Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Sosok yang mampu menghipnotis


__ADS_3

            “Tumben telat, biasanya lo yang


paling pagi,” tanya Sofia menatap Bianca yang sedang meletakkan tas pada bangku


tempat duduk.


            “Cuma lupa engga nyalain alarm


saja,” jawab Bianca tanpa menatap balik Sofia, Bianca memilih duduk diam saja


menunggu bel masuk.


            Sofia yang menatap keheranan


langsung menyerbu pertanyaan tanpa pandang situasi


            “Lo kenapa, sih? Bete karena nomor


Kak Given ketinggalan di buku, jadi lo engga bisa chat Kak Given?” memang dasar


Sofia, cerewet tanpa tau situasinya.


            Bianca menghela napas, mengatur


emosi karena tidak ingin rasanya Bianca mengumpat pada Sofia. Bukan perihal


Given yang menyebabkan mood pagi Bianca seburuk ini, kenangan akan papanya yang


dihadirkan sendiri oleh Bela itulah yang membuat Bianca menangis semalam, juga


mood buruk ini.


            “Gue gapapa, Sof,” jawab Bianca


menatap Sofia, berusaha menyakinkan dengan tatapan sedikit kurang menyakinkan.


            “Mata lo bengkak. Lo habis nangis,


ya?” tuding Sofia, selalu tepat mengenai sasaran.


            Sial, kali ini Bianca sungguhan


mengumpat dalam hati. Memaki dirinya sendiri kenapa harus menolehkan kepala,


menghadap Sofia yang pasti mata remajanya lebih tajam daripada Bi Nur atau


tidak peduli seperti Bela.


            “Ngawur aja. Ini kemarin malam gue


tidur, mungkin ke gigit semut,” Bianca berusaha membuat nada suara setenang


mungkin.


            Belum sempat Sofia mengeluarkan


jurus perbacotannya, sound di penjuru sekolahan mendahuluinya, “Untuk anak-anak


calon murid baru, segera berkumpul di lapangan upacara sekarang!” intruksi itu


menggelegar ke seluruh sudut sekolah.


            Seluruh calon murid baru merangsek


keluar kelas masing-masing, ada beberapa yang memang masih di luar kelas, suara


ratusan murid itu terdengar seperti dengung lebah yang mengikuti kemana arah


intruksi. Bianca turun bersama Sofia terakhir kali, agar tidak bersusah payah


berdesakan yang itu akan menambah mood Bianca buruk. Kalian tahu kan, kalau


orang berdesakan pasti saling dorong, senggol-senggolan, Bianca lagi ingin


tenang tanpa saling dorong itu.


            “Ada apa, sih, pake di kumpulin


segala?” Sofia bertanya ke salah satu cewe di barisan depan.


            “Engga tahu, nih,” jawab cewe itu


menggelengkan kepala.


            Sofia kembali ke dalam barisannya,

__ADS_1


menatap sekitar, sementara Bianca berdiri malas di dekatnya.


            Seorang guru yang berbeda dari bapak


wakil kepala sekolah lusa kemarin menghampiri mimbar, ia sampai di depan


mikrofon, membenarkan kacamatanya yang sedikit turun.


            “Baik anak-anak. Harap diam lima


belas menit saja,” suaranya terdengar tegas, penuh penekanan, membuat ratusan


siswa mengunci bibir rapat-rapat.


            “Bapak kumpulkan pagi-pagi ini


karena ingin menyampaikan pengumuman, perubahan masuk kelas untuk materi. Dua


hari yang lalu kalian menerima materi membosankan di kelas bukan?” mata dalam


kaca matanya menyapu seluruh anak di hadapannya, suara ucapan ‘iya’ terdengar,


beberapa lagi ada yang hanya mengangguk.


            “Nah, mulai hari ini di jam pertama


sebelum istirahat kalian akan masuk aula di sebelah sana,” ia menunjuk ke


arah  kanan belakang barisan. Ada satu


ruang yang berukuran besar, hanya ada meja besar dan dua kursi duduk di


depanya.


            “Sebelum masuk, kalian akan di absen


entah di ruang kelas atau di lapangan ini lagi,” ia balik menatap ratusan siswa


di depannya, membelai pelan rambut jenggot di dagunya.


            “Seharusnya ini dilaksanakan saat


hari senin pertama kalian masuk, hanya saja belum selesai persiapannya, jadi


dua hari telat. Sudah begitu, bapak minta maaf dan undur diri, terimakasih”


            Mikrofon segera diambil alih oleh


Melani, seorang ketua OSIS cantik dengan rambut gelombangnya. Para anak cowo


terlihat sedang menahan kalimat gombalan mereka, sebab bapak Hari dengan


jenggot yang diketahui adalah Pembina OSIS masih berdiri di dalam area lapangan.


            “Pagi adik-adik,” sapa Melani di


depan.


            “Pagi kak,” suara teriakan semangat


memekakkan telinga.


            “Jadi, sebelum pagi ini kalian masuk


aula. Kalian akan diabsen seperti kemarin oleh kakak-kakak pendamping kalian.


Dipersilahkan!” perintah Melani, suaranya lembut tegas, seluruh jajaran OSIS


yang mendapat tugas mengabsen segera menghampiri pasukannya.


            Kelas adenium sudah pasti dengan


Tama dan dua bidadarinya yang selalu siap sedia ada. Tama mulai membuka


lembaran nama-nama pasukannya itu, menyebutnya satu persatu dengan suara


lantang, hari ini ia menggenakan almamater yang sama dipakai oleh Reina


kemarin, rambut lurusnya terlihat tertara rapai, mengkilat terkena sinar pasti


dia sedang pakai pomade, baunya juga tercium jika dari dekat.


            “Bii, Bianca woii” Sofia berbicara


tertahan, mengusik ketenangan Bianca yang daritadi memilih diam tak banyak

__ADS_1


bergerak.


            Sofia sengaja menyenggol lengan


Bianca kasar, “Lo apaan, sih,” balas Bianca ketus.


            Sofia tidak menghiraukan sorot tajam


mata Bianca, Sofia malah menuntun arah pandang Bianca pada sesuatu yang ia


temukan, “Itu, di sana, buka matanya lebar-lebar”


            Pandangan mata Bianca refleks juga


mengikuti arah mata Sofia. Lensa matanya menangkap sosok yang kemarin


menghantarkannya pulang ke rumah. Given di ujung barisan sebelah kanan, sibuk


merecord video dari kamera digital hitam yang selalu ia gulungkan di lengan


besarnya.


            “Yaelah, kan, bener. Pasti sudah


langsung ke hipnotis kalau lihat Kak Given” Sofia bergumam kesal, melihat


temannya yang sekarang sudah melamun diam menatap Given.


            Sofia akan membiarkan fenomena itu


terjadi hingga beberapa menit ke depan, hingga suara mikrofon yang akan


menyadarkan Bianca dengan sendirinya.


            “Baik anak-anakku semua. Silahkan


menuju ke aula dan duduk sesuai kelasnya masing-masing, ya”


            Bianca terperanjat kaget, suara


tegas juga lantang Pak Hari menyadarkannya. Sofia yang berada di sampingnya


hanya bisa terkekeh pelan, gadis berjilbab itu sebelumnya berpikir mungkin


Melani yang akan menyadarkan Bianca lewat mikrofon, jadi tidak akan terlalu


mengejutkan. Alih-alih Melani, malah Pak Hari dengan suara tegas penuh


penekannya.


            “Gitu kan lo kalau sudah lihat Kak


Given. Kayak kesambet, lupa sama sekitar” cerocos Sofia masih menahan tawa.


            “Apaan sih, lo. Disuruh ke aula,


tuh” Bianca mulai salah tingkah.


            Sofia tidak bisa lagi menahan


tawanya kali ini, “Berati waktu dulu gue ngatain lo kesambet, lo itu ternyata


lagi kesambet karena terpesona aura Kak Given, ya.”


            “Heh, lo apaan, sih. Heboh, jangan


keras-keras.” Bianca membekam mulut Sofia yang seperti mercon itu dengan


telapak tanganya.


            Pasalnya keduanya sedang berjalan


menuju ke aula bersama ratusan anak lain. Kacau sudah jika suara Sofia itu


terdengar oleh banyak orang, lebih kacau apabila salah satu kakak panitia tidak


sengaja ikut mendengarnya. Bisa-bisa Bianca akan jadi buronan orang sok kepo,


wajahnya akan terpampang di kaca majalah dinding lorong gerbang utama, hanya


dalam tiga hari ia masuk. Aula berada tepat di depan lorong gerbang utama, di


pisahkan oleh sebuah taman air mancur kecil di tengah-tengahnya. Sofia masuk


terlebih dahulu, diikuti Bianca di belakangnya.

__ADS_1


---


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam bumi literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2