
[Gapapa,
cuma sebentar saja ini,]
“Ya sudah, Bianca otw ke situ,”
Sambungan terputuskan oleh Bianca. Tidak
ada mobil jemputan, maka Bianca harus mandiri untuk memesan ojek online lagi,
jemarinya memainkan layar ponsel, tapi pikirannya mengarah pada Bela, tumben
sekali ia mengajak Bianca ke tempat kerjanya. Memang, selama Bela mengerjakan
bisnis sejak Bianca kecil, baru kali ini ia melibatkan Bianca untuk datang.
Biasanya keduanya tidak terlalu peduli hal privasi, mama dan anak itu tidak
terlalu terbuka sejak perceraian.
---
“Terima kasih, ya, mas,” ucap Bianca
pada mas ojol, menyerahkan helm dan biaya perjalanan.
Bianca berjalan menuju gerbang,
sebelum itu seorang satpan di depan gerbang sudah dahului menghampiri Bianca.
“Maaf, dek. Anak SMP punya keperluan
apa kesini?” tanya Satpam berdiri di hadapan Bianca.
“Ketemu Ibu Bela, pak,”
“Oh, anak Bu Bela. Saya pikir anak
SMP kesesat,” bapak satpam itu terkekeh.
Bianca tersenyum terkikuk.
“Mau dianter ke ruangan Bu Bela
nggak, neng?” tanya pak satpam setelah dua detik menertawakan dirinya yang
menyangka Bianca anak SMP.
“Tidak usah, pak. Tapi saya bisa
tahu ruangan mama dimana?” tanya Bianca sopan.
“Oh, kamu tanya saja di meja
resepsionis. Di sebelah kanan pintu masuk,” jelas pak satpam.
Bianca mengangguk tanda paham,
“Begitu, ya, pak. Terima kasih banyak,” ucap akhir Bianca menundukkan punggung
badan sebagai rasa sopan.
“Sama-sama, neng.” Pak satpam
tersenyum santun, berbalik badan menuju ruang jaga posnya.
---
Halaman kantor berjarak jauh dari ruang pos
jaga satpam, karena memang ukuran halaman yang luas, beberapa motor berjejer
rapi di tempat parkir, mobil-mobil mewah- termasuk mobil hitam milik Mama Bela
berada di deretan mobil. Pintu kaca hitam persegi di dorong Bianca, meja
resepsionis berada di kanan pintu masuk.
“Selamat siang, dek. Ada yang bisa
kami bantu?” sapa staff resepsionis, kemeja hitamnya membalut tubuh rampingnya,
sanggul rambut rapi di atas kepalanya.
“Hmm, saya pengen ketemu dengan
mama,” jawab Bianca, sembari matanya melihat sekitar, ya, karena ini pertama
kalinya ia masuk dalam lingkup pekerjaan mamanya.
__ADS_1
“Mama?” mba staff itu balik bertanya
bingung.
Bianca menoleh, “Eh, maksud saya Ibu
Bela, mba.” gadis itu menepuk jidat, memang mamanya seorang artis, seenaknya
berucap.
“Oh, kamu anaknya Bu Bela?” tanya
mba staffnya lagi, tangannya membalik lembar buku besar, mengamati jadwal yang
tertulis.
“Iya, mba,”
“Bu Bela lagi rapat penting. Mungkin
akan selesai tiga puluh menit lagi. Kamu mau nunggu dimana?” jelas mba staff
menatap Bianca lembut.
“Boleh nunggu di rooftop, mba?”
“Boleh, kok. Liftnya ada di sebelah
kiri sana, ya,” jelas mba staff, menunjuk arah belakang Bianca tempat lift
berada.
“Terima kasih, mba,” ucap Bianca,
tersenyum santun.
“Sama-sama,” balas mba staff,
tersenyum lebar mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.
Kantor perusahaan milik Mama Bela
memang luas juga besar, ada sepuluh lantai di dalam bangunan yang di dominasi
kaca itu. Letak bangunan tepat bersebelahan dengan gedung wali kota. Benar,
mamanya. Pada lantai bawah resepsionis memang sepi, hanya ada penjaga meja,
karena memang ini sudah masuk jam kerja siang, juga sedang ada rapat penting
seperti yang mba staff tadi bilang. Bianca lupa melihat name tagnya, karena
sedari masuk gadis itu sibuk mengamati, seperti kebiasannya.
---
Pintu lift terbuka, lift berhenti di
lantai paling atas, lantai 10, tujuan Bianca untuk sampai di rooftop. Di lantai
10 juga sepi, hanya ada office boy yang sedang sibuk mengepel.
“Maaf, permisi, kak,” ucap Bianca
sesopan mungkin kepada office boy.
“Iya, kak. Ada yang bisa saya
bantu?” office boy itu menghentikan pekerjannya, balik menatap Bianca.
“Pintu ke rooftop dimana, ya, kak?”
“Oh, ada di sana, dek,” office boy
dengan rambut sedikit ikal itu menunjuk dengan tangan kanannya, sedangkan
tangan kirinya memegangi tongkat sapu pel.
Mata Bianca mengikuti telunjuk
office boy itu, lalu menatap ke rambut ikalnya, “Terima kasih, ya, kak,” Bianca
tersenyum lembut.
“Oh, iya, sama-sama, dek,” office
boy itu mundur selangkah, memberi jalan Bianca, sangat sopan.
Bianca berjalan sedikit menunduk
__ADS_1
dengan senyum yang masih sama, sebagai tanda hormat, gadis itu mengawasi setiap
langkah kakinya di lantai, menghindari keramik yang kelihatannya masih basah
setelah di pel. Selain tanda hormat atas kesopanan office boy tadi, rambut
ikalnya mengingatkan Bianca pada seseorang, tentu saja siapa lagi kalau bukan
Given dengan rambut pangkas sedikit ikal itu.
Di balik pintu berat, sebuah rooftop
luas terpampang di pupil mata hitam Bianca, sepi tidak ada siapapun, hanya ada
tong besar berwarna orange yang berguna untuk menampung air, beberapa sampah
plastik yang terbawa angin. Masih dengan ransel sekolah yang tersampir di
punggungnya, Bianca berlari kecil mendekati pagar pembatas. Rambut hitam
sepunggung atasnya bergerak seirama langkahnya, tangannya memegangi kain rok
yang berkelebat terkena angin rooftop.
“Parah. Tempat sebagus ini kok
sepi,” gumam Bianca, tangan kirinya kini sudah memegangi pembatas, sementara
tangan kanannya di atas kepala, menghalau terik matahari yang menyengat di
siang hari.
Karena penyuka permainan bianglala,
otomatis Bianca juga suka ketinggian. Dari ketinggian kalian bisa menampung
banyak pemandangan, bangunan kota yang berserakan, tiang-tiang listrik yang
tinggi menjulang, bermacam ekpresi orang yang berlalu lalang di jalanan. Sesuatu
yang mungkin akan menghantarmu pada keikhlasan, terpaan angin ketinggian yang
bisa saja menerbangkan segala beban di dada.
Bianca memejamkan mata, mendongakkan
kepala ke atas, menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Setiap
berada di ketinggian, gadis bermata bulat itu akan melakukan ritual seperti
tadi, mencoba meluruhkan segala yang memberatkan, baginya dengan begitu ia
mampu menerima apa yang sudah terjadi. Ingatan akan perceraian, sosok papanya
yang engga kembali, sekarang sudah sedikit melegakan.
Lalu sedetik setelah itu Bianca tiba-tiba
teringat nomor Given, entah bagaimana cara kerja otaknyan yang tanpa prediksi
bisa kepikiran Given. Segera Bianca beranjak dari tepi rooftop, mencari tempat
teduh agar terhindar silau matahari. Lalu cepat membuka tas, mencari buku
tugasnya, membalikkanya pada halaman belakang dimana coretan nomor Given,
ketemu. Tidak lupa meraih ponsel di saku seragam putihnya, dipencetnya tombol
kecil di sisi kanan ponsel, menyala.
Tidak perlu banyak waktu, nomor
Given sudah masuk dan tersimpan pada daftar kontak ponsel Bianca. Sekarang
tinggalah mengirim pesan yang lebih sulit ketimbang meminta nomor ponsel. Aplikasi
whatsapp masih menyala memperlihatkan room chat Given, namun belum ada sebuah
pesan yang akan dikirim.
Bianca melamun, menatap ke depan
sejauh mata memandang, berpikir sekeras mungkin.
---
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannyam ya, kak. Terima kasih. Salam bumi literasi dari Aksara Raya:)
__ADS_1