
Matahari beranjak naik, langit
cerah, membuat cahayanya menerabas lembut melewati kisi- kisi ruangan. Kelas
mulai ramai, satu persatu teman masuk, meletakkan tas. Beberapa saling sapa,
karena memang kita baru saja kenal kemarin. Bel masuk berdering sejam kemudian,
seperti kemarin, Tama bersama dua bidadarinya masuk ke kelas adenium, mengabsen
siswa untuk data mereka sendiri, setelah itu sudah. Sepuluh menit kemudian, ketukan
sepatu guru- guru yang menuju lorong lantai terdengar samar- samar dari kelas
adenium- dimana memang kelas adenium posisinya berdekatan dengan tangga. Benar,
bu Risma datang tepat kali ini, menggenakan kemeja putih, celana hitam panjang,
dan sepatu hitam berhak tipis, cocok dengan muka tegas yang di miliki bu Risma.
“Pagi anak- anak” sapa bu Risma di
pagi kedua kami mengikuti masa orientasi.
“Pagi, bu” seisi kelas menjawab
kompak.
Semua telah duduk rapi di bangku
masing- masing, mengeluarkan lembaran koran yang diberikan bu Risma kemarinn, tidak
ada yang celometan seperti kemarin- tepatnya belum, karena memang siapa yang
mau di hukum lagi setelah baru saja kemarin mendapatkan hukuman yang memalukan.
“Oke, bagaimana soal tugas yang ibu
beri kemarin? Apakah ada yang ingin maju duluan?” tanya bu Risma tanpa basa
basi, memandangi seisi ruangan kelas, menatap satu persatu muridnya.
Beberapa murid pura- pura tidak
mendengar, memainkan ujung meja, sebagian lagi ada yang menunduk, memalingkan
muka agar tidak ditunjuk maju. Tapi mau bagaimana pun, bu Risma tetap bu Risma
dengan kegalakannya saat pertama kali masuk kelas, juga cara mendidiknya yang
tegas.
"Baiklah, kalau tidak ada yang
berkenan maju sendiri, ibu saja yang tunjuk” bu Risma maju selangkah, berpikir
sejenak sekiranya siapa yang akan dia suruh maju.
Bu Risma menunjuk bangku barisan
kedua dari pintu “Kamu ayo maju”
Sofia membuka suara, memastikan
“Saya, bu?” menunjuk diri sendiri.
“Eh, bukan, sebelahnya kamu. Siapa
namanya?”
Bianca terperanjat kaget, nyalinya
mulai ciut, karena sebenarnya ia belum terlalu menguasai materi berita yang ia
baca.
“Bi.. Bianca Lala, bu” jawab Bianca
terbata- bata.
“Nah iya kamu, ayo maju” ulang bu
Risma.
Bianca mau tidak mau tetap maju,
membulatkan nyalinya, perlahan melangkah ke depan kelas, baru setengah jalan,
tiba- tiba bu Risma berseru.
“Korannya dibawa dong!”
Eh, Bianca jadi salah tingkah, dia
__ADS_1
segera melangkah mundur ke bangku miliknya, mengambil koran yang tergeletak di
atas meja, lalu sekejap kembali ke depan kelas.
“Sekarang, bu?” tanya Bianca,
menoleh ke arah bu Risma, memastikan.
“Iya, perkenalan dulu, ya!”
Bianca mencoba meluruhkan gugupnya,
menatap Sofia sekilas, lalu mencoba memandangi seisi kelas, seperti yang ia
lakukan saat mengikuti event apapun di SMP dulu.
“Perkenalkan nama saya Bianca Lala,
dipanggil Bianca, dari SMP Angkasa 1”
Bianca mulai menemukan keberaniannya
lagi.
“Berdirinya saya di sini akan
menerangkan tentang isi berita pada koran ini. Banjir bandang yang melanda ibu
kota”
Bianca menuntaskan tugasnya dengan
baik, solusi yang di berikan juga mudah dipahami, bu Risma menpersilahkan
Bianca kembali ke bangku di iringi riuh tepuk tangan dari teman kelas. Satu
persatu teman kelas maju, meski kadang terhambat karena siswa cowo tidak
terlalu memperhatikan- jadi selalu mengulang sampai dia benar atau berdiri saja
di depan papan tulis menunggu giliran perbaikan. Baru saja dapat setengah dari
seisi kelas untuk maju, bel istirahat bernyanyi nyaring ke seluruh penjuru. Bu
Risma lebih dulu berpamitan keluar, di ikuti teman sekelas, dengan cepat kelas
sepi, hanya tertinggal Bianca dan Sofia.
Given?” Bianca mendekati Sofia yang sibuk dengan korannya, lantaran ia belum
juga maju ke depan, waspada jika nanti jam ke dua adalah gilirannya.
“Makan dulu aja, gimana?” Sofia
mulai sebal dengan lembaran koran, menutupnya kembali.
“Tapi, kan..”
Dengan segera Sofia memotong “Sudah,
siapa tahu hari ini kak Given di kantin, kan. Ayoklah!”
Sofia sudah menarik pergelangan
tangan Bianca, tanpa Bianca sempat membuat keputusan, alhasil tetap saja Bianca
juga mau. Keduanya mengambil jalur lorong lantai bawah untuk sampai ke kantin.
Istirahat di hari kedua kali ini, kantin sangat padat pengunjung, tidak
lenggang seperti kemarin. Bianca memutuskan terlebih dulu memilih bangku yang
sama seperti kemarin datang, menu makanan yang sama pula- meski mendapat uang
tambahan dari Bela. Beberapa menit kemudian setelah menunggu sedikit jenuh,
menu makanan datangm diantar oleh ibu kantin. Keduanya segera melahap menu
masing- masing di tengah dengungan kelaparan dari perut para penghuni sekolah.
Selagi asyik mengunyah, Sofia tiba- tiba meraih es teh, menyeruputnya cepat,
sudah seperti orang keselek.
Bianca menatap heran “Lo keselek?”
tanya Bianca, mengentikan acara mengunyahnya.
Sofia menggeleng cepat, matanya
menatap pintu masuk kantin yang di belakangi Sofia.
“Kak Given, Bii” seru Sofia menahan
__ADS_1
teriakan keluar dari mulutnya.
Bianca dengan tingkat kesadaran yang
ada, berbalik badan, memang benar dilihatnya Given masuk ke kantin dengan Tama
di sampingnya. Lalu kembali menoleh pada Sofia, membuat raut yang kalau di
artikan- gimana ini. Sofia langsung mengambil kepemimpinan, menyuruh agar
Bianca tenang.
“Kalo dia keluar, kita ikutin” bisik
Sofia.
Bianca mengikuti arahan Sofia,
melanjutkan melahap setengah porsi makanan yang sempat tertunda dengan amat
pelan untuk mengulur waktu. Sofia sesekali mengamati gerak- gerik Given,
mewaspadai bila Given tiba- tiba beranjak keluar kantin. Keduanya sudah seperti
anggota badan intelejen milik negara yang ditugaskan saja. Sepuluh menit
berlalu, Given bersiap melangkah keluar kantin, tentunya Sofia memberi sinyal
juga ke Bianca untuk bersiap menjalankan misi. Given berjalan menuju ke ujung
dimana anak tangga menuju lorong lantai atas kelas adenium, Tama juga ikut
bersama Given. Namun di tengah perjalanan Tama berhenti, seorang cewe
memanggilnya- mungkin saja pacar Tama karena memang desas desus sekolah dari
kakak panitia lain Tama sudah memiliki pacar. Lanjut mengekori Given yang jalan
mendekati tangga.
“Lo naik sendiri, tangga sepi, lo
balikin itu cutternya” suruh Sofia kepada Bianca.
Bianca yang sudah menyiapkan mental
sejak di kantin dengan sigap ikut Given menaiki tangga, sedangkan Sofia menunggu di anak tangga terakhir.
“Kak Given” panggil Bianca dari arah
belakang.
Yang dipanggil berbalik, menampakkan
raut wajah yang kalau diartikan- ‘Iya kenapa’
“Ehmm, mau balikin ini. Kemarin
bilang balikin kalau ketemu, kan” ucap Bianca, menengadah karena posisi Given
berada di ujung tangga atas, sembari menenangkan degub jantugnya.
“Eh, ternyata kemarin bocah SMP itu
sudah SMA sekarang”
“Eh, iya sudah masuk SMA” Bianca
mengulurkan cutter, mengembalikannya pada pemiliknya, Given diam sejenak lalu
meraih cutter dari tangan Bianca.
“Thanks, ya, kak” hanya dibalas
anggukan oleh Given.
“Eh, kak” Bianca salah tingkah,
seruannya membuat Given berhenti dari langkahnya.
“Boleh minta nomor engga?” duh, ini misi rencana dari Sofia yang paling
gila, lihatlah Given malah balik menatap Bianca penuh selidik.
Tuhan, tolong hilangkan saja Bianca
dari muka bumi setelah penolakan dari Given. Kenapa juga Bianca bodoh sekali
dengan begitu entengnya menuruti rencana gila Sofia.
--
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih. Salam Literasi dari Aksara Raya:)
__ADS_1