuk bersamaan. Getaran
yang merambat di kasur membuat Bianca refleks menoleh, meraih ponselnya segera,
melihat siapa dan apa isi pesannya. Bar notifikasi menampilkan dua nama, Mama
Bela dan Kak Giveen. Bianca terlebih dulu membuka pesan Bela.
*Mama Bela
[Oke, terima kasih, ya. Mama nanti
pulangnya nggak malam-malam banget]
[Iya, ma]
Keluar. Masuk ke dalam room chat
Given.
[Lagi apa sekarang?]
Eh, wajar bukan kalau Given
menanyakan kalimat itu ke Bianca.
[Lagi baca novel, kak]
Lalu gadis itu mengetik satu pesan
lagi.
[Baru pulang dari sekolah]
[Oh, begitu]
Tidak ada balasan, Bianca keluar
room chat, mengusap tombol home, kembali ke layar utama, lalu mematikan layar
ponsel. Mengingat pesan Given baru pulang sekolah, Bianca refleks melirik jam
dinding kamarnya, sudah hampir jam empat sore. Mau apa lagi kecuali pergi
mandi.
Sepuluh menit saja adalah waktu
untuk Bianca membersihkan diri di dalam kamar mandinya. Ia sekalian saja
memakai baju tidur, agar nanti tidak usah repot-repot berganti pakaian lagi.
---
Di luar, matahari semakin merendah,
sinar terangnya perlahan redup, diikuti cahaya lampu-lampu jalanan, rumah para
penduduk yang dinyalakan. Bianca menikmati pergantian waktu itu, mengamati
pendar lampu jalanan dari balkon kamar. Sebuah mobil hitam berhenti di depan
gerbang, Bela keluar dari jok pengemudi, membuka sendiri pagar besi rumah. Dari
atas balkon kamar, Bianca bisa melihat halaman rumah, juga taman gersang yang
dilewati Bela tanpa memperdulikannya.
Seperkian detik, langit gelap total,
matahari sudah benar-benar masuk ke peristirahatannya. Jalanan remang-remang
disinari lampu, hanya ada satu dua motor saja yang masih berkeliaran di jalan
sana.
__ADS_1
“Non Bianca,” panggil Bi Nur dari
luar kamar.
Bianca yang senang sekali mengamati,
lalu berujung lamunan, tersadar mendengar namanya disebut.
“Iya, bi?” Bianca mendonggakkan
dagu, mendengarkan seksama, benar atau tidak Bi Nur yang memanggil namanya.
“Turun dulu sebentar, non. Makan
malam sudah siap, ada nyonya di bawah,”
“Eh, iya, kah,” gumam Bianca pada
dirinya sendiri. “Siap, bi. Bianca akan
turun lima menit lagi,”
“Ya sudah kalau begitu, non”
Bianca segera beranjak dari
duduknya, malam ini Bela akan ikut di meja makan untuk makan malam, yang
biasanya Bela tidak pernah sempat makan malam, sarapan saja selalu serba cepat.
---
Di meja makan sudah ada Bela yang
duduk menunggu, Bi Nur masih sibuk menuangkan lauk pauk dari wajan ke piring
makanan. Bianca ikut bergabung duduk.
“Mama tumbenan pulang awal,” celetuk
Bianca, asal sekali mengambil topik yang memang hanya itu yang terlintas di
kepalanya.
“Sebagiannya, kan, sudah kamu bawa
pulang tadi,” jawab Bela santai.
“Oh, iya, kah,” Bianca mengernyitkan
dahi, ternyata yang ia bawa pulang hanya setengah dari pekerjaan Bela, hanya
untuk itu Bianca harus datang ke kantor.
“Gimana soal sekolahmu? Ada yang
perlu dibayar?” Bela meletakkan ponselnya, menatap putri satu-satunya.
“Biasa saja. Belum ada apa-apa yang
harus dibayar pakai uang,”
Bi Nur meletakkan piring lauk ke
meja makan, nasi yang sudah disiapkan, juga jus buah untuk minuman.
“Eh, Bi Nur makan bareng kita saja,”
ujar Bela, menghentikan langkah Bi Nur yang akan kembali ke kamarnya.
“Nanti saja nyonya,”
“Ini perintah saya, bi. Gapapa. Bibi
sudah saya anggep keluarga sendiri. Rasanya sepi rumah ini kalau engga ada
bibi,”
Bianca mengamati peristiwa itu,
mendengar seksama apa yang barusan keluar dari mulut mamanya, apakah ia juga
sungguhan merasa kesepian di rumah sebesar ini hanya ada tiga orang? Atau jika
tidak ada Bi Nur yang menjadi pembantu rumah tangga? Bela juga bisa merasakan
kesepian sama seperti Bianca? Mata Bela
sedikit berkaca, ia mencoba menahan sesuatu yang inggin keluar, Bianca tidak
mengetahui itu.
__ADS_1
---
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)