Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Sampai di rumah


__ADS_3

“Kamu mau naik ojek online apa di sopirin pakai mobil mama?” tanya Bela , selepas


Bianca memasukkan dokumen, dan mengambil buku novel.


            “Sopirin, ya, ma,”


            “Ya sudah. Ini kunci mobilnya, kamu


minta anter satpam di depan, ya.” Bela mengambil kunci mobil yang berada di


saku kemejanya, menyerahkan pada Bianca.


            Segera Bianca bersiap, mengkaitkan


tali tasnya, menenteng buku novel, memasukkan kembali ponsel ke saku, biarlah


pesan Given, masih bisa dibalas nanti sampai di rumah, lebih leluasa, begitu


pikir Bianca.


            “Oke. Bianca pulang, ma.” pamit


Bianca, menyalami tangan Bela.


            “Jangan lupa, bilang ke Bi Nur,”


ucap Bela mengingatkan, dibalas anggukan oleh Bianca.


            ---


            Lift sepi, tidak ada yang


menggunakan, hanya ada Bianca saja yang menaiki. Tasnya berasa berat karena dua


tempat arsip itu, entah apa alasan Bela membawa pulang dokumen dengan bantuan


Bianca. Biasanya juga Bela membawa dokumennya sendiri ketika pulang


malam-malam.


             Pintu lift terbuka, berhenti di lantai satu.


Meja resepsionis sudah diganti, mba staff yang melayani Bianca waktu datang


tadi sudah tidak ada di tempat, digantikan oleh staff lain.


            “Bapak satpam,” seru Bianca di depan


pintu pos, masih menenteng novel.


            Seorang satpam keluar, bapak yang


sama yang tadi menanyai Bianca ketika akan masuk.


            “Ya, ada apa, neng?”


            Bianca menunjukkan kunci mobil,


“Ini, pak. Tadi kata mama minta sopirin untuk pulang. Bapak repot tidak?”


            “Oh, boleh. Kebetulan jam jaga saya


sudah selesai, neng,”


            Bianca menyerahkan kunci mobil pada


pak satpam.


            “Tunggu sebentar, ya,” ucap pak


satpam, lalu melenggang pergi, masuk ke dalam halaman kantor, mencari mobil


hitam milik Bela.


            Lima menit kemudian pak satpam


kembali, sudah berada di dalam mobil, mengendarai mobil yang selalu menghantar


Bianca berangkat sekolah.


            “Loh, neng. Tadinya mau saya yang


bukain pintu,” ujar pak satpam, baru saja keluar melihat Bianca sudah memuka


pintu mobil bagian belakang.


            “Gapapa, pak. Cuma buka pintu anak


kelas satu sekolah dasar juga bisa,” guyon Bianca, meski mempunyai fasilitas


mewah, Bianca tidak akan sampai sebegitu lebaynya untuk membuka pintu mobil.


            ---


            Dalam perjalanan.


            “Sekarang jam berapa, pak?” tanya


Bianca, ia lupa memakai jam tangannya.


            “Setengah dua lebih, neng,” jawab


pak satpam, matanya tetap fokus pada jalanan kota.


            Bianca mengangguk, memainkan buku


novelnya, menggesek lembar tebalnya menggunakan jari, ‘Baru saja sampai halaman


lima. Menyebalkan,” Bianca menggerutu dalam hati. Selama tiga hari hanya sampai

__ADS_1


halaman lima, padahal biasanya tiga hari membaca novel gadis itu sudah bisa


mencapai bab akhir untuk tebal novel yang medium, sekitar empat ratus lebih


halaman.


            “Berarti masih sejam lagi, ya, pak?”


            “Iya, neng,” pak satpam menoleh ke


belakang. Di depan sedang lampu merah.


            Bianca bergeser ke sisi tepi jok,


menopang dagu pada paha kakinya, melihat ke luar jendela.


            Matahari masih terik, belum terlalu


banyak pengendara, memang belum waktunya jam kantor pulang. Lampu merah sudah


digantikan dengan lampu hijau, pak satpam menginjak gas, mobil kembali berjalan


bersama beberapa kendaraan lainnya.


            Satu jam tanpa disadari.


            “Sudah sampai, neng,”


            Bianca baru tersadar dari kegiatannya


menatap luar dari kaca mobil, mengamati orang-orang yang berdiri menunggu


angkutan kota, rumah-rumah orang sepanjang jalan.


            “Kuncinya tolong balikkin ke mama,


ya, pak. Nanti saya akan konfirmasi ke mama. Terima kasih banya, pak,” ucap


Bianca sebelum keluar mobil.


            “Siap, neng,” jawab pak satpam,


menoleh ke belakang, tangannya memberi hormat singkat.


            “Hati-hati, pak,”


            Mobil melenggang pergi, Bianca berbalik,


membuka pintu gerbang, buru-buru berjalan masuk ke rumah.


            “Non, makan dulu,” seru Bi Nur dari


ambang pintu belakang yang melihat Bianca bergegas naik ke atas, masuk ke


kamarnya.


            “Nanti saja, Bi,” teriak Bianca


            ---


            Clak


            Pintu terkunci. Buru-buru gadis itu


mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya. Bianca masih ingat, ponselnya stay on


pada room chat Given, tidak sempat memencet tombol back saat dipergoki Bela


tadi.


            ‘Aduh, sekarang harus balas apa,


dong,”


            Bianca menggerutu sendiri, memukul


pelan novel dipangkuannya. Ah, tahu deh.


            *Kak Giveen


            [Hehe, save ya, kak. Bianca Lala]


            Terkirim. Tidak ada hitungan detik


dibawah nama Given berubah menjadi tulisan ‘mengetik’.


            Bianca membelakkan mata. Hei,


secepat itu. Lalu sebuah pesan masuk.


            [Sudah. Btw nama lo hampir sama


kayak bianglala pas kita ketemu itu, ya]


            Kenapa bisa Given sepeka itu tentang


nama Bianca. Oke. Kontrol diri, Bi. Tetap tenang.


            [Iya, kak. Gue emang suka naik


bianglala]


            Balasan cepat lagi.


            [Oh. Lu suka festival pasar malam


gitu?]


            [Suka. Cuma untuk naik bianglala

__ADS_1


sama beli arum manis, terus sudah]


            Belum terjawab. Bianca tetap


menunggu, stay on room chat Given. Lima menit kemudian baru terbalas, rasanya


seperti lima jam bagi Bianca.


            [Kalau gitu. Lo mau arum manis?]


            Bianca mengerutkan kening membaca


pesan dari Given. Lalu mengibaskan tangan ke depan mukanya, ah mungkin juga


bercandaan, batinnya.


            [Mau, kak]


            [Oke. Besok, ya]


            Eh. Bianca terdiam. Mengerutkan


kening lagi, bingung.


            [Kak Given bercanda, kan?]


            [Liat saja besok]


            Jemari Bianca sudah siap mengetik,


persis dengan suara Bi Nur yang ada di depan pintu kamar terdengar.


            “Non Bianca. Makan dulu. Oh, iya,


tadi nyonya telepon katanya ada sesuatu yang harus di simpan”


            Bianca menghela napas, menepuk


jidatnya. Karena terlalu bersemangat tentang Given, ia sampai lupa barang


titipan mamanya. Tepat juga cacing di dalam perutnya bersuara, di sekolah tadi


ia juga tidak sempat ke kantin.


            “Iya, bi. Sebentar lagi Bianca


turun. Masih ganti pakaian,”


            “Iya, non”


            Bi Nur mempercayai saja ucapan


Bianca, ia kembali pada pekerjannya.


            [Ya sudah, kak. Gue mau makan dulu]


            [Banyak-banyak makan, biar gede.


Jangan telat]


            Refleks Bianca berdiri, menjatuhkan


bukuu novelnya, menimpa kaki kecilnya, ‘aduh’ Bianca menggerutu, mengambil buku


novel, memukulkan pada pahanya sendiri. Sakit, sih. Perhatan Given membuat


Bianca salah tingkah, sama seperti waktu tidak sengaja bertemu di bianglala


itu.


            Bianca gregetan, melempar novel ke


sembarang arah kasur, meremas rok seragamnya yang belum diganti.


            [Bianca]


            Sebuah pesan masuk, dari Bela.


            [Berkasnya kasih ke Bi Nur]


            [Bianca Lala]


            Bela menyepam pesan karena anaknya


yang masih kegilaan. Tersenyum-senyum sendiri. Tidak cukup waras. Begitulah


kalau sudah kehipnotis oleh Given.


            [Eh, iya, ma. Ini mau dikasih. Kunci


mobilnya sudah, kan?]


            [Iya, sudah]


            Read. Bianca langsung mengusap tombol


home, mematikan layar ponsel, meletakkannya di nakas dekat jam tangan. Kali ini


ia harus benar-benar waras, jangan dulu kehipnotis sebelum menyelesaikan amanat


dari Mama Bela.


            Dengan cepat gadis itu berganti


pakaian, kaos hitam, celana selutut, tidak lupa menyisir rambut yang masih


terlihat berantakan akibat naik rooftop tadi, menguncirnya jadi satu. Lalu


mengambil arsip dokumen titipan mamanya yang di dalam tas.

__ADS_1


---


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2