Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Lembar Foto


__ADS_3

           Terlalu awal sekali jika Bianca


harus tidur sekarang, memejamkan mata juga sama tidak semudah mengetikkan


kalimat ‘aku rindu, apakah kita bisa bertemu’ pada mantan maupun kekasih


masing-masing. Gengsi menutupi segalanya. Sangat manusiawai memang. Helaan


nafas berat terdengar dari Bianca yang baru memasuki ruang kamarnya, pintu


menutup pelan di belakang. Gadis itu berpikir keras, bagaimana caranya untuk


mengisi kegabutan dengan hal yang lebih bermanfaat, selain mengotak-atik layar


ponselnya yang bisa mengingatkan lagi tentang nomor Given yang terlupa. Sial,


Bianca baru sadar, ia memiliki novel terbaru yang belum sempat ia baca, karena


pada saat itu ia memilih menuruti bujuk rayu Sofia. Bianca segera menyambar tas


yang tergantung di dinding kamar, mencari-cari benda persegi dengan tebal tiga


centimeter itu. Ketemu. Buku dengan warna sampul hijau toska, bertuliskan judul Geez and Ann karya Kak Tsana as Rintik Sedu itu baru saja


dibeli Bianca dua hari sebelum memasuki kegiatan MOS. Kali ini Bianca sudah


siap dengan duduk santai di atas ranjang, memegang buku novel paling best


seller yang dia alasi bantal. Mulai memasuki dunia dimana gadis itu ikut masuk


ke dalam imajinasi sesuai dengan apa yang ia baca. Tokoh dalam novel itu


membuat Bianca gregetan, terlebih ketika pertemuan pertama sang dewa kejutan


dan peri kecilnya. Baru sampai halaman kelima, pintu kamar berbunyi, diketuk


oleh seseorang.


            “Bi, ini mama” suara Bela dari balik


pintu memang tidak asing di telinga Bianca, tetapi kenapa, ada apa ia menjenguk


kamar putrinya, tidak biasanya begitu.


            Tidak ada jawaban, Bela di luar


kamar berpikir, menebak apakah putrinya sudah benar-benar tidur, memastikan


“Sudah tidur, ya? Mama tadi nemuin foto ketika kamu lahir, ada papah di situ.


Mama taruh di selipan pintu, ya” Bela berucap seolah-olah Bianca di hadapannya,


mendengar dengan seksama, meskipun suaranya terdengar parau.


            Bianca sudah tersadar dari alam


imajinasi ketika pertama mendengar suara Bela memasuki indra pendengarannya, memilih


menatap kaku pintu kayu kamar, mendengar setiap kata yang diucapkan mamanya.


Sebuah lembar kertas persegi kecil, menyembul dari celah bawah bingkai pintu.


Bianca mengamati kertas itu dari atas ranjang, tangannya masih memegang buku


novel yang kini sudah tertutup.


            “Semoga kamu suka, ya, Bi. Mimpi


indah” tabrakan antara sandal dengan lantai keramik terdengar pelan menjauh,


Bela sudah melangkah meninggalkan kamar Bianca.


            Hening sejenak, tidak ada bunyi

__ADS_1


langkah terdengar. Bianca baru berani beranjak mendekati kertas pesergi yang


Bela bilang adalah sebuah foto. Perlahan dengan tangan bergetar Bianca


mengambil lembaran foto, dibaliknnya posisi foto. Terpampang sepasang suami


istri yang bahagia menyambut kelahiran putri satu-satunya milik mereka, bayi


yang belum genap satu tahun itu memamerkan senyum cerianya di dekapan sang


mama. Namun, mata bulat Bianca tidak berminat melihat dirinya dimasa bayi,


tatapannya justru terfokus pada sosok laki-laki yang memegang pundak mamanya,


matanya menatap bayi dalam gendongan istrinya. Papah. Bianca bergumam tertahan,


terduduk lemas di lantai, menyender pada pintu kamar. Air matanya segera ingin


keluar, dadanya terasa sesak, didekapnya foto yang sedikit lusuh itu.


            “Papah kemana?”


            “Bianca mau ketemu papah, ma. Bukan


hanya fotonya”


            “Kenapa mama engga pernah mau


memberitahu Bianca dimana papah”


            Kalimat pertanyaan yang berulang


kali Bianca ucapkan dalam tangisnya, dengan cepatnya pipi gadis itu sudah basah


karena air mata yang tidak bisa dibendung keluar begitu saja. Sejak perceraian


kedua orang tuanya, Bianca tidak pernah mendapat kabar dari sosok papahnya,


bertanya pada Bela pun, wanita itu hanya diam atau segera mengalihkan topik


pembicaraan, tidak ingin membahas tentang mantan suaminya. Padahal Bianca


sangat rindu dengan sosok papahnya, dengan malaikat pelindungnya ketika Bianca


dalam ancaman. Kain bawah kaos Bianca sudah basah untuk mengelap air matanya,


dadanya masih sedikit sesak, badannya bergetar, suara sesegukan terdengar.


Gadis itu berusaha bangkit dari duduknya, merangkak perlahan menaiki ranjang.


Sudah dua jam ia menangis, sekarang matanya lelah, sudah waktunya ia pejamkan


meski sesak masih menghinggapi dada.


            “Non Bianca, ayo bangun. Sudah jam


enam, nanti telat takutnya. Nyonya masih nungguin di depan” suara Bi Nur


membangunkan Bianca esok paginya.


            “Jam berapa, Bi Nur?” tanya Bianca


memeluk guling dalam mata terpejam.


            “Jam enam, Non”


            “Yasudah, Bi Nur keluar. Bianca mau


mandi” ucap Bianca, menggeliat sesekali mengucek matanya yang tidak


kenapa-kenapa.


            Bi Nur beranjak keluar, sementara

__ADS_1


Bianca terburu-buru menyambar handuk yang menggantung di depan pintu kamar


mandi. Untung saja Bi Nur tidak menunggu Bianca hingga gadis itu sungguhan


membuka mata, lalu melihat mata Bianca yang membengkak akibat menangis


semalaman. Karena itu juga kemarin malam Bianca tidak sempat, bahkan tidak


kepikiran menyalakan alarm, sebab dari bangunnya yang kesiangan pagi ini. Selesai


dengan mandinya, Bianca menyambar novel yang tergeletak sembarangan pada


ranjangnya, memasukkannya dalam tas, lalu berkaca, memastikan kelopak matanya


tidak terlalu membengkak.


            “Kok kamu tumben bangun kesiangan


gitu?” celetuk Bela ketika berdua dengan Bianca di dalam mobil menuju sekolah.


            Bianca menoleh, tumben Bela bisa


berbasa-basi seperti ini “Eh, engga ma. Cuma kemarin malam lupa nyalain alarm”


            Bela ber-oh pelan dengan tatapannya


yang fokus ke jalanan depan. Bianca mengalihkan pandangannya, berpangku dagu


menatap luar jalan dari kaca mobil. Masih ada banyak anak-anak yang berseragam


memulai pagi ini, dengan diantar orang tua atau menaiki angkot kota dengan


tarif khusus untuk anak sekolah, berdesakan dengan orang dewasa yang berangkat


kerja.


            Tidak membutuhkan waktu lama untuk


sampai di sekolah Bianca.


            “Kamu nanti pulang sendiri lagi, ya.


Mama belum bisa mastiin kapan bisa jemput kamu. Kerjaan mama lagi padat. Uang


saku kemarin masih cukup, kan? Kalau kurang, kamu tinggal minta saja ke mama” jelas


Bela panjang lebar. Belakangan ini sejak Bianca masuk sekolah menengah atas,


Bela lebih sering banyak kerjaan kantor meski sebelumnya memang seperti itu.


Hanya saja dulu masih bisa menyempatkan untuk menjemput Bianca pulang sekolah.


            “Iya, mah, masih ada” jawab Bianca


pendek sembari membuka pintu mobil, lalu turun, menatap malas mobil hitam yang


dikendarai Bela, hingga mobil itu hilang di kelokan jalan.


            Mood Bianca pagi ini tidak secerah


sinar matahari yang menyapa penduduk bumi. Gadis itu tetap berjalan lurus


menuju kelas adenium yang berada di lantai atas, meski beberapa kali namanya


disebut-sebut oleh sekumpulan anak laki-laki, dilontari kalimat rayuan, Bianca


tidak menggubris sama sekali. Kelas adenium hampir terisi penuh ketika Bianca


sampai, dengungan samar para goshiper terdengar, untuk anak laki-laki yang


biasanya merusuh di pojokan kelas juga sudah ada, Sofia juga sudah duduk manis


di mejanya, memainkan ponsel miliknya.

__ADS_1


__ADS_2