
“Tumben telat, biasanya lo yang
paling pagi,” tanya Sofia menatap Bianca yang sedang meletakkan tas pada bangku
tempat duduk.
“Cuma lupa engga nyalain alarm
saja,” jawab Bianca tanpa menatap balik Sofia, Bianca memilih duduk diam saja
menunggu bel masuk.
Sofia yang menatap keheranan
langsung menyerbu pertanyaan tanpa pandang situasi
“Lo kenapa, sih? Bete karena nomor
Kak Given ketinggalan di buku, jadi lo engga bisa chat Kak Given?” memang dasar
Sofia, cerewet tanpa tau situasinya.
Bianca menghela napas, mengatur
emosi karena tidak ingin rasanya Bianca mengumpat pada Sofia. Bukan perihal
Given yang menyebabkan mood pagi Bianca seburuk ini, kenangan akan papanya yang
dihadirkan sendiri oleh Bela itulah yang membuat Bianca menangis semalam, juga
mood buruk ini.
“Gue gapapa, Sof,” jawab Bianca
menatap Sofia, berusaha menyakinkan dengan tatapan sedikit kurang menyakinkan.
“Mata lo bengkak. Lo habis nangis,
ya?” tuding Sofia, selalu tepat mengenai sasaran.
Sial, kali ini Bianca sungguhan
mengumpat dalam hati. Memaki dirinya sendiri kenapa harus menolehkan kepala,
menghadap Sofia yang pasti mata remajanya lebih tajam daripada Bi Nur atau
tidak peduli seperti Bela.
“Ngawur aja. Ini kemarin malam gue
tidur, mungkin ke gigit semut,” Bianca berusaha membuat nada suara setenang
mungkin.
Belum sempat Sofia mengeluarkan
jurus perbacotannya, sound di penjuru sekolahan mendahuluinya, “Untuk anak-anak
calon murid baru, segera berkumpul di lapangan upacara sekarang!” intruksi itu
menggelegar ke seluruh sudut sekolah.
Seluruh calon murid baru merangsek
keluar kelas masing-masing, ada beberapa yang memang masih di luar kelas, suara
ratusan murid itu terdengar seperti dengung lebah yang mengikuti kemana arah
intruksi. Bianca turun bersama Sofia terakhir kali, agar tidak bersusah payah
berdesakan yang itu akan menambah mood Bianca buruk. Kalian tahu kan, kalau
orang berdesakan pasti saling dorong, senggol-senggolan, Bianca lagi ingin
tenang tanpa saling dorong itu.
“Ada apa, sih, pake di kumpulin
segala?” Sofia bertanya ke salah satu cewe di barisan depan.
“Engga tahu, nih,” jawab cewe itu
menggelengkan kepala.
Sofia kembali ke dalam barisannya,
__ADS_1
menatap sekitar, sementara Bianca berdiri malas di dekatnya.
Seorang guru yang berbeda dari bapak
wakil kepala sekolah lusa kemarin menghampiri mimbar, ia sampai di depan
mikrofon, membenarkan kacamatanya yang sedikit turun.
“Baik anak-anak. Harap diam lima
belas menit saja,” suaranya terdengar tegas, penuh penekanan, membuat ratusan
siswa mengunci bibir rapat-rapat.
“Bapak kumpulkan pagi-pagi ini
karena ingin menyampaikan pengumuman, perubahan masuk kelas untuk materi. Dua
hari yang lalu kalian menerima materi membosankan di kelas bukan?” mata dalam
kaca matanya menyapu seluruh anak di hadapannya, suara ucapan ‘iya’ terdengar,
beberapa lagi ada yang hanya mengangguk.
“Nah, mulai hari ini di jam pertama
sebelum istirahat kalian akan masuk aula di sebelah sana,” ia menunjuk ke
arah kanan belakang barisan. Ada satu
ruang yang berukuran besar, hanya ada meja besar dan dua kursi duduk di
depanya.
“Sebelum masuk, kalian akan di absen
entah di ruang kelas atau di lapangan ini lagi,” ia balik menatap ratusan siswa
di depannya, membelai pelan rambut jenggot di dagunya.
“Seharusnya ini dilaksanakan saat
hari senin pertama kalian masuk, hanya saja belum selesai persiapannya, jadi
dua hari telat. Sudah begitu, bapak minta maaf dan undur diri, terimakasih”
Mikrofon segera diambil alih oleh
Melani, seorang ketua OSIS cantik dengan rambut gelombangnya. Para anak cowo
terlihat sedang menahan kalimat gombalan mereka, sebab bapak Hari dengan
jenggot yang diketahui adalah Pembina OSIS masih berdiri di dalam area lapangan.
“Pagi adik-adik,” sapa Melani di
depan.
“Pagi kak,” suara teriakan semangat
memekakkan telinga.
“Jadi, sebelum pagi ini kalian masuk
aula. Kalian akan diabsen seperti kemarin oleh kakak-kakak pendamping kalian.
Dipersilahkan!” perintah Melani, suaranya lembut tegas, seluruh jajaran OSIS
yang mendapat tugas mengabsen segera menghampiri pasukannya.
Kelas adenium sudah pasti dengan
Tama dan dua bidadarinya yang selalu siap sedia ada. Tama mulai membuka
lembaran nama-nama pasukannya itu, menyebutnya satu persatu dengan suara
lantang, hari ini ia menggenakan almamater yang sama dipakai oleh Reina
kemarin, rambut lurusnya terlihat tertara rapai, mengkilat terkena sinar pasti
dia sedang pakai pomade, baunya juga tercium jika dari dekat.
“Bii, Bianca woii” Sofia berbicara
tertahan, mengusik ketenangan Bianca yang daritadi memilih diam tak banyak
__ADS_1
bergerak.
Sofia sengaja menyenggol lengan
Bianca kasar, “Lo apaan, sih,” balas Bianca ketus.
Sofia tidak menghiraukan sorot tajam
mata Bianca, Sofia malah menuntun arah pandang Bianca pada sesuatu yang ia
temukan, “Itu, di sana, buka matanya lebar-lebar”
Pandangan mata Bianca refleks juga
mengikuti arah mata Sofia. Lensa matanya menangkap sosok yang kemarin
menghantarkannya pulang ke rumah. Given di ujung barisan sebelah kanan, sibuk
merecord video dari kamera digital hitam yang selalu ia gulungkan di lengan
besarnya.
“Yaelah, kan, bener. Pasti sudah
langsung ke hipnotis kalau lihat Kak Given” Sofia bergumam kesal, melihat
temannya yang sekarang sudah melamun diam menatap Given.
Sofia akan membiarkan fenomena itu
terjadi hingga beberapa menit ke depan, hingga suara mikrofon yang akan
menyadarkan Bianca dengan sendirinya.
“Baik anak-anakku semua. Silahkan
menuju ke aula dan duduk sesuai kelasnya masing-masing, ya”
Bianca terperanjat kaget, suara
tegas juga lantang Pak Hari menyadarkannya. Sofia yang berada di sampingnya
hanya bisa terkekeh pelan, gadis berjilbab itu sebelumnya berpikir mungkin
Melani yang akan menyadarkan Bianca lewat mikrofon, jadi tidak akan terlalu
mengejutkan. Alih-alih Melani, malah Pak Hari dengan suara tegas penuh
penekannya.
“Gitu kan lo kalau sudah lihat Kak
Given. Kayak kesambet, lupa sama sekitar” cerocos Sofia masih menahan tawa.
“Apaan sih, lo. Disuruh ke aula,
tuh” Bianca mulai salah tingkah.
Sofia tidak bisa lagi menahan
tawanya kali ini, “Berati waktu dulu gue ngatain lo kesambet, lo itu ternyata
lagi kesambet karena terpesona aura Kak Given, ya.”
“Heh, lo apaan, sih. Heboh, jangan
keras-keras.” Bianca membekam mulut Sofia yang seperti mercon itu dengan
telapak tanganya.
Pasalnya keduanya sedang berjalan
menuju ke aula bersama ratusan anak lain. Kacau sudah jika suara Sofia itu
terdengar oleh banyak orang, lebih kacau apabila salah satu kakak panitia tidak
sengaja ikut mendengarnya. Bisa-bisa Bianca akan jadi buronan orang sok kepo,
wajahnya akan terpampang di kaca majalah dinding lorong gerbang utama, hanya
dalam tiga hari ia masuk. Aula berada tepat di depan lorong gerbang utama, di
pisahkan oleh sebuah taman air mancur kecil di tengah-tengahnya. Sofia masuk
terlebih dahulu, diikuti Bianca di belakangnya.
__ADS_1
---
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam bumi literasi dari Aksara Raya:)