Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Mission completed


__ADS_3

            Sofia yang mendengar samar- samar


dari tangga bawah antara terkekeh geli atau merasa takut apabila Bianca gagal


terus harus menerima penolakan pada apa yang belum saja dimulai. Dalam hati


Bianca meramal doa, meminta apa saja yang terlintas dari pikirannya. Mungkin


mesin waktu yang akan mengembalikan Bianca ke beberapa menit yang lalu sebelum


ia memutuskan mengambil langkah ini. Sepuluh menit saling diam, Given ancang-


ancang membuka suara, membuat kepala Bianca terasa mual. Eh, salah, maksudnya


membuat kepala Bianca terasa pusing, matanya samar- samar kabur.


            “Boleh saja”


            Itu tadi sungguhan jawaban dari


Given? Atau suara dalam halusinasi Bianca saja?


            “Eh, beneran, kak?” tanya Bianca


memastikan.


            “Iya, bener. Catet saja”


            “Oke, bentar tunggu, kak. Gue cari


pulpen di kelas dulu”


            Bianca tergesa- gesa terlalu


bersemangat berlari ke lantai atas, melewati Given yang berdiri di anak tangga


paling atas, Given yang memandangi tingkah Bianca tertawa pelan, dalam hati ia


berkata menggemaskan sekali tingkah adik kelasnya itu. Bianca langsung menuju


kelasnya yang sepi, merogoh isi tasnya dengan cepat mencari dimana pulpennya.


Nah, akhirnya ketemu juga. Bianca berlari lagi menuju ke anak tangga.


            “Sudah, kak”


            Given menyebutkan nominal angka


nomor ponselnya, Bianca dengan seksama mendengarkan, berusaha menuliskan


sebutan nomor itu pada telapak tangannya menggunkaan tinta pulpen. Meskipun


tidak terlalu jelas, tidak masalah lah selagi Bianca masih bisa membacanya.


Selesai, Given mengulangi lagi, memastikan yang ditulis Bianca benar, tidak


salah menuliskan angka.


            “Terimakasih, ya, kak” seru Bianca


hampir berteriak.


            Given menarik lengkung sudut


bibirnya, lalu beranjak pergi, meneruskan langkahnya yang sempat tertunda


akibat kegilaan Bianca. Sofia yang merasa Bianca telah lolos menjalankan


misinya segera berlari kecil menaiki anak tangga, menghampiri Bianca.


            “Gimana, bi?” tanya Sofia tidak


sabaran.


            “Parah, dapet dong” seru Bianca kali


ini tidak mampu menahan teriakan keluar dari mulutnya seraya menunjukkan


telapak tangannya pada Sofia.


            Sofia memberikan senyum lebar,


refleks memeluk Bianca, ikut merasa bangga atas keberhasilan Bianca, persis


dengan itu bel masuk berbunyi membuat kesenangan Bianca juga Sofia tertunda


sementara. Keduanya masuk ke kelas, juga seluruh siswa yang masih asyik di luar


kelas bergegas masuk ke dalam kelas. Bu Risma masuk lima belas menit kemudian,


melanjutkan tugasnya yang tertunda selama jam istirahat. Selanjutnya, Sofia

__ADS_1


menjadi yang ditunjuk, tidak seperti Bianca tadi pagi, kali ini Sofia sudah


siap maju, sebab sudah sempat membaca ulang berita yang akan dia bawakan di


depan kelas. Selagi Sofia maju, Bianca menyalin nomor Given dari tangannya ke


buku kosong miliknya, sesekali tersenyum tidak menyangka mendapatkan nomor dari


seorang yang dia kagumi. Dengan cepat seluruh siswa sudah mendapat giliran, bu


Risma lalu memberikan soal untuk dijawab sekarang dan dikumpulkan saat itu


juga. Serempak seisi kelas mmembuka buku kosong, bersiap memegang pulpen


masing- masing.


            “Tuliskan tentang harapan kalian


masuk dalam SMA Pelita Murni, entah itu kalian disini mau ngapain, diam saja


menjadi murid pasif atau berniat mengikuti OSIS dengan memajukan


ekstrakulikuler yang ada” bu Risma di depan menjelaskan tentang tugas yang


diberikan.


            “Masih ada waktu tiga puluh menit.


Kalian bisa mulai mengerjakan dan mengumpulkan hari ini juga sebelum bel pulan”


            Bu Risma kembali duduk anteng di


bangkunya, sesekali mengawasi anak muridnya berpikir, menuangkan pikirannya


dalam kertas dengan tinta hitam. Tiga puluh menit berlangsung, bel pulang


berdenting, membuat serempak seisi kelas secara sukarela maju ke depan,


mengumpulkan buku tugas masing- masing.


            “Terimakasih, ya, sudah tepat waktu.


Sampai jumpa besok” ucap bu Risma beranjak, membawa tumpukan buku sendiri.


            Di depan, Tama sempat meminta izin


untuk membantu bu Risma, berbincang lumayan lama, alhasil Reina dan Lala lah


yang membawa tumpukan buku membantu bu Risma. Sementara Tama masuk, menenangkan


tadi.


            “Kok gamenya engga dilanjutin, sih,


kak” adu satu anak cowo.


            “Iya, kemarin kak Tama bilang mau


nerusin sekarang” teman satunya lagi menimpali, meminta tagihan janji yang


diucapkan Tama.


            “Semua tenang. Karena keadaan engga


kasih kesempatan, ya mau bagaimana lagi. Tapi tadi gue udah minta izin ke bu


Risma kalau untuk besok jam kedua kalian akan dikosongkan dan digantikan main


game sama gue Reina juga Lala” terang Tama santai, berhasil membuat keadaan


sedikit tenang.


            “Maafin gue deh, ya”


            “Iya, kak, dimaafin”


            Barulah setelah kegaduhan karena


Tama tidak menepati janji, kelas adenium bersiap pulang, baru bisa keluar


padahal kelas lain sudah keluar sekitar tujuh menit yang lalu.


            “Gimana, bi?” Sofia memegang pundak


Bianca, tersenyum jahil. Keduanya sedang berjalan berdampingan menuju pintu


gerbang sekolah.


            “Gimana apanya?” Bianca balik


menatap Sofia.

__ADS_1


            “Itu tadi dapat nomornya kak Given”


Sofi masih saja tersenyum jahil, kali ini lebih mengarah pada menggoda Bianca.


            “Hmm biasa saja” lagak Bianca, sok


jual mahal.


            “Yakin?” Sofia tak kalah, balas


menyenggol Bianca. Dengan sadar Bianca berhasil menyeimbangkan tubuhnya yang


goyah sebentar.


            “Yakin lah” ucap Bianca sedikit


sebal.


            Sofia terkekeh “Lo pulang di jemput


lagi nih?” keduanya telah sampai pada pintu gerbang sekolah.


            “Engga, gue di jemput sama pangeran


entar” canda Bianca.


            “Halu ya, neng” Sofia tahu kalau


temannya itu hanya bercanda.


            “Yasudah kalau engga percaya”


            “Gue tinggal gapapa, nih?” tanya


Sofia, memastikan.


            “Gapapa, gue naik ojol entar,


gampang”


            “Yasudah gue duluan, ya” seru Sofia,


beranjak mendekati parkiran motor.


            “Iya, lo hati- hati juga” Sofia


balas berteriak.


            Bianca melambaikan tangan pada Sofia


ketika Sofia keluar dari parkiran yang terletak di depan Bianca berdiri, Sofia


dan motornya hilang di kelokan jalan. Sekarang hanya Bianca seorang di depan


gerbang. Bianca merogoh saku seragamnya, mencari dimana ponselnya, tidak ada,


berganti megeledah isi tasnya- resleting depan, belakang, juga sisi kanan kiri


di ceknya, namun tetap saja nihil. Bianca masih berusaha tenang, mengingat-


ingat dimana terakhir kali ia melihat benda pipih itu, berputar- putar otaknya-


sejak melihat Sofia memainkan ponsel Bianca tidak merasa ingin mengambil


ponselnya, juga saat di kantin waktu jam istirahat Bianca yang biasanya membuka


notifikasi ponsel namun tidak hari ini. Oke, berarti bukan di sekitar sekolah,


lebih ke belakang lagi saat di rumah, ketika Bianca menyambar tas. Sial, Bianca


ingat sekarang, ia lupa membawa ponsel warna hitamnya yang ia tinggalkan di


atas nakas dalam keadaan di charger. Bianca mulai panik, pikirannya buntu,


kalau begini bagaimana ia bisa pulang, tidak ada ponsel tidak bisa juga memesan


ojek online.


            “Belum di jemput?” di tengah panik,


dari arah belakang- lorong gerbang sekolah, seseorang menghampiri Bianca.


            “Eh, kak Lala, belum nih, kak” jawab


Bianca, paniknya bertambah gugup, rasanya lutut Bianca mulai lemas. Sebab Lala


berjalan bersama Given.


            Bayangkan, itu Given sedang menatap


Bianca dengan tatapan yang Bianca tidak tahu apa maksudnya.

__ADS_1


---


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih. Salam Literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2