
Sebelum keluar kelas untuk menuju
aula, siswa inisiatif melepas sepatu mereka di dalam kelas, menaruhnya di bawah
tempat duduk masing-masing, tidak mau lagi kalau harus berdempetan, berebut
saling dorong, bingung mencari dimana letak sepatu sebelahnya, seperti ketika
istirahat tadi.
“Ayok, buruan, Sof!” ajak Bianca,
menggandeng tangan Sofia, menariknya untuk cepat keluar kelas.
Sofia berdecak sebal, karena diseret
ia tidak bisa menempatkan kaos kakinya ke dalam sepatu, yang pada akhirnya
karena seretan Sofia asal lempar saja.
“Lo kenapa, sih?” tanya Sofia sebal,
memijat pergelangannya, sudah dua kali lengannya mendapat cengkraman dari
Bianca.
Keduanya sudah berjalan menuju aula
“Biasanya juga milih jalan paling akhir,”
Bianca diem sejenak, “Gue engga mau
ketemu Kak Given kalau jalan belakang sendiri,”
Sofia ber-oh pelan, memperhatikan
jalan di depannya setelah menuruni anak tangga. Lantai lorong bawah ramai
disesaki anak-anak yang mengular melangkah ke aula, kompak bertelanjang kaki,
degung sahutan memenuhi lorong.
Sepanjang berjalan dari ujung lorong
lantai bawah menuruni anak tangga, semula berjalan lancar, hingga ketika hampir
sampai pintu aula, setelah melewati taman air mancur, suasana jadi berubah. Sofia
ikut menyadari pergantian hawa, terlebih bagi Bianca. Di sana, di bangku depan
aula dekat pintu masuk pertama, terdapat Given tengah berbincang dengan Tama,
Lala, dan beberapa orang yang Bianca belum kenal.
Bianca menarik nafas panjang, merapal
doa apa saja yang terlintas dalam kepalanya. Semakin mendekati keberadaan Given,
Bianca yang sudah ancang-ancang untuk menyumpel dalam barisan, berusaha tidak
terlihat, mengurungkan gerakan ketika Given malah balik menatapnya. Sofia yang
berada di tengah adegan itu menyenggol lengan Bianca, menyadarkan gadis itu
agar tidak nampak bodoh, dibalas dengan desisan pelan dari Bianca. Persis tepat
melewati Given yang tetap menatapnya, Bianca menahan nafas, hanya senyum kaku
yang tergambar di raut muka gadis penyuka bianglala itu. Mau bagaimana lagi,
mau seolah tidak melihat Given juga mustahil, meski tadi Bianca sempat dibuat
sebal juga merasa ingin mati oleh Given di anak tangga.
Berhasil melewati Given, Bianca
mengatur nafas, menormalkan kembali detak jantungnya. Sekarang Bianca dan Sofia
sudah masuk ke dalam barisan, duduk di tempatnya semula, bersamaan dengan
ratusan murid lainnya.
“Lo kayak maling yang abis ketanggap
basah saja, Bi, Bi” gumam Sofia, selagi materi belum dimulai.
__ADS_1
Bianca menatap malas, “Lo malah
ngeledek, bukannya bantu gue sembunyi tadi, nutup-nutupin, kek” balas Bianca.
Sofia cengengesan, “Sebenarnya mau
gitu, tapi keburu Kak Givennya lihat ke kita. Engga berani lah gue,”
Tanpa ampun, Bianca segera mencubit
lengan atas Sofia, membuat gadis itu merintih kesakitan, memijat lengannya
sendiri, kalau dihitung mungkin Sofia sudah tiga kali ini memijat pergelangan
tangannya karena ulah Bianca. Antara Sofia dan Bianca mungkin sudahlah impas. Sebab
Sofia juga, Bianca bisa masuk lebih dalam ke jurang milik Given, seperti contoh
ide meminta nomor Given hari kemarin, juga tadi waktu Sofia sengaja
meninggalkan Bianca sendirian menghadapi Given.
Sedetik kemudian, Bapak Handoko-
selaku kepala kepolisian sektor masuk ke dalam aula bersama rekannya, sementara
bapak pembawa acara yang diketahui bernama Pak Heru itu, kali ini tidak
kelihatan membawa mic di ambang pintu.
Setelah perkenalan dua anak perusuh
ketika jam pertama tadi, pelajaran dimulai, LCD proyektor yang dibawa rekan Pak
Handoko menampilkan sebuah film pendek. Tema pelajaran hari ini pastinya
tentang peraturan lalu lintas, tindak kejahatan, pelanggaran pemakaian
narkotika.
---
Dua jam berlalu, pelajaran berakhir
dulu pamit keluar. Masukklah Pak Heru, membuat seluruh anak mengeluh, tidak
sabaran ingin pulang. Pak Heru hanya memberi info untuk besok pagi masih tetap
materi di aula, membawa alat tulis, siswa dibubarkan.
“Lo engga mau bareng sama gue, Bi?”
tawar Sofia, ia kasian kalau harus meninggalkan Bianca sendirian menunggu
jemputan.
“Engga usah, beda jalur, ngerepotin
lo puter balik,” jawab Bianca cepat sembari menyelesaikan menali sepatunya.
Satu persatu siswa keluar kelas,
saling memberi ucapan pamit pulang dahulu, sesekali Bianca juga menjawab
kalimat pamit teman-temannya. Sudah hari ketiga dalam masa orientasi, membuat
seluruh kelas adenium semakin akrab, beberapa malah juga sudah asyik
bergerombol dengan kelas lain kalau ada kesempatan.
“Buku lo aman, kan?” tanya Sofia
memastikan.
“Sudah, kok,” jawab Bianca,
kepalanya menoleh ke belakang tas ranselnya, tangannya menutup pintu kelas.
Barang siapa yang terakhir keluar kelas, ia akan kebagian untuk menutup pintu
kelas, begitu kesepakatan kelas adenium.
---
Lapangan sepi ketika Bianca dan
__ADS_1
Sofia melewati, hanya ada tiga kakak panitia yang duduk-duduk dibawah tiang
bendera. Lorong gerbang utama apalagi, lenggang, tidak ada siapapun, mungkin
para panitia dan staff sedang rapat siang ini.
“Eh, Bi. Lo tahu engga anak kelas
sebelah ada yang suka sama lo,” seru Sofia ketika keduanya sudah sampai di
depan gerbang, duduk pada bangku samping gerbang.
Bianca tidak terlalu menanggapi, ia
membuka tas, mengeluarkan ponsel yang hari ini jarang ia pegang.
“Nanti-nanti juga engga akan suka
lagi,” ucap Bianca, jemarinya sibuk membuka aplikasi ojek online.
Sofia mengangkat bahu, merasa aneh
dengan teman sebangkunya. Ada gitu orang yang digandrungi banyak cowo, dikenal
banyak orang, malah merasa tidak ada artinya bagi dirinya. Biasanya seseorang
akan sangat senang, bangga, kalau dirinya disukai dan menjadi famous
dikalangannya, bahkan bisa jadi lebih. Namun, semua bagi Bianca tidak ada apa-apanya, ia sudah cukup muak
untuk dikagumi banyak orang, menjadi sorotan pasang mata.
“Gue sudah pesan ojek, nih. Lo mau
di sini aja apa pulang?” ujar Bianca, setelah hening di antara keduanya.
“Eh, pulanglah. Males banget gue
jadi penunggu sekolahan,”
Sofia beranjak berdiri, berucap
pamit kepada Bianca, lalu segera melangkah ke parkiran depan sekolah.
Sekarang tinggal Bianca yang
kebingunan, layar ponselnya dibiarkan membuka aplikasi ojek online, tapi belum
juga memesan. Iya, Bianca terpaksa bohong pada Sofia agar gadis itu bisa
pulang. Ia melirik jam pada pojok layar ponsel, tiba-tiba dering ponsel berbunyi,
sebuah telepon masuk. Tertera tulisan ‘Mama Bela’ di layar ponsel, Bianca
sempat berpikir sejenak, ada apa mamanya menelepon siang-siang begini, bukannya
ia bilang tidak bisa menjemput Bianca sampai entah kapan karena bisnisnya.
“Halo, ma,” sapa Bianca dulu.
[Kamu dimana, Bianca?]
“Masih di sekolah, mah. Ini Bianca
mau pulang,”
[Kamu ke kantor mama dulu, ya,]
Tumbenan, ada apa Mama Bela segala
menyuruh Bianca menemuinya di kantor, padahal biasanya Mama Bela tidak pernah
melibatkan Bianca dalam urusan pekerjannya.
[Bianca?] suara Mama Bela
menyadarkan Bianca yang masih berpikir.
“Eh, iya, mah. Tapi Bianca masih
pakai seragam sekolah,”
---
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)
__ADS_1