Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Di atas rooftop


__ADS_3

[Gapapa,


cuma sebentar saja ini,]


            “Ya sudah, Bianca otw ke situ,”


            Sambungan terputuskan oleh Bianca. Tidak


ada mobil jemputan, maka Bianca harus mandiri untuk memesan ojek online lagi,


jemarinya memainkan layar ponsel, tapi pikirannya mengarah pada Bela, tumben


sekali ia mengajak Bianca ke tempat kerjanya. Memang, selama Bela mengerjakan


bisnis sejak Bianca kecil, baru kali ini ia melibatkan Bianca untuk datang.


Biasanya keduanya tidak terlalu peduli hal privasi, mama dan anak itu tidak


terlalu terbuka sejak perceraian.


            ---


            “Terima kasih, ya, mas,” ucap Bianca


pada mas ojol, menyerahkan helm dan biaya perjalanan.


            Bianca berjalan menuju gerbang,


sebelum itu seorang satpan di depan gerbang sudah dahului menghampiri Bianca.


            “Maaf, dek. Anak SMP punya keperluan


apa kesini?” tanya Satpam berdiri di hadapan Bianca.


            “Ketemu Ibu Bela, pak,”


            “Oh, anak Bu Bela. Saya pikir anak


SMP kesesat,” bapak satpam itu terkekeh.


            Bianca tersenyum terkikuk.


            “Mau dianter ke ruangan Bu Bela


nggak, neng?” tanya pak satpam setelah dua detik menertawakan dirinya yang


menyangka Bianca anak SMP.


            “Tidak usah, pak. Tapi saya bisa


tahu ruangan mama dimana?” tanya Bianca sopan.


            “Oh, kamu tanya saja di meja


resepsionis. Di sebelah kanan pintu masuk,” jelas pak satpam.


            Bianca mengangguk tanda paham,


“Begitu, ya, pak. Terima kasih banyak,” ucap akhir Bianca menundukkan punggung


badan sebagai rasa sopan.


            “Sama-sama, neng.” Pak satpam


tersenyum santun, berbalik badan menuju ruang jaga posnya.


            ---


             Halaman kantor berjarak jauh dari ruang pos


jaga satpam, karena memang ukuran halaman yang luas, beberapa motor berjejer


rapi di tempat parkir, mobil-mobil mewah- termasuk mobil hitam milik Mama Bela


berada di deretan mobil. Pintu kaca hitam persegi di dorong Bianca, meja


resepsionis berada di kanan pintu masuk.


            “Selamat siang, dek. Ada yang bisa


kami bantu?” sapa staff resepsionis, kemeja hitamnya membalut tubuh rampingnya,


sanggul rambut rapi di atas kepalanya.


            “Hmm, saya pengen ketemu dengan


mama,” jawab Bianca, sembari matanya melihat sekitar, ya, karena ini pertama


kalinya ia masuk dalam lingkup pekerjaan mamanya.

__ADS_1


            “Mama?” mba staff itu balik bertanya


bingung.


            Bianca menoleh, “Eh, maksud saya Ibu


Bela, mba.” gadis itu menepuk jidat, memang mamanya seorang artis, seenaknya


berucap.


            “Oh, kamu anaknya Bu Bela?” tanya


mba staffnya lagi, tangannya membalik lembar buku besar, mengamati jadwal yang


tertulis.


            “Iya, mba,”


            “Bu Bela lagi rapat penting. Mungkin


akan selesai tiga puluh menit lagi. Kamu mau nunggu dimana?” jelas mba staff


menatap Bianca lembut.


            “Boleh nunggu di rooftop, mba?”


            “Boleh, kok. Liftnya ada di sebelah


kiri sana, ya,” jelas mba staff, menunjuk arah belakang Bianca tempat lift


berada.


            “Terima kasih, mba,” ucap Bianca,


tersenyum santun.


            “Sama-sama,” balas mba staff,


tersenyum lebar mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.


            Kantor perusahaan milik Mama Bela


memang luas juga besar, ada sepuluh lantai di dalam bangunan yang di dominasi


kaca itu. Letak bangunan tepat bersebelahan dengan gedung wali kota. Benar,


mamanya. Pada lantai bawah resepsionis memang sepi, hanya ada penjaga meja,


karena memang ini sudah masuk jam kerja siang, juga sedang ada rapat penting


seperti yang mba staff tadi bilang. Bianca lupa melihat name tagnya, karena


sedari masuk gadis itu sibuk mengamati, seperti kebiasannya.


            ---


            Pintu lift terbuka, lift berhenti di


lantai paling atas, lantai 10, tujuan Bianca untuk sampai di rooftop. Di lantai


10 juga sepi, hanya ada office boy yang sedang sibuk mengepel.


            “Maaf, permisi, kak,” ucap Bianca


sesopan mungkin kepada office boy.


            “Iya, kak. Ada yang bisa saya


bantu?” office boy itu menghentikan pekerjannya, balik menatap Bianca.


            “Pintu ke rooftop dimana, ya, kak?”


            “Oh, ada di sana, dek,” office boy


dengan rambut sedikit ikal itu menunjuk dengan tangan kanannya, sedangkan


tangan kirinya memegangi tongkat sapu pel.


            Mata Bianca mengikuti telunjuk


office boy itu, lalu menatap ke rambut ikalnya, “Terima kasih, ya, kak,” Bianca


tersenyum lembut.


            “Oh, iya, sama-sama, dek,” office


boy itu mundur selangkah, memberi jalan Bianca, sangat sopan.


            Bianca berjalan sedikit menunduk

__ADS_1


dengan senyum yang masih sama, sebagai tanda hormat, gadis itu mengawasi setiap


langkah kakinya di lantai, menghindari keramik yang kelihatannya masih basah


setelah di pel. Selain tanda hormat atas kesopanan office boy tadi, rambut


ikalnya mengingatkan Bianca pada seseorang, tentu saja siapa lagi kalau bukan


Given dengan rambut pangkas sedikit ikal itu.


            Di balik pintu berat, sebuah rooftop


luas terpampang di pupil mata hitam Bianca, sepi tidak ada siapapun, hanya ada


tong besar berwarna orange yang berguna untuk menampung air, beberapa sampah


plastik yang terbawa angin. Masih dengan ransel sekolah yang tersampir di


punggungnya, Bianca berlari kecil mendekati pagar pembatas. Rambut hitam


sepunggung atasnya bergerak seirama langkahnya, tangannya memegangi kain rok


yang berkelebat terkena angin rooftop.


            “Parah. Tempat sebagus ini kok


sepi,” gumam Bianca, tangan kirinya kini sudah memegangi pembatas, sementara


tangan kanannya di atas kepala, menghalau terik matahari yang menyengat di


siang hari.


            Karena penyuka permainan bianglala,


otomatis Bianca juga suka ketinggian. Dari ketinggian kalian bisa menampung


banyak pemandangan, bangunan kota yang berserakan, tiang-tiang listrik yang


tinggi menjulang, bermacam ekpresi orang yang berlalu lalang di jalanan. Sesuatu


yang mungkin akan menghantarmu pada keikhlasan, terpaan angin ketinggian yang


bisa saja menerbangkan segala beban di dada.


            Bianca memejamkan mata, mendongakkan


kepala ke atas, menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Setiap


berada di ketinggian, gadis bermata bulat itu akan melakukan ritual seperti


tadi, mencoba meluruhkan segala yang memberatkan, baginya dengan begitu ia


mampu menerima apa yang sudah terjadi. Ingatan akan perceraian, sosok papanya


yang engga kembali, sekarang sudah sedikit melegakan.


            Lalu sedetik setelah itu Bianca tiba-tiba


teringat nomor Given, entah bagaimana cara kerja otaknyan yang tanpa prediksi


bisa kepikiran Given. Segera Bianca beranjak dari tepi rooftop, mencari tempat


teduh agar terhindar silau matahari. Lalu cepat membuka tas, mencari buku


tugasnya, membalikkanya pada halaman belakang dimana coretan nomor Given,


ketemu. Tidak lupa meraih ponsel di saku seragam putihnya, dipencetnya tombol


kecil di sisi kanan ponsel, menyala.


            Tidak perlu banyak waktu, nomor


Given sudah masuk dan tersimpan pada daftar kontak ponsel Bianca. Sekarang


tinggalah mengirim pesan yang lebih sulit ketimbang meminta nomor ponsel. Aplikasi


whatsapp masih menyala memperlihatkan room chat Given, namun belum ada sebuah


pesan yang akan dikirim.


            Bianca melamun, menatap ke depan


sejauh mata memandang, berpikir sekeras mungkin.


 


---


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannyam ya, kak. Terima kasih. Salam bumi literasi dari Aksara Raya:)

__ADS_1


__ADS_2