
Paginya Bianca terbangun karena
bunyi alarm dari ponselnya yang terletak di nakas dekat tempat tidur. Bianca
lupa jam berapa tepatnya ia tidur kemarin malam, memikirkan Given membuat gadis
itu gila. Aduh, kenapa pagi- pagi sudah menyebut nama cowo itu. Demi menepis
memikirkan Given lagi, Bianca memutuskan segera bersiap- siap, seperti: mandi,
berpakaian seragam rapi, menyisir rambut lebat sebahunya. Selesai dari itu
semua, Bianca menyambar tas yang tergantung di dekat almari pakaian, tidak lupa
menyambar kantong keresek hitam yang berisikan daster untuk Bi Nur- anggap saja
ini jadi kejutan di pagi hari dari Bianca untuk Bi Nur. Tepat sekali, Bi Nur
sedang menyiapkan masakan di dapur, memasak makanan untuk sarapan pagi ini.
Bianca berjalan mengendap- endap, sampai di belakang Bi Nur tangan Bianca
langsung menutupi mata Bi Nur, membuat wanita itu mengaduh, Bianca malah
terkekeh pelan.
Bianca melepaskan tutupan “Taraa”
menentengkan satu daster berwarna orange dengan motif bunga- bunga di hadapan Bi
Nur.
“Haduh, non, bibi sudah takut saja. Bibi
pikir ada perampok.” aduh Bi Nur.
“Ini apa, non?” tambah Bi Nur
mengerutkan dahi, bingung melihat sebuah daster.
“Buat Bi Nur ini. Bianca beli di
pasar malam kemarin.” Bianca menyerahkan daster itu kepada Bi Nur.
“Ya ampun non, terimakasih banyak,
ya” ucap Bi Nur mengambil daster dari tangan Bianca lalu memasukkannya
sementara ke dalam almari dapur tempat penyimpanan perkakas.
“Mama mana, bi?” tanya Bianca yang
sudah duduk di meja makan.
Bi Nur kembali menerukan acara
masak- memasaknya “Masih di kamar, non. Mungkin sedang siap- siap”
Bianca ber- oh pelan, beranjak ke
kulkas, mengambil sekotak susu, menuangkannya ke dalam gelas. Persis ketika
Bianca menuang susu, Bela datang, rapi dengan kemeja kerjanya yang di seterika
licin, rambutnya yang panjang digulung rapi ke belakang.
“Sudah siap, bi?” tanya Bela ke Bi
Nur tentang sarapan, sudah pasti.
“Sudah nyonya” jawab Bi Nur,
menangkat lauk terakhir dari wajan ke piring di meja.
Melihat Bela sudah duduk di meja
makan, Bianca segera mengikuti, menghabiskan sarapan. Bi Nur ganti pindah ke
belakang, mungkin mencuci pakaian kotor, karena memang sedikit terdengar suara
mesin cuci di nyalakan.
“Mama nanti engga bisa jemput kamu.
__ADS_1
Ini mama tambahin uang sakunya” ucap Bela saat makanan sudah habis disantap.
“Oke, ma” jawab Bianca pendek.
Bela dan Bianca memang jarang
mengobrol kalau tidak ada masalah yang sangat penting, misalnya- keperluan
sekolah, undangan kegiatan wali murid, uang tambahan- khusus bagi Bianca.
Entah, Bianca seperti itu sejak kasus cerainya Bela dan papa Bianca lima tahun
yang lalu. Bukan berarti Bianca membenci Bela, hanya masalahnya kenapa Bianca
tidak pernah dikasih tahu dimana papanya sekarang tinggal. Setiap kali Bianca
bertanya, selalu saja tidak mendapat jawaban, Bela akan menggeserkan topik
pertanyaan ke arah lain di luar topik yang sebelumnya dibahas. Ini juga
merupakan trauma yang dialami Bianca, juga sebuah rencana ingin mencari tahu
sendiri dimana papanya tinggal.
“Sudah, kan? Ayo berangkat” ajak
Bela yang sudah siap berdiri.
“Bi, berangkat” teriak Bianca dari
arah dapur.
“Iya, non. Hati- hati nyonya” kepala
Bi Nur muncul di bingkai pintu antara meja makan dan kamar mandi.
Mobil yang di kemudikan Bela melaju
di awal pagi, menghantarkan anaknya ke sekolah, juga untuk dirinya sendiri
berangkat menuju kantornya. Bela memiliki sebuah perusahaan yang sekarang sudah
mempunyai cabangnya sendiri- sendiri di setiap kota- kota besar, itu yang
“Bianca berangkat” ucap Bianca pelan
saat sudah sampi sekolah, menyalami tangan mamanya, lalu membuka pintu mobil,
keluar.
Sedetik kemudian mobil hitam milik
Bela sudah kembali membelah jalanan, hilang di kelokan jalan. Bianca melangkah
ke pintu gerbang, melangkahkan kaki kedua kali di SMA Pelita Murni. Pintu
gerbang langsung bertatap dengan lorong utama, ah lorong utama membuat Bianca
ingat saat pertama kali melihat Given jalan dari arah lorong, caranya berjalan
sambil membawa lensa kamera yang bertautan di pergelangan tangannya membuat
Bianca terpaku saat itu juga. Sudahlah, lebih baik Bianca mempercepat langkah
untuk masuk ke kelas adenium yang berada di lorong lantai atas, melihat siapa
tahu Sofia teman cerewetnya itu sudah terlebih dulu sampai.
Benar saja bukan, Sofia sudah duduk
sendirian di dalam kelas yang sepi, memainkan layar ponselnya. Memang baru jam
setengah tujuh kurang, jadi anak- anak juga belum banyak yang datang, sebab
masa orientasi dimulai pukul setengah delapan. Hanya segilintir siswa yang
datang sejam lebih awal, entah karena orang tua mereka berangkat pagi lalu
mereka ikut terburu- buru; sama sepertu halnya Bianca, atau bisa saja memang
anak- anak yang ini sudah diajari displin sejak mereka kanak- kanak, ya seperti
tertanam dalam dirinya. Sofia menurunkan ponsel dari depan mukanya ketika
__ADS_1
melihat Bianca meletakkan tas di sampingnya.
“Sof, bantuin gue ya, nanti” ucap
Bianca pelan.
“Bantuin apaan?” raut muka Sofia
seketika berubah serius.
Bianca mengeluarkan cutter kecil
tajam pemberian Given dari saku bajunya, menudingkannya ke muka Sofia, Sofia
bergeser mundur, bergidik takut.
“Lo mau bunuh gue atau suruh bantuin
bunuh anak kelas?” celetuk Sofia asal- asalan.
“Omong apaan, sih. Dengerin dulu,
ini cutter dari kak Given” ucap Bianca,
mengambil duduk di sebelah Sofia.
Persis Bianca duduk, Sofia ganti
bergeser mendekat “Apa- apaan? Jangan ngaco lo”
“Gue serius. Kemarin lo inget gue
ajak ke festival? Nah, karena lo engga ikut, gue berangkat sendiri, dan pas
disana gue engga sengaja ketemu kak Given sama rombongannya.”
Bianca menceritakan kejadian yang
dialaminya sendiri, Sofia antuias mendengarkan, sesekali manggut- manggut, juga
membelakak kaget, atau berelak tidak percaya. Peristiwa di festival pasar malam
SMA Angkasa satu sudah tuntas, Bianca melanjutkan cerita dengan alur mundur.
“Tapi, sebelum acara itu. Waktu lo
ninggalin gue pulang duluan, gue masih stay di sekolah. Nah beberapa menit
berjalan, gue llihat kak Given jalan bareng sama cewe, ketawa ketiwi berasa
dunia milik mereka berdua doang. Gue yang di samping mereka sama sekali engga
dianggap nyata.” Bianca bercerita sebal.
“Terus?” Sofia tidak paham teman
satunya ini, beberapa menit lalu senang sekali bertemu Given di pasar malam, lalu dengan tiba- tiba jadi
menyebalkan.
“Iya itu. Menurut lo kak Given tuh
sudah punya pacar belum, sih? Kalau
sudah, kenapa coba sok peduli ke gue pakein bawain cutter begini”
Sofia berpikir senjenak, lalu
membisikan sebuah ide ke telinga Bianca, sempat terjadi penolakan atas pihak
Bianca soal ide itu. Namun, Sofia terus
menyemangati, memberi dukungan penuh, hingga akhirnya Bianca setuju asal Sofia
mau menemaninya melakukan hal gila yang direncakan oleh Sofia- ya meskipun
Bianca juga penasaran akan hal sebenarnya.
---
Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih.
Salam Literasi dari Aksara Raya:)
__ADS_1