Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Percakapan di anak tangga


__ADS_3

“Tapi gue beneran serius. Tadi gue


lihat kalau Kak Given natap ke arah gue,” gumam Bianca menyanggah pendapat


Sofia.


“Itu halusinasi lo. Makanya jangan


kebanyakan baca novel perbucinan mulu,”


Bianca bahkan baru sampai pada bab


kelima, itu pun dua hari tidak jadi membaca karena Sofia, Bianca tidak terima.


“Bukan halusinasi, Sof. Ini nyata


Kak Given natap gue,” sanggah Bianca gregetan.


Slap!


Kilatan lampu membuat Sofia dan


Bianca kaget. Tangga yang mereka lalui berbelok ke kanan, tepat saat mereka


belok sebuah kilatan lampu membuat keduanya terkejut, terlebih Bianca. Seorang


duduk memainkan lensa kameranya di anak tangga paling atas, siapa lagi


seseorang itu kalau bukan Given, sosok yang menjadi topik Bianca dan Sofia


beberapa detik lalu.


Dua menit terdiam, juga Given yang


masih tenang duduk manis di anak tangga atas, sementara Sofia dan Bianca di


anak tangga bawah tidak bisa berkata apa-apa.


“Ehm, eh gu… gue ke atas dulu, ya,


Sof. Mau ngambil sepatu,” ucap Sofia tergagap, bahkan dia tidak sadar padahal


sepatu yang akan ia ambil sudah ada pada tangannya. Ah, sudahlah lagian ini


hanya alasan yang mungkin memang alasan paling ga masuk akal.


Sofia berjalan pelan menaiki anak


tangga, tersenyum kaku menganggukan kepala ketika melewati Given yang duduk


diam. Kalau dalam pertemanan, Sofia sungguh tega sekali meninggalkan Bianca


sendirian di anak tangga, berdua dengan orang yang membuatnya keringat dingin,


tapi Sofia mempunyai alasan tersendiri kenapa ia memilih membiarkan Bianca


berdua dengan Given.


Tinggallah Bianca sendiri yang


berdiri mematung, ia akan mencincang tubuh Sofia setelah ini, sudah beberapa


kali karena Sofia, Bianca harus menghadapi Given sendirian. Di atas sana Given


balik menatap Bianca tenang, kamera digitalnya sudah menggantung di leher


panjangnya.


“Eh, anu, ehm, ada apa ya, kak?”


tanya Bianca, berusaha membuat suaranya normal namun tidak pernah berhasil,


kegugupannya tidak bisa disembunyikan.


Given tersenyum simpul, “Gapapa,


kok. Cuma pengen ketemu sama lo lagi,”


Aduh, kalimat Given malah menambah


rasa gugup Bianca, membuat detak jantung gadis itu berpacu cepat, rasanya


Bianca ingin pingsan saja di tempat.

__ADS_1


“Engga usah gugup kayak gitu,” Given


berdiri dari duduknya, membuat bayangannya sebesar raksasa, sebab tubuhnya yang


sudah tinggi besar harus berdiri di anak tangga paling atas. Nyali Bianca ikut


ciut bersamaan, bagaimana tidak ia harus berhenti gugup, dirinya saja terlihat


amat kecil dibanding Given.


“Ehm, a… ada apa pengen ketemu sama


gue, kak?” tanya Bianca terus berusaha membuat dirinya sadar.


“Oalah, itu,” Given mengacak-acak


rambutnya yang sedikit ikat, terlihat berpikir, “Nomornya kemarin engga salah,


kan, ya?” dengan ekpresi akhir menatap Bianca.


Bianca mengerutkan kening, bingung,


mana dia tahu salah atau tidak, yang punya nomor bukan Bianca, lagian belum


sempat dicoba.


“Kayaknya engga deh, kak,” jawab


Bianca, sebenarnya Bianca tidak yakin dengan jawabannya sendiri, tapi demi


melihat ekpresi Given yang bengong menunggu jawaban, juga untuk keluar dari


situasi ini Bianca menjawab dengan kalimat penyakinan.


Given ber-oh pelan, “Gitu, ya? Engga


salah?” tanya ulang Given, seperti tidak puas dengan jawaban Bianca.


Bianca menggeleng pelan,


menengadahkan kepalanya ke atas, menatap Given untuk menyakinkannya.


“Ya sudah kalau engga,”


tanya Bianca tidak habis pikir. Sekarang gantian Bianca yang menatap tidak


percaya, rasa gugupnya sudah luruh seketika digantikan kekesalan.


Given di atas mengangguk pelan


sekali, membuat Bianca langsung mengambil langkah menaiki sisa anak tangga ke


atas, melewati Given begitu saja, tanpa sepatah kata pun, sementara Given diam


menatap gadis itu berjalan.


“Nih,” sebuah buku tersodor ke arah


Bianca ketika gadis itu baru sampai di meja bangkunya.


Bianca mengambil buku itu dari


tangan Bianca dengan tatapan berpikir, dilihatnya cover buku tulis itu, ah ini


adalah buku tulis tugas Bu Risma hari lalu, yang di dalamnya ada salinan nomor


Given.


Belum sempat Bianca mengucap


terimakasih, Sofia sudah mendahului membuka suara, “Eh, tadi Kak Given omong


apaan, Bi?” tanya Sofia antusias, mendekati Bianca yang sudah duduk di


bangkunya.


Bianca menghela napas pelan, “Cuma


nanya nomor,”


“Ah masa? Yang bener cuma itu?”


Sofia masih tertarik meski jawaban Bianca sudah sejujur-jujurnya.

__ADS_1


“Kalau engga percaya, lo tanya saja


ke Kak Given langsung,” pasrah Bianca, membuka tasnya, mengeluarkan sebuah buku


novel yang baru sampai halaman lima itu.


Setidaknya itu mampu membungkam


mulut Sofia untuk berhenti bertanya, Sofia yang tidak mau menganggu ritual baca


Bianca beralih mengeluarkan ponselnya, sedetik kemudian Sofia juga ikut


terhanyut ke dalam layar ponselnya itu. Sementara Bianca membuka lembar


novelnya, mencari halaman lima yang ia ingat kemarin malam terakhir ia baca. Mungkin


Bianca sama halnya dengan Sofia yang belum puas atas jawaban yang diterima,


Bianca pikir Given sengaja menunggunya karena ingin mengatakan hal lain yang


lebih mainstream ketimbang masalah nomor. Given membuat Bianca hampir mati


karena tidak mampu mengontrol detak jantung yang hanya untuk bertanya benar


atau tidaknya nomor yang dikasih Given lusa kemarin. Eh, benar bukan Given


memang sengaja menunggu Bianca di anak tangga atas, Given bilang ‘Cuma pengen


ketemu’.


Sial, meski sudah memegang buku


novel paling digemari itu, juga tidak cukup untuk mengalihkan pikiran Bianca


dari Given. Bianca menutup kasar buku novelnya, memasukkannya kembali ke dalam


tas, persis niatnya yang ingin mengajak Sofia pergi ke kantin, namun gerakannya


didahului oleh Tama yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas, membuat pandangan


tertuju padanya, Sofia pun tergesa-gesa memasukkan ponselnya ke bawah meja.


“Jam pelajaran selanjutnya sampai


pulang kembali ke aula, ya,” tegas Tama memberi pengumaman tanpa basa-basi, ia


berdiri di depan kelas.


“Iya, siap, kak,” serempak anak yang


berada di dalam kelas menjawab.


Tama balas mengacungkan jempul,


memberi senyum tipis, sebelum beranjak keluar pandangan Tama tertuju pada


Bianca yang berjarak sepuluh langkah di depannya, tentu saja Bianca menyadari


itu, sebab ia sejak tadi memperhatikan kakak pendampingnya yang tidak suka


kerusuhan itu. Meski Bianca merasa ganjil, kenapa seorang Tama menatapnya, apa


dia membuat pelanggaran atau kesalahan, namun yang Bianca bisa lakukan hanya


bertanya-tanya sendiri, tanpa mampu menyuarakan pada yang bersangkutan. Apa


memang kakak panitia SMA Pelita Murni akan membuat Bianca selalu merasa


kebingungan, menyebalkan membuat mood Bianca rusak lagi saja.


Bunyi bel berdering, itu sebuah kode


untuk para siswa kembali masuk ke dalam aula panjang yang gerah. Bianca


memasukkan buku tulis yang disodorkan Sofia, ia tidak ingin ketinggalan buku


ini lagi, dan tidak dapat menghubungi Given, memastikan apa nomor yang


diberikan Given salah, seperti yang Given tanyakan di tangga tadi.


 


---

__ADS_1


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2