
Akhirnya Bi Nur mengikuti perintah
Bela, karena ya memang Bela tetaplah majikannya.
“Selamat makan,” ucap Bela
“Selamat malam,” balas Bi Nur dan
Bianca bebarengan, sedikit canggung.
Memang tidak biasanya Bela mengikuti
acara makan malam, mengucapkan selamat, menanyakan bagaimana keseharian Bianca
di sekolah, bahkan sampai mengajak Bi Nur bergabung di meja makan. Sungguh Bela
yang berkebalikan. Yang biasanya terlihat cuek, hanya menoleh jika hal-hal
penting sekali, namun malam itu Bela terlihat berbeda, sedikit perasa.
Selama sepuluh menit yang terdengar
hanya denting sendok beradu dengan piring kaca. Tidak ada percakapan, sibuk
dengan santapan malam itu.
“Ayo, bi. Saya bantu beres-beres,” ujar
Bela, berancanng berdiri.
Bi Nur panik, raut wajahnya
terkejut, “Eh, tidak usah nyonya. Biar saya saja,”
“Ah, sudah, gapapa. Mumpung saya
banyak waktu,”
“Nyonya istirahat saja kalau
begitu,” Bi Nur mulai merasa tidak enak, Bela malah sudah mengambil beberapa
perkakas di meja makan.
Bianca yang menatap kejadian itu
menatap heran, “Bianca ikutan beresin?” tanya Bianca dengan dahi berkerut.
“Engga usah. Kamu langsung tidur
saja,” jawab Bela.
Baiklah. Bianca tidak ingin
lama-lama menyaksikan perdebatan mamanya dan Bi Nu yang saling berebut beberes
dapur. Sementara Bi Nur dan Bela membersihkan dapur dengan obrolan, Bianca
beranjak berdiri kembali ke kamarnya di atas.
“Bi, apa saya salah ke Bianca?”
“Tidak, nyonya. Hanya saja, nyonya
temuin non Bianca dengan papanya,”
“Saya masih harus menyiapkan mental
untuk itu, bi,” jawab Bela, raut mukanya murung.
“Nyonya sudah berusaha. Tidak usah
terlalu dipikirkan,” Bi Nur mengelus punggung Bela, memberi semangat.
---
Bianca merebahkan diri ke kasur
empuknya, entah kenapa tiba-tiba Bianca merasa malas, moodnya perlahan turun,
ia juga tidak bernapsu meneruskan membaca novel yang tergeletak di sampingnya. Apa
mungkin kalau mengirim pesan ke Given suasana hatinya bisa sedikit membaik?
Tapi Bianca akan menanyakan apa? Sesuatu yang tidak penting? Tidak masuk akal. Masih
pukul tujuh malam, Bianca juga tidak sedang mengantuk berat.
Ujungnya tetap saja, gadis dengan
piyama orange polkadot itu memilih meriah ponsel di nakas. Membuka layar kunci,
menyalakan data, lalu segera berseluncur di dunia maya dengan menscrool
beranda. Satu jam berlalu, Bianca benar diujung rasa bosan, ia beranjak dari
kasur, mondar mandir, lalu berjalan ke kamar mandi. Memang begitu Bianca, kalau
__ADS_1
sudah bosan sekali ia sangat tidak jelas.
Bianca tetap tidak bisa tidur.
Setelah menggosok gigi, mencuci muka, mematikan lampu kamar, matanya terpejam
tapi tidak dengan isi kepalanya. Penuh. Banyak pertanyaan mengambang di dalam
otak Bianca. Lama melamun, hingga gadis itu tetidur dengan sendirinya.
---
Paginya Bianca terbangun sendiri
karena sebuah mimpi, ia tahu sedang bermimpi tapi tidak ingat mimpi apa ia
semalam. Setelah bersiap-siap, berkaca di cermin, memastikan tidak ada yang
tertinggal, lalu keluar kamar.
“Pagi, ma,” sapa Bianca pada Bela yang sudah ada di meja
makan.
“Pagi juga,” Bela menjawab tanpa
menoleh, matanya fokus dengan gawai di depannya.
Ternyata hanya kemarin saja ia
sebaik itu, pikir Bianca, tersenyum kecut, mengambil tempat duduknya. Sarapan
sudah tersedia, tanpa banyak bicara Bianca menghabiskan menu sarapannya, begitu
juga dengan Bela
---
“Eh, mama engga kerja?”
“Kerja, kok,”
“Tapi tumben engga pakai kemeja?”
“Lagi malas saja,” jawab Bela masih
terus fokus menyetir.
Bianca ber-oh pelan, mengangguk,
memalingkan pandangan ke luar jendela. Hanya lima belas menit Bianca sampai di
“Bianca berangkat, ma,” pamit Bianca
sambil mencium tangan Bela, membuka pintu mobil, turun.
Bianca berjalan malas di lorong
utama, melewati tepi lapangan, ada beberapa yang menyapa Bianca, sesekali
Bianca menebar senyum, membalas satu dua tiga sapaan teman-temannya, yang
dominasi Bianca tidak kenal nama mereka.
Kelas adenium yang sudah dipenuhi
anak-anak bercengkrama, suaranya sampai keluar kelas, tidak dapat mengubah mood
Bianca. Mood yang sama seperti pagi kemarin. Gadis itu memang moodyan, buruknya
ia tidak tahu dengan cara apa untuk mengatasi sifat buruknya itu.
“Kenapa bos?” tanya Sofia ketika
Bianca baru saja sampai pada bangkunya.
“Tau, lagi malas saja.” jawab Bianca
dengan muka masam.
“Chatnya engga dibalas Kak Given?”
Sofia mendekat, memelankan suara saat menyebut nama Given.
Bianca duduk, “Bukan ah. Diem atau
gue ributin lu,”
Sofia beringsut, bergidik ngeri
Bianca bisa semurka ini.
“Oke-oke ampun,” Sofia mengangkat
tangan, menyerah, mengakui kekalahan.
Sementara Bianca mengeluarkan
__ADS_1
ponsel, menyalakan layarnya, mematikan, menyalakan, begitu berulang. Pesan yang
terakhir kemarin ia kirimkan ke Given tidak ada balasan sampai pagi ini, Bianca
juga tidak berani mengirimkan pesan lagi, sedikit gengsi, juga karena moodnya
hancur begini. Di samping, Sofia sesekali memperhatikan tingkah absurd Bianca. Hinggga
suara bel benyanyi menghentikan kegiatan Bianca yang tidak jelas itu. Persis
kedatangan Tama, Lala, dan Reina ke dalam kelas.
“Kita absen dulu, ya,” ucap Reina
mewakili Tama yang membalikkan lembar asrip absen.
“Setelah absen, kalian ke aula.
Lepas sepatu di kelas saja, ya,” imbuh Lala menambahkan intruksi.
“Siap, kak,” balas seisi kelas
serempak.
Detik berikutnya Tama mulai
mengabsen, menyebutkan satu persatu nama pasukannya, memberi titik pada kolom,
beberapa siswa ada yang tidak masuk, entah tanpa keterangan atau memakai surat
pemberitahuan.
“Lepas dulu sepatunya. Lalu segera
ke aula, ya,” ucap Tama mengingatkan.
Lalu segera beranjak keluar diikuti
Reina dan Lala.
“Belakangan, nih?” tanya Sofia,
meletakkan sepatunya di bawah bangku.
Bianca balas mengangguk, baru saja
ingin melepas sepatunya. Sementara yang lain sudah ada yang keluar, memberi
lontaran untuk segera ke aula. “Nanti kita belakangan, selow aja,” jawaban
Sofia ketika diajak barengan untuk berjalan ke aula.
Merasa sudah sepi, Bianca memberi
tatapan pada Sofia yang duduk di bangku lain dekat pintu, membawa dua buku
tulis. Sofia balas mengangguk. Ketika Bianca dan Sofia menuruni anak tangga,
dari arah berlawanan Given malah menaiki anak tangga, selalu dengan kamera
hitam yang dililit di lengannya. Sofia hanya terdiam, Bianca berhasil bersikap
biasa saja. Ini untungnya apa bila mood Bianca sedang down, gadis itu bisa
cuek, seolah tidak peduli.
Lorong lantai bawah sudah sepi, anak
di lantai bawah pasti sudah masuk ke aula.
“Lo ngambek sama Kak Given?” tanya
Sofia.
“Engga,” jawab Bianca santai.
“Terus, kok lo diam saja tadi.
Biasanya lo sudah kayak orang kemasukan gitu,” Sofia masih ingin tahu.
Bianca menghela napas pelan, “Gue
lagi gamood, Sof. Makanya males saja gue,”
Gadis itu berbohong, padahal ketika
berpapasan dengan Given tadi, ia berusaha keras untuk tidak salah tingkah,
menahan tangannya untuk melambaikan tangan, mengunci sudutt bibirnya agar tidak
tertarik untuk tersenyum.
Kali ini, karena Bianca dan Sofia
datang terakhir dari kelasnya, keduanya mendapat barisan di belakang siswa
laki-laki.
__ADS_1
---
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan saran, ya, Kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)