Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Festival pasar malam 03


__ADS_3

            ‘Engga usah takut, ini cuma sebentar


kok.” kalimat itu terus terngiang memenuhi otak Bianca, terekam jelas. Bianca


mencoba menyadarkan diri, mencubit paha,mengaduh lirih sakit karena cubitannya


sendiri. Bukan mimpi, ini nyata. Sementara Given di hadapannya sibuk memotret


kerlipan lampu dari ketinggian, Bianca masih mencoba mewaraskan pikirannya.


            “Coba lihat warna- warni lampu di


sana, deh. Rasa takut lo ilang” Given berucap sembari sibuk dengan bidikan


lensanya.


            Sebenarnya tidak usah disuruh pun


Bianca memang suka cahaya, apalagi tebaran lampu warga sekitar yang bila


dilihat dari ketinggian sangat indah, menyala seperti titik- titik yang


menghubungkan. Bianca menuruti apa yang dikatakan Given, harus mewaraskan


pikirannya dengan memandangi lampu- lampu. Persis tiga puluh detik kemudian


bianglala mulai berjalan lagi, namun amat pelan karena sedang menurunkan satu


persatu penumpang. Bianca menikmatinya saja, sudah mampu mengontrol rasa


gugupnya berada dekat dengan Given. Given tidak memandang Bianca, cowo itu


masih saja sibuk dengan mata lensanya.  Saat pintu kurungan terbuka, Bianca keluar


terlebih dahulu sebelum Given, sampai- sampai Bianca menjatuhkan kantong


keresek hitamnya, Bianca tidak sadar. Mata Given melihat jelas ada benda jatuh


dari gadis yang sudah lari jauh, dengan gesit Given mengambil kantong keresek itu,


membawanya mengejar Bianca, gadis sekecil Bianca tidak akan bisa lari jauh


dengan tempo waktu cepat, langkahnya yang pendek pasti mampu di kejar oleh


Given.


            “Woi, Given. Mau kemana lo?” teriak


Lala dan teman- temannya ketika melihat Given berlari mengejar Bianca.


            Given tidak menghiraukan teriakan


temannya, ia terus menerobos kerumunan yang semakin padat, ia harus


mengembalikan barang yang jatuh, mungkin sangat penting bagi pemiliknya. Malam


itu Given belum tahu bahwa Bianca adalah adik kelasnya, maklum saja dia


mengejar Bianca hingga ketemu. Di pintu keluar area festival, Bianca


kebingunan, mengingat- ingat dimana kantong keresek untuk bi Nur, tidak ada di


genggaman tangannya. ‘aduh pasti ketinggalan di bianglala’ Bianca makin


kebingunan dengan pendapatnya sendiri, karena sangat tidak mungkin ia harus


kembali ke dalam festival yang makin malam makin penuh orang. Bianca masih


mondar- mandir di dekat pintu keluar, hingga suara seseorang membuatnya membeku


di tempat.


            “Eh, ini kantong keresek punya lo,


kan.” ucap Given masih ngos- ngosan.


            Perlahan Bianca membalikkan badan,


dilihatnya Given masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan sebab


mencari Bianca. Ayolah, jangan kelihatan bodoh di depan Given kali ini Bianca,


kontrol dirimu. Bianca menyatukan semua alam bawah sadarnya, berusaha


mengontrol diri agar tidak kelihatan grogi.


            “Eh, ii..iyaa.thanks, ya.” Bianca

__ADS_1


mengambil kantong keresek dari genggaman Given dengan sedikit gemetaran.


            “Eh, mau kemana lo?”


            Bianca yang akan melangkahkan kaki


terhenti, berbalik “Pulang.”


            “Sendiri?” Given sudah dalam ke mode


normalnya, nafasnya sudah beraturan lagi.


            “Eh, iya.”


            “Gue anterin gimana? Bocah SMP


jangan main keluyuran sendiri sembarangan.”


            Sekarang, giliran Bianca yang


mengatur nafas. “Enggg.. engga usah. Gue sudah pesen ojek online, kok.” tolak


Bianca- yang sebenarnya terjadi di hatinya, ya perasaan ingin melompat jurang


apalagi.


            “Yakin?” Given memandang Bianca


lamat- lamat.


            “Heem, yakin.” jawab Bianca


menunduk, tak kuasa menatap mata Given.


            Given meraih sesuatu dari saku


celana belakangnya “Nih, bawa saja buat jaga- jaga. Lo yakin, tapi gue engga.”


            Bianca mengernyitkan dahi, tidak


paham kenapa Given sepeduli ini, padahal kan Given tidak mengenal siapa Bianca.


            “Ini?” Bianca meraih uluran cutter


kecil dari tangan Given, menatap cutter itu masih tidak mengerti.


engga, yasudah ambil aja.”


            Given salah mengartikan kebingungan


Bianca, dipikirnya Bianca kebingunan bagaimana cara untuk mengembalikan barang


tajam itu. Belum sempat Bianca membuka suara, seorang mas ojol datang,


menanyakan nama Bianca, cepat- cepat Bianca memasukkan cutter kecil pemberian


Given ke dalam tas selempangnya.


            “Mas, hati- hati bawanya, jangan


macem- macem.” ancam Given saat Bianca sudah duduk di jok motor mas ojol.


            “Siap, mas.” balas mas ojol pada


Given.


            “Sesuai lokasi, ya?” tanya mas ojol


kali ini mengarah pada Bianca.


            “Eh, iya mas.”


            Sedetik kemudian motor mas ojol yang


Bianca tumpangi telah melaju, menjauh dari area festival. Given segera


berbalik, kembali menemui teman- temannya yang ia tinggal begitu saja.


            “Darimana lo?” sudut Lala ketika


Given baru saja sampai di tempat dekat bianglala.


            “Balikin barang yang ketinggalan


doang” jawab Given seadanya.


            Sementara itu di perjalanan menuju

__ADS_1


rumah Bianca.


            “Pacarnya, ya?” celetuk mas ojol


tiba- tiba.


            Bianca sedikit terperanjat kaget


“Eh, engga mas”


            “Kalau engga kok khawatirin banget


gitu.”


            Bianca diam, tidak menanggapi ocehan


mas ojol, isi kepalanya terngiang- ngiang dengan seluruh kalimat yang keluar


dari mulut Given. Apa benar Given menghawatirkan Bianca seperti yang mas ojol


bilang? Untung apa ngekhawatirin orang yang engga di kenal- Given yang belum


mengenal Bianca malam itu. Karena melamun selama perjalanan tidak terasa Bianca


telah tiba di halaman depan rumahnya.


            Bianca melepas helm, memberikan uang


sesuai tariff di aplikasi “Terimakasih, ya, mas” ucap Bianca- ya karena


menghargai mas ojol telah mengahantarkannya sampai tujuan dengan selamat tanpa


macam- macam seperti yang dikhawatirkan Given. Bianca melirik pergelangan


tangannya, tidak terlambat sesuai janjinya pada Bela. Segera Bianca masuk ke


dalam rumah, pintu depan rumah tidak dikunci, lampu ruang tamu yang menyala


hanyalah lampu kecil, bi Nur mungkin sudah tidur pulas di kamarnya. Jadi,


Bianca memutuskan langsung ke atas, dimana letak kamarnya berada, urusan baju


bi Nur bisa esok pagi diberikannya. Sampainya di kamar, Bianca jadi kebingunan,


perasaannya seperti tidak bisa dituliskan dalam buku ini. Bingung antara sikap


Given padanya yang peduli juga dengan dirinya yang nampak jelas kelihatannya


bodohnya bila di depan Given.


            “Apa sih, ah, bodo amat” umpat


Bianca pelan, melemparkan tas selempangnya ke arah kasur semabarangan,


kebetulan Bianca lupa mengunci penutup tas, jadi cutter pemberian Given keluar


ketika mendapat benturan keras hasil lemparan tangan Bianca.


            Bianca segera beranjak mengambil


cutter kecil itu, dimasukkanya ke dalam saku seragam SMP yang masih akan ia


kenakan besok pada masa orientasi.


            “Bakal gue balikin besok aja” gumam


Bianca pelan.


            Setelah itu, Bianca memilih


membersihkan diri, membersihkan sisa polesan tipis dari mukanya, lalu mencuci


muka sekaligus sikat gigi, setelah itu berbaring di atas ranjang. Tiga pulu


menit berlalu, Bianca masih belum bisa membawa dirinya ke alam mimpi,


pikirannya kembali pada Given. Cowo itu sekarang membuat Bianca ingin


membenturkan kepala sekeras- kerasnya pada dinding kamar. Baru saja sehari


bertemu, tidak sengaja harus berduaan di dalam kurungan bianglala, sudah


seenaknya memenuhi isi otak Bianca malam itu. Semoga dengan pengembalian cutter


milik Given, Bianca bisa tidur nyenyak lagi tanpa penghantuan bayangan Given,


pun juga suara Given yang sejujurnya memang menenangkan bagi Bianca. Sudah, Bi,

__ADS_1


berusaha lah tidur.


__ADS_2