Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Telepon dari Bela


__ADS_3

            Sebelum keluar kelas untuk menuju


aula, siswa inisiatif melepas sepatu mereka di dalam kelas, menaruhnya di bawah


tempat duduk masing-masing, tidak mau lagi kalau harus berdempetan, berebut


saling dorong, bingung mencari dimana letak sepatu sebelahnya, seperti ketika


istirahat tadi.


            “Ayok, buruan, Sof!” ajak Bianca,


menggandeng tangan Sofia, menariknya untuk cepat keluar kelas.


            Sofia berdecak sebal, karena diseret


ia tidak bisa menempatkan kaos kakinya ke dalam sepatu, yang pada akhirnya


karena seretan Sofia asal lempar saja.


            “Lo kenapa, sih?” tanya Sofia sebal,


memijat pergelangannya, sudah dua kali lengannya mendapat cengkraman dari


Bianca.


            Keduanya sudah berjalan menuju aula


“Biasanya juga milih jalan paling akhir,”


            Bianca diem sejenak, “Gue engga mau


ketemu Kak Given kalau jalan belakang sendiri,”


            Sofia ber-oh pelan, memperhatikan


jalan di depannya setelah menuruni anak tangga. Lantai lorong bawah ramai


disesaki anak-anak yang mengular melangkah ke aula, kompak bertelanjang kaki,


degung sahutan memenuhi lorong.


            Sepanjang berjalan dari ujung lorong


lantai bawah menuruni anak tangga, semula berjalan lancar, hingga ketika hampir


sampai pintu aula, setelah melewati taman air mancur, suasana jadi berubah. Sofia


ikut menyadari pergantian hawa, terlebih bagi Bianca. Di sana, di bangku depan


aula dekat pintu masuk pertama, terdapat Given tengah berbincang dengan Tama,


Lala, dan beberapa orang yang Bianca belum kenal.


            Bianca menarik nafas panjang, merapal


doa apa saja yang terlintas dalam kepalanya. Semakin mendekati keberadaan Given,


Bianca yang sudah ancang-ancang untuk menyumpel dalam barisan, berusaha tidak


terlihat, mengurungkan gerakan ketika Given malah balik menatapnya. Sofia yang


berada di tengah adegan itu menyenggol lengan Bianca, menyadarkan gadis itu


agar tidak nampak bodoh, dibalas dengan desisan pelan dari Bianca. Persis tepat


melewati Given yang tetap menatapnya, Bianca menahan nafas, hanya senyum kaku


yang tergambar di raut muka gadis penyuka bianglala itu. Mau bagaimana lagi,


mau seolah tidak melihat Given juga mustahil, meski tadi Bianca sempat dibuat


sebal juga merasa ingin mati oleh Given di anak tangga.


            Berhasil melewati Given, Bianca


mengatur nafas, menormalkan kembali detak jantungnya. Sekarang Bianca dan Sofia


sudah masuk ke dalam barisan, duduk di tempatnya semula, bersamaan dengan


ratusan murid lainnya.


            “Lo kayak maling yang abis ketanggap


basah saja, Bi, Bi” gumam Sofia, selagi materi belum dimulai.

__ADS_1


            Bianca menatap malas, “Lo malah


ngeledek, bukannya bantu gue sembunyi tadi, nutup-nutupin, kek” balas Bianca.


            Sofia cengengesan, “Sebenarnya mau


gitu, tapi keburu Kak Givennya lihat ke kita. Engga berani lah gue,”


            Tanpa ampun, Bianca segera mencubit


lengan atas Sofia, membuat gadis itu merintih kesakitan, memijat lengannya


sendiri, kalau dihitung mungkin Sofia sudah tiga kali ini memijat pergelangan


tangannya karena ulah Bianca. Antara Sofia dan Bianca mungkin sudahlah impas. Sebab


Sofia juga, Bianca bisa masuk lebih dalam ke jurang milik Given, seperti contoh


ide meminta nomor Given hari kemarin, juga tadi waktu Sofia sengaja


meninggalkan Bianca sendirian menghadapi Given.


            Sedetik kemudian, Bapak Handoko-


selaku kepala kepolisian sektor masuk ke dalam aula bersama rekannya, sementara


bapak pembawa acara yang diketahui bernama Pak Heru itu, kali ini tidak


kelihatan membawa mic di ambang pintu.


            Setelah perkenalan dua anak perusuh


ketika jam pertama tadi, pelajaran dimulai, LCD proyektor yang dibawa rekan Pak


Handoko menampilkan sebuah film pendek. Tema pelajaran hari ini pastinya


tentang peraturan lalu lintas, tindak kejahatan, pelanggaran pemakaian


narkotika.


            ---


            Dua jam berlalu, pelajaran berakhir


dulu pamit keluar. Masukklah Pak Heru, membuat seluruh anak mengeluh, tidak


sabaran ingin pulang. Pak Heru hanya memberi info untuk besok pagi masih tetap


materi di aula, membawa alat tulis, siswa dibubarkan.


            “Lo engga mau bareng sama gue, Bi?”


tawar Sofia, ia kasian kalau harus meninggalkan Bianca sendirian menunggu


jemputan.


            “Engga usah, beda jalur, ngerepotin


lo puter balik,” jawab Bianca cepat sembari menyelesaikan menali sepatunya.


            Satu persatu siswa keluar kelas,


saling memberi ucapan pamit pulang dahulu, sesekali Bianca juga menjawab


kalimat pamit teman-temannya. Sudah hari ketiga dalam masa orientasi, membuat


seluruh kelas adenium semakin akrab, beberapa malah juga sudah asyik


bergerombol dengan kelas lain kalau ada kesempatan.


            “Buku lo aman, kan?” tanya Sofia


memastikan.


            “Sudah, kok,” jawab Bianca,


kepalanya menoleh ke belakang tas ranselnya, tangannya menutup pintu kelas.


Barang siapa yang terakhir keluar kelas, ia akan kebagian untuk menutup pintu


kelas, begitu kesepakatan kelas adenium.


            ---


            Lapangan sepi ketika Bianca dan

__ADS_1


Sofia melewati, hanya ada tiga kakak panitia yang duduk-duduk dibawah tiang


bendera. Lorong gerbang utama apalagi, lenggang, tidak ada siapapun, mungkin


para panitia dan staff sedang rapat siang ini.


            “Eh, Bi. Lo tahu engga anak kelas


sebelah ada yang suka sama lo,” seru Sofia ketika keduanya sudah sampai di


depan gerbang, duduk pada bangku samping gerbang.


            Bianca tidak terlalu menanggapi, ia


membuka tas, mengeluarkan ponsel yang hari ini jarang ia pegang.


            “Nanti-nanti juga engga akan suka


lagi,” ucap Bianca, jemarinya sibuk membuka aplikasi ojek online.


            Sofia mengangkat bahu, merasa aneh


dengan teman sebangkunya. Ada gitu orang yang digandrungi banyak cowo, dikenal


banyak orang, malah merasa tidak ada artinya bagi dirinya. Biasanya seseorang


akan sangat senang, bangga, kalau dirinya disukai dan menjadi famous


dikalangannya, bahkan bisa jadi lebih. Namun, semua bagi Bianca  tidak ada apa-apanya, ia sudah cukup muak


untuk dikagumi banyak orang, menjadi sorotan pasang mata.


            “Gue sudah pesan ojek, nih. Lo mau


di sini aja apa pulang?” ujar Bianca, setelah hening di antara keduanya.


            “Eh, pulanglah. Males banget gue


jadi penunggu sekolahan,”


            Sofia beranjak berdiri, berucap


pamit kepada Bianca, lalu segera melangkah ke parkiran depan sekolah.


            Sekarang tinggal Bianca yang


kebingunan, layar ponselnya dibiarkan membuka aplikasi ojek online, tapi belum


juga memesan. Iya, Bianca terpaksa bohong pada Sofia agar gadis itu bisa


pulang. Ia melirik jam pada pojok layar ponsel, tiba-tiba dering ponsel berbunyi,


sebuah telepon masuk. Tertera tulisan ‘Mama Bela’ di layar ponsel, Bianca


sempat berpikir sejenak, ada apa mamanya menelepon siang-siang begini, bukannya


ia bilang tidak bisa menjemput Bianca sampai entah kapan karena bisnisnya.


            “Halo, ma,” sapa Bianca dulu.


            [Kamu dimana, Bianca?]


            “Masih di sekolah, mah. Ini Bianca


mau pulang,”


            [Kamu ke kantor mama dulu, ya,]


            Tumbenan, ada apa Mama Bela segala


menyuruh Bianca menemuinya di kantor, padahal biasanya Mama Bela tidak pernah


melibatkan Bianca dalam urusan pekerjannya.


            [Bianca?] suara Mama Bela


menyadarkan Bianca yang masih berpikir.


            “Eh, iya, mah. Tapi Bianca masih


pakai seragam sekolah,”


---


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)

__ADS_1


__ADS_2