Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Festival pasar malam 01


__ADS_3

            Kalau sore begini memang tidak susah


untuk menemukan keberadaan Bi Nur, lihatlah ia sedang santai menyapu lantai


keramik, kebiasaan setiap sore dan paginya. Bianca dapat melihatnya dari anak


tangga terakhir, tangga yang menuju lantai atas memang berada di tengah antara


ruang tamu dan ruang televisi.


            Bianca menghampiri Bi Nur “Bi Nur,


Bianca izin lihat festival, ya.” Ucap Bianca pelan pada setiap kalimatnya,


mendekatkan tubuh ke bi Nur.


            “Naik apa, non?” tanya Bi Nur,


berhenti menyapu, menatap anak majikannya yang sudah seperti anaknya sendiri.


            “Pesan ojek online, bi.”


            “Di mana?” tanya Bi Nur lagi,


memastikan.


            Bianca merogoh tas selempang


hitamnya, mengambil ponsel, mencari gambar pamflet festival itu, lalu


memperlihatkannya pada Bi Nur.


            “Boleh, ya, bi, festivalnya cuma


untuk malam ini, Bianca mau naik wahana yang Bianca suka.” ucap Bianca merubah


raut mukanya sedikit lebih jelek.


            “Nyonya sudah kasih izin?”


            Bianca segera membuka aplikasi


whatsapp, ganti memperlihatkan isi pesan Bela beberapa menit tadi kepada Bi


Nur.


            “Pasti bi Nur izinin kalau sudah


konfirmasi sama nyonya, non.”


            “Terimakasih, bi.” seru Bianca


girang, refleks memeluk Bi Nur.


            “Bianca nunggu ojek di depan, ya,


bi.”


            Matahari sore ini tidak begitu


menyengat, karena memang hari akan beranjak ke peristirahatannya, Bianca


memilih berdiri di depan halaman rumah, sambil menunggu mas ojol datang


sesekali Bianca melirik sekitar. Beberapa ibu-ibu sedang menyapu halaman rumah,


ada juga yang sedang berjalan santai dengan anak kecilnya yang menempel bedak


di muka lucunya- kelihatan memang seperti selesai mandi. Asyik Bianca memperhatikan


lingkungan sekitar, dari kejauhan satu meter terlihat mas ojol khas dengan


warna jaket dan helmnya sedang menuju Bianca berdiri


            “Dengan Bianca, ya?” tanya mas ojol,


ketika sampai di hadapan Bianca.


            “Iya, mas.” Bianca berdiri di


samping motor, memasang helm yang di berikan, bersiap naik.


            “Sesuai aplikasi, ya, dek?” tanya


mas ojol saat Bianca sudah siap duduk di jok belakang.


            “Iya, mas.”


            Ini bukan mas ojol yang siang tadi

__ADS_1


menghantar Bianca pulang, tutup mulut yang di pake juga beda, gelagatnya apa


lagi, mas ojol yang satu ini tidak sekonyol mas ojol siang tadi.


            “Mas tahu alamatnya, ya?” Bianca


sembarang mengambil topik pembicaraan, terpaksa berbasa-basi, Bianca sebenarnya


bukan tipe cewe pemalu, hanya saja sok jual mahal.


            “Lha ini di maps kan ada.” jawab mas


ojol. Bianca malu sendiri, lihat betapa bodohnya ia mengambil topik


pembicaraan.”


            “Emm, iya, maksudnya sering pergi ke


sana?” tanya Bianca ulang, menyembunyikan rasa malunya.


            “Tempat mana nih?”


            “Festivalnya mas.”


            “Sering kok. Paling sejam sampe


ini.”


            Bianca ber-oh pelan, sudah malas


menanggapi, mungkin mas ojol satu ini sedikit lemot jika diajak berbicara basa-


basi atau memang menyebalkan. Baiklah, lebih baik Bianca memandang sekitar,


rumah-rumah penduduk yang seakan bergerak seiring motor yang di tumpangi Bianca


melaju, hawa sore yang sejuk, mataharin di ujung barat siap menemui


peristirahatannya. Selagi sang fajar menemui senjanya, hampir menjelma gelap,


Bianca sampai pada tempat tujuannya. Memberi ongkos pada mas ojol yang sedikit


cuek, mengembalikan helm, lalu berterimakasih.


            Festival masih belum terlalu ramai,


Bianca sengaja tidak langsung masuk, ia memilih melihat- lihat area depan


Malam SMA Angkasa 1” , memang acara ini di adakan oleh SMA paling bergengsi,


untuk acara ulang tahun SMA Angkasa 1, karena tidak jauh dari Bianca berdiri


ada sekumpulan anak- anak yang sedang berfoto ria di depan photoboth yang


bertuliskan “Anniversary SMA Angkasa 1 ke- 20” dengan logo SMA di tengah yang


sedikit trasparan.


            “Kak, permisi, dari SMA mana, ya?”


            Selagi asyik memperhatikan Bianca


dikejutkan dengan dua orang siswi dari SMA Angkasa- terlihat dari almameter


merah dengan lambing OSIS SMA Angkasa di dada kiri.


            “SMA Pelita Murni, kak.” Bianca


menjawab jujur.


            “Oh, ini, kak.” satu di antara siswi


tadi memberikan selembar pamflet kepada Bianca dan gelang tanda pengenal.


            “Eh, ini untuk apa, ya, kak?” tanya


Bianca bingung.


            “Gelangnya buat penanda kalau kakak


dari kalangan SMA bukan warga sekitar, kalau pamfletnya sih baca-baca saja,


kak.” terang salah satunya.


            “Oh, begitu, oke terimakasih, ya.”


ucap  Bianca.


            Lalu  kedua siswi tadi beranjak pergi, membagikan gelang serta pamflet ke

__ADS_1


orang lain yang semakin malam semakin banyak yang datang. Bianca membaca


pamflet yang di berikan tadi, beberapa doorprize tertulis di dalam pamflet-


nomor undian ada pada gelang pengenal- Bianca mengecek gelang yang di pakainya


benar ada nomor undian tertera di gelang itu , juga tulisan yang di lingkari


berwarna menyala pada  pamflet ‘acara


festival hanya untuk satu malam’. Untung saja Bianca tidak melewatkan acara


besar ini, karena festival yang diadakan hanya untuk satu malam sebagai puncak


acara anniversary.


            Malam sudah datang, acara festival


juga semakin ramai pengunjung, entah itu sendiri, berdua, atau pun bergerombol


manusia memasuki area lapangan festival. Bianca ikut serta masuk setelah


sekitar setengah jam hanya mengamati area depan festival. Berjalan sendiri


membuat Bianca merasa kecil di antara yang lain, sial, kenapa Bianca jadi


merasa gelisah di tempat ramai ini. Bianca mencoba tenang, berjalan selangkah


demi selangkah, berusaha tetap sadar tidak terlalu gugup. Dalam festival pasar


malam, berbagai penjual makanan- burger, pisang coklat, jasuke, arum manis, ah


iya Bianca termasuk pecinta jajan berbentuk memanjang itu. Demi meluruhkan rasa


takutnya, Bianca berniat membeli jajanan kesukaannya, berjalan menghampiri


gerobak milik penjual arum manis yang tidak jauh dari Bianca berdiri.


            “Bu, arum manisnya satu, ya.” ujar


Bianca kepada wanita paruh baya dengan hijab lusuhnya.


            “Iya, nak. Mau warna apa?”


            Bianca berpikir sejenak “Warna apa


saja deh, bu?”


            Lima menit kemudian arum manis telah


selesai dibuat, Bianca menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan, berucap


terimakasih, lalu duduk pada bangku dekat gerobak milik ibu arum manis. Seraya


menyantap arum manis kesukaannya, Bianca mengamati sekitar- memang suka sekali


jika mengamati lingkungan.


            “Sendiri, dek?” tiba- tiba ibu


pemilik arum manis bertanya, mendekati Bianca.


            “Iya, bu.”


            “Hati-hati, loh.” ucap ibu itu


memperingati.


            “Iya, bu, lagian sebelum jam sepuluh


malam saya pulang, hehe.” jawab Bianca terkekeh pelan.


            Ibu itu kembali ke gerobak, melayani


pembeli yang datang, eh sepertinya Bianca kenal pembeli itu. Reina dengan


seorang cowo yang tidak Bianca kenal sedang berdiri menunggu pembuatan arum


manis. Kalau Reina selaku kakak pendamping- anggota OSIS, apa berarti juga


anak-anak SMA Pelita Murni datang ke acara ini? Apa Given juga ikut,


sebagaimana ia suka memotret kegiatan apalagi jika semeriah ini? Bianca diam


menatap Reina, kembali pikirannya melayang pada Given siang tadi, ah ikut atau


tidaknya Given kesini apa untungnya buat Bianca. Toh Bianca datang ke acara ini


secara sukarela dan mandiri tidak ada pikiran untuk bertemu dengan Given.

__ADS_1


-Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, kak. Terimakasih.


-Salam Literasi dari Aksara Raya


__ADS_2