
Sudah mencoba berbagai gaya, dari
posisi miring kanan kiri, terlentang, tengkurap, sampai menutupi muka dengan
guling, Bianca tetap tidak bisa memejamkan matanya, yang ia lakukan adalah
berguling- guling tidak jelas di atas kasur miliknya. Kecerobohan atas nomor
Given membuat dirinya merasa menyesal sendiri, menyalahkan atas kepikunan
Bianca yang memang dapat kambuh kapan pun. Hingga suara bi Nur terdengar di
balik pintu kayu kamar Bianca.
“Non, mau makan siang sekarang?”
tanya bi Nur.
“Eh, iya bi. Bianca turun sebentar
lagi” ucap Bianca, tersadar dari lamunan singkatnya.
Bi Nur yang berdiri di balik pintu
kamar menjawab singkat, lalu segera berbalik badan, kembali turun ke lantai
bawah- mungkin meneruskan pekerjaannya. Bianca bangun dari posisi rebahannya, mengucek
mata yang ngantuk tapi tidak bisa dipejamkan, melirik sekilas jam dinding
kamarnya, baru pukul satu lebih. Ponsel Bianca bergetar, menyala di atas nakas
dekat kasur saat Bianca berancang akan berdiri dari ranjang. Diraihnya benda
pipih hitam itu, membuka layar kunci, mengusap bilah notifikasi atas ‘satu
pesan belum terbaca’, Bianca menyentuhnya yang langsung mengarah pada isi chat
whatsapp.
*Sofia
[Gimana, bi? Sudah lo chat kak
Given?] Bianca memutar bola mata malas, menghela nafas kasar.
Bianca mengetik balasan malas [Nomornya
kelupaan di buku tugas bu Risma, Sof]
[Ya ampun, terus bagaimana dong?]
[Iya, tunggu besok saja lah. Sudah,
ya, gue mau makan]
Bianca mengakhiri chat terlebih
dahulu sebelum Sofia semakin menjadi cerewetnya, menanyakan banyak hal yang
Bianca juga tidak tahu jawabannya, itu akan berpengaruh pada isi otak Bianca
sendiri. Benar saja, Bianca sempat melamun tiga puluh detik sebelum akhirnya ia
sadar cacing dalam perutnya bernyanyi sendu meminta asupan makanan. Beranjak
Bianca dari ranjang kasur, meletakkan ponselnya kembali di atas nakas kecil,
berjalan pelan menuju ruang meja makan yang menyatu dengan dapur.
Dapur sepi, tidak ada bi Nur di
tempat, mungkin bi Nur sedang keluar jalan- jalan karena tugasnya telah
selesai. Perkakas tertata rapi sedikit berair, sepertinya benar bi Nur baru
saja menyelesaikan tugas dapurnya dan memilih keluar untuk berkumpul dengan
ibu- ibu tetangga. Bianca meneruskan rencananya masuk ke dapur, mengambil
__ADS_1
piring di rakn, lalu membuka tudung saji warna hijau di atas meja makan- ada
oseng kangkung, ayam bakar, sambal tomat kesukaan Bianca dan nasi putih hangat
yang disediakan untuk Bianca. Bianca menggeser kursi untuk ia duduki, mulai
mengambil menunya sendiri dengan sambal tomat terbanyak. Sepuluh menit, menu
makan siang Bianca ludes masuk ke dalam perut, membuat cacing itu juga berhenti
bermain keroncong, lalu membereskan sisa makanan Bianca, mencuci piring miliknya,
mengembalikannya pada rak piring lagi. Lalu sekarang apa? Bianca bingung harus
melakukan apa, tidak ada kegiatan rumah atau luar rumah yang bisa ia lakukan-
kalau mau menyapu lantai terlalu kesiangan, mencuci baju serta melipat sudah
dilakukan bi Nur, menyiram bunga tidak mungkin karena taman depan rumah tidak
di tanami Bela bunga satu pun.
Sudahlah, jalan satu- satunya adalah
kembali ke dalam habitat Bianca- di dalam kamarnya. Berpetualang ke beranda
media sosial merupakan kegiatan Bianca ketika benar- benar tidak ada kegiatan
positif apapun yang bisa ia kerjakan alias gabut banget. Fase gabut ini sudah
mendarah daging pada kebanyakan remaja pada umunya, atau mungkin orang dewasa
juga pernah mengalaminya. Ketika mereka bingung akan melakukan apa, lalu yang
ada di pikiran mereka adalah keberadaan dunia maya yang luas dapat dijangkau
dengan mudah pada benda pipih persegi panjang. Dengan jari tangan yang sibuk
megusap layar ponsel, sesekali otak Bianca kembali teringat akan nomor Given
yang ketinggalan, dilanjutkan dengan makian kecil dalam hatinya. Satu jam
berlalu, mata lebar Bianca sudah lelah bertatapan dengan cahaya ponsel,
itu berakhir. Jam sudah mengarah pada pukul setengah empat sore, membuat gadis
itu memilih membersihkan diri terlebih dahulu. Siapa tahu tiba- tiba nanti
seseorang mengajaknya jalan di sore hari yang cerah.
Selesai acara bersih diri, Bianca
menanti ketukan pintu atau sebuah pesan masuk dalam benda pipih kesayangannya.
Masih setia menunggu hingga Bianca memutuskan keluar kamar, turun ke lantai
bawah.
“Non Bianca mau kemana?” tanya Bi
Nur yang dari arah belakang melihat Bianca melangkah menuruni anak tangga.
“Engga kemana- kemana, bi. Cuma mau
ke depan aja” jawab Bianca menoleh malas. Bukan karena kehadiran Bi Nur, akan
tetapi karena fase kegabutan Bianca yang sedang kumat.
“Yasudah, kalau nyari bibi, Bi Nur
ada di belakang, ya” ucap Bi Nur dengan senyum, kemudian berbalik.
Bianca meneruskan langkahnya menuju
teras, duduk pada bangku kecil yang terdapat di halaman teras. Mengamati taman
tanpa bunga sejak perceraian orang tuanya, sejak ayah Bianca pergi tanpa
memberi kalimat terakhir untuk Bianca, dan Bela yang tidak akan mengatakan
__ADS_1
apapun pada Bianca soal ayahnya. Yang hanya Bianca tahu, perceraian mereka
hanya masalah sepele, kecil yang seharusnya tidak mengambil keputusan sebesar
itu. Apa mereka tidak bisa membicarakannya baik- baik, memikirkan kondisi
Bianca gadis satu- satunya. Bianca menggelengkan kepala dengan cepat, menutup
mata erat, berusaha mematikan kenangan itu yang kadang mampir pada dirinya
ketika sedang melamun. Sudahlah, lupakan tentang itu, Bianca sedang tidak ingin
mengingatnya, sedikit mengingat kembali membuat air matanya tidak tahan untuk
keluar dari mata lebarnya.
Senja semakin menampakkan warna
indahnya, melukis awan dengan coretan warna jingga kemerahan yang terang. Bianca
bukan orang yang masuk dalam daftar penyuka senja, tapi pada saat belahan bumi
yang akan menuju malam, lampu- lampu jalan, halaman rumah, maupun dalam rumah
akan menyala. Itu merupakan cahaya kesukaan Bianca, juga tepat di belakang,
dalam rumah Bi Nur menyalakan lampu, membuat penerang dalam rumah.
“Masuk, non” seru Bi Nur yang sudah
berdiri di samping Bianca.
Bianca menoleh pelan “Nanti saja,
bi. Sebentar lagi” jawab Bianca.
“Yasudah bibi masuk dulu, ya”
Seulas senyum tipis terpampang di
bibir Bianca untuk seperkian detik, hanya sebagai balasan untuk Bi Nur.
Lima menit menatap depan, lampu
jalanan dengan jalan yang sepi. Bianca memutuskan masuk rumah, tidak ada niat
untuk menunggu Bela pulang dari pekerjaan padatnya. Bianca berjalan masuk,
ingin mengambil cemilan apa saja yang ada di dapur. Biasanya Bela menyetok
beberap snack. Persis saat Bianca menuju dapur, suara gesekan gerbang depan
terdengar, di susul dengan suara nyala mobil masuk. Bi Nur yang juga mendengar,
berlari kecil keluar rumah, membawakan tas Bela atau barang yang perlu Bi Nur
bantu. Sementara Bianca tetap pada tujuannya, mengambil dua snack, satu botol
minuman, satu roti selai, lalu kembali, berniat masuk ke dalam kamar. Berpapasan
dengan Bela.
“Bagaimana di sekolah?” tanya Bela
basa- basi masih dengan kemeja kerjanya. Bi Nur sendiri sudah beranjak
menyiapkan air hangat dan makan malam untuk Bela di belakang ketika Bianca
keluar dapur.
“Biasa saja. Engga ada yang
istimewa. Bianca mau ke kamar, tidur” jawab Bianca. Dia tidak berani secepat
ini untuk bercerita tentang Given, lagian apa pentingnya untuk Bela. Sejak
perceraian itu, Bela dan Bianca tidak terlalu banyak mengobrol, hanya ketika
keadaan genting saja.
__ADS_1
--
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)