Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Ada apa dengan Bela? 02


__ADS_3

Akhirnya Bi Nur mengikuti perintah


Bela, karena ya memang Bela tetaplah majikannya.


“Selamat makan,” ucap Bela


“Selamat malam,” balas Bi Nur dan


Bianca bebarengan, sedikit canggung.


Memang tidak biasanya Bela mengikuti


acara makan malam, mengucapkan selamat, menanyakan bagaimana keseharian Bianca


di sekolah, bahkan sampai mengajak Bi Nur bergabung di meja makan. Sungguh Bela


yang berkebalikan. Yang biasanya terlihat cuek, hanya menoleh jika hal-hal


penting sekali, namun malam itu Bela terlihat berbeda, sedikit perasa.


Selama sepuluh menit yang terdengar


hanya denting sendok beradu dengan piring kaca. Tidak ada percakapan, sibuk


dengan santapan malam itu.


“Ayo, bi. Saya bantu beres-beres,” ujar


Bela, berancanng berdiri.


Bi Nur panik, raut wajahnya


terkejut, “Eh, tidak usah nyonya. Biar saya saja,”


“Ah, sudah, gapapa. Mumpung saya


banyak waktu,”


“Nyonya istirahat saja kalau


begitu,” Bi Nur mulai merasa tidak enak, Bela malah sudah mengambil beberapa


perkakas di meja makan.


Bianca yang menatap kejadian itu


menatap heran, “Bianca ikutan beresin?” tanya Bianca dengan dahi berkerut.


“Engga usah. Kamu langsung tidur


saja,” jawab Bela.


Baiklah. Bianca tidak ingin


lama-lama menyaksikan perdebatan mamanya dan Bi Nu yang saling berebut beberes


dapur. Sementara Bi Nur dan Bela membersihkan dapur dengan obrolan, Bianca


beranjak berdiri kembali ke kamarnya di atas.


“Bi, apa saya salah ke Bianca?”


“Tidak, nyonya. Hanya saja, nyonya


temuin non Bianca dengan papanya,”


“Saya masih harus menyiapkan mental


untuk itu, bi,” jawab Bela, raut mukanya murung.


“Nyonya sudah berusaha. Tidak usah


terlalu dipikirkan,” Bi Nur mengelus punggung Bela, memberi semangat.


---


Bianca merebahkan diri ke kasur


empuknya, entah kenapa tiba-tiba Bianca merasa malas, moodnya perlahan turun,


ia juga tidak bernapsu meneruskan membaca novel yang tergeletak di sampingnya. Apa


mungkin kalau mengirim pesan ke Given suasana hatinya bisa sedikit membaik?


Tapi Bianca akan menanyakan apa? Sesuatu yang tidak penting? Tidak masuk akal. Masih


pukul tujuh malam, Bianca juga tidak sedang mengantuk berat.


Ujungnya tetap saja, gadis dengan


piyama orange polkadot itu memilih meriah ponsel di nakas. Membuka layar kunci,


menyalakan data, lalu segera berseluncur di dunia maya dengan menscrool


beranda. Satu jam berlalu, Bianca benar diujung rasa bosan, ia beranjak dari


kasur, mondar mandir, lalu berjalan ke kamar mandi. Memang begitu Bianca, kalau

__ADS_1


sudah bosan sekali ia sangat tidak jelas.


Bianca tetap tidak bisa tidur.


Setelah menggosok gigi, mencuci muka, mematikan lampu kamar, matanya terpejam


tapi tidak dengan isi kepalanya. Penuh. Banyak pertanyaan mengambang di dalam


otak Bianca. Lama melamun, hingga gadis itu tetidur dengan sendirinya.


---


Paginya Bianca terbangun sendiri


karena sebuah mimpi, ia tahu sedang bermimpi tapi tidak ingat mimpi apa ia


semalam. Setelah bersiap-siap, berkaca di cermin, memastikan tidak ada yang


tertinggal, lalu keluar kamar.


“Pagi, ma,”  sapa Bianca pada Bela yang sudah ada di meja


makan.


“Pagi juga,” Bela menjawab tanpa


menoleh, matanya fokus dengan gawai di depannya.


Ternyata hanya kemarin saja ia


sebaik itu, pikir Bianca, tersenyum kecut, mengambil tempat duduknya. Sarapan


sudah tersedia, tanpa banyak bicara Bianca menghabiskan menu sarapannya, begitu


juga dengan Bela


---


“Eh, mama engga kerja?”


“Kerja, kok,”


“Tapi tumben engga pakai kemeja?”


“Lagi malas saja,” jawab Bela masih


terus fokus menyetir.


Bianca ber-oh pelan, mengangguk,


memalingkan pandangan ke luar jendela. Hanya lima belas menit Bianca sampai di


“Bianca berangkat, ma,” pamit Bianca


sambil mencium tangan Bela, membuka pintu mobil, turun.


Bianca berjalan malas di lorong


utama, melewati tepi lapangan, ada beberapa yang menyapa Bianca, sesekali


Bianca menebar senyum, membalas satu dua tiga sapaan teman-temannya, yang


dominasi Bianca tidak kenal nama mereka.


Kelas adenium yang sudah dipenuhi


anak-anak bercengkrama, suaranya sampai keluar kelas, tidak dapat mengubah mood


Bianca. Mood yang sama seperti pagi kemarin. Gadis itu memang moodyan, buruknya


ia tidak tahu dengan cara apa untuk mengatasi sifat buruknya itu.


“Kenapa bos?” tanya Sofia ketika


Bianca baru saja sampai pada bangkunya.


“Tau, lagi malas saja.” jawab Bianca


dengan muka masam.


“Chatnya engga dibalas Kak Given?”


Sofia mendekat, memelankan suara saat menyebut nama Given.


Bianca duduk, “Bukan ah. Diem atau


gue ributin lu,”


Sofia beringsut, bergidik ngeri


Bianca bisa semurka ini.


“Oke-oke ampun,” Sofia mengangkat


tangan, menyerah, mengakui kekalahan.


Sementara Bianca mengeluarkan

__ADS_1


ponsel, menyalakan layarnya, mematikan, menyalakan, begitu berulang. Pesan yang


terakhir kemarin ia kirimkan ke Given tidak ada balasan sampai pagi ini, Bianca


juga tidak berani mengirimkan pesan lagi, sedikit gengsi, juga karena moodnya


hancur begini. Di samping, Sofia sesekali memperhatikan tingkah absurd Bianca. Hinggga


suara bel benyanyi menghentikan kegiatan Bianca yang tidak jelas itu. Persis


kedatangan Tama, Lala, dan Reina ke dalam kelas.


“Kita absen dulu, ya,” ucap Reina


mewakili Tama yang membalikkan lembar asrip absen.


“Setelah absen, kalian ke aula.


Lepas sepatu di kelas saja, ya,” imbuh Lala menambahkan intruksi.


“Siap, kak,” balas seisi kelas


serempak.


Detik berikutnya Tama mulai


mengabsen, menyebutkan satu persatu nama pasukannya, memberi titik pada kolom,


beberapa siswa ada yang tidak masuk, entah tanpa keterangan atau memakai surat


pemberitahuan.


“Lepas dulu sepatunya. Lalu segera


ke aula, ya,” ucap Tama mengingatkan.


Lalu segera beranjak keluar diikuti


Reina dan Lala.


“Belakangan, nih?” tanya Sofia,


meletakkan sepatunya di bawah bangku.


Bianca balas mengangguk, baru saja


ingin melepas sepatunya. Sementara yang lain sudah ada yang keluar, memberi


lontaran untuk segera ke aula. “Nanti kita belakangan, selow aja,” jawaban


Sofia ketika diajak barengan untuk berjalan ke aula.


Merasa sudah sepi, Bianca memberi


tatapan pada Sofia yang duduk di bangku lain dekat pintu, membawa dua buku


tulis. Sofia balas mengangguk. Ketika Bianca dan Sofia menuruni anak tangga,


dari arah berlawanan Given malah menaiki anak tangga, selalu dengan kamera


hitam yang dililit di lengannya. Sofia hanya terdiam, Bianca berhasil bersikap


biasa saja. Ini untungnya apa bila mood Bianca sedang down, gadis itu bisa


cuek, seolah tidak peduli.


Lorong lantai bawah sudah sepi, anak


di lantai bawah pasti sudah masuk ke aula.


“Lo ngambek sama Kak Given?” tanya


Sofia.


“Engga,” jawab Bianca santai.


“Terus, kok lo diam saja tadi.


Biasanya lo sudah kayak orang kemasukan gitu,” Sofia masih ingin tahu.


Bianca menghela napas pelan, “Gue


lagi gamood, Sof. Makanya males saja gue,”


Gadis itu berbohong, padahal ketika


berpapasan dengan Given tadi, ia berusaha keras untuk tidak salah tingkah,


menahan tangannya untuk melambaikan tangan, mengunci sudutt bibirnya agar tidak


tertarik untuk tersenyum.


Kali ini, karena Bianca dan Sofia


datang terakhir dari kelasnya, keduanya mendapat barisan di belakang siswa


laki-laki.

__ADS_1


---


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan saran, ya, Kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2