
“Selamat siang Kak Given”
“Halo Kak Given”
“Kopi kapal api passwordnya?”
“Pilih uang tunai tiga juta atau
tirai nomor 2?”
“Kak Given sudah punya pacar, ya?”
Argh! Bianca frustasi, mengacak-acak
rambutnya yang memang sudah berantakan tertabrak angin. Pesan yang terakhir
sangat tidak masuk akal, terlalu to the point untuk pertama kali chat,
lagi-lagi akan berujung terhapus, tidak jadi kirim, lalu berpikir, mengetik
lagi, tidak jadi, hapus. Bianca melirik jam pada pojok layar ponsel sambil
terus memutar otak, sudah hampir tiga pulu menit itu berarti rapat akan
selesai, dan Bianca harus segera turun dari rooftop. “Ayo, berpikir lebih baik,
Bianca,” semangatnya sendiri, “Rangkai kata-kata yang pas, yang engga akan
bikin ilfeel atau terkesan lebay,” imbuhnya lagi dalam hati.
Lima menit berdebat dengan otak,
akhirnya pasrah. Baiklah, mungkin ini akan lebih baik. Bianca mulai kembali
mengetik pada benda pipihnya meski sedikit bergetar jemari kecilnya. Terkirim.
Centang dua terlihat di ujung bawah pesan, dekat jam terkirim. Bianca terkejut
bukan main, ia berpikir mungkin Given sedang off, tidak aktif karena
kesibukannya menjadi panitia masa orientasi. Akun whatsapp tanpa poto profil
itu juga tidak memperlihatkan last seennya. Oke ini kebodohan Bianca salah
satunya.
“Dek Bianca ada di luar sana?”
selagi Bianca berkisruh dengan kebodohannya, suara terdengar samar-samar dari
pintu berat akses keluar masuk rooftop.
“Eh, iya, kak. Aku di sini,” teriak
Bianca yang berteduh tidak jauh dari pintu.
“Rapatnya sudah selesai, dek,” ucap
seseorang di balik pintu.
“Ah, iya, kak. Sebentar, ya. Lima
menit,” teriak Bianca lagi meminta waktu.
“Iya, saya tunggu di sini,”
Bianca segera memasukkan buku ke
dalam tasnya lagi, menutup resletingnya. Tidak lupa mematikan data ponsel,
memasukkannya ke dalam saku seragam. Bodo amat lah soal pesan balasan,
nanti-nanti juga bisa, Bianca tidak ingin membuat orang di balik pintu menunggu
lama. Ia merapikan diri, memasukkan kain seragam yang keluar, menyisir
rambutnya yang terlihat tidak beraturan karena tertiup angin dengan jemari
tangannya.
Pintu terbuka, Bianca sempat
terkejut, seseorang rambut ikal yang menungguinya.
“Eh, maaf menunggu lama, ya, kak,”
“Gapapa, kok. Ayo!” ajak seseorang
berambut ikal yang tidak lain adalah office boy yang memberitahu pintu rooftop tadi.
Bianca berjalan di depan, ia sampai
terkejut karena hampir berhalusinasi kalau yang menungguinya tadi adalah Given.
Sebab rambut ikal pada office boy itu telihat hampir mirip dengan model rambut
Given. ‘Aduh, Bianca. Kenapa, sih, kamu. Ayo, fokus, fokus,” tegur Bianca pada
__ADS_1
diri sendiri.
“Rapatnya sudah selesai dari tadi,
ya, kak?” tanya Bianca memecah hening. Keduanya sedang menaiki lift untuk
turun.
“Engga. Baru saja, kok,”
Bianca ber-oh pelan, mengangguk. “Saya
boleh tanya?” lanjut office boy, pertanyannya membuat Bianca menoleh.
“Boleh, dong, kak. Tanya apa?”
“Kamu itu anaknya Bu Bela, ya?”
“Iya, kok kakak tahu,”
“Benar berarti dugaan saya tadi.
Soalnya mirip,” office boy itu terkekeh pelan.
Bianca hanya tersenyum. Pintu lift
terbuka, lantai nomor 4.
“Mari saya antar ke ruangan kantor
Bu Bela,” office boy itu menunduk.
Bianca berjalan kaku, tersenyum
kikuk, ia merasa segan diperlakukan begitu oleh yang lebih tua.
“Memang mama saya kerja di bagian
apa, ya, kak?” tanya balik Bianca penasaran ketika office boy itu sudah berada
di dekatnya. Melihat sepertinya banyak yang menyegani seorang Bela- mamanya.
“CEO perusahaan, dek.”
Bianca ber-oh pelan. Bianca hanya
tahu jabatan CEO merupakan jabatan terpenting dalam perusahaan, mungkin itu
sebabnya Bela harus berangkat pagi-pagi, tidak sempat menjemput Bianca, dan
akan pulang larut malam.
dek,” pamit office boy, tersenyum ramah, pamit undur diri.
“Terima kasih banyak, kak,” balas
Bianca tersenyum.
Pintu ruangan berwarna coklat dengan
kaca buram persegi panjang di sisi kanannya, membuat Bianca tidak bisa
mengintip ke dalam, ada siapa saja di dalam ruangan itu. Perihal mengetuk saja
Bianca bisa bimbang, karena baru pertama kali ini memasuki kantor perusahaan. Kenapa
baru? Karena sejak sekolah dasar sampai lulus sekolah menengah pertama Bianca
disibukkan oleh eksul yang ia ikuti, belum juga karena ia tidak pernah mendapatkan
akses masuk dari mamanya.
Oke. Bianca memberanikan diri
mengetuk, karena ya memang ini jalan satu-satunya yang paling pantas.
Tok… tok… tok…
“Ma, ini Bianca,”
“Masuk saja, Bi,” suara Mama Bela
terdengar dari dalam.
Bianca mengikuti arahan, mendorong
pintu kayu halus itu.
Tidak ada siapa-siapa ternyata di
dalam, hanya ada Mama Bela yang duduk memeriksa berkas, di depannya, di meja
bertumpuk lembar-lembar dokumen.
“Ada apa mama suruh Bianca kesini?”
tanya Bianca, mengambil duduk di kursi hadapan mamanya.
__ADS_1
“Sebentar, ya. Mama periksa ini
dulu,” jawab Bela yang masih fokus dengan pekerjaannya tanpa melihat Bianca.
Bianca mengangguk, memilih
mengeluarkan ponselnya, terlalu penasaran tentang pesan yang beberapa menit
lalu ia kirim ke Given. Ketika data diaktifkan, sebuah pesan balasan langsung
masuk. Bianca menahan diri, mengembangkan pipinya, gregetan, melirik sekilas
mamanya yang masih fokus menatap dokumen, memastikan tidak sedang melihat
Bianca yang ingin menjerit.
Dipencetnya pesan baru dari bar
notifikasi yang langsung masuk ke room chat Given.
*Kak Giveen
[Hai, Kak Given. Ini gue Bianca yang
kemarin minta nomor di tangga, masih inget?]
Pesan balasan
[Hai juga. Masih inget, kok]
Membacanya dalam hati refleks
membuat Bianca membekap mulutnya sendiri. Takut rasa terlalu kegirangannya
tidak terkendalikan. Lalu, apa sekarang? Bianca mulai kebingungan lagi harus
membalas apa. Otaknya bener-bener ngeblank sekarang.
“Bii, Bianca Lala,” Bianca
tersentak, menegapkan kepalanya. Di hadapannya Bela menatap keheranan.
“Iya, ma?”
“Kenapa kamu? Di panggil daritadi
malah masih saja lihat ponsel,” Bela berjalan ke rak-rak dokumen di sisi
kantor, berdempetan dengan dinding putih bersih.
“Eh, engga ada. Cuma, ini tadi temen
Bianca ngasih gambar pengumuman apaan, engga jelas. Gambarnya kecil,” kilah
Bianca, pintar sekali memang kalau masalah mencari alasan ketika terciduk dan
terpojokkan.
Bela mengangguk, mengambil sebuah map
arsip dan satu ordner warna biru besar.
“Di dalam tas ada apa, Bi?” tanya
Bela, sambil memeriksa ulang dokumen.
“Satu buku novel sama buku tulis,
ma,”
“Bagus.” Bela menutup lembar
dokumen, membagi menjadi dua.
Sementara Bianca berkerut kening,
tidak mengerti. Apanya yang bagus.
“Kamu bawa pulang ini, ya. Masukin
di tas, novelnya kamu tenteng saja,” jelas Bela menyerahkan dua tempat arsip
dokumen ke Bianca.
“Terus?” Bianca masih bingung.
“Kasih Bi Nur. Suruh simpan di kamar
mama, di lemari.”
Oke. Terdengar lebih jelas. Bianca
menerima dua benda berwarna itu, yang satu besar tebal tidak penuh, satunya
lagi tidak tebal tapi di dalamnya lebih banyak lembar.
__ADS_1
---
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)