Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Mama Bela dan Given


__ADS_3

Dalam lima belas menit mereka sudah sampai di rumah Bianca, rasanya bukan lima menit,


tapi lebih lama dari itu. Bianca turun dari motor, sementara dari arah rumah,


Bela berjalan menuju gerbang.


            “Kamu sudah pulang?” tanya Bela,


membuka gerbang, heran.


            Bianca menoleh, matanta terbuka


lebar, lebih terkejut lagi, “Loh, mama?”


            “Baru saja mama mau jemput kamu,”


            “Mama engga bilang ke Bianca,”


            “Mama kirim pesan ke kamu,”


            Eh, iyakah? Bianca terkesiap,


buru-buru memeriksa ponselnya. Dan benar, lima belas menit yang lalu , persis


Bianca menaiki motor Given, Bela mengiriminya pesan.


            “Bianca engga lihat,”


            “Ini siapa?” Bela mengganti topi,


menoleh ke Given. Bianca yang sudah berdiri di samping Bela menahan nafas,


berharap Given menghilang dari hadapannya.


            Alih-alih menghilang, Given malah


turun dari motor, melepas helm yang menutupi setengah wajahnya, mendekat ke


arah Bela, dengan sopan menyalami.


            “Saya Given, tante. Kakak kelasnya


Bianca,” ucap Given memperkenalkan diri, tersenyum sopan.


            “Oh. Saya Bela, mamanya Bianca,”


balas Bela, tersenyum lebar.


            Di samping, Bianca merasakan pipinya


memanas, jangan-jangan dia sekarang sudah seperti udang rebus.


            “Mau mampir dulu?” tawar Bela.


            “Engga bisa, ma,” jawab Bianca


cepat, Bela menoleh, juga Given.


            ‘Eh, anu. Maksudnya Kak Given engga


bisa mampir. Dia sibuk, ada tugas banyak. Lebih baik Kak Given pulang saja,


ya,”


            Aih, malah jadi salah tingkah ia di


depan Given. Dalam hati, Bianca merapal doa, berharap agar Given menolaknya.


Tolak saja, tolak, jangan mau, nanti kamu akan kena racun jika menerimanya.


            Given yang mengetahui gelagat Bianca


menahan tawa, “Engga usah, tante. Saya masih ada tugas banyak di sekolahan,”


tolak Given lembut.


            Bianca menghela napas lega. Untung


saja Given sependapat dengannya, tidak merusak scenario dadakan yang dibuat


Bianca.


            “Loh, yakin? Gapapa masuk dulu,”


            Aduh, apa-apaan sih mama ini,


gerutu  Bianca dalam hati.


            Sekali lagi Given tersenyum, sedikit


menundukkan kepala, “Kapan-kapan saja, tante. Lagian sepertinya Bianca engga


suka saya lama-lama di sini,”


            Bianca terkesiap, memberi pelototan


pada Given yang juga tengah menatapnya.


            Bela menatap mereka bergantian,


terkekeh geli, “Ya sudah, kapan-kapan, ya. Terima kasih sudah mau nganterin


Bianca,”


            “Iya, tante. Sama-sama. Saya


pamit,”  ucap Given undur diri, kembali


menyalami tangan Bela.

__ADS_1


            “Hati-hati,” ujar Bela, menyenggol


lengan Bianca.


            “Hati-hati, kak,” Bianca memaksakan


diri mengatakan itu di depan mamanya, terpaksa juga tersenyum.


            ---


            Semenjak kepulangan Given, Bela


menatap dengan tatapan menggoda pada Bianca.


            “Mama kenapa?” tanya Bianca sebal.


            “Kok mama. Kamu yang kenapa?”


            “Kok aku, sih?”


            “Kamu yang kenapa jadi salah


tingkah, kan mama cuma nawarin dia mampir sebentar,”


            “Bianca engga salah tingkah. Mama


yang kenapa nawarin dia buat masuk. Kakak itu bukan siapa-siapanya Bianca,


kok,” tandas Bianca sewot.


            “Loh, memang kalau mau silahturahmi


harus jadi siapa-siapa dulu, gitu,” balas Bela, tepat membuat Bianca kalah.


            Bianca mendengus sebal, berjalan


mendahului Bela untuk masuk ke dalam rumah. Bela hanya menatapnya, tersenyum


geli, menggelengkan kepala. Anak gadisnya sudah besar.


            ---


            ‘Mama apa-apaan, sih,’


            ‘Kak Given kenapa sok manis gitu


juga,’


            ‘Argh. Kenapa mereka pakai segala


ketemu, sih. Tahu gitu gue langsung pulang saja tadi. Engga usah nungguin Kak


Given’


            ‘Atau sebelum diajak pulang bareng,


            ‘Argh, malu gue tuh’


            Celoteh Bianca, mengomel sendirian


di dalam kamar, mengusap kasar wajahnya.


            ‘Memangnya gue tadi salah tingkah,


ya?’


            ‘Bukan siapa-siapa?’


            ‘Harus jadi siapa-siapa?’


            Lalu sekarang. Sejumlah pertanyaan


hadir di dalam otaknya, membuat gadis itu makin frustasi. Bisa-bisa malu untuk


ketemu Given esok hari. Sebenarnya Bianca antara malu dan senang keterlaluan. Malu


karena harus mendadak Giveen bertemu Bela, senang karena hari ini ia bisa


pulang dengan Given, sepertinya juga Bela memberi lampu hijau pada Given.


            Ya Tuhan, kalau ini mimpi, sudahi


saja segera. Bianca tidak kuat diberi mimpi sebagus ini. Namun, kalau ini


kenyataan, paling juga Bianca salah dimensi, salah planet. Cepat, pindahkan


Bianca pada dimensi yang tepat. Tidak mau Bianca harus mati konyol dijejali


godaan dari Bela, atau kepalanya dihuni terus-terusan oleh Given.


            “Bi, ayo makan siang dulu,” suara


dari balik pintu kamar menyadarkan Bianca.


            Bianca ingin saja mengatakan ‘Mama


saja duluan, Bianca masih malu,’ tapi urung, tidak mungkin lah Bianca


menceploskan kalimat itu, malah akan menambah malu dirinya.


            “Mama saja duluan. Bianca masih


kenyang,”


            “Ayo lah. Setelah ini mama mau


kembali berangkat kerja,”


            “Hanya makan siang, ya?”

__ADS_1


            “Iya. Makan siang. Lalu mau apa


lagi?”


            “Oke. Hanya makan siang. Bianca akan


turun sebentar lagi,”


            “Mama tunggu di bawah,”


            Bianca hanya membalas dengan deheman


panjang. Ia meyakinkan diri, ini sekedar makan siang dan Bela tidak akan kepo


menanyakan tentang Given.


            ---


            Di meja makan sudah ada Bela yang


tengah duduk, rapi dengan kemeja kerjanya. Bi Nur yang seperti biasa,


memindahkan lauk dari wajan ke piring di meja makan. Bianca mengambil duduk di


samping Bela.


            “Sudah belum, bi?” tanya Bela.


            “Sudah nyonya,”


            “Ayo, bibi sekalian ikut makan!”


ajak Bela, kali ini Bi Nur tidak menolak seperti kemarin. Wanita yang baru


bekerja setahun itu mengambil duduk di dekat Bela, sedikit sungkan sebenarnya. Majikannya


ini sebenarnya memang loyal.


            Bianca hanya diam dari tadi, tidak ada


topik penting yang akan ia tanyakan sekarang. Sepuluh menit santapan di piring


habis tidak tersesa.


            “Mama berangkat lagi, ya. Makan


malam engga usah nunggu, mama pulang malam soalnya,” Bela terlihat


terburu-buru, menghabiskan minumannya, mengusap puncak kepala Bianca yang


tengah menghabiskan suapan terakhirnya.


            “Maaf, ya, bi. Engga bisa bantu,”


            “Iya, gapapa nyonya,” balas Bi Nur


mengangguk, tersenyum ramah.


            Bianca diam saja. Sudah sejak


kemarin malam perilaku Bela berubah, entah akan seperti ini atau kembali pada


biasanya.


            “Kalau Bianca ikut ektrakulikuler


gapapa, ya, ma?” tanya Bianca tiba-tiba. Bela yang sedang mencangklongkan tas


menoleh, menatap lembut.


            “Kamu mau ikut apa?”


            “Paskibra, ma,” jawab Bianca


bersemangat, dari desas-desus yang didengarnya besok adalah  pemilihan calon paskibra untuk bulan depan.


            “Gapapa. Mama izinkan selagi itu hal


baik,” kali ini Bela menyentuh pipi Bianca, tersenyum, “Mama berangkat dulu,”


tambahnya, berlalu.


            Bianca membeku. Kali ini bukan


karena Given, namun karena perlakuan Bela yang telah lama tidak diberikan


padanya kini kembali. Rasanya asing setelah sekian lama. Tanpa sadar, setetes


air mata jatuh ke pipi Bianca, dibiarkannya menetes.


            “Bianca ke kamar, ya, bi” pamit


Bianca pada Bi Nur tanpa melihat.


            Bi Nur yang mengetahui hanya bisa


menatap prihatin.


            Bela menyempatkan pulang karena


memang ingin meluangkan waktu untuk Bianca hari itu, juga ikut dalam acara  makan di meja makan. Untuk Bianca, tapi gadis


itu belum mengetahui apa yang terjadi.


 


---


Apabila ada kesalahan dalam penulisan KBBI atau PUEBI-nya, mohon kritik dan saran yang membangun. Terimakasih. Salam literasi dari Aksara Raya:)

__ADS_1


__ADS_2