
‘Engga usah takut, ini cuma sebentar
kok.” kalimat itu terus terngiang memenuhi otak Bianca, terekam jelas. Bianca
mencoba menyadarkan diri, mencubit paha,mengaduh lirih sakit karena cubitannya
sendiri. Bukan mimpi, ini nyata. Sementara Given di hadapannya sibuk memotret
kerlipan lampu dari ketinggian, Bianca masih mencoba mewaraskan pikirannya.
“Coba lihat warna- warni lampu di
sana, deh. Rasa takut lo ilang” Given berucap sembari sibuk dengan bidikan
lensanya.
Sebenarnya tidak usah disuruh pun
Bianca memang suka cahaya, apalagi tebaran lampu warga sekitar yang bila
dilihat dari ketinggian sangat indah, menyala seperti titik- titik yang
menghubungkan. Bianca menuruti apa yang dikatakan Given, harus mewaraskan
pikirannya dengan memandangi lampu- lampu. Persis tiga puluh detik kemudian
bianglala mulai berjalan lagi, namun amat pelan karena sedang menurunkan satu
persatu penumpang. Bianca menikmatinya saja, sudah mampu mengontrol rasa
gugupnya berada dekat dengan Given. Given tidak memandang Bianca, cowo itu
masih saja sibuk dengan mata lensanya. Saat pintu kurungan terbuka, Bianca keluar
terlebih dahulu sebelum Given, sampai- sampai Bianca menjatuhkan kantong
keresek hitamnya, Bianca tidak sadar. Mata Given melihat jelas ada benda jatuh
dari gadis yang sudah lari jauh, dengan gesit Given mengambil kantong keresek itu,
membawanya mengejar Bianca, gadis sekecil Bianca tidak akan bisa lari jauh
dengan tempo waktu cepat, langkahnya yang pendek pasti mampu di kejar oleh
Given.
“Woi, Given. Mau kemana lo?” teriak
Lala dan teman- temannya ketika melihat Given berlari mengejar Bianca.
Given tidak menghiraukan teriakan
temannya, ia terus menerobos kerumunan yang semakin padat, ia harus
mengembalikan barang yang jatuh, mungkin sangat penting bagi pemiliknya. Malam
itu Given belum tahu bahwa Bianca adalah adik kelasnya, maklum saja dia
mengejar Bianca hingga ketemu. Di pintu keluar area festival, Bianca
kebingunan, mengingat- ingat dimana kantong keresek untuk bi Nur, tidak ada di
genggaman tangannya. ‘aduh pasti ketinggalan di bianglala’ Bianca makin
kebingunan dengan pendapatnya sendiri, karena sangat tidak mungkin ia harus
kembali ke dalam festival yang makin malam makin penuh orang. Bianca masih
mondar- mandir di dekat pintu keluar, hingga suara seseorang membuatnya membeku
di tempat.
“Eh, ini kantong keresek punya lo,
kan.” ucap Given masih ngos- ngosan.
Perlahan Bianca membalikkan badan,
dilihatnya Given masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan sebab
mencari Bianca. Ayolah, jangan kelihatan bodoh di depan Given kali ini Bianca,
kontrol dirimu. Bianca menyatukan semua alam bawah sadarnya, berusaha
mengontrol diri agar tidak kelihatan grogi.
“Eh, ii..iyaa.thanks, ya.” Bianca
__ADS_1
mengambil kantong keresek dari genggaman Given dengan sedikit gemetaran.
“Eh, mau kemana lo?”
Bianca yang akan melangkahkan kaki
terhenti, berbalik “Pulang.”
“Sendiri?” Given sudah dalam ke mode
normalnya, nafasnya sudah beraturan lagi.
“Eh, iya.”
“Gue anterin gimana? Bocah SMP
jangan main keluyuran sendiri sembarangan.”
Sekarang, giliran Bianca yang
mengatur nafas. “Enggg.. engga usah. Gue sudah pesen ojek online, kok.” tolak
Bianca- yang sebenarnya terjadi di hatinya, ya perasaan ingin melompat jurang
apalagi.
“Yakin?” Given memandang Bianca
lamat- lamat.
“Heem, yakin.” jawab Bianca
menunduk, tak kuasa menatap mata Given.
Given meraih sesuatu dari saku
celana belakangnya “Nih, bawa saja buat jaga- jaga. Lo yakin, tapi gue engga.”
Bianca mengernyitkan dahi, tidak
paham kenapa Given sepeduli ini, padahal kan Given tidak mengenal siapa Bianca.
“Ini?” Bianca meraih uluran cutter
kecil dari tangan Given, menatap cutter itu masih tidak mengerti.
engga, yasudah ambil aja.”
Given salah mengartikan kebingungan
Bianca, dipikirnya Bianca kebingunan bagaimana cara untuk mengembalikan barang
tajam itu. Belum sempat Bianca membuka suara, seorang mas ojol datang,
menanyakan nama Bianca, cepat- cepat Bianca memasukkan cutter kecil pemberian
Given ke dalam tas selempangnya.
“Mas, hati- hati bawanya, jangan
macem- macem.” ancam Given saat Bianca sudah duduk di jok motor mas ojol.
“Siap, mas.” balas mas ojol pada
Given.
“Sesuai lokasi, ya?” tanya mas ojol
kali ini mengarah pada Bianca.
“Eh, iya mas.”
Sedetik kemudian motor mas ojol yang
Bianca tumpangi telah melaju, menjauh dari area festival. Given segera
berbalik, kembali menemui teman- temannya yang ia tinggal begitu saja.
“Darimana lo?” sudut Lala ketika
Given baru saja sampai di tempat dekat bianglala.
“Balikin barang yang ketinggalan
doang” jawab Given seadanya.
Sementara itu di perjalanan menuju
__ADS_1
rumah Bianca.
“Pacarnya, ya?” celetuk mas ojol
tiba- tiba.
Bianca sedikit terperanjat kaget
“Eh, engga mas”
“Kalau engga kok khawatirin banget
gitu.”
Bianca diam, tidak menanggapi ocehan
mas ojol, isi kepalanya terngiang- ngiang dengan seluruh kalimat yang keluar
dari mulut Given. Apa benar Given menghawatirkan Bianca seperti yang mas ojol
bilang? Untung apa ngekhawatirin orang yang engga di kenal- Given yang belum
mengenal Bianca malam itu. Karena melamun selama perjalanan tidak terasa Bianca
telah tiba di halaman depan rumahnya.
Bianca melepas helm, memberikan uang
sesuai tariff di aplikasi “Terimakasih, ya, mas” ucap Bianca- ya karena
menghargai mas ojol telah mengahantarkannya sampai tujuan dengan selamat tanpa
macam- macam seperti yang dikhawatirkan Given. Bianca melirik pergelangan
tangannya, tidak terlambat sesuai janjinya pada Bela. Segera Bianca masuk ke
dalam rumah, pintu depan rumah tidak dikunci, lampu ruang tamu yang menyala
hanyalah lampu kecil, bi Nur mungkin sudah tidur pulas di kamarnya. Jadi,
Bianca memutuskan langsung ke atas, dimana letak kamarnya berada, urusan baju
bi Nur bisa esok pagi diberikannya. Sampainya di kamar, Bianca jadi kebingunan,
perasaannya seperti tidak bisa dituliskan dalam buku ini. Bingung antara sikap
Given padanya yang peduli juga dengan dirinya yang nampak jelas kelihatannya
bodohnya bila di depan Given.
“Apa sih, ah, bodo amat” umpat
Bianca pelan, melemparkan tas selempangnya ke arah kasur semabarangan,
kebetulan Bianca lupa mengunci penutup tas, jadi cutter pemberian Given keluar
ketika mendapat benturan keras hasil lemparan tangan Bianca.
Bianca segera beranjak mengambil
cutter kecil itu, dimasukkanya ke dalam saku seragam SMP yang masih akan ia
kenakan besok pada masa orientasi.
“Bakal gue balikin besok aja” gumam
Bianca pelan.
Setelah itu, Bianca memilih
membersihkan diri, membersihkan sisa polesan tipis dari mukanya, lalu mencuci
muka sekaligus sikat gigi, setelah itu berbaring di atas ranjang. Tiga pulu
menit berlalu, Bianca masih belum bisa membawa dirinya ke alam mimpi,
pikirannya kembali pada Given. Cowo itu sekarang membuat Bianca ingin
membenturkan kepala sekeras- kerasnya pada dinding kamar. Baru saja sehari
bertemu, tidak sengaja harus berduaan di dalam kurungan bianglala, sudah
seenaknya memenuhi isi otak Bianca malam itu. Semoga dengan pengembalian cutter
milik Given, Bianca bisa tidur nyenyak lagi tanpa penghantuan bayangan Given,
pun juga suara Given yang sejujurnya memang menenangkan bagi Bianca. Sudah, Bi,
__ADS_1
berusaha lah tidur.