Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Terciduk oleh Sofia


__ADS_3

 


Ketukan sepatu berhak tipis terdengar dari arah anak tangga, beberapa guru mulai memasuki kelasnya masing-masing yang telah dibagikan sebelumnya. Hanya Bianca dan Sofia yang menyadari kehadiran para guru, lantaran teman yang lain masih saja sibuk dengan perangai masing-masing hingga tidak mendengar suara dari luar.


Tok..tok..tok..


“Permisi,”


Seketika seluruh pasang mata menoleh pada sumber suara, terlebih siswa yang menyebabkan keributan, berjalan terbirit-birit kembali pada bangku masing-masing. Di ambang pintu berdiri seorang guru, dari balik lensa kacamatanya menatap tidak suka pada seisi kelas, perlahan ia berjalan menuju meja di seberang, meletakkan map snelhecter berwarna kuning di atas meja.


“Coba tadi yang bikin rusuh maju ke depan!” perintahnya langsung tanpa perkenalan.


Semua kepala menunduk, tidak ada yang berani menatap, cowo yang kelihatannya bandel di pojok kelas juga diam tidak banyak bicara, cewe yang tadi tertawa dan teriak kencang juga hanya mematung di kursi, semua nyali kicep. Sedangkan di luar Tama, Lala, juga Reina mengamati kejadian di dalam.


“Ayo maju sekarang!” guru yang belum di ketahui namanya berkacak pinggang di depan papan tulis.


“Baiklah, kalau engga ada yang mau maju sekelas bakal kena hukum,”


“Heh, lu maju sana, intropeksi diri gitu,” terdengar bisik-bisik saling menyuruh.


“Ayo maju yang salah. Berani berbuat berani bertanggung jawab,” suara Tama terdengar ikut menimpali, ia sedang berdiri menyender pada bingkai pintu.


Akhirnya, satu persatu siswa maju ke depan, karena kebanyakan anak cowo bisa saja dalam pikirnya ia tidak mau di cap tidak bertanggung jawab nantinya, imagenya menjadi seorang cowo bisa hancur bila begitu.


Di lorong atas depan kelas adenium.


“Eh ada apaan?” seorang cowo menghampiri Lala dari arah anak tangga, sepertinya baru saja dari lorong lantai bawah lalu naik ke atas.


“Sini deh, itu lagi pada di hukum. Lo masuk aja jepret-jepret,” Lala melambaikan tangan pada seorang cowo yang bisa di andalkan dalam urusan memotret.


“Wah. Seru pasti, nih,” yang di suruh pun dengan senang hati melakukannya.


“Eh, Tama, gue izin masuk, ya,” izin seseorang tadi kepada Tama selaku kakak pendamping kelas, Tama mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Dari arah bangku Bianca, nomor dua dari pintu masuk, dengan jelasnya Bianca mampu mendegar percakapan Tama dan seseorang yang sejak tadi Bianca pikirkan. Seseorang tadi melesat ke dalam kelas, memotret anak-anak kelas adenium yang mendapat hukuman, di suruh bernyanyi satu lagu penuh sambil berjoget ria di depan kelas, seperti baginya ini adalah kejadian lucu yang perlu di abadikan. Seperti tadi di lapangan, mata hitam hitam bulat Bianca menatap penuh kagum setiap gerak dari cowo yang tengah sibuk membidik di depan kelasnya, bergerak ke kiri, membungkuk agar mendapat angle yang bagus, tangan besarnya lihai memutar fokuskan lensa kamera. Yang di perhatikan Bianca tidak sadar atau lebih tepatnya belum sadar bahwa dirinya tengah di mata-matai oleh sepasang mata dari seorang gadis.


“Given, lo dipanggil sama kelas sebelah” seru Tama, di sampingnya berdiri Lala yang memang baru saja dari kelas sebelah dan kelas sebelah menanyakan keberadaan photography andalan SMA Pelita Murni.


“Oke,”


Namanya Given, Given Aksa Syahreza, identik dengan kamera yang selalu ia bawa, seorang photograpy ternama SMA Pelita Murni, berada di dekat Given akan membuat siapapun wajahnya terpampang pada layar kaca madding atau lembaran majalah sekolah yang akan terbit.


“Ish, muka lo kenapa sih, Sof?” bentak Sofia ketus, pasalnya muka Sofia lagi-lagi muncul tepat di depan mata Bianca yang sedang fokus menatap kepergian Given.


“Lo suka sama kakak panitia tadi, ya?” tuding Sofia tepat mengenai sasaran.


“Lo ngaco lagi. Kayaknya yang kesambet tuh bukan gue, tapi lu sendiri,” Bianca berusaha mengelak, mengalihkan pandangannya ke depan.


Acara hukuman baru saja berakhir sedetik setelah Given keluar dari ruangan kelas, beberapa siswa yang terkena hukuman berjalan kembali pada bangku masing-masing.


“Engga usah salah tingkah gitu juga. Engga salah, sih, kalau lu suka sama kakak panitia itu, keren-keren aja gayanya, tinggi banget lagi,” Sofia tersenyum jahil berusaha mengompori.


“Coba dulu, jangan pesimis gitu, Bi,” ucap Sofia memberi energi semangat 45.


Di depan, guru pembimbing sudah selesai dengan kertas-kertasnnya, hanya mengambil selembar saja, lalu menutupnya kembali, menyingkirkannya ke samping meja.


“Baik anak-anak kelakuan seperti yang tadi ibu harap tidak diulangi lagi, ya,”


“Iya, bu,” sekelas serempak menjawab, padahal yah sesama murid dan guru sendiri juga tahu nanti-nanti akan di ulangi lagi.


“Perkenalkan nama ibu, Risma Wardani, guru mata pelajaran fisika,"


“Oke. Kita mulai perkenalan aja dulu, ya. Di mulai dari bangku dekat pintu,” lanjutnya.


Murid yang berada di ujung bangku dekat bingkai pintu berdiri di tempat.


“Perkenalkan, nama saya Ananda Tasya, dari SMP N Pelita Bangsa,”

__ADS_1


“Oh, deket sini aja dong, ya,”


Memang keberadaan SMA Pelita Murni tidak jauh dari bangunan SMP N Pelita Bangsa, malah setiap anniversary atau kegiatan besar di SMA Pelita Murni tentu SMP N Pelita Bangsa akan di undang untuk meramaikan, pun juga sebaliknya. Perkenalan estafet terus berlanjut ke arah kiri, memutar ke kanan, sesekali terjeda sebab pertanyaan tambahan dari guru, ada juga karena siswi yang pemalu, ia ragu-ragu untuk buka suara. Sembari bu Risma meneliti nama di lembar kertas yang dibawanya, lalu mencentang pada kolom yang ada.


“Romi Axel Fauzi, dari SMP N Angkasa 2,”


Giliran Bianca tiba, ia berdiri, menguatkan mental untuk berbicara di depan banyak orang yang menjadi teman barunya “Bianca Lala, SMP N 1 Angkasa.”


“Wah, dari SMP N 1 Angkasa, kenal sama bapak Susilo engga?”


“Engga, bu,” jawab Bianca mengernyitkan jidat, bingung.


“Kalau bu Rose?”


“Kenal, bu. Beliau mengajar pelajaran bahasa inggris,” Bianca mengingat-ingat nama guru SMP, apalagi Bu Rose, guru mata pelajaran bahasa inggris itu yang berpenampilan modis, cantik jadi gampang untuk di ingat dan di kenali.


“Itu teman, ibu,”


Bianca balas tersenyum kaku, kembali di persilahkan duduk, berlanjut ke Sofia.


“Sofia Putri Warno,”


Berlanjut lagi, memutar setiap bangku, hingga sampai pada bangku paling pojok yang menjadi titik akhir, selesai. Bu Risma kembali ke meja besarnya di dekat papan tulis.


“Oke anak-anak, anggap saja itu mata pelajaran pertama kita, ya. Sudah hampir jam istirahat. Sampai bertemu lagi,”


Bu Risma bersiap beranjak, merapikan meja, lalu berjalan ke arah bingkai pintu. Kepergian bu Risma dari dalam ruang kelas di ganti dengan masuknya Tama, Lala, juga Reina ke dalam kelas, memberi informasi bahwa istirahat akan di mulai beberapa menit lagi, dan siswa harap menunggu di dalam. Sepuluh menit berlalu, dering bel istirahat bernyanyi, membuat serempak murid dari berbagai kelas menyusup keluar. Bianca sendiri sebenarnya malas jika di ajak ke kantin, ia ingin berdiam di kelas untuk membaca novel terbaru yang ia bawa dari rumah, namun rayuan dari Sofia yang berjanji akan mencarikan keberadaan Given, tidak bisa Bianca tolak begitu saja.


 


-Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI, atau KBBI-nya mohon kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih.


-Salam Literasi dari Aksara Raya.

__ADS_1


__ADS_2