Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Hari keempat


__ADS_3

Hari ini bukan lagi anggota polisi yang mengajar, melainkan jadwal orang berseragam


putih, dua dokter dari puskesmas terdekat.


            “Pagi anak-anak,”


            “Pagi pagi luar biasa,” slogan yang


diajarkan polisi kemarin, diterapkan juga kali ini.


            “Bagus,”


            “Sebaiknya kita perkenalan dulu,


ya.”


            “Saya dokter Mia, dokter gigi di


puskemas,” ucap dokter Mia memperkenalkan diri.


            “Lalu ini, rekan saya. Lia, bidan


persalinan,” ia menunjuk ke belakang, dimana bidan Lia duduk di bangku,


memonitori laptop.


            “Kita engga kembar. Cuma namanya


saja yang hampir sama,” dokter Mia terkekeh.


            Memang benar, seisi aula menatap


heran, berpendapat mungkin dokter Mia dan Lia adalah dua saudara kembar, karena


namanya hampir sama. Jam mata pelajaran pagi ini, bertema kenalan, hal klasik


yang dilakukan pada masa orientasi. Setiap pertemuan ada saja perkenalan,


singkat, setelah itu harus pisah bukan? Lalu mengapa repot-repot berkenalan


jika akhirnya tidak pernah bertemu kembali?


            ---


            “Lo mau ke kantin engga, Bi?” tanya


Sofia, menawarkan pada Bianca yang duduk lesu di bangkunya.


            Mereka baru saja kembali ke kelas,


padahal bel sudah berbunyi lima menit lalu, tentu untuk menunggu lorong sepi


agar tidak susah berdesakan.


            “Engga deh, males. Nitip boleh


engga?” jawab dan tanya Bianca.


            “Oke. Lo mau apa?” Sofia sudah siap,


berdiri dari bangkunya.


            “Biasa. Siomai satu, susu kotak


satu, ya,”


            Sofia mengacungkan jempol, lalu


berteriak, “Woi, ada yang mau kantin nggak nih?” Sofia bertanya pada sekelompok


perempuan di meja belakang.


            Beberapa detik tidak ada jawaban.


            “Ayo, sama gue. Gue belum ke kantin juga


soalnya, barengan,” seorang cewe berdiri.


            Sofia tersenyum lebar, senang


mendapatkan teman yang bisa diajak bareng ke kantin.


            “Ya sudah, ayo sama gue!”


            Sofia sudah keluar kelas,


meninggalkan Bianca duduk lesu di mejanya. Sepeninggalan Sofia, Bianca bernapas


lega, sekarang ia bisa membaca buku novel dengan tenang. Karena selama ini,


berada dekat Sofia membuat Bianca susah membaca novel, terlebih juga kalau ada


Sofia, Bianca akan terjebak dengan Given. Geez


and Ann, halaman sepuluh.


            Sofia kembali dari kantin setelah


hampir dua puluh menit.


            “Lo ngapain sih lama banget?” tanya


Sofia, memberikan uang siomai, menarik kantong keresek hitam yang berisi


pesanannya.


            "Eh, anu. Tadi itu, dia ke


toilet dulu, kebelet,” jawab Sofia, tergagap melihat teman yang baru saja ia

__ADS_1


ajak ke kantin.


            Bianca heran dengan gelagat Sofia,


tapi dirinya sedang lapar sekali, mungkin memang benar karena pergi ke toilet


dahulu. Persis saat Bianca memasukkan potongan terakhir siomai ke dalam


mulutnya, bel masuk jam kedua berbunyi.


            ---


            Jam kedua masih saja diisi oleh dua


orang dari puskesmas, dokter Mia dan dokter Lia, yang bukan saudara kembar. Mereka


melanjutkan materi, sebuah LCD proyektor menyala, menampilkan desktop laptop.


Dokter Lia yang memonitor laptop membukakan sebuah lembar kerja Microsoft power


point, sedangkan di depan dokter Mia yang akan menjadi juru bicara, menjelaskan


setiap layar berganti. Pengertian narkotika, jenisnya, penyalahan gunaannya,


beberapa jenis yang dapat digunakan tenaga medis, diakhri sesi tanya jawab.


            Materi berakhir, dokter Mia dan


dokter Lia pamit undur diri. Lalu sedetik kemudian masuklah Melani sang ketua


OSIS.


            Melani meraih mikrofon yang


tergeletak di meja, “Hallo,” sapa Melani, mengetes.


            “Hai,”


            “Langsung saja. Di sini kakak mau


memberitahu pengumuman untuk besok. Besok kalian memakai baju training bukan


seragam pramuka,” terang Melani.


            Seisi aula menatap seksama, “Jelas,


ya?”


            “Jelas, kak,”


            “Biaklah. Kalian bisa pulang


sekarang. Hati-hati,”


            Seketika suasana riuh rendah,


teriakan anak-anak membuat suara seperti dengung sekumpulan lebah.


            ---


Bi?” tanya Sofia. Keduanya sudah berada di dalam kelas adenium. Bersiap untuk


pulang.


            “Beda gimana?” Bianca balik


bertanya, menoleh, memasukkan kakinya ke dalam sepatu.


            “Kak Given,” lirih Sofia, dibalas


kernyitan dahi oleh Bianca.


            “Seharian lo engga ketemu Kak


Given,”


            Bianca berdiri dari posisinya


memakai sepatu, “Hah? Bukannya tadi pagi sebelum turun kita ketemu?” Bianca


semakin tidak paham, menatap Sofia yang ikut berdiri.


            “Bukaaan,” Sofia menoleh ke kanan ke


kiri. Kelas masih ramai, beberapa anak sedang mengenakan sepatunya.


            “Ada apaan?” tanya Bianca tidak


tahan sembari mengkaitkan tali tas ke pungggungnya.


            “Jadi gini. Lo engga ngerasa tadi di


aula Kak Given engga ada?” tandas Sofia, berbisik tepat di telinga Bianca.


            Benar juga, Bianca sempat bertanya


dalam hati ketika tadi materi berlangsung.


            “Iya, kan? Kita ketemu sekali waktu


di tangga. Padahal lo juga tahu, kalau Kak Given tuh tugas foto-foto, kenapa


tadi malah Pak Heru yang bikin dokumentasi?” tutur Sofia sekali lagi.


            Benar lagi. Given tidak kelihatan


setelah berpapasan di anak tangga, tugas dokumentasi dihandle oleh Pak Heru dan


kakak panitia perempuan.

__ADS_1


            “Bi, kok lo diem, sih,” seru Sofia.


            “Gue tahu itu. Jangan bahas


sekarang, nanti di gerbang saja. Pulang, yuk,” jawab Bianca tegas.


            Lorong ramai sekali, sesak dengan


ratusan anak-anak yang segera ingin pulang. Bianca berjalan di belakang,


mengandeng tangan Sofia yang masuk ke dalam kerumunan, menyeruak mencari jalan


tepi.


            “Bianca, Bianca Lala,” seseorang di


belakang meneriakkan nama Bianca. Bianca mendengar jelas, suara perempuan. Tapi


siapa? Apa mungkin Febi?


            “Bianca Lala, ya?”  seseorang yang memanggil nama Bianca menepuk


punggungnya, Bianca refleks menoleh, memberhentikan langkah, begitu juga Sofia,


kaget.


            Eh, kakak panitia dokumentasi.


Bianca salah apa sampai dicari kakak panitia.


            “Iya, kak?”


            “Lo yang namanya Bianca?” balik


tanya kakak itu ngosa-ngosan.


            “Iya, kak, saya Bianca. Ada apa?”


jawab dan tanya Bianca. Raut mukanya antara bingung juga takut, siapa sangka


tanpa sadar Bianca berbuat salah sampai harus dicari, lalu diinterogasi oleh


kakak panitia yang galak.


            “Nih, buat lo dari Given,”


            Kakak panitia itu menyodorkan sebuah


kantong kresek yang di dalamnya berisi arum manis, arum manis yang kemarin


Bianca bilang dalam pesannya ke Given. Dengan setengah sadar Bianca meraih


kantong keresek dari tangan kakak itu.


            “Terima …”


            “Oke, gapapa, sama-sama. Gue balik,”


belum sempat Bianca melanjutkan kalimat. Kakak itu sudah dulu memotong,


berbicara terburu-buru masih dengan nafas yang belum teratur, berbalik


menerobos kerumunan yang berlawanan arah.


            Sofia yang mengetahui itu hanya bisa


menyaksikan. Hingga lorong tidak seramai sebelumnya.


            “Dari Kak Given, Bi?” tanya Sofia


pelan.


            Bianca mengangguk, satu tangannya


memegangi tangan Sofia, berjalan pelan ke depan gerbang, mencari duduk seperti


biasanya.


            “Kemarin gue bilang, kalau gue suka


arum manis, dan dibalas lihat saja besok,” terang Bianca, menatapi kantong


keresek di tangannya.


            Sofia mendengarkan dengan seksama,


“Kalau gitu, lo mau pulang bareng gue saja?” tanya Sofia prihatin dengan


ekpresi muka Bianca yang masih syok.


            “Makasih, Sof. Tapi gue mau nunggu


Kak Given saja,” jawab Bianca.


            “Gue temenin sampai lo sadar dulu.


Engga mungkin gue main ninggalin lo yang masih linglung gini. Kayak habis


kerasukan,”


            “Iyaa. Gue kerasukan Kak Given,”


teriak Bianca di depan muka Sofia. Langsung saja dibalas dengan telapak


tangan  Sofia yang membungkam mulut


Bianca.


---

__ADS_1


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, kak. Terima kasih. Maaf baru bisa update lagi. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2