Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Perkenalan sebuah masa orientasi


__ADS_3

 


Dari lorong lantai bawah melewati deretan kelas ke arah ujung lorong, kami rombongan hadroh, maksudnya calon siswa baru dan kakak pendamping menaiki anak tangga yang mengarah pada lorong lantai atas.


“Kemana aja?” tanya Sofia yang terlihat ingin menaiki anak tangga pertama.


“Eh, tadi ke toilet sebentar.” Bianca terpaksa berbohong lagi.


“Yaudah, ayo buruan. Rame banget gini” ajak Sofia sedikit teriak di tengah hiruk pikuk murid lain yang dominan juga mendapat kelas di lorong lantai atas.


Kelas adenium adalah kelas urutan pertama, maka dari itu posisinya berada tepat di lorong lantai atas dekat dengan anak tangga. Sofia menawarkan diri untuk sebangku dengan Bianca, anak itu memang hanya mengenal Bianca daripada yang lain di hari pertama masuk. Tempat duduk pun Sofia yang memilih, barisan nomor dua dari depan, lagi-lagi Bianca hanya bisa meng-iya-kan. Pikirannya masih mengarah pada kakak kelas yang menyender pada penyangga bangunan tadi. Dalam ruang kelas adenium, di isi sekitar tiga puluh enam kursi lengkap dengan meja untuk siswa, di pojok kiri ada meja besar di hiasi taplak berbatik juga kursi untuk guru, papan tulis putih yang masih terdapat beberapa coretan belum di bersihkan, papan absen, struktur kelas, spanduk bertuliskan jadwal piket yang menempel di dinding dekat kalender sekolah.


“Baik adik-adik. Ini hari pertama masuk, bagaimana biar lebih akrab kita kenalan, ya.” kakak panitia di depan mulai membuka suara, mengambil topik klasik pada umumnya.


“Di mulai dari gue sendiri, ya. Gue Adhitama Ajay, pangggil saja Tama, dari kelas XII IPS 1.” Tama tersenyum simpul ke arah penghuni kelas.


Tama ini adalah kakak pendamping kelas adenium berkulit hitam manis, alisnya yang tebal dan tatapan mata tajam menambah kesan galak pada raut mukanya, juga jelas ia adalah kakak pendamping cowo satu-satunya di kelas adenium. Pantas saja aura galak dengan cepat muncul saat dekat Tama, ia sendiri adalah kakak tingkat akhir, kelas dua belas.


Tama mundur selangkah, melirik teman di sampingnya, mempersilahkan untuk melanjutkan perkenalan. Seorang kakak pendamping cewe berhijab maju, tubuhnya besar tinggi dengan ekpresi paling ceria.


“Gue Lala Marsanda. Panggilannya Lala, dari kelas XII IPS 2” Lala tersenyum lebar, giginya yang tertata lumayan rapi nampak kelihatan jelas.


Sementara Bianca bergidik geli, nama belakangnya sama dengan nama kakak pendamping di depannya. Sofia di samping mengangguk-angguk berlagak memperhatikan.


Sekarang giliran kakak pendamping yang terakhir. Belum saja dia maju sorak sorai anak cowo sudah riuh rendah memekakan telinga seisi kelas, memang kakak pendamping satu ini berparas cantik, tinggi badannya tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, tubuh rampingnya di balut almameter OSIS berwarna biru muda dengan lambang SMA di dada kirinya, rambut panjang bergelombangnya di biarkan terurai, bayangkan saja seperti apa cantiknya.


“Kenalin gue Reina Silvi Monika, panggil saja Reina, dari kelas XI IPS 1,” Lengkung tipis terukir dari bibir Reina.


Seraya menanggalkan rambut gelombangnya ke belakang telinga “Apa ada pertanyaan lain?”

__ADS_1


Sontak seketika hampir semua anak cowo sekelas Bianca menangkat tangan, mengacungkan telunjuk masing-masing, ingin segera melontarkan pertanyaan.


“Kak, nomor ponselnya berapa, kak?” teriak cowo dari bangku belakang, tampangnya tidak jelek-jelek amat, hanya penampilannya yang mirip preman.


“Nama instagramnya apa, kak?” di susul teman dari bangku tengah dekat dinding.


Bahkan tidak segan\-segan ada yang menggombal secara langsung tanpa takut.


“Kak kakinya bisa jalan, engga?” tanya cowo dari bangku samping kiri Bianca.


Sebagai balasan Reina hanya tersenyum tersipu malu.


“Kalo bisa, jalan-jalan yuk sama aku” celetuk cowo itu mampu memancing tawa seisi kelas, terlebih gelak tawa dari anak cowo.


Bianca hanya menatap tidak tertarik pada kejadian yang berlangsung tidak lama itu.


“Sudah. Diam semua.” bentak Tama di tengah hebohnya kelas, mendadak isi kelas hening, nyali anak cowo ikut menciut mendengar bentakan Tama. Bianca benar, kejadian itu tidak berlangsung lama sebab dari tampang Tama juga nampak dirinya sangat disiplin dan tidak suka orang yang banyak tingkah, apalagi celometan.


“Bianca Lala.” ujar Tama, menyapu seluruh ruangan.


Mendegar namanya di sebut lagi, Bianca segera mengangkat tangan “Hadir, kak.”


Dengan gesit Tama sudah kembali sibuk dengan lembar daftar hadirnya, bergantian menyebut nama yang tertera di lembaran.


“Sof” panggil Bianca pada teman sebangkunya karena tidak mungkin apabila ia akan berdiam saja sampai acara selesai.


“Apaan?” Sofia menoleh malas, mungkin karena tidak suka dengan masa orientasi sama seperti Bianca.


“Lu dari SMP mana?” Bianca sembarang mengambil topik pembicaraan, tidak tahu lagi pertanyaan yang lain, hanya itu yang masuk dalam otaknya.

__ADS_1


“Madrasah.” jawab Sofia singkat.


“Oh. Kenapa masuk SMA Pelita Murni, kan SMA favorit masih banyak tuh?”


“Gue disuruh sekolah di sini soalnya” jawab Sofia pasrah.


“Yaelah sama banget nasibnya kayak gue” celetuk Bianca menunjukkan raut muka malas.


Bianca sebenernya ingin masuk SMA lain yang lebih bergengsi, tetapi mamanya tidak setuju karena SMA yang di inginkan Bianca jaraknya terlalu jauh dari rumah. Namanya juga orang tua, mungkin saja takut ada apa-apa pada Bianca nanti di jalan apabila menempuh jarak jauh, belum lagi Bianca itu tidak terlalu pandai untuk mengendarai motor sendiri. Topik sekolah berlangsung beberapa menit ke depan sampai acara absen mengabsen Tama selesai sudah.


Tama bersiap pergi, membereskan berkas\-berkas yang tadi ia bawa di dalam tempat berwarna kuning kecoklatan, memasukkan kembali pulpen berwarna hijau belang putih ke dalam sakunya, menyematkannya pada kain saku.


“Oke. Kami pamit keluar, ya. Kalau mau tanya-tanya cari aja kita bertiga sebagai kakak pendamping kelas kalian. See you.” kalimat terkahir dari Tama, sedetik kemudian tanpa menunggu jawaban dari seisi kelas ia beranjak ke arah pintu keluar di ikuti Lala dan Reina berdampingan.


Kelas kosong, tidak ada pendamping juga guru pembimbing belum datang, mungkin sedang bersiap di kantor. Anak-anak cowo berseliweran, ada yang sengaja menggoda anak cewe lain, ada yang sedang stand up dadakan di pojok bangku bergerombol. Bianca tidak ikut dalam kehebohan kelas baru, ia menatap lesu jendela, berharap kakak itu ada berdiri di lorong sana atau sekedar lewat. Alih-alih mendapat sekelebat bayang orang yang di harap, malah


kemunculan kepala Sofia tepat di depan mata Bianca.


“Ngapain, sih, Sof? Minggir kek” Bianca menyingkirkan kepala Sofia kesamping dari depan matanya.


“Lo kesambet beneran, ya?” tanya Sofia heran. Sejak melihat Bianca di lapangan yang diam mematung Sofia berpendapat Bianca memang kerasukan setan sekolahan.


“Engga. Ngaco aja lu omongnya” elak Bianca.


“Ya gausah diem aja. Takut gue” Sofia bergidik takut, menjauhkan badan.


“Males ah, mau nafas juga bosen” celetuk Bianca asal-asalan.


 

__ADS_1


-Apabila ada salah dalam penulisan, mohon kritik dan sarannya, Kak.


-Salam Literasi dari Aksara Raya.


__ADS_2