Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Sore hari


__ADS_3

           Sudah mencoba berbagai gaya, dari


posisi miring kanan kiri, terlentang, tengkurap, sampai menutupi muka dengan


guling, Bianca tetap tidak bisa memejamkan matanya, yang ia lakukan adalah


berguling- guling tidak jelas di atas kasur miliknya. Kecerobohan atas nomor


Given membuat dirinya merasa menyesal sendiri, menyalahkan atas kepikunan


Bianca yang memang dapat kambuh kapan pun. Hingga suara bi Nur terdengar di


balik pintu kayu kamar Bianca.


            “Non, mau makan siang sekarang?”


tanya bi Nur.


            “Eh, iya bi. Bianca turun sebentar


lagi” ucap Bianca, tersadar dari lamunan singkatnya.


            Bi Nur yang berdiri di balik pintu


kamar menjawab singkat, lalu segera berbalik badan, kembali turun ke lantai


bawah- mungkin meneruskan pekerjaannya. Bianca bangun dari posisi rebahannya, mengucek


mata yang ngantuk tapi tidak bisa dipejamkan, melirik sekilas jam dinding


kamarnya, baru pukul satu lebih. Ponsel Bianca bergetar, menyala di atas nakas


dekat kasur saat Bianca berancang akan berdiri dari ranjang. Diraihnya benda


pipih hitam itu, membuka layar kunci, mengusap bilah notifikasi atas ‘satu


pesan belum terbaca’, Bianca menyentuhnya yang langsung mengarah pada isi chat


whatsapp.


            *Sofia


            [Gimana, bi? Sudah lo chat kak


Given?] Bianca memutar bola mata malas, menghela nafas kasar.


            Bianca mengetik balasan malas [Nomornya


kelupaan di buku tugas bu Risma, Sof]


            [Ya ampun, terus bagaimana dong?]


            [Iya, tunggu besok saja lah. Sudah,


ya, gue mau makan]


            Bianca mengakhiri chat terlebih


dahulu sebelum Sofia semakin menjadi cerewetnya, menanyakan banyak hal yang


Bianca juga tidak tahu jawabannya, itu akan berpengaruh pada isi otak Bianca


sendiri. Benar saja, Bianca sempat melamun tiga puluh detik sebelum akhirnya ia


sadar cacing dalam perutnya bernyanyi sendu meminta asupan makanan. Beranjak


Bianca dari ranjang kasur, meletakkan ponselnya kembali di atas nakas kecil,


berjalan pelan menuju ruang meja makan yang menyatu dengan dapur.


            Dapur sepi, tidak ada bi Nur di


tempat, mungkin bi Nur sedang keluar jalan- jalan karena tugasnya telah


selesai. Perkakas tertata rapi sedikit berair, sepertinya benar bi Nur baru


saja menyelesaikan tugas dapurnya dan memilih keluar untuk berkumpul dengan


ibu- ibu tetangga. Bianca meneruskan rencananya masuk ke dapur, mengambil

__ADS_1


piring di rakn, lalu membuka tudung saji warna hijau di atas meja makan- ada


oseng kangkung, ayam bakar, sambal tomat kesukaan Bianca dan nasi putih hangat


yang disediakan untuk Bianca. Bianca menggeser kursi untuk ia duduki, mulai


mengambil menunya sendiri dengan sambal tomat terbanyak. Sepuluh menit, menu


makan siang Bianca ludes masuk ke dalam perut, membuat cacing itu juga berhenti


bermain keroncong, lalu membereskan sisa makanan Bianca, mencuci piring miliknya,


mengembalikannya pada rak piring lagi. Lalu sekarang apa? Bianca bingung harus


melakukan apa, tidak ada kegiatan rumah atau luar rumah yang bisa ia lakukan-


kalau mau menyapu lantai terlalu kesiangan, mencuci baju serta melipat sudah


dilakukan bi Nur, menyiram bunga tidak mungkin karena taman depan rumah tidak


di tanami Bela bunga satu pun.


            Sudahlah, jalan satu- satunya adalah


kembali ke dalam habitat Bianca- di dalam kamarnya. Berpetualang ke beranda


media sosial merupakan kegiatan Bianca ketika benar- benar tidak ada kegiatan


positif apapun yang bisa ia kerjakan alias gabut banget. Fase gabut ini sudah


mendarah daging pada kebanyakan remaja pada umunya, atau mungkin orang dewasa


juga pernah mengalaminya. Ketika mereka bingung akan melakukan apa, lalu yang


ada di pikiran mereka adalah keberadaan dunia maya yang luas dapat dijangkau


dengan mudah pada benda pipih persegi panjang. Dengan jari tangan yang sibuk


megusap layar ponsel, sesekali otak Bianca kembali teringat akan nomor Given


yang ketinggalan, dilanjutkan dengan makian kecil dalam hatinya. Satu jam


berlalu, mata lebar Bianca sudah lelah bertatapan dengan cahaya ponsel,


itu berakhir. Jam sudah mengarah pada pukul setengah empat sore, membuat gadis


itu memilih membersihkan diri terlebih dahulu. Siapa tahu tiba- tiba nanti


seseorang mengajaknya jalan di sore hari yang cerah.


            Selesai acara bersih diri, Bianca


menanti ketukan pintu atau sebuah pesan masuk dalam benda pipih kesayangannya.


Masih setia menunggu hingga Bianca memutuskan keluar kamar, turun ke lantai


bawah.


            “Non Bianca mau kemana?” tanya Bi


Nur yang dari arah belakang melihat Bianca melangkah menuruni anak tangga.


            “Engga kemana- kemana, bi. Cuma mau


ke depan aja” jawab Bianca menoleh malas. Bukan karena kehadiran Bi Nur, akan


tetapi karena fase kegabutan Bianca yang sedang kumat.


            “Yasudah, kalau nyari bibi, Bi Nur


ada di belakang, ya” ucap Bi Nur dengan senyum, kemudian berbalik.


            Bianca meneruskan langkahnya menuju


teras, duduk pada bangku kecil yang terdapat di halaman teras. Mengamati taman


tanpa bunga sejak perceraian orang tuanya, sejak ayah Bianca pergi tanpa


memberi kalimat terakhir untuk Bianca, dan Bela yang tidak akan mengatakan

__ADS_1


apapun pada Bianca soal ayahnya. Yang hanya Bianca tahu, perceraian mereka


hanya masalah sepele, kecil yang seharusnya tidak mengambil keputusan sebesar


itu. Apa mereka tidak bisa membicarakannya baik- baik, memikirkan kondisi


Bianca gadis satu- satunya. Bianca menggelengkan kepala dengan cepat, menutup


mata erat, berusaha mematikan kenangan itu yang kadang mampir pada dirinya


ketika sedang melamun. Sudahlah, lupakan tentang itu, Bianca sedang tidak ingin


mengingatnya, sedikit mengingat kembali membuat air matanya tidak tahan untuk


keluar dari mata lebarnya.


            Senja semakin menampakkan warna


indahnya, melukis awan dengan coretan warna jingga kemerahan yang terang. Bianca


bukan orang yang masuk dalam daftar penyuka senja, tapi pada saat belahan bumi


yang akan menuju malam, lampu- lampu jalan, halaman rumah, maupun dalam rumah


akan menyala. Itu merupakan cahaya kesukaan Bianca, juga tepat di belakang,


dalam rumah Bi Nur menyalakan lampu, membuat penerang dalam rumah.


            “Masuk, non” seru Bi Nur yang sudah


berdiri di samping Bianca.


            Bianca menoleh pelan “Nanti saja,


bi. Sebentar lagi” jawab Bianca.


            “Yasudah bibi masuk dulu, ya”


            Seulas senyum tipis terpampang di


bibir Bianca untuk seperkian detik, hanya sebagai balasan untuk Bi Nur.


            Lima menit menatap depan, lampu


jalanan dengan jalan yang sepi. Bianca memutuskan masuk rumah, tidak ada niat


untuk menunggu Bela pulang dari pekerjaan padatnya. Bianca berjalan masuk,


ingin mengambil cemilan apa saja yang ada di dapur. Biasanya Bela menyetok


beberap snack. Persis saat Bianca menuju dapur, suara gesekan gerbang depan


terdengar, di susul dengan suara nyala mobil masuk. Bi Nur yang juga mendengar,


berlari kecil keluar rumah, membawakan tas Bela atau barang yang perlu Bi Nur


bantu. Sementara Bianca tetap pada tujuannya, mengambil dua snack, satu botol


minuman, satu roti selai, lalu kembali, berniat masuk ke dalam kamar. Berpapasan


dengan Bela.


            “Bagaimana di sekolah?” tanya Bela


basa- basi masih dengan kemeja kerjanya. Bi Nur sendiri sudah beranjak


menyiapkan air hangat dan makan malam untuk Bela di belakang ketika Bianca


keluar dapur.


            “Biasa saja. Engga ada yang


istimewa. Bianca mau ke kamar, tidur” jawab Bianca. Dia tidak berani secepat


ini untuk bercerita tentang Given, lagian apa pentingnya untuk Bela. Sejak


perceraian itu, Bela dan Bianca tidak terlalu banyak mengobrol, hanya ketika


keadaan genting saja.

__ADS_1


--


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2