
Dalam lima belas menit mereka sudah sampai di rumah Bianca, rasanya bukan lima menit,
tapi lebih lama dari itu. Bianca turun dari motor, sementara dari arah rumah,
Bela berjalan menuju gerbang.
“Kamu sudah pulang?” tanya Bela,
membuka gerbang, heran.
Bianca menoleh, matanta terbuka
lebar, lebih terkejut lagi, “Loh, mama?”
“Baru saja mama mau jemput kamu,”
“Mama engga bilang ke Bianca,”
“Mama kirim pesan ke kamu,”
Eh, iyakah? Bianca terkesiap,
buru-buru memeriksa ponselnya. Dan benar, lima belas menit yang lalu , persis
Bianca menaiki motor Given, Bela mengiriminya pesan.
“Bianca engga lihat,”
“Ini siapa?” Bela mengganti topi,
menoleh ke Given. Bianca yang sudah berdiri di samping Bela menahan nafas,
berharap Given menghilang dari hadapannya.
Alih-alih menghilang, Given malah
turun dari motor, melepas helm yang menutupi setengah wajahnya, mendekat ke
arah Bela, dengan sopan menyalami.
“Saya Given, tante. Kakak kelasnya
Bianca,” ucap Given memperkenalkan diri, tersenyum sopan.
“Oh. Saya Bela, mamanya Bianca,”
balas Bela, tersenyum lebar.
Di samping, Bianca merasakan pipinya
memanas, jangan-jangan dia sekarang sudah seperti udang rebus.
“Mau mampir dulu?” tawar Bela.
“Engga bisa, ma,” jawab Bianca
cepat, Bela menoleh, juga Given.
‘Eh, anu. Maksudnya Kak Given engga
bisa mampir. Dia sibuk, ada tugas banyak. Lebih baik Kak Given pulang saja,
ya,”
Aih, malah jadi salah tingkah ia di
depan Given. Dalam hati, Bianca merapal doa, berharap agar Given menolaknya.
Tolak saja, tolak, jangan mau, nanti kamu akan kena racun jika menerimanya.
Given yang mengetahui gelagat Bianca
menahan tawa, “Engga usah, tante. Saya masih ada tugas banyak di sekolahan,”
tolak Given lembut.
Bianca menghela napas lega. Untung
saja Given sependapat dengannya, tidak merusak scenario dadakan yang dibuat
Bianca.
“Loh, yakin? Gapapa masuk dulu,”
Aduh, apa-apaan sih mama ini,
gerutu Bianca dalam hati.
Sekali lagi Given tersenyum, sedikit
menundukkan kepala, “Kapan-kapan saja, tante. Lagian sepertinya Bianca engga
suka saya lama-lama di sini,”
Bianca terkesiap, memberi pelototan
pada Given yang juga tengah menatapnya.
Bela menatap mereka bergantian,
terkekeh geli, “Ya sudah, kapan-kapan, ya. Terima kasih sudah mau nganterin
Bianca,”
“Iya, tante. Sama-sama. Saya
pamit,” ucap Given undur diri, kembali
menyalami tangan Bela.
__ADS_1
“Hati-hati,” ujar Bela, menyenggol
lengan Bianca.
“Hati-hati, kak,” Bianca memaksakan
diri mengatakan itu di depan mamanya, terpaksa juga tersenyum.
---
Semenjak kepulangan Given, Bela
menatap dengan tatapan menggoda pada Bianca.
“Mama kenapa?” tanya Bianca sebal.
“Kok mama. Kamu yang kenapa?”
“Kok aku, sih?”
“Kamu yang kenapa jadi salah
tingkah, kan mama cuma nawarin dia mampir sebentar,”
“Bianca engga salah tingkah. Mama
yang kenapa nawarin dia buat masuk. Kakak itu bukan siapa-siapanya Bianca,
kok,” tandas Bianca sewot.
“Loh, memang kalau mau silahturahmi
harus jadi siapa-siapa dulu, gitu,” balas Bela, tepat membuat Bianca kalah.
Bianca mendengus sebal, berjalan
mendahului Bela untuk masuk ke dalam rumah. Bela hanya menatapnya, tersenyum
geli, menggelengkan kepala. Anak gadisnya sudah besar.
---
‘Mama apa-apaan, sih,’
‘Kak Given kenapa sok manis gitu
juga,’
‘Argh. Kenapa mereka pakai segala
ketemu, sih. Tahu gitu gue langsung pulang saja tadi. Engga usah nungguin Kak
Given’
‘Atau sebelum diajak pulang bareng,
‘Argh, malu gue tuh’
Celoteh Bianca, mengomel sendirian
di dalam kamar, mengusap kasar wajahnya.
‘Memangnya gue tadi salah tingkah,
ya?’
‘Bukan siapa-siapa?’
‘Harus jadi siapa-siapa?’
Lalu sekarang. Sejumlah pertanyaan
hadir di dalam otaknya, membuat gadis itu makin frustasi. Bisa-bisa malu untuk
ketemu Given esok hari. Sebenarnya Bianca antara malu dan senang keterlaluan. Malu
karena harus mendadak Giveen bertemu Bela, senang karena hari ini ia bisa
pulang dengan Given, sepertinya juga Bela memberi lampu hijau pada Given.
Ya Tuhan, kalau ini mimpi, sudahi
saja segera. Bianca tidak kuat diberi mimpi sebagus ini. Namun, kalau ini
kenyataan, paling juga Bianca salah dimensi, salah planet. Cepat, pindahkan
Bianca pada dimensi yang tepat. Tidak mau Bianca harus mati konyol dijejali
godaan dari Bela, atau kepalanya dihuni terus-terusan oleh Given.
“Bi, ayo makan siang dulu,” suara
dari balik pintu kamar menyadarkan Bianca.
Bianca ingin saja mengatakan ‘Mama
saja duluan, Bianca masih malu,’ tapi urung, tidak mungkin lah Bianca
menceploskan kalimat itu, malah akan menambah malu dirinya.
“Mama saja duluan. Bianca masih
kenyang,”
“Ayo lah. Setelah ini mama mau
kembali berangkat kerja,”
“Hanya makan siang, ya?”
__ADS_1
“Iya. Makan siang. Lalu mau apa
lagi?”
“Oke. Hanya makan siang. Bianca akan
turun sebentar lagi,”
“Mama tunggu di bawah,”
Bianca hanya membalas dengan deheman
panjang. Ia meyakinkan diri, ini sekedar makan siang dan Bela tidak akan kepo
menanyakan tentang Given.
---
Di meja makan sudah ada Bela yang
tengah duduk, rapi dengan kemeja kerjanya. Bi Nur yang seperti biasa,
memindahkan lauk dari wajan ke piring di meja makan. Bianca mengambil duduk di
samping Bela.
“Sudah belum, bi?” tanya Bela.
“Sudah nyonya,”
“Ayo, bibi sekalian ikut makan!”
ajak Bela, kali ini Bi Nur tidak menolak seperti kemarin. Wanita yang baru
bekerja setahun itu mengambil duduk di dekat Bela, sedikit sungkan sebenarnya. Majikannya
ini sebenarnya memang loyal.
Bianca hanya diam dari tadi, tidak ada
topik penting yang akan ia tanyakan sekarang. Sepuluh menit santapan di piring
habis tidak tersesa.
“Mama berangkat lagi, ya. Makan
malam engga usah nunggu, mama pulang malam soalnya,” Bela terlihat
terburu-buru, menghabiskan minumannya, mengusap puncak kepala Bianca yang
tengah menghabiskan suapan terakhirnya.
“Maaf, ya, bi. Engga bisa bantu,”
“Iya, gapapa nyonya,” balas Bi Nur
mengangguk, tersenyum ramah.
Bianca diam saja. Sudah sejak
kemarin malam perilaku Bela berubah, entah akan seperti ini atau kembali pada
biasanya.
“Kalau Bianca ikut ektrakulikuler
gapapa, ya, ma?” tanya Bianca tiba-tiba. Bela yang sedang mencangklongkan tas
menoleh, menatap lembut.
“Kamu mau ikut apa?”
“Paskibra, ma,” jawab Bianca
bersemangat, dari desas-desus yang didengarnya besok adalah pemilihan calon paskibra untuk bulan depan.
“Gapapa. Mama izinkan selagi itu hal
baik,” kali ini Bela menyentuh pipi Bianca, tersenyum, “Mama berangkat dulu,”
tambahnya, berlalu.
Bianca membeku. Kali ini bukan
karena Given, namun karena perlakuan Bela yang telah lama tidak diberikan
padanya kini kembali. Rasanya asing setelah sekian lama. Tanpa sadar, setetes
air mata jatuh ke pipi Bianca, dibiarkannya menetes.
“Bianca ke kamar, ya, bi” pamit
Bianca pada Bi Nur tanpa melihat.
Bi Nur yang mengetahui hanya bisa
menatap prihatin.
Bela menyempatkan pulang karena
memang ingin meluangkan waktu untuk Bianca hari itu, juga ikut dalam acara makan di meja makan. Untuk Bianca, tapi gadis
itu belum mengetahui apa yang terjadi.
---
Apabila ada kesalahan dalam penulisan KBBI atau PUEBI-nya, mohon kritik dan saran yang membangun. Terimakasih. Salam literasi dari Aksara Raya:)
__ADS_1