
Rumah dalam keadaan sepi, Bela-mama
Bianca sedang ada urusan pekerjaan di luar, entah luar kota atau luar negeri
Bianca tidak terlalu peduli. Bianca memilih langsung masuk kamar, melempar tas
ke kasur sembarangan, berganti pakaian rumah-kaos oblong abu-abu polos dengan
celana pendek selutut. Karena tidak ada kegiatan lain, yang di lakukan Bianca
ialah rebahan, berselancar di media social hanya untuk menscrol beranda,
kelihatan membosankan rasanya.
Tok..tok..tok
“Siapa?” tanya Bianca memastikan
seseorang di balik pintu kamarnya
“Bibi, non.”
“Iya, bi, ada apa?”
“Non sudah makan siang? Bibi sudah
masak.” ucap bi Nur, asisten rumah tangga satu-satunya.
“Iya, bi, sebentar lagi Bianca
turun.”
“Iya, non.”
Bi Nur, perempuan berusia sekitar
empat puluh lima itu turun terlebih dahulu, kembali pada pekerjaannya yang
belum selesai. Sebenarnya Bianca tidak nafsu makan hari ini, tadi saja di
sekolah Bianca hanya mampu memakan semangkok siomay, tidak seperti Sofia yang
habis semangkok bakso jumbo penuh. Tetapi Bianca di ajarkan untuk menghargai
orang lain, alhasil Bianca tetap turun, lagipula daripada tingkat kegabutannya
bertambah lebih baik dirinya ikut bi Nur di bawah.
“Mama kemana, bi?” Bianca mengambil
topik seadanya, duduk di meja, lagian Bela tidak memberitahu pasti kemana ia
pergi, mungkin saja bi Nur tahu.
“Tadi bilangnya ke bibi mau ke
kantor, non.” jawab bi Nur, tangan bi Nur basah, sedikit berbusa akibat sabun
cair yang di gunakannya untuk mencuci perkakas masak yang kotor.
Bianca ber-oh pelan, mengambil nasi
yang sudah di siapkan bi Nur, lalu meraih lele goreng yang ada di piring lauk.
“Eh, bi Nur sudah makan?” tanya
Bianca teringat.
“Nanti saja, setelah non Bianca.”
jawab bi Nur, masih dengan perkakasnya.
Bianca balas mengangguk, bersiap
melahap lele goreng yang mungkin saja seorang kepala keluarga atau seorang ibu
dengan beberapa anak yang masih kecil. Bi Nur adalah asisten pembantu baru,
belum ada dua tahun bekerja, bi Nur pertama kerja saat Bianca masuk kelas tiga
SMP. Asisten sebelumnya lebih muda di banding bi Nur, mungkin dua puluh tahun
lebih muda. Selagi Bianca mengahbiskan suapan terakhir, bi Nur mengeringkan
tangganya dengan lap kain, lalu kembali menata piring-piring, panic, wajan,
yang sudah kering ke tempatnya semula- rak dan almari dapur.
__ADS_1
“Biar bi Nur saja non yang nyuci.”
Tawar bi Nur.
Bianca menilik sebentar, lalu
menyerahkan satu piringnya ke bi Nur, lima detik kemudin bi Nur telah selesai.
“Bianca balik ke atas ya, bi.” pamit
Bianca.
“Iya, non.”
Kamar yang tidak luas juga tidak
kecil- pas menurut Bianca selagi nyaman baginya. Berinterior sederhana, dengan
cat warna orange semu jingga, satu almari pakaian, satu rak buku- untuk buku
pelajaran pun buku novel koleksi Bianca, dan cermin rias dengan beberapa makeup
yang masih wajar di umur remajanya. Bianca meraih ponsel yang ia taruh di nakas
dekat tempat tidur, mencari nomor kontak bernama Sofia Putri Warno.
*Room chat Sofia
[Sof]
[Sofiaa]
[Punten, teh]
Sedetik saja Bianca sudah mengetik
sebanyak itu. Belum ada balasan, Bianca ganti mencari nama ‘Mama’ di history
chat.
*Room chat Mama
[Ma]
[Mama nanti pulang malam? Bianca mau
Sama saja. Tidak ada balasan dari
Bela, Bianca memutuskan untuk membaca novel yang terpaksa masuk ke dalam tas saat
istirahat di sekolah tadi. Di ambilnya buku novel itu dari dalam tas Bianca,
saat ingin membuka halaman pertama ponsel Bianca bergetar, menandakan ada pesan
masuk. Di usapnya layar kunci, terlihat dari bar notifikasi terpampang nama ‘Mama’ dua pesan belum terbaca.
“Room chat Mama
[Belum tahu pulang kapan]
[Iya, jangan pulang malam-malam,
sebelum jam sepuluh pulang, nanti mama tanyain ke bi Nur]
Bianca segera mengetik balasan [Oke,
siap laksanakan ibunda]
Setidaknya Bianca bisa sedikit
bernapas lega, mendapat izin dari Bela saja sudah menjadi sebuah keberuntungan
bagi Bianca. Tinggal bagaimana caranya ia pergi ke festival yang bahkan Bianca
sendiri tidak tahu tepat tempatnya. Apa Bianca harus nekat mengendarai motor
sendiri di jalan raya malam-malam? Tidak mungkin, bi Nur pasti melarang, malah
bisa-bisa di laporkan pada Bela, lalu esoknya Bianca mendapat bentakan juga di
diamkan dua sampai tiga hari oleh Bela. Ponsel kembali bergetar, membuyarkan
lamunan Bianca, ketika membuka layar, tempampang nama “Sofia” ini dia yang di
harapkan Bianca.
“Room chat Sofia
__ADS_1
[Ada apaan, bi?]
Dengan cepat Bianca mencari gambar
yang telah ia ambil dari majalah dinding sekolah.
[Kesini bareng, yuk? Lo tau kan
tempatnya?]
[Gue engga tahu, lagian gue engga
boleh keluar malam, nih]
[Yaah, lo beneran?] ketik Bianca
sedikit kecewa.
[Beneran gue. Sorry, ya, lo naik apa
gitu, lagian itu cuma dua kecamatan dari sini]
[Oke deh, gapapa. Thanks infonya,
Sof]
[Iya, sorry ya, have fun]
Read.
Huh. Bianca menghela nafas berat,
melempar buku novelnya sebal ke samping, harapan satu-satunya pupus, ingin
menanyakannya pada bi Nur tapi sama saja bi Nur tidak akan menghantarkan Bianca
ke festival itu, jalan satu-satunya Bianca harus berjuang sendiri mencari jalan
keluar. Baiklah, tidak masalah kalau Bianca pesan ojek online lagi, siapa
tahu ketemu drivernya mas ojol yang
friendly tadi- semoga saja setidaknya sedikit menghibur. Di liriknya jam
dinding, pukul empat sore, sebaiknya Bianca membersihkan diri, setelah itu
meminta pamit pada bi Nur- selaku asisten kepercayaan Bela juga untuk mengawasi
Bianca memastikan anak itu tidak kenapa- kenapa. Kamar mandi di lantai atas
hanya ada satu, itu pun memang tersedia di dalam kamar Bianca, tidak luas,
hanya cukup untuk satu orang dewasa saja, karena memang di rancang untuk Bianca
sendiri.
Kini Bianca telah siap dengan celana
kain panjang coklat susu, hem berwarna senada yang sebagin di masukkan, rambut
sehabunya di kuncir satu menyisakan poni yang menutupi jidatnya. Bianca
bercermin, memastikan tampilan, lalu sedikit memoles wajahnya dengan bedak agar
keliatan segar, juga bibir kecilnya berlapis lipbalm agar tidak kering, tidak
lupa sedikit semprotan parfum pada leher, juga kedua nadinya. Di liriknya jam
masih setengah lima, Bianca termenung, apakah terlalu awal untuk berangkat
sekarang? Pikirnya. Ah, tidak masalah, lagian Bianca tidak tahu seberapa jauh
tempat festival itu, siapa tahu malah memakan waktu sejam lebih, bisa telat dia
yang ada. Bianca segera menyamber benda pipih persegi panjang yang selalu ia
bawa kemana- mana, memasukkannya pada tas selempang berwarna hitamnya. Saking
riangnya, Bianca bersandung lirih
menuruni anak tangga menuju lantai bawah, niat ingin menemui bi Nur, rambut
hitamnya yang di kucir bergerak-gerak pelan berirama. Bahkan, baru sadar,
Bianca seakan lupa tentang kejadian Given di lorong gerbang utama siang tadi.
-Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, kak. Terimakasih.
__ADS_1
-Salam Literasi dari Aksara Raya