
Kalau sore begini memang tidak susah
untuk menemukan keberadaan Bi Nur, lihatlah ia sedang santai menyapu lantai
keramik, kebiasaan setiap sore dan paginya. Bianca dapat melihatnya dari anak
tangga terakhir, tangga yang menuju lantai atas memang berada di tengah antara
ruang tamu dan ruang televisi.
Bianca menghampiri Bi Nur “Bi Nur,
Bianca izin lihat festival, ya.” Ucap Bianca pelan pada setiap kalimatnya,
mendekatkan tubuh ke bi Nur.
“Naik apa, non?” tanya Bi Nur,
berhenti menyapu, menatap anak majikannya yang sudah seperti anaknya sendiri.
“Pesan ojek online, bi.”
“Di mana?” tanya Bi Nur lagi,
memastikan.
Bianca merogoh tas selempang
hitamnya, mengambil ponsel, mencari gambar pamflet festival itu, lalu
memperlihatkannya pada Bi Nur.
“Boleh, ya, bi, festivalnya cuma
untuk malam ini, Bianca mau naik wahana yang Bianca suka.” ucap Bianca merubah
raut mukanya sedikit lebih jelek.
“Nyonya sudah kasih izin?”
Bianca segera membuka aplikasi
whatsapp, ganti memperlihatkan isi pesan Bela beberapa menit tadi kepada Bi
Nur.
“Pasti bi Nur izinin kalau sudah
konfirmasi sama nyonya, non.”
“Terimakasih, bi.” seru Bianca
girang, refleks memeluk Bi Nur.
“Bianca nunggu ojek di depan, ya,
bi.”
Matahari sore ini tidak begitu
menyengat, karena memang hari akan beranjak ke peristirahatannya, Bianca
memilih berdiri di depan halaman rumah, sambil menunggu mas ojol datang
sesekali Bianca melirik sekitar. Beberapa ibu-ibu sedang menyapu halaman rumah,
ada juga yang sedang berjalan santai dengan anak kecilnya yang menempel bedak
di muka lucunya- kelihatan memang seperti selesai mandi. Asyik Bianca memperhatikan
lingkungan sekitar, dari kejauhan satu meter terlihat mas ojol khas dengan
warna jaket dan helmnya sedang menuju Bianca berdiri
“Dengan Bianca, ya?” tanya mas ojol,
ketika sampai di hadapan Bianca.
“Iya, mas.” Bianca berdiri di
samping motor, memasang helm yang di berikan, bersiap naik.
“Sesuai aplikasi, ya, dek?” tanya
mas ojol saat Bianca sudah siap duduk di jok belakang.
“Iya, mas.”
Ini bukan mas ojol yang siang tadi
__ADS_1
menghantar Bianca pulang, tutup mulut yang di pake juga beda, gelagatnya apa
lagi, mas ojol yang satu ini tidak sekonyol mas ojol siang tadi.
“Mas tahu alamatnya, ya?” Bianca
sembarang mengambil topik pembicaraan, terpaksa berbasa-basi, Bianca sebenarnya
bukan tipe cewe pemalu, hanya saja sok jual mahal.
“Lha ini di maps kan ada.” jawab mas
ojol. Bianca malu sendiri, lihat betapa bodohnya ia mengambil topik
pembicaraan.”
“Emm, iya, maksudnya sering pergi ke
sana?” tanya Bianca ulang, menyembunyikan rasa malunya.
“Tempat mana nih?”
“Festivalnya mas.”
“Sering kok. Paling sejam sampe
ini.”
Bianca ber-oh pelan, sudah malas
menanggapi, mungkin mas ojol satu ini sedikit lemot jika diajak berbicara basa-
basi atau memang menyebalkan. Baiklah, lebih baik Bianca memandang sekitar,
rumah-rumah penduduk yang seakan bergerak seiring motor yang di tumpangi Bianca
melaju, hawa sore yang sejuk, mataharin di ujung barat siap menemui
peristirahatannya. Selagi sang fajar menemui senjanya, hampir menjelma gelap,
Bianca sampai pada tempat tujuannya. Memberi ongkos pada mas ojol yang sedikit
cuek, mengembalikan helm, lalu berterimakasih.
Festival masih belum terlalu ramai,
Bianca sengaja tidak langsung masuk, ia memilih melihat- lihat area depan
Malam SMA Angkasa 1” , memang acara ini di adakan oleh SMA paling bergengsi,
untuk acara ulang tahun SMA Angkasa 1, karena tidak jauh dari Bianca berdiri
ada sekumpulan anak- anak yang sedang berfoto ria di depan photoboth yang
bertuliskan “Anniversary SMA Angkasa 1 ke- 20” dengan logo SMA di tengah yang
sedikit trasparan.
“Kak, permisi, dari SMA mana, ya?”
Selagi asyik memperhatikan Bianca
dikejutkan dengan dua orang siswi dari SMA Angkasa- terlihat dari almameter
merah dengan lambing OSIS SMA Angkasa di dada kiri.
“SMA Pelita Murni, kak.” Bianca
menjawab jujur.
“Oh, ini, kak.” satu di antara siswi
tadi memberikan selembar pamflet kepada Bianca dan gelang tanda pengenal.
“Eh, ini untuk apa, ya, kak?” tanya
Bianca bingung.
“Gelangnya buat penanda kalau kakak
dari kalangan SMA bukan warga sekitar, kalau pamfletnya sih baca-baca saja,
kak.” terang salah satunya.
“Oh, begitu, oke terimakasih, ya.”
ucap Bianca.
Lalu kedua siswi tadi beranjak pergi, membagikan gelang serta pamflet ke
__ADS_1
orang lain yang semakin malam semakin banyak yang datang. Bianca membaca
pamflet yang di berikan tadi, beberapa doorprize tertulis di dalam pamflet-
nomor undian ada pada gelang pengenal- Bianca mengecek gelang yang di pakainya
benar ada nomor undian tertera di gelang itu , juga tulisan yang di lingkari
berwarna menyala pada pamflet ‘acara
festival hanya untuk satu malam’. Untung saja Bianca tidak melewatkan acara
besar ini, karena festival yang diadakan hanya untuk satu malam sebagai puncak
acara anniversary.
Malam sudah datang, acara festival
juga semakin ramai pengunjung, entah itu sendiri, berdua, atau pun bergerombol
manusia memasuki area lapangan festival. Bianca ikut serta masuk setelah
sekitar setengah jam hanya mengamati area depan festival. Berjalan sendiri
membuat Bianca merasa kecil di antara yang lain, sial, kenapa Bianca jadi
merasa gelisah di tempat ramai ini. Bianca mencoba tenang, berjalan selangkah
demi selangkah, berusaha tetap sadar tidak terlalu gugup. Dalam festival pasar
malam, berbagai penjual makanan- burger, pisang coklat, jasuke, arum manis, ah
iya Bianca termasuk pecinta jajan berbentuk memanjang itu. Demi meluruhkan rasa
takutnya, Bianca berniat membeli jajanan kesukaannya, berjalan menghampiri
gerobak milik penjual arum manis yang tidak jauh dari Bianca berdiri.
“Bu, arum manisnya satu, ya.” ujar
Bianca kepada wanita paruh baya dengan hijab lusuhnya.
“Iya, nak. Mau warna apa?”
Bianca berpikir sejenak “Warna apa
saja deh, bu?”
Lima menit kemudian arum manis telah
selesai dibuat, Bianca menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan, berucap
terimakasih, lalu duduk pada bangku dekat gerobak milik ibu arum manis. Seraya
menyantap arum manis kesukaannya, Bianca mengamati sekitar- memang suka sekali
jika mengamati lingkungan.
“Sendiri, dek?” tiba- tiba ibu
pemilik arum manis bertanya, mendekati Bianca.
“Iya, bu.”
“Hati-hati, loh.” ucap ibu itu
memperingati.
“Iya, bu, lagian sebelum jam sepuluh
malam saya pulang, hehe.” jawab Bianca terkekeh pelan.
Ibu itu kembali ke gerobak, melayani
pembeli yang datang, eh sepertinya Bianca kenal pembeli itu. Reina dengan
seorang cowo yang tidak Bianca kenal sedang berdiri menunggu pembuatan arum
manis. Kalau Reina selaku kakak pendamping- anggota OSIS, apa berarti juga
anak-anak SMA Pelita Murni datang ke acara ini? Apa Given juga ikut,
sebagaimana ia suka memotret kegiatan apalagi jika semeriah ini? Bianca diam
menatap Reina, kembali pikirannya melayang pada Given siang tadi, ah ikut atau
tidaknya Given kesini apa untungnya buat Bianca. Toh Bianca datang ke acara ini
secara sukarela dan mandiri tidak ada pikiran untuk bertemu dengan Given.
__ADS_1
-Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, kak. Terimakasih.
-Salam Literasi dari Aksara Raya