Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Permainan Tama untuk kelas adenium


__ADS_3

 


Kantin berada di ujung bangunan sekolah dekat mushola, dari lantai atas ataupun lantai bawah dapat di akses untuk mencapai area kantin. Bianca dan Sofia sepakat memilih menggunakan jalur lantai bawah, disebabkan lorong lantai bawah tidak terlalu padat jalannya dibanding dengan lorong lantai atas. Benar saja, lorong lantai bawah lenggang, hanya hitungan tangan siswa yang menobrol satu sama lain sekedar duduk pada bangku lorong, ada juga yang sedang diam melamun menyender tembok berwarna biru laut.


Mereka berdua sudah sampai di kantin, suasana kantin tidak terlalu padat, hanya di isi calon murid baru dan kakak kakak panitia yang belum semuanya di ketahui namanya. Bianca memilihkan bangku untuk di tempati, tentunya bangku yang terlihat nyaman, dapat menjangkau seluruh pandangan.


“Lo mau pesen apa, Bi?” tanya Sofia berdiri menunggu jawaban.


“Siomay sama susu kotak aja,” jawab Bianca seraya mengambil ponsel yang ia simpan di dalam saku seragam putih birunya-namanya calon anak baru ya masih saja menggunakan seragam sekolah menegah pertamanya dulu.


Di stand berwarna merah maroon, Sofia memesankan makanan Bianca juga untuk dirinya sendiri. Senangnya Sofia mendapat traktir makan dari Bianca, bukan karena apa-apa, Bianca hanya memang ingin membagi yang ia punya pada teman barunya. Selesai memesan sekalian membayar, Sofia kembali menghampiri Bianca di bangku ujung tapi mampu menjangkau seluruh ruangan sampai pintu masuk kantin. Sekembalinya Sofia, Bianca memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, karena tidak ada notifikasi apapun yang masuk, sekedar mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak.


“Heh, mana, orang kak Given ga ada di sini, tuh” seru Bianca sebal memandang sekitar kantin yang lenggang.


“Kita makan saja dulu, baru nanti kita cari. Bisa aja, kan, kak Given di tempat lain, sekolah ini luas, Bi,” jelas Sofia tepat dengan pesanan yang datang di bawakan ibu kantin.


Keduanya telah sibuk dengan makanan masing-masing, Bianca dengan siomay sambal kacangnya, sedangkan Sofia sendiri memilih dengan bakso jumbo penuh semangkok. Melihatnya saja sudah membuat perut Bianca merasa kenyang sendiri. Habis menyantap makanan serta dua kotak susu, kini Bianca dan Sofia melesat keluar kantin, meneruskan misi pencarian Given\- yang kalau di singkat menjadi MPG, dari jalur lorong lantai bawah. Dari area kantin, melewati koperasi sekolah yang berdampingan dengan ruang wakil kepala sekolah, berbelok ke arah kantor para guru, bahkan toilet siswa dan toilet khusus guru di sedeliki sekaligus. Lalu lurus melewati lorong gerbang utama, sampai ujung dan mencoba mengulanginya hingga ke tiga kalinya.


“Di mana-mana engga ada, Sof,” keluh Bianca lelah karena memutari setiap lantai bawah namun tidak menemukan batang hidung Given bahkan sudah ke tiga kalinya. Sekarang keduanya telah kembali ke ruang kelas andenium.


“Lo mau coba ke empat kalinya?”


“Engga mau, cape nih gue,” Bianca pura-pura ngos-ngosan.


“Kalau soal lantai atas mau coba cari? Kan belum di periksa tuh.”


“Engga ah, males,” ucap Bianca menenggelamkan kepalanya di lipatan lengannya yang tertumpu di atas meja.


“Yaudah, tapi lo engga perlu putus asa gitu,” Sofia berusaha memberi semangat.


Bunyi bel berdering, menandakan jam pelajaran ke dua akan di mulai. Murid yang masih di luar segera masuk ke dalam kelas karena mendengar bel bernyanyi. Dengan cepat murid kelas adenium telah kembali pada bangku masing\-masing. Tama datang memeriksa, bergumam menghitung dari bingkai pintu, lalu ia keluar, duduk di bangku lorong lantai atas bersama Lala dan Reina. Seorang guru masuk ke kelas adenium, masih sama seperti tadi bu Risma yang mengajar kelas. Bianca terpaksa menegakkan kepalanya, tidak ingin mendapat hukuman dari bu Risma karena masalah sepele tidak sengaja tidur di kelas. Bu Risma membawa setumpuk koran bekas ke dalam kelas, entah akan di apakan koran-koran itu.


“Hari pertama kalian di jam ke dua ini, bu Risma hanya ingin kalian membaca, memahami, dan mencari solusi dari berita yang ada pada koran yang akan ibu bagikan,” terang bu Risma tegas di depan, tangannya memegang selembar koran.

__ADS_1


Bu Risma mulai membagikan lembaran per lembaran koran “Selembar untuk satu meja, ya, berbagi dengan teman sebangku.”


Siswa yang duduk di bangku depan Bianca tiba-tiba mengacungkan jari. Bu Risma menilik, bertanya ada apa?


“Ini berdua apa individu, bu?” tanyanya


“Individu, dong. Maju satu persatu, semua akan kebagian, kalau tidak sempat, ya, dilanjut besok,”


“Yaah di pikir berdua sebangku itu ngerjainnya bareng, bu,” keluh siswa di pojok kanan tiba-tiba.


“Ya engga, dong, ini biar kalian berani mengemukakan pendapat di depan umum secara lisan,” di tatapnya anak murid itu, lalu kembali membagikan koran yang tertunda hingga selesai.


Seisi kelas hening, tiga puluh enam pasang mata fokus membaca kalimat berita yang ada pada kertas abu-abu koran. Bianca membawa berita yang menurut dia mudah untuk di pahami serta di cari solusinya. Di saat semua terpusat dengan paragraph berita, mendadak bu Risma tergesa-gesa membereskan meja setelah menatap pesan di layar ponselnya, beberapa pasang mata menatap bingung.


“Anak-anak, itu di buat pekerjaan rumah saja, ya. Ibu ada panggilan harus ke pusat dinas pendidikan di kota. Maaf, ya, ibu buru-buru,”


Lagi-lagi belum sempat di jawab, bu Risma telah melesat keluar meninggalkan kelas, sebelum turun bu Risma berbincang sebentar dengan Tama, mengembalikan kepemimpinan kelas adenium ke tangan Tama dan dua bidadarinya-Lala dan Reina. Dengan segera Tama masuk sesuai amanat dari bu Risma.


“Sisa tiga puluh menit nih, kalian mau apa?” tawar Tama ke isi kelas.


“Oke. Simpen dulu korannya, masukin ke tas kalian masing-masing.” perintah Tama.


Sebenarnya, Tama tidak segalak dan semenyeramkan seperti yang di pikirkan, terkadang begitu bersahabat dengan baik hati membebaskan kelas adenium dari tugas, dan pasti menyetujui permintaan teman Bianca tadi. Seluruh meja sekarang kosong, tidak ada alat tulis, buku, juga lembar koran dari bu Risma, teman kelas menantikan game apa yang akan di berikan oleh Tama.


Tama mengambil penghapus dari tempatnya “Cara mainnya gini, estafetin penghapus ini sambil nyanyi bareng-bareng lagu yang gue minta, berhenti di siapa pun penghapus ini orang itu harus jawab pertanyaan atau di hukum."


Beberapa detik hening.


“Paham, engga?” tanya Tama.


“Paham, kak.”


“Kita mulai.”

__ADS_1


Tama memberikan penghapus pada bangku ujung depan dekat meja guru.


“Nyanyikan lagu sayang-via vallen!”


*Sayang, opo kowe krungu jerite atiku?


Mengharap engkau kembali


Sayang, nganti memutih rambutku


Ra bakal luntur tresnoku*


Lantunan lagu terus terdengar bersamaan dengan bergulirnya penghapus dari tangan ke tangan, beberapa anak cowo berjoget kecil-kecilan menikmati lagu yang di nyanyikan.


*Kowe mblenjani janji


Jare sehidup semati nangin opo bukti


Kowe medot tresnoku demi wedokan liyo


Yowes ora popo Insya Allah aku iso, lilo*


“Stop!” seru Tama.


Penghapus berhenti di bangku banjar ke tiga dari pintu, saff nomor nomor empat dari depan, seorang cowo dengan seragam putih biru berlogo SMP N Pelita Bangsa. Saat Tama akan membuka suara, bunyi bel bernyanyi lebih dulu, membuat cowo yang mendapat bagian menghela napas pelan.


“Kita teruskan besok, ya. Inget-inget siapa yang kena hukuman.”


Cowo yang menjadi target, mendapat sorotan mata tajam sekilas dari seisi kelas, sudah seperti buronan saja.


 


-Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI, atau KBBI-nya mohon kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih.

__ADS_1


-Salam Literasi dari Aksara Raya.


__ADS_2