
“Kamu mau naik ojek online apa di sopirin pakai mobil mama?” tanya Bela , selepas
Bianca memasukkan dokumen, dan mengambil buku novel.
“Sopirin, ya, ma,”
“Ya sudah. Ini kunci mobilnya, kamu
minta anter satpam di depan, ya.” Bela mengambil kunci mobil yang berada di
saku kemejanya, menyerahkan pada Bianca.
Segera Bianca bersiap, mengkaitkan
tali tasnya, menenteng buku novel, memasukkan kembali ponsel ke saku, biarlah
pesan Given, masih bisa dibalas nanti sampai di rumah, lebih leluasa, begitu
pikir Bianca.
“Oke. Bianca pulang, ma.” pamit
Bianca, menyalami tangan Bela.
“Jangan lupa, bilang ke Bi Nur,”
ucap Bela mengingatkan, dibalas anggukan oleh Bianca.
---
Lift sepi, tidak ada yang
menggunakan, hanya ada Bianca saja yang menaiki. Tasnya berasa berat karena dua
tempat arsip itu, entah apa alasan Bela membawa pulang dokumen dengan bantuan
Bianca. Biasanya juga Bela membawa dokumennya sendiri ketika pulang
malam-malam.
Pintu lift terbuka, berhenti di lantai satu.
Meja resepsionis sudah diganti, mba staff yang melayani Bianca waktu datang
tadi sudah tidak ada di tempat, digantikan oleh staff lain.
“Bapak satpam,” seru Bianca di depan
pintu pos, masih menenteng novel.
Seorang satpam keluar, bapak yang
sama yang tadi menanyai Bianca ketika akan masuk.
“Ya, ada apa, neng?”
Bianca menunjukkan kunci mobil,
“Ini, pak. Tadi kata mama minta sopirin untuk pulang. Bapak repot tidak?”
“Oh, boleh. Kebetulan jam jaga saya
sudah selesai, neng,”
Bianca menyerahkan kunci mobil pada
pak satpam.
“Tunggu sebentar, ya,” ucap pak
satpam, lalu melenggang pergi, masuk ke dalam halaman kantor, mencari mobil
hitam milik Bela.
Lima menit kemudian pak satpam
kembali, sudah berada di dalam mobil, mengendarai mobil yang selalu menghantar
Bianca berangkat sekolah.
“Loh, neng. Tadinya mau saya yang
bukain pintu,” ujar pak satpam, baru saja keluar melihat Bianca sudah memuka
pintu mobil bagian belakang.
“Gapapa, pak. Cuma buka pintu anak
kelas satu sekolah dasar juga bisa,” guyon Bianca, meski mempunyai fasilitas
mewah, Bianca tidak akan sampai sebegitu lebaynya untuk membuka pintu mobil.
---
Dalam perjalanan.
“Sekarang jam berapa, pak?” tanya
Bianca, ia lupa memakai jam tangannya.
“Setengah dua lebih, neng,” jawab
pak satpam, matanya tetap fokus pada jalanan kota.
Bianca mengangguk, memainkan buku
novelnya, menggesek lembar tebalnya menggunakan jari, ‘Baru saja sampai halaman
lima. Menyebalkan,” Bianca menggerutu dalam hati. Selama tiga hari hanya sampai
__ADS_1
halaman lima, padahal biasanya tiga hari membaca novel gadis itu sudah bisa
mencapai bab akhir untuk tebal novel yang medium, sekitar empat ratus lebih
halaman.
“Berarti masih sejam lagi, ya, pak?”
“Iya, neng,” pak satpam menoleh ke
belakang. Di depan sedang lampu merah.
Bianca bergeser ke sisi tepi jok,
menopang dagu pada paha kakinya, melihat ke luar jendela.
Matahari masih terik, belum terlalu
banyak pengendara, memang belum waktunya jam kantor pulang. Lampu merah sudah
digantikan dengan lampu hijau, pak satpam menginjak gas, mobil kembali berjalan
bersama beberapa kendaraan lainnya.
Satu jam tanpa disadari.
“Sudah sampai, neng,”
Bianca baru tersadar dari kegiatannya
menatap luar dari kaca mobil, mengamati orang-orang yang berdiri menunggu
angkutan kota, rumah-rumah orang sepanjang jalan.
“Kuncinya tolong balikkin ke mama,
ya, pak. Nanti saya akan konfirmasi ke mama. Terima kasih banya, pak,” ucap
Bianca sebelum keluar mobil.
“Siap, neng,” jawab pak satpam,
menoleh ke belakang, tangannya memberi hormat singkat.
“Hati-hati, pak,”
Mobil melenggang pergi, Bianca berbalik,
membuka pintu gerbang, buru-buru berjalan masuk ke rumah.
“Non, makan dulu,” seru Bi Nur dari
ambang pintu belakang yang melihat Bianca bergegas naik ke atas, masuk ke
kamarnya.
“Nanti saja, Bi,” teriak Bianca
---
Clak
Pintu terkunci. Buru-buru gadis itu
mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya. Bianca masih ingat, ponselnya stay on
pada room chat Given, tidak sempat memencet tombol back saat dipergoki Bela
tadi.
‘Aduh, sekarang harus balas apa,
dong,”
Bianca menggerutu sendiri, memukul
pelan novel dipangkuannya. Ah, tahu deh.
*Kak Giveen
[Hehe, save ya, kak. Bianca Lala]
Terkirim. Tidak ada hitungan detik
dibawah nama Given berubah menjadi tulisan ‘mengetik’.
Bianca membelakkan mata. Hei,
secepat itu. Lalu sebuah pesan masuk.
[Sudah. Btw nama lo hampir sama
kayak bianglala pas kita ketemu itu, ya]
Kenapa bisa Given sepeka itu tentang
nama Bianca. Oke. Kontrol diri, Bi. Tetap tenang.
[Iya, kak. Gue emang suka naik
bianglala]
Balasan cepat lagi.
[Oh. Lu suka festival pasar malam
gitu?]
[Suka. Cuma untuk naik bianglala
__ADS_1
sama beli arum manis, terus sudah]
Belum terjawab. Bianca tetap
menunggu, stay on room chat Given. Lima menit kemudian baru terbalas, rasanya
seperti lima jam bagi Bianca.
[Kalau gitu. Lo mau arum manis?]
Bianca mengerutkan kening membaca
pesan dari Given. Lalu mengibaskan tangan ke depan mukanya, ah mungkin juga
bercandaan, batinnya.
[Mau, kak]
[Oke. Besok, ya]
Eh. Bianca terdiam. Mengerutkan
kening lagi, bingung.
[Kak Given bercanda, kan?]
[Liat saja besok]
Jemari Bianca sudah siap mengetik,
persis dengan suara Bi Nur yang ada di depan pintu kamar terdengar.
“Non Bianca. Makan dulu. Oh, iya,
tadi nyonya telepon katanya ada sesuatu yang harus di simpan”
Bianca menghela napas, menepuk
jidatnya. Karena terlalu bersemangat tentang Given, ia sampai lupa barang
titipan mamanya. Tepat juga cacing di dalam perutnya bersuara, di sekolah tadi
ia juga tidak sempat ke kantin.
“Iya, bi. Sebentar lagi Bianca
turun. Masih ganti pakaian,”
“Iya, non”
Bi Nur mempercayai saja ucapan
Bianca, ia kembali pada pekerjannya.
[Ya sudah, kak. Gue mau makan dulu]
[Banyak-banyak makan, biar gede.
Jangan telat]
Refleks Bianca berdiri, menjatuhkan
bukuu novelnya, menimpa kaki kecilnya, ‘aduh’ Bianca menggerutu, mengambil buku
novel, memukulkan pada pahanya sendiri. Sakit, sih. Perhatan Given membuat
Bianca salah tingkah, sama seperti waktu tidak sengaja bertemu di bianglala
itu.
Bianca gregetan, melempar novel ke
sembarang arah kasur, meremas rok seragamnya yang belum diganti.
[Bianca]
Sebuah pesan masuk, dari Bela.
[Berkasnya kasih ke Bi Nur]
[Bianca Lala]
Bela menyepam pesan karena anaknya
yang masih kegilaan. Tersenyum-senyum sendiri. Tidak cukup waras. Begitulah
kalau sudah kehipnotis oleh Given.
[Eh, iya, ma. Ini mau dikasih. Kunci
mobilnya sudah, kan?]
[Iya, sudah]
Read. Bianca langsung mengusap tombol
home, mematikan layar ponsel, meletakkannya di nakas dekat jam tangan. Kali ini
ia harus benar-benar waras, jangan dulu kehipnotis sebelum menyelesaikan amanat
dari Mama Bela.
Dengan cepat gadis itu berganti
pakaian, kaos hitam, celana selutut, tidak lupa menyisir rambut yang masih
terlihat berantakan akibat naik rooftop tadi, menguncirnya jadi satu. Lalu
mengambil arsip dokumen titipan mamanya yang di dalam tas.
__ADS_1
---
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)