
“Tapi gue beneran serius. Tadi gue
lihat kalau Kak Given natap ke arah gue,” gumam Bianca menyanggah pendapat
Sofia.
“Itu halusinasi lo. Makanya jangan
kebanyakan baca novel perbucinan mulu,”
Bianca bahkan baru sampai pada bab
kelima, itu pun dua hari tidak jadi membaca karena Sofia, Bianca tidak terima.
“Bukan halusinasi, Sof. Ini nyata
Kak Given natap gue,” sanggah Bianca gregetan.
Slap!
Kilatan lampu membuat Sofia dan
Bianca kaget. Tangga yang mereka lalui berbelok ke kanan, tepat saat mereka
belok sebuah kilatan lampu membuat keduanya terkejut, terlebih Bianca. Seorang
duduk memainkan lensa kameranya di anak tangga paling atas, siapa lagi
seseorang itu kalau bukan Given, sosok yang menjadi topik Bianca dan Sofia
beberapa detik lalu.
Dua menit terdiam, juga Given yang
masih tenang duduk manis di anak tangga atas, sementara Sofia dan Bianca di
anak tangga bawah tidak bisa berkata apa-apa.
“Ehm, eh gu… gue ke atas dulu, ya,
Sof. Mau ngambil sepatu,” ucap Sofia tergagap, bahkan dia tidak sadar padahal
sepatu yang akan ia ambil sudah ada pada tangannya. Ah, sudahlah lagian ini
hanya alasan yang mungkin memang alasan paling ga masuk akal.
Sofia berjalan pelan menaiki anak
tangga, tersenyum kaku menganggukan kepala ketika melewati Given yang duduk
diam. Kalau dalam pertemanan, Sofia sungguh tega sekali meninggalkan Bianca
sendirian di anak tangga, berdua dengan orang yang membuatnya keringat dingin,
tapi Sofia mempunyai alasan tersendiri kenapa ia memilih membiarkan Bianca
berdua dengan Given.
Tinggallah Bianca sendiri yang
berdiri mematung, ia akan mencincang tubuh Sofia setelah ini, sudah beberapa
kali karena Sofia, Bianca harus menghadapi Given sendirian. Di atas sana Given
balik menatap Bianca tenang, kamera digitalnya sudah menggantung di leher
panjangnya.
“Eh, anu, ehm, ada apa ya, kak?”
tanya Bianca, berusaha membuat suaranya normal namun tidak pernah berhasil,
kegugupannya tidak bisa disembunyikan.
Given tersenyum simpul, “Gapapa,
kok. Cuma pengen ketemu sama lo lagi,”
Aduh, kalimat Given malah menambah
rasa gugup Bianca, membuat detak jantung gadis itu berpacu cepat, rasanya
Bianca ingin pingsan saja di tempat.
__ADS_1
“Engga usah gugup kayak gitu,” Given
berdiri dari duduknya, membuat bayangannya sebesar raksasa, sebab tubuhnya yang
sudah tinggi besar harus berdiri di anak tangga paling atas. Nyali Bianca ikut
ciut bersamaan, bagaimana tidak ia harus berhenti gugup, dirinya saja terlihat
amat kecil dibanding Given.
“Ehm, a… ada apa pengen ketemu sama
gue, kak?” tanya Bianca terus berusaha membuat dirinya sadar.
“Oalah, itu,” Given mengacak-acak
rambutnya yang sedikit ikat, terlihat berpikir, “Nomornya kemarin engga salah,
kan, ya?” dengan ekpresi akhir menatap Bianca.
Bianca mengerutkan kening, bingung,
mana dia tahu salah atau tidak, yang punya nomor bukan Bianca, lagian belum
sempat dicoba.
“Kayaknya engga deh, kak,” jawab
Bianca, sebenarnya Bianca tidak yakin dengan jawabannya sendiri, tapi demi
melihat ekpresi Given yang bengong menunggu jawaban, juga untuk keluar dari
situasi ini Bianca menjawab dengan kalimat penyakinan.
Given ber-oh pelan, “Gitu, ya? Engga
salah?” tanya ulang Given, seperti tidak puas dengan jawaban Bianca.
Bianca menggeleng pelan,
menengadahkan kepalanya ke atas, menatap Given untuk menyakinkannya.
“Ya sudah kalau engga,”
tanya Bianca tidak habis pikir. Sekarang gantian Bianca yang menatap tidak
percaya, rasa gugupnya sudah luruh seketika digantikan kekesalan.
Given di atas mengangguk pelan
sekali, membuat Bianca langsung mengambil langkah menaiki sisa anak tangga ke
atas, melewati Given begitu saja, tanpa sepatah kata pun, sementara Given diam
menatap gadis itu berjalan.
“Nih,” sebuah buku tersodor ke arah
Bianca ketika gadis itu baru sampai di meja bangkunya.
Bianca mengambil buku itu dari
tangan Bianca dengan tatapan berpikir, dilihatnya cover buku tulis itu, ah ini
adalah buku tulis tugas Bu Risma hari lalu, yang di dalamnya ada salinan nomor
Given.
Belum sempat Bianca mengucap
terimakasih, Sofia sudah mendahului membuka suara, “Eh, tadi Kak Given omong
apaan, Bi?” tanya Sofia antusias, mendekati Bianca yang sudah duduk di
bangkunya.
Bianca menghela napas pelan, “Cuma
nanya nomor,”
“Ah masa? Yang bener cuma itu?”
Sofia masih tertarik meski jawaban Bianca sudah sejujur-jujurnya.
__ADS_1
“Kalau engga percaya, lo tanya saja
ke Kak Given langsung,” pasrah Bianca, membuka tasnya, mengeluarkan sebuah buku
novel yang baru sampai halaman lima itu.
Setidaknya itu mampu membungkam
mulut Sofia untuk berhenti bertanya, Sofia yang tidak mau menganggu ritual baca
Bianca beralih mengeluarkan ponselnya, sedetik kemudian Sofia juga ikut
terhanyut ke dalam layar ponselnya itu. Sementara Bianca membuka lembar
novelnya, mencari halaman lima yang ia ingat kemarin malam terakhir ia baca. Mungkin
Bianca sama halnya dengan Sofia yang belum puas atas jawaban yang diterima,
Bianca pikir Given sengaja menunggunya karena ingin mengatakan hal lain yang
lebih mainstream ketimbang masalah nomor. Given membuat Bianca hampir mati
karena tidak mampu mengontrol detak jantung yang hanya untuk bertanya benar
atau tidaknya nomor yang dikasih Given lusa kemarin. Eh, benar bukan Given
memang sengaja menunggu Bianca di anak tangga atas, Given bilang ‘Cuma pengen
ketemu’.
Sial, meski sudah memegang buku
novel paling digemari itu, juga tidak cukup untuk mengalihkan pikiran Bianca
dari Given. Bianca menutup kasar buku novelnya, memasukkannya kembali ke dalam
tas, persis niatnya yang ingin mengajak Sofia pergi ke kantin, namun gerakannya
didahului oleh Tama yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas, membuat pandangan
tertuju padanya, Sofia pun tergesa-gesa memasukkan ponselnya ke bawah meja.
“Jam pelajaran selanjutnya sampai
pulang kembali ke aula, ya,” tegas Tama memberi pengumaman tanpa basa-basi, ia
berdiri di depan kelas.
“Iya, siap, kak,” serempak anak yang
berada di dalam kelas menjawab.
Tama balas mengacungkan jempul,
memberi senyum tipis, sebelum beranjak keluar pandangan Tama tertuju pada
Bianca yang berjarak sepuluh langkah di depannya, tentu saja Bianca menyadari
itu, sebab ia sejak tadi memperhatikan kakak pendampingnya yang tidak suka
kerusuhan itu. Meski Bianca merasa ganjil, kenapa seorang Tama menatapnya, apa
dia membuat pelanggaran atau kesalahan, namun yang Bianca bisa lakukan hanya
bertanya-tanya sendiri, tanpa mampu menyuarakan pada yang bersangkutan. Apa
memang kakak panitia SMA Pelita Murni akan membuat Bianca selalu merasa
kebingungan, menyebalkan membuat mood Bianca rusak lagi saja.
Bunyi bel berdering, itu sebuah kode
untuk para siswa kembali masuk ke dalam aula panjang yang gerah. Bianca
memasukkan buku tulis yang disodorkan Sofia, ia tidak ingin ketinggalan buku
ini lagi, dan tidak dapat menghubungi Given, memastikan apa nomor yang
diberikan Given salah, seperti yang Given tanyakan di tangga tadi.
---
__ADS_1
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)