Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Sebuah misi


__ADS_3

            Matahari beranjak naik, langit


cerah, membuat cahayanya menerabas lembut melewati kisi- kisi ruangan. Kelas


mulai ramai, satu persatu teman masuk, meletakkan tas. Beberapa saling sapa,


karena memang kita baru saja kenal kemarin. Bel masuk berdering sejam kemudian,


seperti kemarin, Tama bersama dua bidadarinya masuk ke kelas adenium, mengabsen


siswa untuk data mereka sendiri, setelah itu sudah. Sepuluh menit kemudian, ketukan


sepatu guru- guru yang menuju lorong lantai terdengar samar- samar dari kelas


adenium- dimana memang kelas adenium posisinya berdekatan dengan tangga. Benar,


bu Risma datang tepat kali ini, menggenakan kemeja putih, celana hitam panjang,


dan sepatu hitam berhak tipis, cocok dengan muka tegas yang di miliki bu Risma.


            “Pagi anak- anak” sapa bu Risma di


pagi kedua kami mengikuti masa orientasi.


            “Pagi, bu” seisi kelas menjawab


kompak.


            Semua telah duduk rapi di bangku


masing- masing, mengeluarkan lembaran koran yang diberikan bu Risma kemarinn, tidak


ada yang celometan seperti kemarin- tepatnya belum, karena memang siapa yang


mau di hukum lagi setelah baru saja kemarin mendapatkan hukuman yang memalukan.


            “Oke, bagaimana soal tugas yang ibu


beri kemarin? Apakah ada yang ingin maju duluan?” tanya bu Risma tanpa basa


basi, memandangi seisi ruangan kelas, menatap satu persatu muridnya.


            Beberapa murid pura- pura tidak


mendengar, memainkan ujung meja, sebagian lagi ada yang menunduk, memalingkan


muka agar tidak ditunjuk maju. Tapi mau bagaimana pun, bu Risma tetap bu Risma


dengan kegalakannya saat pertama kali masuk kelas, juga cara mendidiknya yang


tegas.


            "Baiklah, kalau tidak ada yang


berkenan maju sendiri, ibu saja yang tunjuk” bu Risma maju selangkah, berpikir


sejenak sekiranya siapa yang akan dia suruh maju.


            Bu Risma menunjuk bangku barisan


kedua dari pintu “Kamu ayo maju”


            Sofia membuka suara, memastikan


“Saya, bu?” menunjuk diri sendiri.


            “Eh, bukan, sebelahnya kamu. Siapa


namanya?”


            Bianca terperanjat kaget, nyalinya


mulai ciut, karena sebenarnya ia belum terlalu menguasai materi berita yang ia


baca.


            “Bi.. Bianca Lala, bu” jawab Bianca


terbata- bata.


            “Nah iya kamu, ayo maju” ulang bu


Risma.


            Bianca mau tidak mau tetap maju,


membulatkan nyalinya, perlahan melangkah ke depan kelas, baru setengah jalan,


tiba- tiba bu Risma berseru.


            “Korannya dibawa dong!”


            Eh, Bianca jadi salah tingkah, dia

__ADS_1


segera melangkah mundur ke bangku miliknya, mengambil koran yang tergeletak di


atas meja, lalu sekejap kembali ke depan kelas.


            “Sekarang, bu?” tanya Bianca,


menoleh ke arah bu Risma, memastikan.


            “Iya, perkenalan dulu, ya!”


            Bianca mencoba meluruhkan gugupnya,


menatap Sofia sekilas, lalu mencoba memandangi seisi kelas, seperti yang ia


lakukan saat mengikuti event apapun di SMP dulu.


            “Perkenalkan nama saya Bianca Lala,


dipanggil Bianca, dari SMP Angkasa 1”


            Bianca mulai menemukan keberaniannya


lagi.


            “Berdirinya saya di sini akan


menerangkan tentang isi berita pada koran ini. Banjir bandang yang melanda ibu


kota”


            Bianca menuntaskan tugasnya dengan


baik, solusi yang di berikan juga mudah dipahami, bu Risma menpersilahkan


Bianca kembali ke bangku di iringi riuh tepuk tangan dari teman kelas. Satu


persatu teman kelas maju, meski kadang terhambat karena siswa cowo tidak


terlalu memperhatikan- jadi selalu mengulang sampai dia benar atau berdiri saja


di depan papan tulis menunggu giliran perbaikan. Baru saja dapat setengah dari


seisi kelas untuk maju, bel istirahat bernyanyi nyaring ke seluruh penjuru. Bu


Risma lebih dulu berpamitan keluar, di ikuti teman sekelas, dengan cepat kelas


sepi, hanya tertinggal Bianca dan Sofia.


Given?” Bianca mendekati Sofia yang sibuk dengan korannya, lantaran ia belum


juga maju ke depan, waspada jika nanti jam ke dua adalah gilirannya.


            “Makan dulu aja, gimana?” Sofia


mulai sebal dengan lembaran koran, menutupnya kembali.


            “Tapi, kan..”


            Dengan segera Sofia memotong “Sudah,


siapa tahu hari ini kak Given di kantin, kan. Ayoklah!”


            Sofia sudah menarik pergelangan


tangan Bianca, tanpa Bianca sempat membuat keputusan, alhasil tetap saja Bianca


juga mau. Keduanya mengambil jalur lorong lantai bawah untuk sampai ke kantin.


Istirahat di hari kedua kali ini, kantin sangat padat pengunjung, tidak


lenggang seperti kemarin. Bianca memutuskan terlebih dulu memilih bangku yang


sama seperti kemarin datang, menu makanan yang sama pula- meski mendapat uang


tambahan dari Bela. Beberapa menit kemudian setelah menunggu sedikit jenuh,


menu makanan datangm diantar oleh ibu kantin. Keduanya segera melahap menu


masing- masing di tengah dengungan kelaparan dari perut para penghuni sekolah.


Selagi asyik mengunyah, Sofia tiba- tiba meraih es teh, menyeruputnya cepat,


sudah seperti orang keselek.


            Bianca menatap heran “Lo keselek?”


tanya Bianca, mengentikan acara mengunyahnya.


            Sofia menggeleng cepat, matanya


menatap pintu masuk kantin yang di belakangi Sofia.


            “Kak Given, Bii” seru Sofia menahan

__ADS_1


teriakan keluar dari mulutnya.


            Bianca dengan tingkat kesadaran yang


ada, berbalik badan, memang benar dilihatnya Given masuk ke kantin dengan Tama


di sampingnya. Lalu kembali menoleh pada Sofia, membuat raut yang kalau di


artikan- gimana ini. Sofia langsung mengambil kepemimpinan, menyuruh agar


Bianca tenang.


            “Kalo dia keluar, kita ikutin” bisik


Sofia.


            Bianca mengikuti arahan Sofia,


melanjutkan melahap setengah porsi makanan yang sempat tertunda dengan amat


pelan untuk mengulur waktu. Sofia sesekali mengamati gerak- gerik Given,


mewaspadai bila Given tiba- tiba beranjak keluar kantin. Keduanya sudah seperti


anggota badan intelejen milik negara yang ditugaskan saja. Sepuluh menit


berlalu, Given bersiap melangkah keluar kantin, tentunya Sofia memberi sinyal


juga ke Bianca untuk bersiap menjalankan misi. Given berjalan menuju ke ujung


dimana anak tangga menuju lorong lantai atas kelas adenium, Tama juga ikut


bersama Given. Namun di tengah perjalanan Tama berhenti, seorang cewe


memanggilnya- mungkin saja pacar Tama karena memang desas desus sekolah dari


kakak panitia lain Tama sudah memiliki pacar. Lanjut mengekori Given yang jalan


mendekati tangga.


            “Lo naik sendiri, tangga sepi, lo


balikin itu cutternya” suruh Sofia kepada Bianca.


            Bianca yang sudah menyiapkan mental


sejak di kantin dengan sigap ikut Given  menaiki tangga, sedangkan Sofia menunggu di anak tangga terakhir.


            “Kak Given” panggil Bianca dari arah


belakang.


            Yang dipanggil berbalik, menampakkan


raut wajah yang kalau diartikan- ‘Iya kenapa’


            “Ehmm, mau balikin ini. Kemarin


bilang balikin kalau ketemu, kan” ucap Bianca, menengadah karena posisi Given


berada di ujung tangga atas, sembari menenangkan degub jantugnya.


            “Eh, ternyata kemarin bocah SMP itu


sudah SMA sekarang”


            “Eh, iya sudah masuk SMA” Bianca


mengulurkan cutter, mengembalikannya pada pemiliknya, Given diam sejenak lalu


meraih cutter dari tangan Bianca.


            “Thanks, ya, kak” hanya dibalas


anggukan oleh Given.


            “Eh, kak” Bianca salah tingkah,


seruannya membuat Given berhenti dari langkahnya.


            “Boleh minta nomor engga?”  duh, ini misi rencana dari Sofia yang paling


gila, lihatlah Given malah balik menatap Bianca penuh selidik.


            Tuhan, tolong hilangkan saja Bianca


dari muka bumi setelah penolakan dari Given. Kenapa juga Bianca bodoh sekali


dengan begitu entengnya menuruti rencana gila Sofia.


--


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih. Salam Literasi dari Aksara Raya:)

__ADS_1


__ADS_2