Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Sebuah pamflet festival


__ADS_3

 


“Menurut lo kak Given bakal lo dapetin, ga?” Sofia memainkan tali punggung tasnya, Bianca berjalan di sampingnya, keduanya melangkah berdampingan menuju pintu gerbang untuk pulang.


“Engga, deh. Tahu diri aja lah gue.”


“Tahu diri apa? Lo itu cukup cantik, Bi. Lihat, beberapa anak cowo pada ngelihatin lu, belum tadi pas muter lantai bawah, di sebut-sebut mulu nama lo, berasa punya fans tahu gak.” cerosos Sofia berlebihan.


Bianca menghela napas pelan, memutar bola matanya malas, tidak terlalu minat menanggapi ocehan Sofia. Memang Bianca terlihat cantik, mata bulat hitam bersinarnya mampu memikat siapapun yang melihat, meski dengan hidung yang tidak mancung tetapi menggemaskan, memiliki rambut lebat hitam sepunggung atas, juga di tambah poni lucu yang menutupi jidatnya. Dulu ketika SMP Bianca juga termasuk siswi terpopuler dengan prestasi yang cukup bagus, giat mengikuti event-event di luar maupun dalam sekolah, membuatnya tambah di gandrungi siswa cowo. Namun, bagi Bianca kejadian seperti itu biasa aja, tidak ada istimewanya di goda oleh banyak mulut licin, tidak ada bagusnya di tatap kagum oleh banyak pasang mata. Bianca sudah merasa muak dengan hal semacam itu, ada trauma yang sedang berusaha ia lupakan.


“Lo naik motor sendiri, Sof?” tanya Bianca setelah dua menit diam bertepatan sampai di depan gerbang sekolah.


“Iya, ada di parkiran sana.” jawab Sofia menunjuk parkiran depan sekolah.


“Eh, lo di jemput, Bi?” tambah Sofia melirik Bianca yang berjalan mendekati sebuah bangku kosong dekat gerbang.


Bianca mengangguk, memilih duduk manis sambil memperhatikan orang-orang berlalu lalang lewat, kebanyakan mereka keluar dari gedung sekolah, -anak-anak seperti Bianca-seorang calon siswa baru, satu dua tiga dalam hitungan jari berlari kecil ke arah gerbang-kakak panitia dengan jas almameter SMA Pelita Murni.


Sofia mengikuti, sekalian saja menunggu parkiran sepi dengan duduk daripada kakinya lelah berdiri di dekat gerbang seperti tidak punya tujuan. Keduanya hanya diam, tidak banyak bicara, tidak ada topik yang akan diperbincangkan.


Lima belas menit diam “Eh, Bi, gue duluan, ya. Hati-hati lo di situ.” ucap Sofia berjalan menuju parkiran setelah dirasa parkiran sudah cukup sepi.


“Iya, lo hati-hati di jalan.” balas Bianca.


Ada beberapa siswa lain yang juga menunggu jemputan sama seperti Bianca, namun Bianca tidak mengenalnya, moodnya sedang tidak bagus untuk sekedar berkenalan saja. Jadi, Bianca memilih duduk diam saja, menguncang-uncang kakinya yang tidak mencapai tanah dari tempat duduknya.

__ADS_1


Drtt..drtt..


Bianca meraih ponselnya yang memang selalu aktif data, biar semisal ada pesan whatsapp masuk ia mengetahuinya terlepas penting atau tidaknya. Seperti sekarang ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Di usapnya layar kunci, terpampang nama mama.


\[Mama engga bisa jemput, Bi. Mendadak ada urusan, kamu pesan ojek saja, ya\]


\[Oke, ma\] ketik Bianca.


Send.


Tidak ada yang perlu di konfirmasi lagi, Bianca memasukkan kembali ponselnya, melirik jam di tangan kirinya, baru saja pukul satu siang, terlalu awal jika Bianca langsung pulang ke rumah. Bianca memutar bola matanya menelusuri sekitar, tinggal dua anak saja yang tetap di sekolah masih setia menunggu jemputan-tidak terhitung Bianca. Daripada merasa seperti orang bodoh, Bianca memutuskan masuk kembali ke lorong gerbang utama, menilik majalah dinding besar yang terpampang di dinding lorong masuk, majalah dinding ini memang ingin Bianca baca sejak melangkahkan kaki di SMA Pelita Murni.


Berbagai macam kegiatan siswa SMA Pelita Murni masuk dalam majalah dinding, dari kegiatan anniversary sekolah, pentas seni, lomba debat, beberapa ekskul terkenal-bakset, futsal, kepramukaan, palang merah. Juga terdapat pamflet dari SMA lain yang berkontribusi atau melakukan persahabatan dengan SMA Pelita Murni. Mata Bianca masih asyik membaca setiap foto, sampai ia menemukan sebuah pamflet yang menurut Bianca memukau.


Pasar malam festival


Bianca membaca dengan seksama, mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, membuka aplikasi kamera berniat untuk membidik pamflet festival, takut-takut Bianca lupa atau sekedar untuk memberitahu mama atas izinnya. “Harus dateng, nih.” batin Bianca. Puas dengan melihat-lihat majalah dinding, Bianca berbalik badan, berniat kembali ke gerbang depan untuk memesan ojek, tapi tubuhnya membeku dahulu, seorang yang ia cari-cari sejak jam istirahat tadi sekarang tengah berjalan dengan seorang cewe menuju lorong utama tempat Bianca berdiri. Given terlihat bercakap ringan dengan cewe di sampingnya, cewe itu tinggi namun bukan Lala-kakak pendamping kelas adenium. Bianca hanya mampu menatap Given yang melintasi Bianca tanpa sadar ada seorang gadis yang berdiri menatapnya penuh kagum. Dengan cepat pikiran Bianca berubah dari festival menjadi yang tidak-tidak, seperti apakah cewe tadi pacarnya Given, mungkinkah antara Given dan cewe tadi memiliki hubungan special. Bianca mengacak-acak rambutnya sebal, teringat akan memesan ojek Bianca mengambil kasar ponselnya, mengotak-atik penuh tekanan.


“Bianca, ya?” sapa seorang ojol dengan jaket khasnya. Lima menit sudah Bianca menunggu dengan raut muka sebal duduk di bangku yang ia duduki bersama Sofia.


“Iya, mas.” jawab Bianca mengambil uluran helm yang di berikan.


“Sesuai aplikasi, ya?”


“Oke.”

__ADS_1


Roda dua milik mas ojol melaju melintasi jalan yang tidak telalu ramai siang ini, memang masih pukul setengah dua lewat, orang-orang jam segitu memilih tidur siang atau menonton televisi di rumah.


“Kok diem saja, dek?” celetuk mas ojol tiba-tiba. Wajahnya tidak terlihat, tertutup oleh masker yang menyembunyikan sebagian mukanya.


“Lagi sariawan, mas.” jawab Bianca asal.


“Kelas SMP kok berdirinya di gerbang SMA."


“Oh, saya penyusup, mas. Masnya engga takut?” ucap Bianca menakut-nakuti.


“Mana ada penyusup mukanya seimut kamu.” terdengar tawa dari mas ojol di depan setirnya, ternyata Bianca gagal.


“Awas, mas, ketawa bisa nyebabin kecelakaan loh.” Bianca mulai usil, di buatnya raut muka ketakutan.


Seketika tawa mas ojol terhenti, sepertinya mempan “Eh, masa sih?”


“Iya, kalau ketawanya sambil nutup mata terus lepas setir.” sekarang giliran Bianca membalas, tawa meledeknya pecah begitu saja.


“Bisa aja kamu. Sudah sampai nih.”


Bianca turun dari jok, mengembalikan helm serta membayar ongkos. Bianca melangkah masuk ke halaman rumah, masih saja tidak habis pikir tentang mas ojol tadi yang tiba-tiba berhasil membuat mood Bianca sedikit membaik, ah sial, Bianca lupa menanyakan alamat mas ojolnya, siapa tahu nanti ia bisa menghantar Bianca untuk pergi ke pasar malam di desa sebelah. Sayangnya di dalam riwayat pemesanan pun tidak dapat lagi untuk berkirim pesan, hanya tertera nama serta nomor plat motornya, itu saja sudah. Baiklah, Bianca pasrah, ia segera masuk ke dalam rumah yang terkadang terlihat menakutkan bagi Bianca sendiri. Tentang pasar malam, akan Bianca pikirkan nanti, ia akan menanyakan pada Sofia atau siapa terlebih dahulu.


 


-Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI, atau KBBI-nya mohon kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih.

__ADS_1


-Salam Literasi dari Aksara Raya.


__ADS_2