
Terlalu awal sekali jika Bianca
harus tidur sekarang, memejamkan mata juga sama tidak semudah mengetikkan
kalimat ‘aku rindu, apakah kita bisa bertemu’ pada mantan maupun kekasih
masing-masing. Gengsi menutupi segalanya. Sangat manusiawai memang. Helaan
nafas berat terdengar dari Bianca yang baru memasuki ruang kamarnya, pintu
menutup pelan di belakang. Gadis itu berpikir keras, bagaimana caranya untuk
mengisi kegabutan dengan hal yang lebih bermanfaat, selain mengotak-atik layar
ponselnya yang bisa mengingatkan lagi tentang nomor Given yang terlupa. Sial,
Bianca baru sadar, ia memiliki novel terbaru yang belum sempat ia baca, karena
pada saat itu ia memilih menuruti bujuk rayu Sofia. Bianca segera menyambar tas
yang tergantung di dinding kamar, mencari-cari benda persegi dengan tebal tiga
centimeter itu. Ketemu. Buku dengan warna sampul hijau toska, bertuliskan judul Geez and Ann karya Kak Tsana as Rintik Sedu itu baru saja
dibeli Bianca dua hari sebelum memasuki kegiatan MOS. Kali ini Bianca sudah
siap dengan duduk santai di atas ranjang, memegang buku novel paling best
seller yang dia alasi bantal. Mulai memasuki dunia dimana gadis itu ikut masuk
ke dalam imajinasi sesuai dengan apa yang ia baca. Tokoh dalam novel itu
membuat Bianca gregetan, terlebih ketika pertemuan pertama sang dewa kejutan
dan peri kecilnya. Baru sampai halaman kelima, pintu kamar berbunyi, diketuk
oleh seseorang.
“Bi, ini mama” suara Bela dari balik
pintu memang tidak asing di telinga Bianca, tetapi kenapa, ada apa ia menjenguk
kamar putrinya, tidak biasanya begitu.
Tidak ada jawaban, Bela di luar
kamar berpikir, menebak apakah putrinya sudah benar-benar tidur, memastikan
“Sudah tidur, ya? Mama tadi nemuin foto ketika kamu lahir, ada papah di situ.
Mama taruh di selipan pintu, ya” Bela berucap seolah-olah Bianca di hadapannya,
mendengar dengan seksama, meskipun suaranya terdengar parau.
Bianca sudah tersadar dari alam
imajinasi ketika pertama mendengar suara Bela memasuki indra pendengarannya, memilih
menatap kaku pintu kayu kamar, mendengar setiap kata yang diucapkan mamanya.
Sebuah lembar kertas persegi kecil, menyembul dari celah bawah bingkai pintu.
Bianca mengamati kertas itu dari atas ranjang, tangannya masih memegang buku
novel yang kini sudah tertutup.
“Semoga kamu suka, ya, Bi. Mimpi
indah” tabrakan antara sandal dengan lantai keramik terdengar pelan menjauh,
Bela sudah melangkah meninggalkan kamar Bianca.
Hening sejenak, tidak ada bunyi
__ADS_1
langkah terdengar. Bianca baru berani beranjak mendekati kertas pesergi yang
Bela bilang adalah sebuah foto. Perlahan dengan tangan bergetar Bianca
mengambil lembaran foto, dibaliknnya posisi foto. Terpampang sepasang suami
istri yang bahagia menyambut kelahiran putri satu-satunya milik mereka, bayi
yang belum genap satu tahun itu memamerkan senyum cerianya di dekapan sang
mama. Namun, mata bulat Bianca tidak berminat melihat dirinya dimasa bayi,
tatapannya justru terfokus pada sosok laki-laki yang memegang pundak mamanya,
matanya menatap bayi dalam gendongan istrinya. Papah. Bianca bergumam tertahan,
terduduk lemas di lantai, menyender pada pintu kamar. Air matanya segera ingin
keluar, dadanya terasa sesak, didekapnya foto yang sedikit lusuh itu.
“Papah kemana?”
“Bianca mau ketemu papah, ma. Bukan
hanya fotonya”
“Kenapa mama engga pernah mau
memberitahu Bianca dimana papah”
Kalimat pertanyaan yang berulang
kali Bianca ucapkan dalam tangisnya, dengan cepatnya pipi gadis itu sudah basah
karena air mata yang tidak bisa dibendung keluar begitu saja. Sejak perceraian
kedua orang tuanya, Bianca tidak pernah mendapat kabar dari sosok papahnya,
bertanya pada Bela pun, wanita itu hanya diam atau segera mengalihkan topik
pembicaraan, tidak ingin membahas tentang mantan suaminya. Padahal Bianca
sangat rindu dengan sosok papahnya, dengan malaikat pelindungnya ketika Bianca
dalam ancaman. Kain bawah kaos Bianca sudah basah untuk mengelap air matanya,
dadanya masih sedikit sesak, badannya bergetar, suara sesegukan terdengar.
Gadis itu berusaha bangkit dari duduknya, merangkak perlahan menaiki ranjang.
Sudah dua jam ia menangis, sekarang matanya lelah, sudah waktunya ia pejamkan
meski sesak masih menghinggapi dada.
“Non Bianca, ayo bangun. Sudah jam
enam, nanti telat takutnya. Nyonya masih nungguin di depan” suara Bi Nur
membangunkan Bianca esok paginya.
“Jam berapa, Bi Nur?” tanya Bianca
memeluk guling dalam mata terpejam.
“Jam enam, Non”
“Yasudah, Bi Nur keluar. Bianca mau
mandi” ucap Bianca, menggeliat sesekali mengucek matanya yang tidak
kenapa-kenapa.
Bi Nur beranjak keluar, sementara
__ADS_1
Bianca terburu-buru menyambar handuk yang menggantung di depan pintu kamar
mandi. Untung saja Bi Nur tidak menunggu Bianca hingga gadis itu sungguhan
membuka mata, lalu melihat mata Bianca yang membengkak akibat menangis
semalaman. Karena itu juga kemarin malam Bianca tidak sempat, bahkan tidak
kepikiran menyalakan alarm, sebab dari bangunnya yang kesiangan pagi ini. Selesai
dengan mandinya, Bianca menyambar novel yang tergeletak sembarangan pada
ranjangnya, memasukkannya dalam tas, lalu berkaca, memastikan kelopak matanya
tidak terlalu membengkak.
“Kok kamu tumben bangun kesiangan
gitu?” celetuk Bela ketika berdua dengan Bianca di dalam mobil menuju sekolah.
Bianca menoleh, tumben Bela bisa
berbasa-basi seperti ini “Eh, engga ma. Cuma kemarin malam lupa nyalain alarm”
Bela ber-oh pelan dengan tatapannya
yang fokus ke jalanan depan. Bianca mengalihkan pandangannya, berpangku dagu
menatap luar jalan dari kaca mobil. Masih ada banyak anak-anak yang berseragam
memulai pagi ini, dengan diantar orang tua atau menaiki angkot kota dengan
tarif khusus untuk anak sekolah, berdesakan dengan orang dewasa yang berangkat
kerja.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk
sampai di sekolah Bianca.
“Kamu nanti pulang sendiri lagi, ya.
Mama belum bisa mastiin kapan bisa jemput kamu. Kerjaan mama lagi padat. Uang
saku kemarin masih cukup, kan? Kalau kurang, kamu tinggal minta saja ke mama” jelas
Bela panjang lebar. Belakangan ini sejak Bianca masuk sekolah menengah atas,
Bela lebih sering banyak kerjaan kantor meski sebelumnya memang seperti itu.
Hanya saja dulu masih bisa menyempatkan untuk menjemput Bianca pulang sekolah.
“Iya, mah, masih ada” jawab Bianca
pendek sembari membuka pintu mobil, lalu turun, menatap malas mobil hitam yang
dikendarai Bela, hingga mobil itu hilang di kelokan jalan.
Mood Bianca pagi ini tidak secerah
sinar matahari yang menyapa penduduk bumi. Gadis itu tetap berjalan lurus
menuju kelas adenium yang berada di lantai atas, meski beberapa kali namanya
disebut-sebut oleh sekumpulan anak laki-laki, dilontari kalimat rayuan, Bianca
tidak menggubris sama sekali. Kelas adenium hampir terisi penuh ketika Bianca
sampai, dengungan samar para goshiper terdengar, untuk anak laki-laki yang
biasanya merusuh di pojokan kelas juga sudah ada, Sofia juga sudah duduk manis
di mejanya, memainkan ponsel miliknya.
__ADS_1