
Hari ini bukan lagi anggota polisi yang mengajar, melainkan jadwal orang berseragam
putih, dua dokter dari puskesmas terdekat.
“Pagi anak-anak,”
“Pagi pagi luar biasa,” slogan yang
diajarkan polisi kemarin, diterapkan juga kali ini.
“Bagus,”
“Sebaiknya kita perkenalan dulu,
ya.”
“Saya dokter Mia, dokter gigi di
puskemas,” ucap dokter Mia memperkenalkan diri.
“Lalu ini, rekan saya. Lia, bidan
persalinan,” ia menunjuk ke belakang, dimana bidan Lia duduk di bangku,
memonitori laptop.
“Kita engga kembar. Cuma namanya
saja yang hampir sama,” dokter Mia terkekeh.
Memang benar, seisi aula menatap
heran, berpendapat mungkin dokter Mia dan Lia adalah dua saudara kembar, karena
namanya hampir sama. Jam mata pelajaran pagi ini, bertema kenalan, hal klasik
yang dilakukan pada masa orientasi. Setiap pertemuan ada saja perkenalan,
singkat, setelah itu harus pisah bukan? Lalu mengapa repot-repot berkenalan
jika akhirnya tidak pernah bertemu kembali?
---
“Lo mau ke kantin engga, Bi?” tanya
Sofia, menawarkan pada Bianca yang duduk lesu di bangkunya.
Mereka baru saja kembali ke kelas,
padahal bel sudah berbunyi lima menit lalu, tentu untuk menunggu lorong sepi
agar tidak susah berdesakan.
“Engga deh, males. Nitip boleh
engga?” jawab dan tanya Bianca.
“Oke. Lo mau apa?” Sofia sudah siap,
berdiri dari bangkunya.
“Biasa. Siomai satu, susu kotak
satu, ya,”
Sofia mengacungkan jempol, lalu
berteriak, “Woi, ada yang mau kantin nggak nih?” Sofia bertanya pada sekelompok
perempuan di meja belakang.
Beberapa detik tidak ada jawaban.
“Ayo, sama gue. Gue belum ke kantin juga
soalnya, barengan,” seorang cewe berdiri.
Sofia tersenyum lebar, senang
mendapatkan teman yang bisa diajak bareng ke kantin.
“Ya sudah, ayo sama gue!”
Sofia sudah keluar kelas,
meninggalkan Bianca duduk lesu di mejanya. Sepeninggalan Sofia, Bianca bernapas
lega, sekarang ia bisa membaca buku novel dengan tenang. Karena selama ini,
berada dekat Sofia membuat Bianca susah membaca novel, terlebih juga kalau ada
Sofia, Bianca akan terjebak dengan Given. Geez
and Ann, halaman sepuluh.
Sofia kembali dari kantin setelah
hampir dua puluh menit.
“Lo ngapain sih lama banget?” tanya
Sofia, memberikan uang siomai, menarik kantong keresek hitam yang berisi
pesanannya.
"Eh, anu. Tadi itu, dia ke
toilet dulu, kebelet,” jawab Sofia, tergagap melihat teman yang baru saja ia
__ADS_1
ajak ke kantin.
Bianca heran dengan gelagat Sofia,
tapi dirinya sedang lapar sekali, mungkin memang benar karena pergi ke toilet
dahulu. Persis saat Bianca memasukkan potongan terakhir siomai ke dalam
mulutnya, bel masuk jam kedua berbunyi.
---
Jam kedua masih saja diisi oleh dua
orang dari puskesmas, dokter Mia dan dokter Lia, yang bukan saudara kembar. Mereka
melanjutkan materi, sebuah LCD proyektor menyala, menampilkan desktop laptop.
Dokter Lia yang memonitor laptop membukakan sebuah lembar kerja Microsoft power
point, sedangkan di depan dokter Mia yang akan menjadi juru bicara, menjelaskan
setiap layar berganti. Pengertian narkotika, jenisnya, penyalahan gunaannya,
beberapa jenis yang dapat digunakan tenaga medis, diakhri sesi tanya jawab.
Materi berakhir, dokter Mia dan
dokter Lia pamit undur diri. Lalu sedetik kemudian masuklah Melani sang ketua
OSIS.
Melani meraih mikrofon yang
tergeletak di meja, “Hallo,” sapa Melani, mengetes.
“Hai,”
“Langsung saja. Di sini kakak mau
memberitahu pengumuman untuk besok. Besok kalian memakai baju training bukan
seragam pramuka,” terang Melani.
Seisi aula menatap seksama, “Jelas,
ya?”
“Jelas, kak,”
“Biaklah. Kalian bisa pulang
sekarang. Hati-hati,”
Seketika suasana riuh rendah,
teriakan anak-anak membuat suara seperti dengung sekumpulan lebah.
---
Bi?” tanya Sofia. Keduanya sudah berada di dalam kelas adenium. Bersiap untuk
pulang.
“Beda gimana?” Bianca balik
bertanya, menoleh, memasukkan kakinya ke dalam sepatu.
“Kak Given,” lirih Sofia, dibalas
kernyitan dahi oleh Bianca.
“Seharian lo engga ketemu Kak
Given,”
Bianca berdiri dari posisinya
memakai sepatu, “Hah? Bukannya tadi pagi sebelum turun kita ketemu?” Bianca
semakin tidak paham, menatap Sofia yang ikut berdiri.
“Bukaaan,” Sofia menoleh ke kanan ke
kiri. Kelas masih ramai, beberapa anak sedang mengenakan sepatunya.
“Ada apaan?” tanya Bianca tidak
tahan sembari mengkaitkan tali tas ke pungggungnya.
“Jadi gini. Lo engga ngerasa tadi di
aula Kak Given engga ada?” tandas Sofia, berbisik tepat di telinga Bianca.
Benar juga, Bianca sempat bertanya
dalam hati ketika tadi materi berlangsung.
“Iya, kan? Kita ketemu sekali waktu
di tangga. Padahal lo juga tahu, kalau Kak Given tuh tugas foto-foto, kenapa
tadi malah Pak Heru yang bikin dokumentasi?” tutur Sofia sekali lagi.
Benar lagi. Given tidak kelihatan
setelah berpapasan di anak tangga, tugas dokumentasi dihandle oleh Pak Heru dan
kakak panitia perempuan.
__ADS_1
“Bi, kok lo diem, sih,” seru Sofia.
“Gue tahu itu. Jangan bahas
sekarang, nanti di gerbang saja. Pulang, yuk,” jawab Bianca tegas.
Lorong ramai sekali, sesak dengan
ratusan anak-anak yang segera ingin pulang. Bianca berjalan di belakang,
mengandeng tangan Sofia yang masuk ke dalam kerumunan, menyeruak mencari jalan
tepi.
“Bianca, Bianca Lala,” seseorang di
belakang meneriakkan nama Bianca. Bianca mendengar jelas, suara perempuan. Tapi
siapa? Apa mungkin Febi?
“Bianca Lala, ya?” seseorang yang memanggil nama Bianca menepuk
punggungnya, Bianca refleks menoleh, memberhentikan langkah, begitu juga Sofia,
kaget.
Eh, kakak panitia dokumentasi.
Bianca salah apa sampai dicari kakak panitia.
“Iya, kak?”
“Lo yang namanya Bianca?” balik
tanya kakak itu ngosa-ngosan.
“Iya, kak, saya Bianca. Ada apa?”
jawab dan tanya Bianca. Raut mukanya antara bingung juga takut, siapa sangka
tanpa sadar Bianca berbuat salah sampai harus dicari, lalu diinterogasi oleh
kakak panitia yang galak.
“Nih, buat lo dari Given,”
Kakak panitia itu menyodorkan sebuah
kantong kresek yang di dalamnya berisi arum manis, arum manis yang kemarin
Bianca bilang dalam pesannya ke Given. Dengan setengah sadar Bianca meraih
kantong keresek dari tangan kakak itu.
“Terima …”
“Oke, gapapa, sama-sama. Gue balik,”
belum sempat Bianca melanjutkan kalimat. Kakak itu sudah dulu memotong,
berbicara terburu-buru masih dengan nafas yang belum teratur, berbalik
menerobos kerumunan yang berlawanan arah.
Sofia yang mengetahui itu hanya bisa
menyaksikan. Hingga lorong tidak seramai sebelumnya.
“Dari Kak Given, Bi?” tanya Sofia
pelan.
Bianca mengangguk, satu tangannya
memegangi tangan Sofia, berjalan pelan ke depan gerbang, mencari duduk seperti
biasanya.
“Kemarin gue bilang, kalau gue suka
arum manis, dan dibalas lihat saja besok,” terang Bianca, menatapi kantong
keresek di tangannya.
Sofia mendengarkan dengan seksama,
“Kalau gitu, lo mau pulang bareng gue saja?” tanya Sofia prihatin dengan
ekpresi muka Bianca yang masih syok.
“Makasih, Sof. Tapi gue mau nunggu
Kak Given saja,” jawab Bianca.
“Gue temenin sampai lo sadar dulu.
Engga mungkin gue main ninggalin lo yang masih linglung gini. Kayak habis
kerasukan,”
“Iyaa. Gue kerasukan Kak Given,”
teriak Bianca di depan muka Sofia. Langsung saja dibalas dengan telapak
tangan Sofia yang membungkam mulut
Bianca.
---
__ADS_1
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, kak. Terima kasih. Maaf baru bisa update lagi. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)