Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Sebuah ide dari Sofia


__ADS_3

            Paginya Bianca terbangun karena


bunyi alarm dari ponselnya yang terletak di nakas dekat tempat tidur. Bianca


lupa jam berapa tepatnya ia tidur kemarin malam, memikirkan Given membuat gadis


itu gila. Aduh, kenapa pagi- pagi sudah menyebut nama cowo itu. Demi menepis


memikirkan Given lagi, Bianca memutuskan segera bersiap- siap, seperti: mandi,


berpakaian seragam rapi, menyisir rambut lebat sebahunya. Selesai dari itu


semua, Bianca menyambar tas yang tergantung di dekat almari pakaian, tidak lupa


menyambar kantong keresek hitam yang berisikan daster untuk Bi Nur- anggap saja


ini jadi kejutan di pagi hari dari Bianca untuk Bi Nur. Tepat sekali, Bi Nur


sedang menyiapkan masakan di dapur, memasak makanan untuk sarapan pagi ini.


Bianca berjalan mengendap- endap, sampai di belakang Bi Nur tangan Bianca


langsung menutupi mata Bi Nur, membuat wanita itu mengaduh, Bianca malah


terkekeh pelan.


            Bianca melepaskan tutupan “Taraa”


menentengkan satu daster berwarna orange dengan motif bunga- bunga di hadapan Bi


Nur.


            “Haduh, non, bibi sudah takut saja. Bibi


pikir ada perampok.” aduh Bi Nur.


            “Ini apa, non?” tambah Bi Nur


mengerutkan dahi, bingung melihat sebuah daster.


            “Buat Bi Nur ini. Bianca beli di


pasar malam kemarin.” Bianca menyerahkan daster itu kepada Bi Nur.


            “Ya ampun non, terimakasih banyak,


ya” ucap Bi Nur mengambil daster dari tangan Bianca lalu memasukkannya


sementara ke dalam almari dapur tempat penyimpanan perkakas.


            “Mama mana, bi?” tanya Bianca yang


sudah duduk di meja makan.


            Bi Nur kembali menerukan acara


masak- memasaknya “Masih di kamar, non. Mungkin sedang siap- siap”


            Bianca ber- oh pelan, beranjak ke


kulkas, mengambil sekotak susu, menuangkannya ke dalam gelas. Persis ketika


Bianca menuang susu, Bela datang, rapi dengan kemeja kerjanya yang di seterika


licin, rambutnya yang panjang digulung rapi ke belakang.


            “Sudah siap, bi?” tanya Bela ke Bi


Nur tentang sarapan, sudah pasti.


            “Sudah nyonya” jawab Bi Nur,


menangkat lauk terakhir dari wajan ke piring di meja.


            Melihat Bela sudah duduk di meja


makan, Bianca segera mengikuti, menghabiskan sarapan. Bi Nur ganti pindah ke


belakang, mungkin mencuci pakaian kotor, karena memang sedikit terdengar suara


mesin cuci di nyalakan.


            “Mama nanti engga bisa jemput kamu.

__ADS_1


Ini mama tambahin uang sakunya” ucap Bela saat makanan sudah habis disantap.


            “Oke, ma” jawab Bianca pendek.


            Bela dan Bianca memang jarang


mengobrol kalau tidak ada masalah yang sangat penting, misalnya- keperluan


sekolah, undangan kegiatan wali murid, uang tambahan- khusus bagi Bianca.


Entah, Bianca seperti itu sejak kasus cerainya Bela dan papa Bianca lima tahun


yang lalu. Bukan berarti Bianca membenci Bela, hanya masalahnya kenapa Bianca


tidak pernah dikasih tahu dimana papanya sekarang tinggal. Setiap kali Bianca


bertanya, selalu saja tidak mendapat jawaban, Bela akan menggeserkan topik


pertanyaan ke arah lain di luar topik yang sebelumnya dibahas. Ini juga


merupakan trauma yang dialami Bianca, juga sebuah rencana ingin mencari tahu


sendiri dimana papanya tinggal.


            “Sudah, kan? Ayo berangkat” ajak


Bela yang sudah siap berdiri.


            “Bi, berangkat” teriak Bianca dari


arah dapur.


            “Iya, non. Hati- hati nyonya” kepala


Bi Nur muncul di bingkai pintu antara meja makan dan kamar mandi.


            Mobil yang di kemudikan Bela melaju


di awal pagi, menghantarkan anaknya ke sekolah, juga untuk dirinya sendiri


berangkat menuju kantornya. Bela memiliki sebuah perusahaan yang sekarang sudah


mempunyai cabangnya sendiri- sendiri di setiap kota- kota besar, itu yang


            “Bianca berangkat” ucap Bianca pelan


saat sudah sampi sekolah, menyalami tangan mamanya, lalu membuka pintu mobil,


keluar.


            Sedetik kemudian mobil hitam milik


Bela sudah kembali membelah jalanan, hilang di kelokan jalan. Bianca melangkah


ke pintu gerbang, melangkahkan kaki kedua kali di SMA Pelita Murni. Pintu


gerbang langsung bertatap dengan lorong utama, ah lorong utama membuat Bianca


ingat saat pertama kali melihat Given jalan dari arah lorong, caranya berjalan


sambil membawa lensa kamera yang bertautan di pergelangan tangannya membuat


Bianca terpaku saat itu juga. Sudahlah, lebih baik Bianca mempercepat langkah


untuk masuk ke kelas adenium yang berada di lorong lantai atas, melihat siapa


tahu Sofia teman cerewetnya itu sudah terlebih dulu sampai.


            Benar saja bukan, Sofia sudah duduk


sendirian di dalam kelas yang sepi, memainkan layar ponselnya. Memang baru jam


setengah tujuh kurang, jadi anak- anak juga belum banyak yang datang, sebab


masa orientasi dimulai pukul setengah delapan. Hanya segilintir siswa yang


datang sejam lebih awal, entah karena orang tua mereka berangkat pagi lalu


mereka ikut terburu- buru; sama sepertu halnya Bianca, atau bisa saja memang


anak- anak yang ini sudah diajari displin sejak mereka kanak- kanak, ya seperti


tertanam dalam dirinya. Sofia menurunkan ponsel dari depan mukanya ketika

__ADS_1


melihat Bianca meletakkan tas di sampingnya.


            “Sof, bantuin gue ya, nanti” ucap


Bianca pelan.


            “Bantuin apaan?” raut muka Sofia


seketika berubah serius.


            Bianca mengeluarkan cutter kecil


tajam pemberian Given dari saku bajunya, menudingkannya ke muka Sofia, Sofia


bergeser mundur, bergidik takut.


            “Lo mau bunuh gue atau suruh bantuin


bunuh anak kelas?” celetuk Sofia asal- asalan.


            “Omong apaan, sih. Dengerin dulu,


ini cutter dari kak Given”  ucap Bianca,


mengambil duduk di sebelah Sofia.


            Persis Bianca duduk, Sofia ganti


bergeser mendekat “Apa- apaan? Jangan ngaco lo”


            “Gue serius. Kemarin lo inget gue


ajak ke festival? Nah, karena lo engga ikut, gue berangkat sendiri, dan pas


disana gue engga sengaja ketemu kak Given sama rombongannya.”


            Bianca menceritakan kejadian yang


dialaminya sendiri, Sofia antuias mendengarkan, sesekali manggut- manggut, juga


membelakak kaget, atau berelak tidak percaya. Peristiwa di festival pasar malam


SMA Angkasa satu sudah tuntas, Bianca melanjutkan cerita dengan alur mundur.


            “Tapi, sebelum acara itu. Waktu lo


ninggalin gue pulang duluan, gue masih stay di sekolah. Nah beberapa menit


berjalan, gue llihat kak Given jalan bareng sama cewe, ketawa ketiwi berasa


dunia milik mereka berdua doang. Gue yang di samping mereka sama sekali engga


dianggap nyata.” Bianca bercerita sebal.


            “Terus?” Sofia tidak paham teman


satunya ini, beberapa menit lalu senang sekali bertemu Given di pasar  malam, lalu dengan tiba- tiba jadi


menyebalkan.


            “Iya itu. Menurut lo kak Given tuh


sudah punya pacar belum, sih?  Kalau


sudah, kenapa coba sok peduli ke gue pakein bawain cutter begini”


            Sofia berpikir senjenak, lalu


membisikan sebuah ide ke telinga Bianca, sempat terjadi penolakan atas pihak


Bianca  soal ide itu. Namun, Sofia terus


menyemangati, memberi dukungan penuh, hingga akhirnya Bianca setuju asal Sofia


mau menemaninya melakukan hal gila yang direncakan oleh Sofia- ya meskipun


Bianca juga penasaran akan hal sebenarnya.


 ---


Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih.


Salam Literasi dari Aksara Raya:)

__ADS_1


__ADS_2