Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Rencana pasar malam


__ADS_3

            Rumah dalam keadaan sepi, Bela-mama


Bianca sedang ada urusan pekerjaan di luar, entah luar kota atau luar negeri


Bianca tidak terlalu peduli. Bianca memilih langsung masuk kamar, melempar tas


ke kasur sembarangan, berganti pakaian rumah-kaos oblong abu-abu polos dengan


celana pendek selutut. Karena tidak ada kegiatan lain, yang di lakukan Bianca


ialah rebahan, berselancar di media social hanya untuk menscrol beranda,


kelihatan membosankan rasanya.


            Tok..tok..tok


            “Siapa?” tanya Bianca memastikan


seseorang di balik pintu kamarnya


            “Bibi, non.”


            “Iya, bi, ada apa?”


            “Non sudah makan siang? Bibi sudah


masak.” ucap bi Nur, asisten rumah tangga satu-satunya.


            “Iya, bi, sebentar lagi Bianca


turun.”


            “Iya, non.”


            Bi Nur, perempuan berusia sekitar


empat puluh lima itu turun terlebih dahulu, kembali pada pekerjaannya yang


belum selesai. Sebenarnya Bianca tidak nafsu makan hari ini, tadi saja di


sekolah Bianca hanya mampu memakan semangkok siomay, tidak seperti Sofia yang


habis semangkok bakso jumbo penuh. Tetapi Bianca di ajarkan untuk menghargai


orang lain, alhasil Bianca tetap turun, lagipula daripada tingkat kegabutannya


bertambah lebih baik dirinya ikut bi Nur di bawah.


            “Mama kemana, bi?” Bianca mengambil


topik seadanya, duduk di meja, lagian Bela tidak memberitahu pasti kemana ia


pergi, mungkin saja bi Nur tahu.


            “Tadi bilangnya ke bibi mau ke


kantor, non.” jawab bi Nur, tangan bi Nur basah, sedikit berbusa akibat sabun


cair yang di gunakannya untuk mencuci perkakas masak yang kotor.


            Bianca ber-oh pelan, mengambil nasi


yang sudah di siapkan bi Nur, lalu meraih lele goreng yang ada di piring lauk.


            “Eh, bi Nur sudah makan?” tanya


Bianca teringat.


            “Nanti saja, setelah non Bianca.”


jawab bi Nur, masih dengan perkakasnya.


            Bianca balas mengangguk, bersiap


melahap lele goreng yang mungkin saja seorang kepala keluarga atau seorang ibu


dengan beberapa anak yang masih kecil. Bi Nur adalah asisten pembantu baru,


belum ada dua tahun bekerja, bi Nur pertama kerja saat Bianca masuk kelas tiga


SMP. Asisten sebelumnya lebih muda di banding bi Nur, mungkin dua puluh tahun


lebih muda. Selagi Bianca mengahbiskan suapan terakhir, bi Nur mengeringkan


tangganya dengan lap kain, lalu kembali menata piring-piring, panic, wajan,


yang sudah kering ke tempatnya semula- rak dan almari dapur.

__ADS_1


            “Biar bi Nur saja non yang nyuci.”


Tawar bi Nur.


            Bianca menilik sebentar, lalu


menyerahkan satu piringnya ke bi Nur, lima detik kemudin bi Nur telah selesai.


            “Bianca balik ke atas ya, bi.” pamit


Bianca.


            “Iya, non.”


            Kamar yang tidak luas juga tidak


kecil- pas menurut Bianca selagi nyaman baginya. Berinterior sederhana, dengan


cat warna orange semu jingga, satu almari pakaian, satu rak buku- untuk buku


pelajaran pun buku novel koleksi Bianca, dan cermin rias dengan beberapa makeup


yang masih wajar di umur remajanya. Bianca meraih ponsel yang ia taruh di nakas


dekat tempat tidur, mencari nomor kontak bernama Sofia Putri Warno.


            *Room chat Sofia


            [Sof]


            [Sofiaa]


            [Punten, teh]


            Sedetik saja Bianca sudah mengetik


sebanyak itu. Belum ada balasan, Bianca ganti mencari nama ‘Mama’ di history


chat.


            *Room chat Mama


            [Ma]


            [Mama nanti pulang malam? Bianca mau


            Sama saja. Tidak ada balasan dari


Bela, Bianca memutuskan untuk membaca novel yang terpaksa masuk ke dalam tas saat


istirahat di sekolah tadi. Di ambilnya buku novel itu dari dalam tas Bianca,


saat ingin membuka halaman pertama ponsel Bianca bergetar, menandakan ada pesan


masuk. Di usapnya layar kunci, terlihat dari bar notifikasi terpampang nama ‘Mama’ dua pesan belum terbaca.


            “Room chat Mama


            [Belum tahu pulang kapan]


            [Iya, jangan pulang malam-malam,


sebelum jam sepuluh pulang, nanti mama tanyain ke bi Nur]


            Bianca segera mengetik balasan [Oke,


siap laksanakan ibunda]


            Setidaknya Bianca bisa sedikit


bernapas lega, mendapat izin dari Bela saja sudah menjadi sebuah keberuntungan


bagi Bianca. Tinggal bagaimana caranya ia pergi ke festival yang bahkan Bianca


sendiri tidak tahu tepat tempatnya. Apa Bianca harus nekat mengendarai motor


sendiri di jalan raya malam-malam? Tidak mungkin, bi Nur pasti melarang, malah


bisa-bisa di laporkan pada Bela, lalu esoknya Bianca mendapat bentakan juga di


diamkan dua sampai tiga hari oleh Bela. Ponsel kembali bergetar, membuyarkan


lamunan Bianca, ketika membuka layar, tempampang nama “Sofia” ini dia yang di


harapkan Bianca.


            “Room chat Sofia

__ADS_1


            [Ada apaan, bi?]


            Dengan cepat Bianca mencari gambar


yang telah ia ambil dari majalah dinding sekolah.


            [Kesini bareng, yuk? Lo tau kan


tempatnya?]


            [Gue engga tahu, lagian gue engga


boleh keluar malam, nih]


            [Yaah, lo beneran?] ketik Bianca


sedikit kecewa.


            [Beneran gue. Sorry, ya, lo naik apa


gitu, lagian itu cuma dua kecamatan dari sini]


            [Oke deh, gapapa. Thanks infonya,


Sof]


            [Iya, sorry ya, have fun]


            Read.


            Huh. Bianca menghela nafas berat,


melempar buku novelnya sebal ke samping, harapan satu-satunya pupus, ingin


menanyakannya pada bi Nur tapi sama saja bi Nur tidak akan menghantarkan Bianca


ke festival itu, jalan satu-satunya Bianca harus berjuang sendiri mencari jalan


keluar. Baiklah, tidak masalah kalau Bianca pesan ojek online lagi, siapa


tahu  ketemu drivernya mas ojol yang


friendly tadi- semoga saja setidaknya sedikit menghibur. Di liriknya jam


dinding, pukul empat sore, sebaiknya Bianca membersihkan diri, setelah itu


meminta pamit pada bi Nur- selaku asisten kepercayaan Bela juga untuk mengawasi


Bianca memastikan anak itu tidak kenapa- kenapa. Kamar mandi di lantai atas


hanya ada satu, itu pun memang tersedia di dalam kamar Bianca, tidak luas,


hanya cukup untuk satu orang dewasa saja, karena memang di rancang untuk Bianca


sendiri.


            Kini Bianca telah siap dengan celana


kain panjang coklat susu, hem berwarna senada yang sebagin di masukkan, rambut


sehabunya di kuncir satu menyisakan poni yang menutupi jidatnya. Bianca


bercermin, memastikan tampilan, lalu sedikit memoles wajahnya dengan bedak agar


keliatan segar, juga bibir kecilnya berlapis lipbalm agar tidak kering, tidak


lupa sedikit semprotan parfum pada leher, juga kedua nadinya. Di liriknya jam


masih setengah lima, Bianca termenung, apakah terlalu awal untuk berangkat


sekarang? Pikirnya. Ah, tidak masalah, lagian Bianca tidak tahu seberapa jauh


tempat festival itu, siapa tahu malah memakan waktu sejam lebih, bisa telat dia


yang ada. Bianca segera menyamber benda pipih persegi panjang yang selalu ia


bawa kemana- mana, memasukkannya pada tas selempang berwarna hitamnya. Saking


riangnya,  Bianca bersandung lirih


menuruni anak tangga menuju lantai bawah, niat ingin menemui bi Nur, rambut


hitamnya yang di kucir bergerak-gerak pelan berirama. Bahkan, baru sadar,


Bianca seakan lupa tentang kejadian Given di lorong gerbang utama siang tadi.


-Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, kak. Terimakasih.

__ADS_1


-Salam Literasi dari Aksara Raya


__ADS_2