
Sofia yang mendengar samar- samar
dari tangga bawah antara terkekeh geli atau merasa takut apabila Bianca gagal
terus harus menerima penolakan pada apa yang belum saja dimulai. Dalam hati
Bianca meramal doa, meminta apa saja yang terlintas dari pikirannya. Mungkin
mesin waktu yang akan mengembalikan Bianca ke beberapa menit yang lalu sebelum
ia memutuskan mengambil langkah ini. Sepuluh menit saling diam, Given ancang-
ancang membuka suara, membuat kepala Bianca terasa mual. Eh, salah, maksudnya
membuat kepala Bianca terasa pusing, matanya samar- samar kabur.
“Boleh saja”
Itu tadi sungguhan jawaban dari
Given? Atau suara dalam halusinasi Bianca saja?
“Eh, beneran, kak?” tanya Bianca
memastikan.
“Iya, bener. Catet saja”
“Oke, bentar tunggu, kak. Gue cari
pulpen di kelas dulu”
Bianca tergesa- gesa terlalu
bersemangat berlari ke lantai atas, melewati Given yang berdiri di anak tangga
paling atas, Given yang memandangi tingkah Bianca tertawa pelan, dalam hati ia
berkata menggemaskan sekali tingkah adik kelasnya itu. Bianca langsung menuju
kelasnya yang sepi, merogoh isi tasnya dengan cepat mencari dimana pulpennya.
Nah, akhirnya ketemu juga. Bianca berlari lagi menuju ke anak tangga.
“Sudah, kak”
Given menyebutkan nominal angka
nomor ponselnya, Bianca dengan seksama mendengarkan, berusaha menuliskan
sebutan nomor itu pada telapak tangannya menggunkaan tinta pulpen. Meskipun
tidak terlalu jelas, tidak masalah lah selagi Bianca masih bisa membacanya.
Selesai, Given mengulangi lagi, memastikan yang ditulis Bianca benar, tidak
salah menuliskan angka.
“Terimakasih, ya, kak” seru Bianca
hampir berteriak.
Given menarik lengkung sudut
bibirnya, lalu beranjak pergi, meneruskan langkahnya yang sempat tertunda
akibat kegilaan Bianca. Sofia yang merasa Bianca telah lolos menjalankan
misinya segera berlari kecil menaiki anak tangga, menghampiri Bianca.
“Gimana, bi?” tanya Sofia tidak
sabaran.
“Parah, dapet dong” seru Bianca kali
ini tidak mampu menahan teriakan keluar dari mulutnya seraya menunjukkan
telapak tangannya pada Sofia.
Sofia memberikan senyum lebar,
refleks memeluk Bianca, ikut merasa bangga atas keberhasilan Bianca, persis
dengan itu bel masuk berbunyi membuat kesenangan Bianca juga Sofia tertunda
sementara. Keduanya masuk ke kelas, juga seluruh siswa yang masih asyik di luar
kelas bergegas masuk ke dalam kelas. Bu Risma masuk lima belas menit kemudian,
melanjutkan tugasnya yang tertunda selama jam istirahat. Selanjutnya, Sofia
__ADS_1
menjadi yang ditunjuk, tidak seperti Bianca tadi pagi, kali ini Sofia sudah
siap maju, sebab sudah sempat membaca ulang berita yang akan dia bawakan di
depan kelas. Selagi Sofia maju, Bianca menyalin nomor Given dari tangannya ke
buku kosong miliknya, sesekali tersenyum tidak menyangka mendapatkan nomor dari
seorang yang dia kagumi. Dengan cepat seluruh siswa sudah mendapat giliran, bu
Risma lalu memberikan soal untuk dijawab sekarang dan dikumpulkan saat itu
juga. Serempak seisi kelas mmembuka buku kosong, bersiap memegang pulpen
masing- masing.
“Tuliskan tentang harapan kalian
masuk dalam SMA Pelita Murni, entah itu kalian disini mau ngapain, diam saja
menjadi murid pasif atau berniat mengikuti OSIS dengan memajukan
ekstrakulikuler yang ada” bu Risma di depan menjelaskan tentang tugas yang
diberikan.
“Masih ada waktu tiga puluh menit.
Kalian bisa mulai mengerjakan dan mengumpulkan hari ini juga sebelum bel pulan”
Bu Risma kembali duduk anteng di
bangkunya, sesekali mengawasi anak muridnya berpikir, menuangkan pikirannya
dalam kertas dengan tinta hitam. Tiga puluh menit berlangsung, bel pulang
berdenting, membuat serempak seisi kelas secara sukarela maju ke depan,
mengumpulkan buku tugas masing- masing.
“Terimakasih, ya, sudah tepat waktu.
Sampai jumpa besok” ucap bu Risma beranjak, membawa tumpukan buku sendiri.
Di depan, Tama sempat meminta izin
untuk membantu bu Risma, berbincang lumayan lama, alhasil Reina dan Lala lah
yang membawa tumpukan buku membantu bu Risma. Sementara Tama masuk, menenangkan
tadi.
“Kok gamenya engga dilanjutin, sih,
kak” adu satu anak cowo.
“Iya, kemarin kak Tama bilang mau
nerusin sekarang” teman satunya lagi menimpali, meminta tagihan janji yang
diucapkan Tama.
“Semua tenang. Karena keadaan engga
kasih kesempatan, ya mau bagaimana lagi. Tapi tadi gue udah minta izin ke bu
Risma kalau untuk besok jam kedua kalian akan dikosongkan dan digantikan main
game sama gue Reina juga Lala” terang Tama santai, berhasil membuat keadaan
sedikit tenang.
“Maafin gue deh, ya”
“Iya, kak, dimaafin”
Barulah setelah kegaduhan karena
Tama tidak menepati janji, kelas adenium bersiap pulang, baru bisa keluar
padahal kelas lain sudah keluar sekitar tujuh menit yang lalu.
“Gimana, bi?” Sofia memegang pundak
Bianca, tersenyum jahil. Keduanya sedang berjalan berdampingan menuju pintu
gerbang sekolah.
“Gimana apanya?” Bianca balik
menatap Sofia.
__ADS_1
“Itu tadi dapat nomornya kak Given”
Sofi masih saja tersenyum jahil, kali ini lebih mengarah pada menggoda Bianca.
“Hmm biasa saja” lagak Bianca, sok
jual mahal.
“Yakin?” Sofia tak kalah, balas
menyenggol Bianca. Dengan sadar Bianca berhasil menyeimbangkan tubuhnya yang
goyah sebentar.
“Yakin lah” ucap Bianca sedikit
sebal.
Sofia terkekeh “Lo pulang di jemput
lagi nih?” keduanya telah sampai pada pintu gerbang sekolah.
“Engga, gue di jemput sama pangeran
entar” canda Bianca.
“Halu ya, neng” Sofia tahu kalau
temannya itu hanya bercanda.
“Yasudah kalau engga percaya”
“Gue tinggal gapapa, nih?” tanya
Sofia, memastikan.
“Gapapa, gue naik ojol entar,
gampang”
“Yasudah gue duluan, ya” seru Sofia,
beranjak mendekati parkiran motor.
“Iya, lo hati- hati juga” Sofia
balas berteriak.
Bianca melambaikan tangan pada Sofia
ketika Sofia keluar dari parkiran yang terletak di depan Bianca berdiri, Sofia
dan motornya hilang di kelokan jalan. Sekarang hanya Bianca seorang di depan
gerbang. Bianca merogoh saku seragamnya, mencari dimana ponselnya, tidak ada,
berganti megeledah isi tasnya- resleting depan, belakang, juga sisi kanan kiri
di ceknya, namun tetap saja nihil. Bianca masih berusaha tenang, mengingat-
ingat dimana terakhir kali ia melihat benda pipih itu, berputar- putar otaknya-
sejak melihat Sofia memainkan ponsel Bianca tidak merasa ingin mengambil
ponselnya, juga saat di kantin waktu jam istirahat Bianca yang biasanya membuka
notifikasi ponsel namun tidak hari ini. Oke, berarti bukan di sekitar sekolah,
lebih ke belakang lagi saat di rumah, ketika Bianca menyambar tas. Sial, Bianca
ingat sekarang, ia lupa membawa ponsel warna hitamnya yang ia tinggalkan di
atas nakas dalam keadaan di charger. Bianca mulai panik, pikirannya buntu,
kalau begini bagaimana ia bisa pulang, tidak ada ponsel tidak bisa juga memesan
ojek online.
“Belum di jemput?” di tengah panik,
dari arah belakang- lorong gerbang sekolah, seseorang menghampiri Bianca.
“Eh, kak Lala, belum nih, kak” jawab
Bianca, paniknya bertambah gugup, rasanya lutut Bianca mulai lemas. Sebab Lala
berjalan bersama Given.
Bayangkan, itu Given sedang menatap
Bianca dengan tatapan yang Bianca tidak tahu apa maksudnya.
__ADS_1
---
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih. Salam Literasi dari Aksara Raya:)